Cinta itu Kompleks

January 3, 2010 at 2:12 am | In Berbagi, Iseng-iseng Math | 3 Comments

Ketika sedang nyari-nyari gambar bertemakan love di glitter-graphic.com saya menemukan gambar di samping. Satu-satunya gambar yang menarik perhatian saya lantaran kalimat My love for you ends with the last digit of pi. Walaupun kalimat tersebut terkesan rayuan gombal tapi tidak murahan. Coba bandingkan dengan yang ini: I love you forever, klise kan? terasa kah bedanya?

Cukup kreatif dan saya yakin tidak semua orang bisa diberi ungkapan dengan kalimat tersebut. Bagaimana kalau kalimat itu dikatakan pada orang yang tidak mengerti matematika? Kepada yang tidak tahu bahwa pi tidak mempunyai digit terakhir? Atau kalimat tersebut diungkapkan pada orang yang hanya tahu matematika dan suka mengartikan kalimat apa adanya, jadi salah kan kalimatnya? Pasti responnya, “Pi itu ga punya digit terakhir, sayang.” Ga jadi romantis kan?

Pi seperti yang telah kita pelajari adalah rasio antara keliling dengan diameter suatu lingkaran yang menghasilkan bilangan  yang tidak pernah berhenti. Bilangan riil yang tidak bisa dibagi (hasil baginya tidak pernah berhenti) disebut bilangan irasional. Jadi pi adalah bilangan irasional.

Nah, katanya cinta itu irasional. Entah siapa yang mengatakannya, tapi kebanyakan orang menyepakatinya. Irasional itu menurut kamus adalah tidak berdasarkan akal (penalaran) yang sehat, tidak masuk akal, tidak terhitung lagi.

Tapi menurut saya, tidak semua cinta itu irasional. Bukankah banyak sekali rasa cinta yang saya punya dan itu masuk akal? Jika saya mendefinisikan cinta yang irasional adalah cinta yang tidak mempunyai alasan yang masuk akal., maka cinta kepada Allah, adalah cinta yang rasional. Cinta kepada kedua orang tua, adalah cinta yang rasional. Lalu cinta pada saudara-saudara saya, pada lingkungan sekitar (apakah saya mencintai lingkungan?), pada diri saya, semuanya adalah cinta yang rasional.

Lalu mana cinta saya yang irasional? Kok susah ya nyari contoh cinta yang tidak masuk akal?

Cinta itu rasional dan irasional maka cinta itu riil. Bahkan bisa jadi cinta itu imajiner, jadi cinta itu kompleks. (Dua kalimat terakhir ini adalah jawaban dia saat saya bertanya, sepakatkah kalau dikatakan bahwa cinta itu irasional?)

Tom Masuk Neraka

December 27, 2009 at 4:08 am | In Berbagi | 2 Comments

Saya suka nonton kartun sejak kecil sampai sekarang. Detective Conan, Doraemon, Popeye, Tom and Jerry dan yang lain-lain sampai Sponge Bob kecuali Sinchan. Jadi kalau saya menulis tentang Tom di sini bukan karena saya suka dengan pemilik blog yang suka memakai tokoh “Tom and Jerry” untuk artikel-artikelnya. Tapi memang saya menulis ini untuknya yang sekarang jarang meng-update blog lagi. Sengaja untuk mempengaruhinya, setidaknya untuk tertarik membuka blog lagi, setidaknya hanya untuk meninggalkan komentar disini. :-p

Tentang Tom masuk neraka, silahkan dilihat videonya. Tidak seperti biasanya setelah kejar-kejaran, hajar-hajaran dan jebak-menjebak sampai tubuhnya gepeng, Tom dan Jerry tak pernah mati. Tapi yang ini ceritanya lain, si Tom mati setelah terjepit lemari. Cerita selanjutnya selamat menonton.

Semoga dengan posting ini, tokoh Tom hidup lagi untuk melanjutkan petualangannya belajar matematika. :-)

Maaf, Email Saya di Rumah

December 14, 2009 at 2:14 am | In Berbagi, Ga penting, cerita, curhat lagi | 2 Comments

Ini tentang aktivitas jadi operator warnet. Dari dulu, pasti kalau saya cerita tentang kerjaan itu selalu saja keluh kesah. Seolah saya begitu terpaksa melakukan pekerjaan itu. Hampir dua tahun saya menjalaninya, sepertinya tidak benar jika saya melakukan kerjaan itu sepenuhnya dengan terpaksa. Ok, hari ini saya tak ingin berkeluh kesah lagi. Karena mood saya lagi baik dan demi mempertahankan mood yang baik itu saya ingin berbagi tawa. Lagi-lagi tentang cerita konyol.

Saya lupa kejadiannya kapan, pokoknya sudah lama. Seorang Bapak setengah baya datang, penampilannya rapi, bersepatu dan baju masuk.

“Mbak, di sini bisa mengirim foto?” tanyanya.

“Bisa, Pak,” jawab saya pendek.

“Tolong kirimkan foto-foto ini ke sini ya Mbak,” katanya sambil menyodorkan beberapa lembar foto dan menunjukkan alamat email dari HP nya. Saya menerima lembaran foto itu dan memasukkannya dalam scanner.

“Silahkan masuk ke email Bapak,” saya memberikan keyboard dan membalikkan monitor ke arahnya. Bapak itu nampak bingung.

“Bapak punya email kan?” tanya saya.

“Iya Mbak, saya punya email tapi email saya di rumah,”

Gubrakkkkk!!!!!!! ???????????????

Andai saja saya tak berhasil menahan tawa, mungkin Bapak tadi merasa malu dan mencari-cari apa yang salah dari ucapannya.

Cerita serupa, Ibu-ibu dengan dandanan menor masuk dan berkata, “Mbak saya mau pake internet, tapi tolong saya dikasih tahu cara makainya, saya ga pernah pakai internet di warnet biasanya saya di rumah,

“Iya Bu, silahkan masuk di nomor 3,” jawab saya. Lalu saya log in kan langsung dari billing dan mengirimkan pesan “Silahkan dipakai Bu,”

Agak lama, Ibu itu keluar. “Mbak, saya itu ga pernah pakai internet di warnet, biasanya saya pakai di rumah, tolong sini,” katanya.

Seraya berjalan, saya berpikir, apa yang berbeda antara internet di sini dengan internet yang di rumah Ibu itu? Barangkali bentuk komputernya berbeda atau shortcut yang ada di dekstop berbeda sehingga Ibu itu bingung. Lalu saya bukakan browser mozilla untuk Ibu itu. “Silahkan Bu,” kata saya.

Mbak saya itu mau browsing, tapi saya ga bisa pake warnet biasanya saya pake di rumah,” katanya lagi. Kali ini saya benar-benar bingung. Apa yang Ibu itu tidak bisa kalau Ibu itu biasa pakai internet di rumah.

?????????

Frequention Hope

December 12, 2009 at 2:51 am | In Iseng-iseng Math, curhat lagi | 2 Comments

Alkisah, seorang sopir asal jawa lagi nyetirin boss bule Amrik, kebetulan lagi sial. Mobilnya nyodok kendaraan di depannya karena mendadak berhenti. Dengan ter-bata2 ia minta maaf kepada si boss: “Sorry Sir, I brake brake, do not eat. After I Check, the wheel no flower gain”. (maaf pak saya rem-rem nggak makan, setelah saya cek rodanya nggak ada kembangannya lagi). Begitu si Boss mau ikutan ribut sama yg ditabrak, dia bilang, “Don’t follow mix Sir! the bring that car if not wrong is the children fruit from manager moneys, he stupid doesn’t play! let know taste” (nggak usah ikut campur pak, yang bawa mobil itu kalo nggak salah anak buah dari manajer keuangan, dia memang goblok bukan main, biar tahu rasa).
Besoknya si supir gak masuk kerja, terus pas lusanya dia masuk si boss bule nanya: “why you’re not coming?” Jawab si supir: “I am sorry boss, my body is not delicious, my body taste like enter the wind”. (maaf boss badan saya tidak enak, badan saya rasanya seperti masuk angin). “I really don’t know whats your point!”, kata bossnya. “yes how yes?…. I am alone migrain Sir will how the speak , but yes already, how many-how many, people Java can speak England…” jawabnya. (serius ya .. gimana ya?… saya sendiri puyeng Pak mau bagaimana ngomongnya, tapi yo uwis lah.. piro-piro wong jowo iso ngomong Inggris).***cerita dari sini

Geli rasanya membaca cerita di atas. Bagaimana misalnya kita  menyaksikan langsung? Apakah kita bisa untuk tidak tertawa seketika? Lalu bagaimana pula seandainya kita jadi orang yang konyol seperti si sopir Jawa itu? Apakah kita sadar kalo kita ditertawakan?

Cerita seperti itu saya alami ketika saya PPL (Praktik Pengalaman Lapangan) di SMA 3 Semarang yang merupakan SBI (Sekolah Bertaraf Internasional) beberapa bulan yang lalu. Ketika sedang mengawas UHT (Ulangan Harian Terpadu), ada seorang siswa yang minta ijin untuk ke belakang dan berkata, “My body is not delicious, I am stomachache“. Hendak tertawa, tapi saya tahan. Hanya senyum yang hampir meledak.

Lalu di kelas, ketika sedang berlatih mengajar di kelas XI materinya tentang peluang. Saya mengikuti cara guru yang mengajar di kelas itu. Biasanya guru mengajar dengan bilingual, yaitu menjelaskan materi dengan bahasa Indonesia disertai menulis dengan bahasa Inggris. Kali itu topiknya tentang frekuensi harapan. Ketika saya mengucapkan bahwa frekuensi harapan kejadian A adalah banyaknya kemunculan A dalam beberapa kali percobaan yang dilakukan. Artinya frekuensi kejadian A adalah banyaknya peluang kejadian A dikali dengan banyaknya percobaan.  Saya menulis di papan tulis:

E (A) = P (A) x n

E (A) = Expectation of A

P (A) = Probability of A

n       =  number of experiment

Seorang siswa tiba-tiba tunjuk jari dan bertanya, “Kok simbolnya E? Kok expectation? Kemarin diterangkan gurunya frekuensi harapan itu fh,  frequention hope?” Saya tak langsung menjawab, barangkali gurunya benar kalau frekuensi harapan itu bahasa inggrisnya frequention hope. “Yang saya tahu istilah matematika dari frekuensi harapan itu ekspektasi, bahasa inggrisnya expectation,” jawab saya hati-hati karena sang guru menyimak di belakang.

Sekeluar saya dari kelas, terus saja saya memikirkan tentang frequention hope dan berjalan senyum-senyum sendiri. Ada-ada saja. Dan selanjutnya saya benar-benar tidak bisa menahan tawa ketika teman saya bercerita bahwa seorang siswa bercerita, dalam materi lingkaran gurunya menyebut jari-jari dengan fingers. :-D

Ternyata ada yang lebih parah dari saya yang tidak bisa berbahasa Inggris. Saya pun miris dan sangat berhati-hati kalau-kalau saya melakukan hal yang memalukan. Barangkali benar, kita tak pernah belajar kalau kita takut salah. Alesan!!

Bintang-bintang

May 17, 2009 at 2:17 am | In Minta maaf | 14 Comments

“Apakah itu pun kunang-kunang, nun di sana?”

-”Itu adalah bintang-bintang”-

“Satu dan dua dan sepuluh dan seribu! Berapakah semuanya?”

-”Entah lah, belum ada orang yang menghitung jumlah bintang semua!”-

… …. …

-”Sayang, aku ingin memberimu satu- tapi tunggu aku besar”

Nanti ku cintai kau, begitu besar cintaku sampai ku bisa.

——–

Sebuah sajak dalam Max Havelaar, Multatuli

Sedari kecil, saya suka melihat bintang-bintang yang bertaburan di langit. Tapi saya tak hendak bercerita tentang bintang-bintang yang gemerlapan nun jauh seperti kunang-kunang itu. Yang saya tak pernah berhasil membilangnya kecuali dengan kata banyak sekali.

Lalu?

Saya ingin bercerita tentang bintang yang lain. Tentang bintang-bintang yang diucapkan empat kali. Bintang-bintang-bintang-bintang. Saya tahu, tak ada yang mengerti apa maksudnya, selain saya dan seseorang yang membuat kesepakatan tentang apa artinya bintang yang diucapkan empat kali itu.

“I **** Y,” ucapnya di telepon ketika saya sedang berpikir menulis ini. Menulis untuknya. Menulis untuk menebus kesalahan saya yang keasyikan nonton film animasi “Madagaskar 2″.

Bintang-bintang-bintang-bintang, seperti ketika kecil saya tak pernah bosan mencoba menghitung bintang, saya pun tak pernah bosan mendengar dia mengucapnya berkali-kali. Meskipun ketika membaca ini, saya yakin dia sudah bertanya-tanya sejak tadi,

“Kamu itu mau nulis apa sih? kok ga jelas maksud dan tujuannya?” saya tahu mungkin sampai di sini dia sudah jenuh membaca tulisan ini. Bertele-tele. Tapi, memang baru ini yang saya bisa. Tidak seperti dia yang selalu berpikir linier. Bahkan dalam segala hal selalu menerapkan hukum kausalitas, jika begini maka begitu. Matematis.

Barangkali tak banyak orang berpikir untuk mengungkapkan sesuatu dengan simbol-simbol. Kecuali mungkin, anak-anak pramuka yang belajar tentang sandi-sandi. Ketika saya melarangnya mengucapkan sebuah kata, ternyata dia benar-benar kreatif, memilih **** (Baca: Bintang-bintang-bintang-bintang) untuk menyebutkan perasaannya. Perasaan yang oleh kebanyakan orang mungkin diungkapkan dengan metafora-metafora yang mendayu-dayu dan gombal (yang saya tak pernah mengizinkan dia mengucapkannya dan mungkin dia juga tidak bisa).

Tadinya tak terpikir, bahwa itu lah cara dia. Menggunakan matematika untuk mengungkapkan perasaannya. Dia memakai simbol-simbol artfisial, dan memaknainya. Menghindari kata-kata berlebih yang akan menimbulkan perasaan berlebihan. Tidak berpuisi, tapi dengan bahasa matematika.

Iya-iya, saya tak bosan mendengar kau mengatakan bintang empat kali. Maaf sempat membuatmu merasa dicuekin. Hanya ini yang bisa tertulis sebagai permohonan maafku. Dimaafin ga? :-)

Next Page »

Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.