Bintang-bintang

May 17, 2009 at 2:17 am | In Minta maaf | 14 Comments

“Apakah itu pun kunang-kunang, nun di sana?”

-”Itu adalah bintang-bintang”-

“Satu dan dua dan sepuluh dan seribu! Berapakah semuanya?”

-”Entah lah, belum ada orang yang menghitung jumlah bintang semua!”-

… …. …

-”Sayang, aku ingin memberimu satu- tapi tunggu aku besar”

Nanti ku cintai kau, begitu besar cintaku sampai ku bisa.

——–

Sebuah sajak dalam Max Havelaar, Multatuli

Sedari kecil, saya suka melihat bintang-bintang yang bertaburan di langit. Tapi saya tak hendak bercerita tentang bintang-bintang yang gemerlapan nun jauh seperti kunang-kunang itu. Yang saya tak pernah berhasil membilangnya kecuali dengan kata banyak sekali.

Lalu?

Saya ingin bercerita tentang bintang yang lain. Tentang bintang-bintang yang diucapkan empat kali. Bintang-bintang-bintang-bintang. Saya tahu, tak ada yang mengerti apa maksudnya, selain saya dan seseorang yang membuat kesepakatan tentang apa artinya bintang yang diucapkan empat kali itu.

“I **** Y,” ucapnya di telepon ketika saya sedang berpikir menulis ini. Menulis untuknya. Menulis untuk menebus kesalahan saya yang keasyikan nonton film animasi “Madagaskar 2″.

Bintang-bintang-bintang-bintang, seperti ketika kecil saya tak pernah bosan mencoba menghitung bintang, saya pun tak pernah bosan mendengar dia mengucapnya berkali-kali. Meskipun ketika membaca ini, saya yakin dia sudah bertanya-tanya sejak tadi,

“Kamu itu mau nulis apa sih? kok ga jelas maksud dan tujuannya?” saya tahu mungkin sampai di sini dia sudah jenuh membaca tulisan ini. Bertele-tele. Tapi, memang baru ini yang saya bisa. Tidak seperti dia yang selalu berpikir linier. Bahkan dalam segala hal selalu menerapkan hukum kausalitas, jika begini maka begitu. Matematis.

Barangkali tak banyak orang berpikir untuk mengungkapkan sesuatu dengan simbol-simbol. Kecuali mungkin, anak-anak pramuka yang belajar tentang sandi-sandi. Ketika saya melarangnya mengucapkan sebuah kata, ternyata dia benar-benar kreatif, memilih **** (Baca: Bintang-bintang-bintang-bintang) untuk menyebutkan perasaannya. Perasaan yang oleh kebanyakan orang mungkin diungkapkan dengan metafora-metafora yang mendayu-dayu dan gombal (yang saya tak pernah mengizinkan dia mengucapkannya dan mungkin dia juga tidak bisa).

Tadinya tak terpikir, bahwa itu lah cara dia. Menggunakan matematika untuk mengungkapkan perasaannya. Dia memakai simbol-simbol artfisial, dan memaknainya. Menghindari kata-kata berlebih yang akan menimbulkan perasaan berlebihan. Tidak berpuisi, tapi dengan bahasa matematika.

Iya-iya, saya tak bosan mendengar kau mengatakan bintang empat kali. Maaf sempat membuatmu merasa dicuekin. Hanya ini yang bisa tertulis sebagai permohonan maafku. Dimaafin ga? :-)

Sebuah Kejutan di Akhir Pekan

May 9, 2009 at 10:48 am | In Berbagi, cerita, curhat lagi | 3 Comments

Teringat salah satu kata teman saya, jika kita tersenyum kita membutuhkan otot yang lebih sedikit untuk menggerakkan bibir ke kanan dan ke kiri dari pada ketika kita cemberut, melipat wajah yang berarti melipat gandakan otot yang bekerja. Efeknya tubuh kita akan banyak mengeluarkan energi lebih banyak ketika kita cemberut.

Nah, kadang-kadang saya merasa beruntung karena saya bekerja sebagai pelayan publik. Yang setiap hari kerjaannya hanya tersenyum saja. Selalu ada senyum walaupun kadang terpaksa. Saya bersyukur dengan kerjaan yang mewajibkan saya untuk selalu tersenyum, kepada siapa saja dalam keadaan apa saja, secara tidak langsung saya telah menghemat energi. :-)

Beberapa waktu yang lalu, ketika sudah lama tidak menulis di blog, saya menemukan sebuah komen di salah satu postingan yang sudah sangat lama. Seseorang yang meninggalkan komen itu tidak menunjukkan identitas dengan jelas.

Tuch yang harus di jaga yach mbak2x and mas2x yg jaga nggak ramah samah sekali and sombong2x lagaknya kaya yang poenya…!!

Sejenak, saya tertegun membacanya. Ternyata selama ini, saya belum melakukan pekerjaan saya dengan baik. Terbukti dengan komen di atas, yang bisa saya tebak, si komentator adalah user campusnet di mana saya bekerja. Operator juga manusia, begitu seringkali saya dan teman-teman berapologi ketika melakukan kesalahan. Lupa tersenyum gara-gara capek. Lupa mengucapkan terima kasih gara-gara sedang kesal dengan tugas-tugas kuliah yang seabrek-abrek. Atau melupakan prosedur kerja yang remeh-temeh itu.

Kemudian, saya menebak-nebak. Mengingat-ingat, apa yang saya lakukan di hari sang komentator menuliskan uneg-unegnya. Apa yang terjadi dengan saya. Ugh, beberapa waktu terakhir, saya seringkali tidak menikmati acara tersenyum dengan user gara-gara memendam sesuatu. “Jangan bawa-bawa urusan rumah tangga dalam kerjaan dong, Bu!” Ledek Pak GM yang tiap pagi berkunjung dan sukses membuat saya makin sewot gara-gara dipanggil “Bu”, kesannya bermutu (bermuka tua) banget.

Oke. Siapa pun dia yang memberi komentar tersebut, saya berterima kasih. Pertama, sudah menemukan dan membaca blog saya. Kedua, sudah mau mengatakan dengan jujur kesalahan saya. Dan yang lebih penting, akhirnya membuat saya mengevaluasi diri saya, dan kembali tersenyum dengan ikhlas. :-)

Tiba-tiba suatu sore seminggu lalu, ketika saya sedang bekerja sambil mengetik makalah untuk memenuhi tugas UTS kuliah saya, ada dua orang cowo-cewe seperti kakak beradik, masuk. Seperti biasa, saya tersenyum dan menyapa. Mereka terlihat sedang bingung dan tidak tahu mau mengatakan apa, saling dorong-mendorong.

“Ada yang bisa saya bantu Mbak-Mas?” tanya saya akhirnya.

“Mmm, ” yang cewe melihat ke yang cowo dan berbisik “Kamu aja.” Sementara saya semakin bingung melihat kebingungan mereka.

“Gini mbak,” akhirnya si cowo membuka suara. “Dia kan member Campusnet di sini, sering main di sini,” pandangan saya terpaksa meninggalkan monitor demi menyimak kalimat-kalimatnya yang sepertinya akan panjang.

“Begini, dia mau minta maaf karena sudah pernah membuat kesalahan yang membuat dia tidak tenang,” lanjutnya. Saya masih bingung mengikuti ceritanya. Saya melihat wajah keduanya. Ada perasaan bersalah yang tidak dibuat-buat di wajah si cewe.

“Maaf mbak-mas, maksudnya kesalahan apa?” tanya saya akhirnya, karena mereka mengambil jeda agak lama.

“Saya kan pernah main di sini mbak, terus saya googling nemu blog mbaknya. Terus saya ngasih komen ngata-ngatain mbaknya gitu,” kata si cewe. Saya tertegun sejenak. Kemudian saya tersenyum. Membiarkan dia melanjutkan kalimatnya.

“Saya merasa bersalah mbak, udah ngata-ngatain mbaknya. Saya ga tenang. Beberapa hari ga bisa tidur nyenyak gara-gara merasa salah mbak,” katanya lagi. Saya terdiam dan dia berhenti berkata-kata.

“Maaf ya mbak, kalau pelayanan kami mungkin kurang berkenan,” akhirnya saya memilih kalimat itu.

“Bukan mbak, saya kok yang salah,” katanya lagi.

“Iya, kami juga minta maaf ke mbak, mungkin dalam melayani kami kadang-kadang lupa jadi mbak merasa tidak nyaman, kami minta maaf ya mbak,” kata saya. Lalu serta merta, si Mbak itu mengulurkan tangannya dan saya menjabatnya. Tak terbayangkan, si Mbak itu hendak mencium tangan saya. Refleks, saya menariknya.

Saya tak pernah menyangka, akan ada ikatan emosional antara user dengan saya. Sapaan yang mirip basa-basi tanpa ekspresi ternyata memang tidak nyaman dilihat. Senyum yang terpaksa dan tidak tulus memang tidak sedap dirasakan. Saya benar-benar terharu ketika ada orang meminta maaf demi kesalahan saya. Demi saya yang tidak tulus memberikan keramahan. Demi ketidaknyamanannya yang membuat dia mengata-ngatai saya, meskipun lewat blog. Dan yang lebih membuat saya terharu dan salut, masih ada orang yang dengan ksatria minta maaf secara langsung.

Baiklah, sejak hari itu saya bertekad belajar tersenyum dengan tulus. Bukan basa-basi dan prosedur pekerjaan. Saya percaya, saya tidak pernah rugi untuk tersenyum. Selain hemat energi itu akan membuat orang lebih nyaman dengan kita, bukan? Yuk, senyum. :-)

Berbagi Diam

April 5, 2009 at 2:21 am | In Uncategorized | 3 Comments

Silence is one great art of conversation ~ Anonymous

Aku tahu mungkin kau keberatan aku diam. Meski aku yakin, kau sepenuhnya tahu, diam bukanlah sinonim dari bisu. Aku sama sekali tak ingin mendiamkan mu pagi ini. Aku hanya tak bisa berbohong. Aku juga tak pintar menyembunyikan kabar yang tidak menyenangkan. Lalu aku memilih diam, menyepakati kutipan tak bertuan di atas.

Aku tahu, mungkin adalah permintaan paling rumit, jika aku memintamu untuk mengerti diamku. Aku tak memaksa dan tak melarang kau bertanya kenapa aku diam. Tapi maaf, aku tak bisa menjawabnya. Hanya diam.

Aku tak hendak membuatmu merasa bersalah. Sungguh, hanya tidak tega membagi wajah yang tertekuk dan senyum kusut, maksa.

Ya sudah, tolong biarkan aku diam. Bukankah kau mendengar apa yang aku katakan dalam hatiku?

Sekuntum Edelweiss, Setangkai Mimosa pudica

March 29, 2009 at 12:35 pm | In Cerpen | 10 Comments

“Terima kasih ya,” akhirnya klausa ini yang aku pilih untuk memulai pembicaraan kita.

“Buat?” Kau pura-pura tidak tahu.

“Buat sekuntum Edelweiss kemarin,” kataku. Hendak bertanya, apa maksudmu? Tapi aku tahan. Harusnya aku sudah tahu.

“Suka?” tanyamu pendek. Pasti kau berharap aku mengangguk. Tapi, apakah aku belum pernah bercerita padamu kalau aku tidak begitu suka bunga? Lantas, kalo aku memilih tersenyum untuk menjawab pertanyaanmu itu, apakah akan menyinggungmu?

“Kok senyum aja sih?” tanyamu lagi.

“Jangan bertanya aku suka atau tidak, aku sangat senang menerimanya,” lega rasanya menemukan kalimat ini.

“Makasih ya,” ucapmu.

“Hey, kamu yang memberi kok bilang terima kasih?”

“Iya, terima kasih sudah menerimanya,” ucapmu lalu tertawa, begitu juga tawaku meyusul, kita tertawa bersama.

“Za?” panggilmu tiba-tiba. Seperti serius.

“Hmm,” jawabku pendek. Aku menoleh ke arahmu. Mencari-cari maksud dari wajahmu.

“Apa?” tanyaku akhirnya ketika tidak menemukan jawaban dari rautmu.

Engga, kamu melengos, menghindar dari tebakanku. “Hanya ingin memanggilmu,” lanjutmu lagi, mengerling.

Aku diam, pura-pura tidak peduli. Padahal, aku bahkan sangat tahu, iya aku juga merasakannya. Sudah sangat lama, tak ada pertemuan seperti ini. Duduk-duduk tanpa acara. Bicara ke sana ke mari tanpa tema. Tanpa menyesali waktu yang ternyata berlalu searah, irreversible. Seringkali aku memang sengaja, tak melihat jam karena tak mau waktu mengambil jeda. Tapi, kita memang tak pernah bisa memungkiri, bahwa perpisahan adalah syarat pasti dari pertemuan. Iya, iya aku tahu, sangat tahu. Ada kata yang tertahan, dari hatimu. Tentang rasa yang sama-sama kita sembunyikan.

“Mmm,” desismu perlahan.

“Apa?” hanya pura-pura bertanya. Aku tahu kau sedang kebingungan mencairkan suasana. Mencari-cari cerita apa yang bisa mewakili hatimu. Lalu aku tersenyum.

“Kamu ga suka bunga ya?” tanyamu hati-hati kemudian, Aku tersenyum.

“Seperti yang kamu lihat dari penampilanku yang tak pernah anggun. Aku hanya cemburu sama bunga-bunga yang anggun dan cantik. Itu makanya aku ga suka bunga. Aku iri,” jawabku beserta alasan lengkap.

Halah, bilang aja kamu ga telaten merawat bunga, pake ngeles cemburu-cemburu segala,” candamu sambil tertawa kecil.

“Tumben tebakanmu benar,” lalu tawaku ikut pecah.

“Jadi benar kamu ga suka bunga?” Ih, kenapa sih kau suka mendesakku dengan pertanyaan yang menurutku sudah cukup aku jawab.

“Dari pada bunga aku lebih suka pada rumput liar,” jawabku.

“Mereka bisa tumbuh di mana saja tanpa manja. Mencari kehidupannya sendiri dengan menanamkan akarnya kuat-kuat dalam tanah. Walaupun kemarau seperti membunuhnya, tapi nyatanya itu hanya hibernasi sesaat,” lanjutku panjang.

“Terus?” tanyamu.

“Iya gitu, saya lebih menyukai rumput dari pada bunga,” jawabku.

“Itu makanya kamu sedikit liar,” kelakarmu. Aku tersenyum kecut. Aku tahu kau sedang bercanda. Aku tak marah, karena aku tahu yang kau maksud liar bukanlah sinonim dari amoral yang mirip dengan asusila atau tuna susila. Juga, kau tak pernah meninggalkanku meski kau tahu aku tak sempurna. Jadi aku tak perlu marah walaupun menurutku kau bercanda kelewatan.

“Maaf-maaf, aku cuma becanda,” maafmu menangkap air mukaku yang berubah kecut tadi.

“iya gpp, lupakan. Mmm, kamu tahu ga rumput apa yang paling aku suka?” tanyaku kembali ke topik awal, hanya tak hendak memperpanjang pekara yang sensitif.

“Rumput itu macem-macem ya? dan bernama juga?” tanyamu.

“Ya iya lah, karena manusia berkepentingan terhadap nama-nama itu untuk membedakan jenis-jenis rumput, jadilah rumput itu bernama,” selintas terpikir tentang ujaran masyhur, apalah arti sebuah nama.

“Rumput apa yang paling kamu suka? Aku tidak pernah kenalan sama rumput-rumput, jadi ga tahu,” tanyamu. Jika aku penggemar Ebiet G Ade, maka aku akan menjawab “silahkan bertanya pada rumput yang bergoyang”.

“Mimosa pudica,” jawabku singkat.

“Apa itu? saya pernah dengar deh, apa sih? emang ada gitu nama rumput yang cantik?” tanyamu.

“Kalau kamu pernah lulus SMP pasti tahu, dulu di pelajaran biologi kita mempelajari tentang binomial nomenclature kan?,” tampak kau sedang berpikir.

“Apa sih? aku hanya ingat Oryza sativa,” serahmu.

“Si kejut,” jawabku.

What? Putri Malu? apanya yang kamu sukai?” tanggapmu.

Aku tak menjawab. Aku tahu, kau tahu bahwa aku tak sempurna. Ketika kau menginginkan aku seanggun Edelweiss, tetap tangguh, abadi dan mempesona di mana pun berada. Kenyataannya aku hanyalah sebatang Putri Malu. Iya, hanya rumput liar yang sesekali terjebak pada kemarau. Hibernasi yang seperti mati. Bahkan pada rangsang-rangsang yang halus, aku pun kalap. Menutup diri. Tapi sebagaimana kau tahu, Putri Malu yang liar itu juga ingin berbunga, begitu pun aku. Kau juga tahu, tak ada Putri Malu yang bisa berevolusi jadi Edelweiss. Apakah kau keberatan?

Tak terasa Ta, matahari telah maghrib. Langit menggelap. Jeda lagi. Berpisah lagi. Sampai jumpa, aku pasti merindukan hari ini lagi. Sayang, tak akan pernah ada lagi, jadi ijinkan aku menuliskannya.

Selamat Sore

March 28, 2009 at 12:59 pm | In Uncategorized | 1 Comment

Tak banyak sore yang mempertemukan kita sekarang

Tak banyak pula cerita yang kita bagi

Apa kabarmu di sana, Ta?

Barangkali sangat berlebihan kalau aku menebak kau sedang mengingatku sambil merebahkan lelahmu

Padahal, sangat mungkin kau belum beranjak dari barisan-barisan aksara yang tercetak rapi dalam buku-buku tebalmu

Atau pikiranmu masih tersita untuk memintal kata-kata

Uh, tahukah kamu?

Kadang-kadang aku mencemburui mereka

Betapa banyak huruf-huruf menyita tanganmu, menyita waktumu bahkan ruang dalam pikiranmu untuk sekedar mengingatku

Tapi kau begitu pandai melukis pelangi di hatiku

Hingga aku sama sekali tak keberatan tentang apa saja yang kau lakukan saaat ini

Bukankah hatimu aku?

Apakah kau mengiyakannya, Ta?

Aku tahu ini berlebihan

Tapi aku tak menemukan kalimat selain itu

Selamat sore, Ta

Sekedar sapaan menjelang senja, untukmu yang memanggilku Cinta

Next Page »

Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.