Mimpi yang Sempurna

Wisma Dinkes Ambarawa, 31 Desember 2008. Tiba-tiba saja saya teringat hari itu. Kurang sehari lagi, hari itu akan genap membilang 3 tahun berlalu. Hari itu saya adalah mahasiswa semester 5 dan salah satu karyawan Campusnet –warnet besar di Semarang. Kenapa di Ambarawa? Ceritanya sedang ada acara yang diadakan Campusnet yang bertempat di Ambarawa. Acaranya tentang refleksi akhir tahun dan resolusi tahun baru. Kami disuruh membawa foto-foto tentang orang yang paling berarti dalam hidup kita. Banyak dari kami yang membawa foto-foto keluarga, foto pacar, foto sahabat, dll. Dari foto-foto itu, kami harus menuliskan diskripsi singkat tentang foto itu.

Saat itu saya hanya membawa foto seseorang di depan menara Eiffel. Deskripsinya sangat singkat: Dia sahabat, yang mengenalkan pada saya tentang mimpi, harapan, cita-cita dan cinta. So sweet ya? :D . Dulu saya hanya mengambil foto itu dari blognya. Ijin lewat sms untuk memprint fotonya dan membawanya untuk tugas. Tentu saja dia bertanya-tanya kenapa saya memilih fotonya. Hahay, saat itu cinta masih samar-samar ya sayang :P . Sementara dalam hati saya membatin, kenapa saya memilih fotonya, karena dia termasuk resolusi besar saya di tahun baru yang akan datang, 2009. Saya harus bertemu dengannya, dan memperjelas hubungan kami. :D

Kembali ke acara refleksi dan resolusi tahun baru 3 tahun lalu. Kami diminta menuliskan resolusi untuk tahun yang akan datang. 1 tahun ke depan, 2 tahun ke depan, 5 tahun ke depan sampai 10 tahun ke depan. Tidak mudah memang merencanakan akan menjadi apa kita di tahun-tahun berikutnya. Kenapa tidak mudah? Bukankah kita cukup menulis rencana? Karena rencana itu tak ada artinya tanpa usaha mewujudkannya. Dan rencana itu tidak realistis tanpa melihat potensi yang kita miliki. Maka saat itu saya menulis Resolusi besar saya untuk:

  1. 1 tahun kedepan: saya akan bertemu dengan seseorang dan memperjelas hubungan kami. :D (Ini resolusi paling tak masuk akal :D ).
  2. 2 tahun ke Depan: menjadi sarjana yang lulus dengan nilai cum laude dan menjadi wisudawan terbaik. Berkarier untuk bidang yang saya sukai (menjadi guru atau dosen), belajar untuk menerbitkan buku, melanjutkan studi S2.
  3. 5 tahun ke depan: menjadi seorang Istri, Ibu dan wanita karier. Menulis setidaknya 5 buku best seller.
  4. 10 tahun ke depan: saya adalah orang paling bahagia dengan suami dan anak-anak yang saya cintai dan mencintai saya.

Apakah saat itu saya benar-benar realistis dengan harapan-harapan saya? Miris, saya belum begitu yakin. Masa depan bagi saya saat itu masih terlalu buram. Remang-remang. Saat itu yang paling jelas hanyalah 1 hal: saya mahasiswa semester 5 yang ingin lulus di semester 8 dengan nilai terbaik. Belum ada bayangan bisakah saya mewujudkan cita-cita saya, jadi guru atau dosen, menjadi penulis (apalagi best seller?), melanjutkan studi sampai jenjang paling tinggi dan juga saya belum tahu kapan akan menikah. Saya belum bisa memastikan. Saya hanya bisa mengatakan resolusi-resolusi itu mungkin hanya mimpi yang terlalu indah. Terlalu sempurna.

ari-hari berjalan, hingga saya sudah melupakan resolusi yang hanya seperti mimpi itu. Tapi, benar saja, resolusi pertama saya terwujud di 2009. Bertemu dengan seseorang yang ada di depan menara Eiffel itu. Memperjelas hubungan kami (I do love you ya sayang :*).

Di dua tahun setelahnya saya benar-benar menyelesaikan studi saya dengan nilai yang sangat memuaskan. Yang lebih tak terduga, kado terindah sepanjang hidup saya, saya menikah sepuluh hari sebelum wisuda. 2010, tahun bagi kehidupan baru kami. Benar-benar dia —seseorang di depan menara eiffel itu adalah cita-cita saya yang terwujud. Impian yang jadi kenyataan. Terima kasih sayang :*.

Sejak saat itu mimpi saya berganti. Saya hanya ingin menjadi istri yang selalu menyenangkan hati suami, mendampinginya di semua saat yang akan kami lalui, menjadi Ibu bagi anak-anak kami. Mendedikasikan seluruh waktu untuk kebahagian mereka. Tentang karier? Itu nomor sekian dan saya sudah lupa. Tentang studi sampai jenjang paling tinggi, ah, itu mungkin nanti. Bukankah tidak ada studi yang mempelajari tentang bagaimana menjadi Ibu Rumah Tangga yang baik? Sebenar-benarnya belajar menjadi Ibu rumah tangga adalah menjalaninya dengan sebaik mungkin, setuju?

 Tahun ini adalah tahun ketiga dari resolusi konyol saya itu. Sudah lama saya lupa. Sampai tadi pagi, saya dikejutkan dengan telepon yang memberitahukan bahwa buku kami akan dicetak ulang (cetakan pertama Juli 2011). Ini benar-benar kejutan. Benar-benar berita gembira. Angka yang cukup fantastis bagi saya (pemula dalam menulis) untuk bisa menembus cetak ulang dalam waktu 6 bulan. Apakah buku kami laku? :D

 Kejutan ini mengingatkan saya pada resolusi ketiga saya 2008 lalu. “5 tahun ke depan: menjadi seorang Istri, Ibu dan wanita karier (ini sudah saya delete, saya lebih suka berkarir jadi Ibu rumah tangga) dan menulis setidaknya 5 buku best seller”. Ok, sekarang saya adalah seorang istri dari suami terbaik di seluruh dunia, seorang Ibu dari bidadari cantik di Surga, seorang wanita yang mulai berkarir menjadi guru dan penulis. Tinggal wait and see, 2 tahun lagi apakah saya sudah menulis sedikitnya 5 buku untuk menjadi best seller? Semoga jumlah itu realistis untuk diwujudkan, dan saya bisa menulis lebih banyak. Amiiiin.

 Ini mimpi saya, mimpi yang sempurna. Perlahan-lahan terwujud. Yang buram, kini terang. Terima kasih suamiku sayang, kau adalah cita-cita yang terwujud, membawa saya terbang menjemput impian-impian yang lebih indah.

Saya percaya mimpi, kalian?

#Cerita ini ditulis sebagai refleksi akhir tahun 2011, tahun yang berat bagi kami, ketika kami harus berpisah sementara demi cita-cita yang indah, kehilangan bidadari kami, dan cobaan-cobaan lain. Semoga cukup, tahun ini menjadi tahun terberat dalam kehidupan kami. Ada tahun-tahun cerah menanti kami. Masih banyak mimpi yang ingin kami wujudkan, iyakan sayang?

Cita-cita dan Cinta

Apa cita-citamu waktu kecil? Jadi dokter, pramugari, perawat, guru, pedagang? Atau jangan-jangan ingin berguna bagi nusa dan bangsa? :D . Kerap kali anak-anak menjawab itu ketika ditanya tentang cita-cita. Tidak hanya anak zaman dulu ya, mungkin masih banyak anak-anak zaman sekarang menjawab seperti itu ketika ditanya tentang cita-cita. Sebenarnya siapa sih pencipta pertama cita-cita “ingin berguna bagi nusa dan bangsa”? Ada yang tahu?

Saya tidak tahu apa saja profesi yang kerap kali berkelindan di benak anak-anak. Pertama kali saya mengenal cita-cita, kelas 1 SD. Seandainya saya pernah masuk TK, mungkin saya akan mengenal cita-cita ketika seusia Upin-Ipin dkk. Sejak saat itu saya ingin menjadi guru yang berpenampilan menarik, terlihat cerdas, cantik, memakai baju bagus, berkacamata, bersepatu hak tinggi, dsb. Namanya juga anak-anak. Belum jelas apa maunya. Demi cita-cita itu, saya sering bertingkah sendiri di depan kaca, seolah-olah sedang menjadi guru. Malu mengingat kekonyolan semasa kecil.

Sampai umur bertambah ternyata kalau ditanya cita-citanya ingin jadi apa, tetap jawabnya ingin jadi guru. Tapi tentu saja imajinasinya bertambah. Ketika pelajaran IPS tentang transmigrasi, maka saya berkhayal jika besar nanti saya ingin ikut program transmigrasi yang diadakan pemerintah -Btw, sekarang masih ada program transmigrasi ga ya?- . Saya akan membangun rumah kecil yang sederhana. Berisi satu kamar tidur, dapur, kamar mandi, ruang kerja dan ruang tamu. Ketika pelajaran IPA tentang holtikultura, maka saya menginginkan rumah saya dilengkapai dengan pekarangan yang sangat luas. Akan ada apotik hidup, palawija dan aneka ragam bunga-bunga yang mekar di sana. Yang akan menjadi aktivitas saya setiap sore. Karena profesi saya nantinya jadi guru, jadi kan cuma bekerja setengah hari. Saya juga ingin kolam di pekarangan saya, biar pikiran bisa senantiasa sejuk. Lalu, jika malam hari, saya akan mengundang anak-anak untuk belajar di rumah saya. Maka, saya harus mempunyai banyak buku cerita agar anak-anak tertarik datang ke rumah. O lala, begitu indah ya? :D

Semakin dewasa, tentu saja semakin realistis. Usia SMP, tetep cita-cita saya mau jadi guru. Kali ini saya mulai memilih mata pelajaran. Ingin jadi guru apa ya? Awalnya ingin jadi guru bahasa inggris, karena guru bahasa inggris saya waktu itu cantik. Lalu ingin jadi guru Fisika, karena saya rasa mengajar fisika menyenangkan. Selain itu saya juga ingin jadi penulis cerpen. Pengaruh bacaan kali ya, dulu saya suka dengan tabloid anak Fantasi. Zaman dulu sih, tabloid itu masih memuat rubrik IPTEK yang membuat saya merasa mendapatkan hal baru. Tapi sejak saya usia SMA sepertinya tabloid itu melulu isinya tentang gosip artis. Tidak tahu ya sekarang. SMA, tetep cita-citanya mau jadi guru. Mau jadi penulis yang banyak menulis novel best seller.

Akhirnya ketika harus kuliah saya memilih jurusan pendidikan matematika. Tidak salah kan ya, untuk meraih cita-cita sedari kecil. Guru. Tidak seperti ketika masih kecil, saat mahasiswa meskipun sering berkhayal tapi berkhayalnya operasional. Realistis disertai target dan usaha yang jelas. Mulai belajar menulis yang baik. Mengirim tulisan ke berbagai media, majalah atau pun koran. Walaupun belum pernah ada yang dimuat kecuali di media lokal kampus. Yang karena agak putus asa akhirnya ngeblog. Ketika mulai mengenal cinta, akhirnya daftar cita-cita pun bertambah. Ingin cepat menikah :D . Ternyata cita-cita saya yang ini benar-benar ampuh membuat saya semangat untuk cepat lulus. Cinta memang luar biasa. Benar saja, setahun lalu saya lulus dan menikah. Eh, menikah dulu baru diwisuda. :-)

Sejak menikah, saya merasa hidup saya sempurna. Memiliki suami yang saya cintai dan mencintai saya. Tinggal di rumah yang baru saya sadari setelah beberapa lama tinggal di sana, seperti impian saya waktu kecil. Rumah ideal, satu kamar tidur, dapur, kamar mandi, ruang kerja dan ruang tamu :D . Dengan pekarangan yang luas dan rindang pepohonan. What a wonderfull life!. Seperti sudah tidak menginginkan apa-apa lagi. Kecuali membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah dan penuh kasih sayang. Apalagi ketika ketahuan hamil, semakin mantap rasanya memilih untuk jadi Ibu rumah tangga. Hanya karena tidak rela membayangkan anak-anak dan suami harus diurus pembantu ketika saya berkarir.

Ah, tapi nyatanya perjalanan cita-cita saya belum berakhir. Ketika suami harus mengejar cita-citanya, yang berarti cita-cita saya juga. Dengan segenap jiwa raga, saya pun mendukungnya. Walaupun awal tahun ini mengawali perjalanan berat dalam rumah tangga kami. Membentangkan jarak belasan ribu kilometer. Membilang ratusan hari demi bersatu kembali. Lalu cobaan-cobaan….

Eh, lalu apa cita-cita saya sekarang? Kata suami saya, saya itu tidak bakat mengajar. Pantesnya jadi boss, hehe :D . Terus kata teman saya, mengajar itu bukan passion saya. Nah lho, masih ingin jadi guru? Kalau dipikir-pikir juga, kenapa waktu kecil saya ingin jadi guru bukan karena suka dengan profesi guru tapi lebih ke penampilan seorang guru yang berpenampilan menarik, terlihat cerdas, cantik, tegas, berkacamata, bersepatu hak tinggi, dsb. Guru adalah seleb di kelas. Jadi intinya saya ingin jadi seleb? Huehehehe. Becanda. Tulisan ini juga sekedar distraksi. Saya cuma mau bilang, Ramadhan ini membuat saya menemukan ritme hidup kembali. Semangat!!

Ini ceritaku, bagaimana dengan ceritamu?

Saya, Tentang Kerinduan dan “Sebelas Patriot”

Bagi yang menginginkan sinopsis Sebelas Patriot, novel terbarunya Andrea Hirata itu, saya beritahukan sebelumnya bahwa tulisan ini bukanlah yang anda maksud. Jadi jangan salahkan saya, kalau tulisan saya ini 100% berisi curhat tentang saya. Ok? :D

Menemukan “Sebelas Patriot” tadi malam adalah kejutan bagi saya. Karena tadinya saya tidak berencana ke toko buku. Hanya sekedar jalan-jalan sore menemani Bu Lik dan anaknya yang sedang berbelanja untuk keperluan lebaran di Citraland. Tapi melihat Bu Lik saya dan anaknya yang 9 tahun, asyik memilih baju, entah kenapa perasaan saya tak karuan. Seperti cemburu, tapi saya tahu perasaan itu lebih tepat dikatakan iri. Apalagi melewati stand perlengkapan baby dan pakaian anak-anak, selalu sukses membuat perasaan saya tak karuan. Seketika melemparkan saya pada mimpi-mimpi dan seketika itu pula membuat saya sadar akan kenyataan. Ternyata begitu pahit dan sakit. Sebelum mata saya terlihat sangat basah karena air mata saya merembes, saya berpamitan ke Bu Lik untuk ke Gunung Agung saja.

Pikir saya, di Gunung Agung akan lebih nyaman. Menyelamatkan saya dari pemandangan yang menganduk-aduk hati saya, yaitu display-display baju anak-anak perempuan yang cantik-cantik. Tapi ternyata tidak sepenuhnya. Tiba-tiba saya menyadari, bahwa diri saya sudah tidak seperti beberapa tahun lalu. Bukan, bukan karena saya tiba-tiba tidak suka ke toko buku. Atau saya tiba-tiba tidak merasa lagi butuh dengan buku sehingga malas ke toko buku. Tetapi rasanya, kesenyapan yang sangat tiba-tiba menyergap di tengah hiruk-pikuk yang gemerlap. Padahal dulu saya biasa dengan keadaan seperti ini dan tidak pernah merasa sepi meskipun berjalan sendiri. Apalagi jalan-jalan ke toko buku, pasti saya lebih memilih sendiri.

Ketidakhadiran suami saya di sini, membuat saya seperti memakai kaos kaki sebelah saja. Atau memakai celana yang kebesaran tanpa ikat pinggang. Bahkan lebih dari itu, rasanya saya cuma bernapas dengan satu lubang hidung. Lebay ya? biarin :p. Sama tak nyamannya ketika di Robinson tadi. Saya sama sekali tak bergairah melihat-lihat buku. Apalagi setelah memastikan bahwa buku “Rangkuman Matematika SMA” yang kami susun, belum ada di sini. Hanya berjalan, berkeliling-keliling hingga tak sadar entah sudah berapa kali saya berputar di situ-situ saja. Saya tak melihat apa-apa, karena pikiran saya terlalu penuh dengan kerinduan. Berkali-kali saya merefresh halaman FB dari HP butut saya, tak ada inbox dari suami saya. Kami memang memanfaatkan fasilitas FB dalam berkomunikasi. Lebih hemat dibanding sms yang seharga 1/16 kg telur (alias sebutir :D ). Sayangkan daripada sms, mending dibuat belanja.

Tiba-tiba tangan saya menyentuh satu buku di deretan buku-buku terbaru. Sebelas Patriot. Teringat sebulan lalu kami pernah mencarinya di Gramedia tapi belum ada. Yang akhirnya membuat suami saya tidak menikmati jalan-jalan selanjutnya karena kecewa. Saya membeli novel ini untuknya. Mungkin akan mengirimkannya ke Belanda atau menyimpannya untuk dia baca ketika pulang (yang mungkin) setahun lagi. Baiklah, saya akan sabar menunggu waktu itu. Sepertinya perasaan saya yang mulai sabar dengan kesenyapan yang tadi menyiksa. Perlahan-lahan pikiran saya mulai utuh.

***

Membaca Sebelas Patriot membuat saya semakin kangen pada suami saya. Mengingat serunya nonton bola bareng dia. Dia yang mengajari saya menikmati acara menonton bola. Tadinya saya bersikukuh tak akan sudi mencintai tontonan itu. Karena tayangan sepak bola di TV selalu mengalihkan perhatiannya kepada saya. Cemburu. Tidak rasional kan? Memang begitulah saya dan mungkin kebanyakan perempuan sama tak rasionalnya seperti saya. Tapi akhirnya, saya luluh juga. Dia memang pandai meraih hati saya :P .

Setiap jeda paragraf dalam Sebelas Patriot membuat saya melamun. Tentang masa-masa paling membahagiakan, ketika kami menebak-nebak jenis kelamin anak kami sambil nonton pertandingan piala AFF. Lalu saya menikmati setiap tendangan janin yang ada dalam rahim saya, yang saya menyebutnya main bola. Setiap kalimat dalam novel ini, membuat saya semakin menginginkan dia ada di samping saya sekarang. Merindukan dia berteriak  gooooooooooool, lalu memeluk dan mencium saya. Geli mengingat sepanjang pertandingan, saya justru berdo’a agar tim jagoannya menang. Lalu, dia rela keluar malam-malam membelikan saya roti bakar. Dan masih banyak lagi, kenangan-kenangan itu berseliweran.

Saya, tentang kerinduan dan Sebelas Patriot. “Prestasi tertinggi seseorang, medali emasnya, adalah jiwa besarnya.” Kutipan ini adalah salah satu kalimat dalam Sebelas Patriot yang saya suka selain “Begitu besar cinta, begitu singkat waktu, begitu besar kecewa, lalu tidak ada hal selain menunggu…….., lalu bergembira lagi.” Begitupun kita, iyakan Suamiku sayang?

Ini ceritaku, bagaimana dengan ceritamu? :D

Apa Kabar Sayang?

Seperti malam-malam kemarin sayang, aku susah tidur malam ini. Mungkin karena seharian kita sama sekali belum chat. Biasanya meski hanya satu jam, pasti ada waktu yang terluang untuk itu. Tapi sehari ini, ah, rasanya hari ini lebih panjang berlalu. Juga malam ini, rasanya lebih panjang dari biasanya. Terlebih lagi, rasa panas yang membakar tubuhku. Bukan, bukan karena aku sakit. Aku baik-baik saja, suhu tubuhku normal. Barangkali karena kehamilanku mulai memasuki trimester ketiga, jadi meskipun udara di luar dingin tetap saja aku kepanasan. Berkali-kali aku mengganti baju karena sebentar-sebentar saja, bajuku basah oleh keringat.

Ah, kenapa aku jadi berkesah sendiri. Bukankah mungkin hari ini sangat berat kau lalui. Barangkali kau juga mulai bosan karena tiap hari harus menyiapkan makananmu sendiri. Mulai berpikir mencuci bajumu sendiri, karena sebentar lagi baju-bajumu mulai kotor semua. Padahal kau harus tetap belajar. Dan kau tak pernah mengeluh padaku, walaupun sebenarnya sejak berangkat sembilan hari yang lalu kau mulai batuk-batuk, yang artinya kau sakit. Tapi kau tak pernah bercerita tentang keberatanmu di sana. Karena kau tak ingin membuatku khawatir dengan keadaanmu kan?

Terima kasih untuk hari ini sayang, meskipun kita tak sempat chat tapi hari ini kau begitu romantis. Aku rasa kau sudah tahu konsep romantis yang sangat sederhana bagiku. Tak perlu kau bawa setangkai bunga mawar atau sebuah hadiah-hadiah. Apalagi acara makan di tempat syahdu di bawah purnama yang dikelilingi lilin-lilin. Tidak. Cukup bagiku, romantis itu saat kau luangkan waktumu di tengah sibukmu untuk menyapaku. Itu yang ku ingini setiap hari, dan hari ini kau mulai mengerti. Terima kasih sayang. Betapa aku sangat bahagia merasa kau rindukan. Merasa memiliki jedamu, menyita sibukmu sejenak.

Di sini malam hendak berlalu, dan aku menunggu senjamu di sana. Apa kabarmu hari ini sayang?

Mengakrabi Sepi, Berteman Kerinduan

Apa kabar? Saat saya bertanya seperti itu padamu, sungguh itu bukan basa-basi. Bukan jawaban sependek kata baik-baik saja yang saya ingini. Tapi sebenar-benarnya jawaban. Sejelas-jelasnya keadaan. Sedetil-detilnya kejadian yang sedang terjadi di sana. Hingga biarlah nanti saya simpulkan sendiri, apakah benar kabarmu baik-baik saja. Maka jawablah pertanyaanku sekarang, apa kabar Sayang?

Saya sepenuhnya tahu, Kau tak ingin membuat saya khawatir. Dengan bercerita tentang musim dingin yang tak bersahabat di sana. Tentang banyak sekali urusan yang harus kau selesaikan sendiri. Mulai dari urusan makan, yang selama ini kau selalu ingin tak mau tahu bagaimana saya kebingungan memilih seleramu. Urusan keimigrasian yang pastinya membuatmu cape dan mungkin kesal. Sebagaimana saya mengenalmu, kau tak pernah suka berurusan dengan hal-hal administratif. Sampai tugas-tugas yang harus kau selesaikan. Semuanya sendiri, dengan waktu sehari yang terbatas. Saya tahu, dan bisa membayangkan semua itu.

Sehingga saya merasa tak berhak meminta waktumu sesering mungkin, untuk sekedar bertanya kembali, bagaimana dengan kabarku? Saya mulai mengakrabi sepi di sini, berteman dengan kerinduan. Biarlah waktu tidur yang saya miliki tak sempurna. Karena sebentar-sebentar terbangun karena menginginkan waktu luangmu. Menginginkan sapaanmu. Merinduimu.