Lilin Kecil

Sekedar Belajar Hidup

Arsip untuk Januari 19th, 2008

Sebuah Keberartian

Ditulis oleh mezzalena di/pada Januari 19, 2008

Disadari ato ga kita masih sering mempermasalahkan sebuah ‘arti’. Padahal, jika keberartian diri masih kita gantungkan sama seseorang. Sama seberapa banyak orang bilang terima kasih sama kita. Sama seberapa banyak orang bilang diri kita sangat penting.

Seperti itukah diri kita? melakukan banyak hal untuk mendapatkan predikat penting? lalu? arti diri digantung sama orang lain? kalau ternyata orang lain gak da yang tau? kalau ternyata semua orang biasa saja sama kita? mau digantung sama apa lagi? diri kita jatuh. merasa gak penting, merasa tak punya arti. merasa lebih baik hidup sendiri. sementara semua orang diluar jahat semua.

Padahal, bukan kesalahan orang seluruh dunia. Sebuah keberartian itu ada pada diri sendiri. yang pintar-pintar menghargai diri sendiri. berterimakasih pada diri sendiri. kalau ternyata, diri kita mau diajak berbuat baik. bukan orang lain.

lalu dimana arti Ikhlas?

Bukankah ternyata Tuhan hanya menghitung perbuatan kita yang ikhlas-ikhlas saja? tapi kalau ternyata kita masih menganggap penting arti dari orang lain, kapan kita mau ikhlas?

Ditulis dalam Uncategorized | 3 Komentar »

Saat Burung dan Ikan Bersahabat

Ditulis oleh mezzalena di/pada Januari 19, 2008

Ini bukan dongeng, tapi sekedar cerita. Bukan cerita anak-anak, tapi boleh juga diceritain sama anak-anak. ini juga bukan aku yang mengarang, tapi aku pernah membacanya dalam versi inggris di buku paket bahasa inggris SMA. barangkali teman-teman pernah membacanya.

Ceritanya ada burung dan ikan yang bersahabat. Namai saja burung itu Elang, punya teman seekor ikan sebut saja Mujair. mereka bersahabat sudah lamaa sekali. Saking lamanya mereka lupa, kapan mereka bertemu untuk pertama kalinya. Tapi mereka masih ingat, dimana mereka bertemu. Saat itu Elang sedang jalan-jalan ke sungai (emang elang suka jalan-jalan?) anggap saja begitu. Bertemulah mereka, berkenalan,  dan akhirnya bersahabat. Tiap hari Elang mengunjungi Mujair. Mereka bercerita apa aja. tentang masa lalu mereka, tentang keluarga mereka, n everything about mereka. akhirnya mereka merasa saling memiliki satu sama lain. merasa saling tahu perasaan masing-masing. merasa satu. hingga suatu hari ….

Hal yang tidak di inginklan pun terjadi, …

bulan januari, langit sering nangis gak henti-henti. akhirnya, air dimana-mana. banjir. sungai-sungai meluap. si elang terbang ke pohon-pohon. trus naik ke gunung. tapii..  dia ingat sama sahabatnya, mujair.

“banjir gede kayak gini, mujair pasti tenggelam” pikirnya.

aku harus menolongnya, dia gak bisa terbang.

aku ga mau kehilangan dia.

akhirnya elang ke sungai dan mencari mujair.

“Mujair ngapain kamu masih disitu?” sapa elang ketika ketemu mujair

“seperti yang kamu liat, aku lagi berenang-renang” jawab mujair.

“air terus meluap, ntar kamu tenggelam” seru elang

“ga pa pa, elang. aku akan baik-baik saja” jawab mujair dalam bahasanya

“ikut aku mujair, aku akan menolongmu. kamu tidak boleh tenggelam” seru elang lagi.

mereka saling  berkomunikasi dalam bahasanya masing-masing. akhirnya elang nekat nyebur ke air dan membawa terbang Mujair. menyelamatkan mujair dari banjir, menurutnya.

Sementara itu,… Mujair megap-megap. Kehabisan Nafas. Dehidrasi. Mati.

Elang tak pernah menyadari kesalahannya. karena ia tak pernah bersalah. ia hanya tidak tahu bahasa Mujair, karena Elang adalah burung. dan Mujair Ikan. meskipun mereka bersama, mereka tetep berbeda.

persahabatan dua orang yang berbeda, akan tetap berbeda. meskipun keduanya merasa saling tahu. merasa saling satu. tapi hidup dan hati yang berbeda tetap terus beda. kuncinya saling mengerti. Saling memahami. saling memaafkan.

 

 

 

 

 

Ditulis dalam cerita | Tidak ada komentar »

Sebuah Hati Itu Terluka

Ditulis oleh mezzalena di/pada Januari 19, 2008

Sori Tuhan,

Tadi malam telah ku lukai sebuah hati yang Kau cintai

Tentu saja bukan inginku

Sebuah bahasa yang beda makna

Kalau saja bisa

Kalau saja waktu itu bisa aku cancel untuk tidak berlalu demikian

Aku masih ingin hati itu seputih dulu

… …

Jika hujan tak mau menghapusnya

Apalagi sinar matahari

Tak akan bisa mencairkan luka itu

Hukum aku, Tuhan

Tapi jangan lama-lama ya

Aku ga bisa terus merasa bersalah

Aku sudah minta maaf

Sudah ku bilang sori

Tapi sebuah hati itu terlanjur terluka

Ditulis dalam Poem | 1 Komentar »