Sebuah Keberartian
Ditulis oleh mezzalena di/pada Januari 19, 2008
Disadari ato ga kita masih sering mempermasalahkan sebuah ‘arti’. Padahal, jika keberartian diri masih kita gantungkan sama seseorang. Sama seberapa banyak orang bilang terima kasih sama kita. Sama seberapa banyak orang bilang diri kita sangat penting.
Seperti itukah diri kita? melakukan banyak hal untuk mendapatkan predikat penting? lalu? arti diri digantung sama orang lain? kalau ternyata orang lain gak da yang tau? kalau ternyata semua orang biasa saja sama kita? mau digantung sama apa lagi? diri kita jatuh. merasa gak penting, merasa tak punya arti. merasa lebih baik hidup sendiri. sementara semua orang diluar jahat semua.
Padahal, bukan kesalahan orang seluruh dunia. Sebuah keberartian itu ada pada diri sendiri. yang pintar-pintar menghargai diri sendiri. berterimakasih pada diri sendiri. kalau ternyata, diri kita mau diajak berbuat baik. bukan orang lain.
lalu dimana arti Ikhlas?
Bukankah ternyata Tuhan hanya menghitung perbuatan kita yang ikhlas-ikhlas saja? tapi kalau ternyata kita masih menganggap penting arti dari orang lain, kapan kita mau ikhlas?
Januari 29, 2008 pada 7:02 am
sesungguhnya manusia takkan bisa
menikmati surga
tanpa ikhlas di hatinya
kox jadi ungu seeeeeeh
Januari 29, 2008 pada 7:06 am
maaf,
ternyata ketidakikhlasan itu menyakiti hatimu
lebih dari sakitku
itu hanya aku
dengan kekanak-kanakkanku
dengan kebelumdewasaaanku
dengan kebelummatanganku
diimbu, or digodhog sek ben mateng yaaaaaaa
___________________________
meZza said : semua dah lewat,
waktu yang kan mengajari
waktu yang kan mendewasakan
waktu yang kan menjawab
Februari 13, 2008 pada 5:34 am
entah. cuma itu yang bisa saya jawab. sebab keberartian ternyata sama pentingnya dengan menanyakan ‘apa tanda keberadaan Tuhan’. artinya semua itu sama buruknya ketika kita menyadari bahwa kita ternyata sangat kecil dan terbatas.
_________________________
meZZa said : ???