Ditulis oleh mezzalena di/pada Februari 28, 2008
Sisa pertengkaran kita semalam, kawan
Belum sempat ku rapikan pagi ini
Hatiku masih tercecer berantakan di ruang tamu
Bagaimana dengan kabarmu pagi ini, kawan?
Apa kau sempat mimpi indah semalam?
Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Poem | 6 Komentar »
Ditulis oleh mezzalena di/pada Februari 27, 2008
Satu kerajaan sama dengan satu gelas air? Bagaimana mungkin? mungkin saja jika itu di negeri dongeng. Mungkin begitu jawabnya. Tapi saya disini sedang tidak ingin mendongeng. karena sebenarnya saya tidak begitu pintar mendongeng. lalu, ya mungkin saja jika itu adalah metafora. Lalu apakah satu kerajaan sama dengan segelas air itu benar di dunia dongeng, atau hanya sebagai metafora?
Baiklah, langsung saja simak cerita berikut ini. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam cerita | 1 Komentar »
Ditulis oleh mezzalena di/pada Februari 25, 2008
Pagi gerimis, tawa tak pantas. Karena gerimis lebih indah bersanding dengan tangis. Bukan apa-apa, tentu saja karena rima yang sama. Tak ada rencana bersedih, tapi mendung pekat itu selalu mengajak kelamnya kelabu. Ada apa denganmu? Jika ada yang bertanya begitu, terimakasihku, sebelum ku jawab bahwa pagi ini datang tak seperti yang ku harapkan.
Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Cerpen | 4 Komentar »
Ditulis oleh mezzalena di/pada Februari 22, 2008
Pernah kumiliki seribu purnama bersamamu
tapi ternyata hanya pernah
yang ku kira tidak berakhir
tapi ‘pernah’ hanyalah kata yang punya pagar
punya tanda baca bernama titik
punya kata yang disebut sekian
hanya ‘pernah’ bersamamu ku miliki seribu purnama
dan kini
hanya selimut mendung yang jadi milikku
mendekap dengan dingin tak terperi
menunggu musim berganti
menanti bintang-bintang mulai berkerlip mesra
mengusir gerimis yang tak romantis
kapan aku diizinkan mengucap selamat tinggal hujan…
aku merindu purnama disini
Ditulis dalam Poem | 6 Komentar »
Ditulis oleh mezzalena di/pada Februari 2, 2008
Bukan langit yang selalu jujur menghampar begitu saja
telanjang tak beratap pun tak berpayung
apalagi bercelana
tidak
bukan laut yang selalu tulus menerima apa saja
yang tak berpagar juga tak bertembok
apalagi berpintu
tentu tidak
hatiku bersekat-sekat
ada darah yang menyimpan rahasia
yang tak butuh dan tak berubah karena apapun
yang terus mengalir pada jalannya
ada empedu yang menyimpan sejuta pahit masa lalu
yang tak bisa ku bagi pada siapapun
yang terus mengendap bersama mimpi-mimpi buruk malamku
bersekat-sekat juga berjendela
banyak sekali ruang yang penuh segala macam kenangan
tidak untukmu
jangan tanya kenapa
hanya mentari yang tenggelam senja ini,
sedikit mengabarkan cuaca buruk esok pagi
Ditulis dalam Poem | 5 Komentar »