Posted by: mezzalena on: February 22, 2008
Pernah kumiliki seribu purnama bersamamu
tapi ternyata hanya pernah
yang ku kira tidak berakhir
tapi ‘pernah’ hanyalah kata yang punya pagar
punya tanda baca bernama titik
punya kata yang disebut sekian
hanya ‘pernah’ bersamamu ku miliki seribu purnama
dan kini
hanya selimut mendung yang jadi milikku
mendekap dengan dingin tak terperi
menunggu musim berganti
menanti bintang-bintang mulai berkerlip mesra
mengusir gerimis yang tak romantis
kapan aku diizinkan mengucap selamat tinggal hujan…
aku merindu purnama disini
Duh, maaf nih, saya mah ga ngerti tentang puisi, jadinya susah memaknai makna di balik puisinya mba…
____________________
mezza said: maaf kembali…
aku minta ujan aja deh dari pada purnama, soalnya di sini udah panas
_______________
mezza said: ough ternyata masih ada matahari di belahan bumi yang lain
tak pikir matahari dah tenggelam terus … abisnya sini ujan 2 minggu belum reda, hiks…hiks..
Saya belajar membaca puisi saja deh… .. mmm… untuk mengartikan makna di baliknya, ternyata ga mudah.
Buth ‘kecerdasan bahasa’ yang bagus untuk memahaminya. Bener ga mba?
February 23, 2008 at 5:12 am
Wehehehe… Jadi ingat lagunya Siti “Purnama Merindu”… Lagunya syahdu sekali…
Salam kenal juga…
_________________
Mezza Said: mas arif maniak banget sama Siti ya? salam kenal juga