Merindu Purnama
Ditulis oleh mezzalena di/pada Februari 22, 2008
Pernah kumiliki seribu purnama bersamamu
tapi ternyata hanya pernah
yang ku kira tidak berakhir
tapi ‘pernah’ hanyalah kata yang punya pagar
punya tanda baca bernama titik
punya kata yang disebut sekian
hanya ‘pernah’ bersamamu ku miliki seribu purnama
dan kini
hanya selimut mendung yang jadi milikku
mendekap dengan dingin tak terperi
menunggu musim berganti
menanti bintang-bintang mulai berkerlip mesra
mengusir gerimis yang tak romantis
kapan aku diizinkan mengucap selamat tinggal hujan…
aku merindu purnama disini
Februari 23, 2008 pada 5:12 am
Wehehehe… Jadi ingat lagunya Siti “Purnama Merindu”… Lagunya syahdu sekali…
Salam kenal juga…
_________________
Mezza Said: mas arif maniak banget sama Siti ya? salam kenal juga
Februari 23, 2008 pada 6:47 am
Duh, maaf nih, saya mah ga ngerti tentang puisi, jadinya susah memaknai makna di balik puisinya mba…
____________________
mezza said: maaf kembali…
Februari 23, 2008 pada 9:34 am
::jika dah bertemu seribu purnama memang kan datang kabut mendung gelap gulita, namun purnama seribu hanya tertutup koq…
_____________
mezza said: Yup! sejatinya purnama memang selalu ada saat dia harus ada
Februari 23, 2008 pada 10:27 am
wew… puisi mezza kok selalu tragis, yak? hehehehe
konon puisi itu ekspresi jujur dari sang penyair, hiks. *jadi sok tahu* apa mezza sedang menghadapi situasi2 tragis semacam itu? *halah, bercanda kok* tapi ok juga kok lirik2nya, mengingatkan saya akan puisi2 imajisnya gunawan mohammad. BTW, pernah nyoba kirim puisi ke koran atau majalah? dicoba ajah. trus cerpen2 mana? kok aku belum lihat postingan ttg cerpen?
____________________
Mezza said: sedang belajar mengumpulkan kekuatan agar bisa terus ngirim puisi ke media ne pak, soalnya ga pernah kemuat (duh, malu). buat cerpennya ditunggu aja ya pak.
Februari 23, 2008 pada 2:20 pm
aku minta ujan aja deh dari pada purnama, soalnya di sini udah panas
_______________
mezza said: ough ternyata masih ada matahari di belahan bumi yang lain
tak pikir matahari dah tenggelam terus … abisnya sini ujan 2 minggu belum reda, hiks…hiks..
Februari 25, 2008 pada 3:31 am
aduh bu’…purnama terus bahasnya. bulan pisang napa?