Lilin Kecil

Sekedar Belajar Hidup

Trus Karya Tataning Bumi Part 2

Ditulis oleh mezzalena di/pada April 11, 2008

ml-yono Berkata:
April 11, 2008 pada 8:00 am e

jepara oh jepara, ya ultah kemarin di meriahkan dari AKPOL di alun-alun jepara,setelah upacara selesai di lanjutkan dengan atraksi dari akpol & drumbend keliling kota yang sangat meriah.

Mungkin ini posting telat. Hari jadi kota Jepara sudah dirayakan kemarin. Sayang sekali saya tidak sedang berada di Jepara, maka saya hanya bisa ikut perayaan itu dengan cara saya sendiri. Disini. Meskipun telat.

Mungkin pembaca yang budiman merasa janggal dengan foto di atas. Kenapa bercerita tentang hari jadi kota Jepara di awali dengan foto gapura sebuah makam?? Saudara-saudara yang sudah pernah berkunjung ke sana pasti tahu kalau Gapura makam itu adalah makam Ratu Kalinyamat dan Suaminya, Sunan Hadirin, yang berada di Mantingan, 5 km arah selatan dari pusat kota Jepara.

Lalu hubungan Ratu Kalinyamat dengan hari jadi jepara? Seperti di postingan sebelumnya, bahwa hari jadi kota Jepara itu ditetapkan berdasarkan hari dimana Ratu Kalinyamat dinobatkan sebagai penguasa Jepara pada 10 April 1549, yang ditandai dengan candra sengkala Trus Karya Tataning Bumi, yang berarti “Terus berkarya membangun daerah.”

***

Tentang makam itu, selain menyimpan sejarah Jepara, juga menyimpan sejarah tersendiri bagi saya.

2 April 2005, Hari itu Sabtu. Saya masih duduk di bangku Madrasah Aliyah. Adalah hari tenang persiapan Ujian Akhir Sekolah (UAS) hari seninnya. Semua Mata Pelajaran sudah rampung. Tapi semua wajah kami menunjukkan ketegangan yang luar biasa. Tiba-tiba guru matematika saya masuk kelas dengan membawa beraneka ragam jajan pasar. Duduk dengan tenang, dan mengucap salam. Kemudian beliau berceramah panjang. Tentang arti Do’a dan Qadha Qadar. Tata cara berdo’a dan sebagainya. Ada do’a secara langsung, ada juga do’a dengan cara berwasilah. Beliau juga menerangkan tentang ziarah kubur. Tentang keberadaan Ruh yang telah meninggal dunia.

Intinya ceramah itu adalah pengantar untuk mengajak kita berwasilah membaca manaqib. Hari itu saya, dan semua teman-teman melihat sosok yang lain dalam wajah guru matematika kami. Biasanya kami mengenal beliau lebih dekat dengan rumus-rumus dan bilangan-bilangan. Ternyata beliau mempunyai pengalaman spiritual yang banyak. Mengakhiri acara do’a bersama siang itu, Guru matematika kami menawarkan barang siapa yang tertarik berziarah ke makam Ratu Kalinyamat dan suaminya Sunan Hadirin, maka beliau dengan bersenang hati mengantarkan kesana. Karena kebetulan rumah beliau di depan makam Sunan Hadirin.

“Mungkin suatu hari nanti, ketika kalian sudah lulus, dan akan berziarah ke makam sunan Hadirin jangan lupa main ke rumah saya. Nanti saya antar kalian kesana. Kita berdo’a bersama.” Itu kalimat yang terakhir sebelum mengucap salam dan keluar meninggalkan kelas.

****

Hari itu tanggal 9 April, ketika kami menyelesaikan UAS kami dengan baik. Bapak Kepala Sekolah meminta kami untuk berkumpul di aula sebelum pulang. Beliau menyampaikan banyak hal. Yang paling saya ingat adalah :

“Marilah kita berdo’a bersama karena satu Bapak kita sedang terkena musibah,” Bapak kepala Sekolah mengambil jeda di kalimat ini.

Kami saling berpandangan.

“Senin kemarin pak Subur, guru matematika kita mengalami kecelakaan. Hingga hari ini beliau masih belum koma,” Beliau mengambil nafas. Seperti sesak.

Kami tercekat. Betapa kabar itu benar-benar jadi rahasia bagi kami selama sekian hari. Kami memang sempat mendengar kabar musibah itu, tapi kami kira itu hanya kecelakaan kecil. Bahkan kami sempat bergurau “Pak subur kecelakaan? paling juga lecet doang … kan katanya orang yang pinter fisika kalau naik motor ga akan kecelakaan, sudah di perhitungkan GLB dan GLBBnya, … kan Pak Subur pasti pinter fisika.” Itu gurauan kami. Karena tidak mengira bahwa beliau separah itu, kami bahkan sempat bercanda. Mengirim SMS ke HP beliau yang isinya ‘ Pak katanya kecelakan ya? Cepat sembuh ya pak … sory ga bisa nengok, kita lagi ujian’.

“Mari kita berdo’a bersama, semoga keadaan beliau cepat sembuh. Bisa kembali berada di tengah-tengah kita.” Lalu kami berdoa bersama.

Kemudian saya pulang dengan gontai. Meskipun Bapak Kepala Sekolah sempat mengatakan kalau UAN (Sekarang UN) akan diundur hingga bulan mei, tapi rasanya itu bukan berita yang baik. Baru beberapa menit masuk rumah, tiba-tiba ada sms:

“Innalillahi wa inna ilaihi rajiuun, telah kembali ke Rahmatullah, Bapak guru metematika kita tercinta siang ini, akan dimakamkan sore ini juga di makam Sunan Mantingan.”

Saya tidak ingat siapa yang mengirimkannya. Karena kemudian saya langsung pusing hendak pingsan. Sampai teman-teman berkumpul di rumahku, kita berangkat bersama-sama ke Mantingan (rumah beliau). Kalimat terakhir beliau terus terngiang sepanjang perjalanan.

Kemudian, …. saya tidak bisa meneruskan cerita ini. Karena ternyata, rasa kehilangan itu masih sesak disini. Saya mohon pada pembaca semua, untuk berdo’a bersama semoga Beliau tenang disisi-Nya, diterima semua amal perbuatanya, Amin. ================================================================ Gambar diambil dari sini

Tentang Wasilah bisa dibaca di sini

5 Tanggapan ke “Trus Karya Tataning Bumi Part 2”

  1. Sawali Tuhusetya Berkata:

    saya ikut berdoa, mbak hibah, semoga perjalanan pak guru matematika, rekan sejawat saya itu, bisa tenang menghadap ke haribaan-Nya, diampuni segala dosanya, dan amal jariyahnya terus mengalir menemaninya selama di alam baka.

  2. mathematicse Berkata:

    Inna lillahi wainna ilaihi raji’un. Mudahan-mudahan ilmu dan amal baik beliau diterima oileh Allah Swt.Amin.

  3. goop Berkata:

    turut berduka, sepertinya maut memang bukan untuk gurauan yak :cry:

  4. hanggadamai Berkata:

    semoga arwah beliau diterima disisiNya

  5. stey Berkata:

    Turut berduka buat gurunya, semoga beliau diterima disisi-Nya..

Tinggalkan Balasan

XHTML: kamu dapat menggunakan tag-tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>