Berbagi

May 10, 2008 at 1:32 am | In Poem | 16 Comments

Kita saling membagi hingga tak peduli sampai kapan matahari akan tetap tenggelam

Karena pembagian sebanyak apapun akan selalu memberi sisa

Kecuali berbagi dengan dirimu sendiri, yang hanya menciptakan sebuah bilangan keakuan ’satu

Tapi teman, …

Tak seperti angka yang tak habis terbilang

Kadang-kadang angin mengaburkan diriku hingga seperti lenyap

Lalu, sisa apalagi yang bisa ku bagi?

Kecuali penat dan lelah yang keluar sebagai kesah

Dan jawabmu …

Berjalan denganmu, seperti berjalan kearah barat di waktu pagi hari dalam sajak-sajak Sapardi

Kaulah aku, dan aku lah bayang-bayang

Lalu kita melegang beriringan, menari bersama angin

Berbagi sampai pagi tak kabarkan mentari

===================================================================

Notes:

Karena pembagian sebanyak apapun selalu memberi sisa
Kecuali berbagi dengan dirimu sendiri, yang hanya menciptakan sebuah bilangan keakuan ’satu

Haha … kalau dirasa-rasain kalimat itu kok ganjil ya? Itu berlaku kalau bilangan yang kita bagi adalah bilangan prima atau satu. Karena kalau bilangan yang kita bagi bukan prima dan bukan satu maka selalu akan ada bilangan lain yang selalu bisa membagi habis bilangan tersebut tanpa sisa.

YupZ! karena ini adalah puisi, maka anggap saja kalimat itu benar, dengan syarat yang kita bagi adalah bilangan prima atau satu. Karena berbagi disini adalah berbagi tentang diri kita dengan orang lain. Anggap saja diri kita dan orang lain itu saling prima. Tetapi rasanya tidak mungkin karena seperti kata Prof. Driyarkara manusia adalah Homo homini socius. Baiklah kita sepakati bahwa yang kita bagi adalah diri kita, dan diri kita adalah satu.

Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.