Berbagi
Ditulis oleh mezzalena di/pada Mei 10, 2008
Kita saling membagi hingga tak peduli sampai kapan matahari akan tetap tenggelam
Karena pembagian sebanyak apapun akan selalu memberi sisa
Kecuali berbagi dengan dirimu sendiri, yang hanya menciptakan sebuah bilangan keakuan ’satu
Tapi teman, …
Tak seperti angka yang tak habis terbilang
Kadang-kadang angin mengaburkan diriku hingga seperti lenyap
Lalu, sisa apalagi yang bisa ku bagi?
Kecuali penat dan lelah yang keluar sebagai kesah
Dan jawabmu …
Berjalan denganmu, seperti berjalan kearah barat di waktu pagi hari dalam sajak-sajak Sapardi
Kaulah aku, dan aku lah bayang-bayang
Lalu kita melegang beriringan, menari bersama angin
Berbagi sampai pagi tak kabarkan mentari
===================================================================
Notes:
Karena pembagian sebanyak apapun selalu memberi sisa
Kecuali berbagi dengan dirimu sendiri, yang hanya menciptakan sebuah bilangan keakuan ’satu
Haha … kalau dirasa-rasain kalimat itu kok ganjil ya? Itu berlaku kalau bilangan yang kita bagi adalah bilangan prima atau satu. Karena kalau bilangan yang kita bagi bukan prima dan bukan satu maka selalu akan ada bilangan lain yang selalu bisa membagi habis bilangan tersebut tanpa sisa.
YupZ! karena ini adalah puisi, maka anggap saja kalimat itu benar, dengan syarat yang kita bagi adalah bilangan prima atau satu. Karena berbagi disini adalah berbagi tentang diri kita dengan orang lain. Anggap saja diri kita dan orang lain itu saling prima. Tetapi rasanya tidak mungkin karena seperti kata Prof. Driyarkara manusia adalah Homo homini socius. Baiklah kita sepakati bahwa yang kita bagi adalah diri kita, dan diri kita adalah satu.
Mei 10, 2008 pada 2:54 am
Ah,saya juga ingin satu yang seperti itu.
Mei 10, 2008 pada 3:09 am
Satu yang seperti apa Pak? apakah satu itu bermacam-macam? Bukankah satu itu cuma satu. Bilangan yang tak pernah habis terbagi oleh bilangan berapapun kecuali dengan dirinya sendiri.
Mei 10, 2008 pada 3:51 am
jadi mo berbagi apa nih?
maap saya kurang ngerti puisi…
Mei 10, 2008 pada 4:14 am
dari aku berbagi komentar aja yak
Mei 10, 2008 pada 7:00 am
Waktunya berbagi….
Mei 10, 2008 pada 12:57 pm
@Semuanya terimakasih sudah berbagi kunjungan … Salam kenal semua
Mei 12, 2008 pada 8:20 am
huhuhu..Sapardi..
Mei 12, 2008 pada 9:54 am
yuks kita berbagi dalam kebaikan
Mei 12, 2008 pada 10:05 am
berbagialh. dengan prima maupun irrasional
Mei 12, 2008 pada 12:10 pm
sala kenal mezzalena (lilin kecil ku). berbagilah pada jisimku yang satu dan dirimu.
Mei 12, 2008 pada 1:07 pm
YAng bikin saya kagum, kamu bisa menulis puisi.
(sorry ga nyambung ya komennya?
)
Mei 12, 2008 pada 5:20 pm
lalu aku hilang bersama wujud hakikiMu dimana aku hanya wujud majasiMU.
Mei 13, 2008 pada 3:35 pm
satu, itu setahuku bilangan ganjil yang akan selalu hadir di setiap dimensi ruang dan waktu.
Mei 14, 2008 pada 9:42 am
@Stey : Kenapa mba dengan Sapardi?



@Hangggadamai : YuK!
@Arroyani : Maksudnya gimana Non? mari berbagi …
@Yaroh : Salam kenal juga … mari berbagi.
@Mathematicse : Terimakasih pak … Masih belajar
@LangitJiwa : Terimakasih sudah meninggalkan jejak disini ..
@Sawali Tuhusetya : begitu ya pak?
Mei 18, 2008 pada 7:52 am
Karena pembagian sebanyak apapun selalu memberi sisa
Kecuali berbagi dengan dirimu sendiri, yang hanya menciptakan sebuah bilangan keakuan ’satu
ini benar sekali kalo kata saya…
karena memang diri kita cuma satu…dan berbagi yang paling sering memang pada diri sendiri dulu…jadi di awet awet ya…cuma ada satu tuuh… *abis baca blog orang tentang suicidal*
Mei 31, 2008 pada 10:49 am
weew…
opo kui Kaulah aku, dan aku lah bayang-bayang rak mudeng, aq… @-)