Mimpi
Ditulis oleh mezzalena di/pada Mei 13, 2008
“Ternyata berpura-pura itu melelahkan teman” Katamu di sore yang kering, tengah Mei. angin kering menampar-nampar wajahmu yang juga kering. Aku tak menjawab, tak juga bertanya. Bukan tak peduli, tapi aku hanya sedang bersabar menungggu kalimatmu yang bersambung, untuk melengkapkan maksudmu. langit hari ini tak berawan, tak ada kepura-puraan, semuanya telanjang, entah aku belum mengerti apa yang kamu maksud dengan kepura-puraan.
“Selama ini aku bermimpi. mengisi hidupku dengan mimpi. Hidupku adalah mimpi.” kau menghela napas, lalu bercerita tentang akhir pekanmu yang kacau kemarin.
“Tahu tidak, tiba-tiba aku seperti mengalami disoerientasi, semuanya terbelah, pecah, aku tidak tahu harus memilih apa, sedang diriku adalah mimpi” Kalimatmu terus meluncur, dan aku menyimaknya. Kurasa tidak semua orang akan sabar mendengarkanmu bicara. Kau suka meloncat-loncat.
“Apakah disoerientasi itu sekacau ini?” Retoris, kamu bertanya pada diri sendiri.
“Aku mencoba mengurai semua yang terpintal dihari itu, adakah yang membuat aku sekacau itu?” katamu,
“Tidak ada, aku menyelesaikan semua kewajibanku dengan baik, lalu aku sempat bertanya apakah karena aku telah mencairkan bongkahan Es dimatamu siang itu, apakah aku terbawa emosimu?” kamu mengambil jeda dimataku, mencari sisa-sisa es yang mencair. Ah, semua sudah kering. Sekering udara yang membuat bibirku mengelupas.
“Tahu tidak, aku mencari orang-orang yang bisa menenangkanku, aku mengirim puluhan SMS untuk orang-orang yang tidak datang kepadaku. Ahh,… saya menangis sendirian.” Jeritmu.
Ah kawan kenapa kamu tidak mencoba memanggilku disaat seperti itu. Aku akan datang memelukmu. Arghh .. mungkin aku bukan siapa-siapa buatmu. Jadi aku tak mencariku untuk ketenanganmu. Mungkin juga kau tak ingat aku saat itu.
“Selama ini aku benar-benar terhegemoni oleh The Secret,” Kau menyebutkan judul buku yang belum pernah aku baca.
“Aray mengajariku bagaimana bermimpi. Untuk terus berani bermimpi dan berpura-pura bahwa mimpi itu adalah kenyataan.” Kau mencuri napas disela-sela angin yang membelai daun-daun akasia besar yang dari tadi kita sandari.
“Dan aku lelah dengan kepura-puraan itu”
Huff … Kau menghempaskan nafasmu. Aku masih diam. Bukan tak peduli pada apa yang kau bicarakan. Tahukah kau kawan, begitu juga mimpi. Seperti pengandaian adalah temali yang menjaraki antara harapan dan kenyataan, juga masa lalu*. Akhirnya kalimat itu yang aku pilih untuk menjawabmu.
“Aku menghibur diriku, menganggap bahwa mimpiku adalah kenyataan. Biar nanti seperti yang Aray bilang, ketika mimpi itu benar-benar nyata, aku tidak perlu kaget dan gugup harus menempatkanya dimana. “ Di sini kau membuat spasi agak panjang. Seperti menerawang. Aku mengejar matamu yang mulai terbang.
“Aku bahkan sudah siap bila mimpi itu datang.”
“Tapi ternyata aku sadar kalau aku pura-pura. Aku lelah. Aku capek” seharusnya kau menyandarkan kepalamu dipundakku. Seperti yang sering aku lakukan. Meminjam pundakmu untuk menumpahkan kesahku. Tapi tidak. Kau tak suka membebaniku rupanya. Matamu masih utuh. Tidak ada tanda-tanda akan luruh. Aku suka itu kawan. Kau memang selalu lebih tegar.
“Tapi aku benar-benar tidak tahu, siapa aku tanpa mimpi-mimpi itu” Angin kering tengah mei mulai sesak di dadaku rasanya. Udara mendingin. Aku meraih tanganmu. Dengan tanpa kata-kata seperti salam perpisahan mentari pada senja yang mengantarkan mimpi indah buatmu.
“Hukum tarik-menarik mengatakan bahwa kemiripan menarik kemiripan. Jadi, ketika Anda memikirkan suatu pikiran, Anda juga menarik pikiran-pikiran serupa ke diri Anda**.” Aku paling suka kalimat ini, Katamu.
=============================================================================================================================
*dikutip dari Sini
**dikutip dari “The Secret” Rhonda Byrne
Ditulis dalam Cerpen | 9 Komentar »