Ngo Lengo (Part 1)
May 25, 2008 at 1:15 pm | In Cerpen | 8 CommentsKampung ini hampir masih sama seperti ketika aku meninggalkanya. Jalan sempit beraspal kasar dengan banyak lubang disana-sini, hingga mirip dikatakan berbatu, masih sama. Rumah-rumah penduduk berpagar rapi dengan tanaman hijau berjejer, yang rata-rata mempunyai lurung yang lebih luas daripada latar.
Semua pintu dari rumah-rumah itu kebanyakan selalu terbuka sepanjang hari. Sejak matahari terbit, hingga orang-orang sudah pantas untuk naik ke tempat tidur. Seperti langit di bulan mei yang sering tak berawan, terbuka lebar. Sebuah kepercayaan yang sangat sulit ditemukan di perumahan-perumahan kota. Tidak heran ketika berkali-kali kau ketuk pintu dan mengucap salam, tidak ada yang menjawab. Tamu akan sudah terbiasa menyamperi si empunya rumah yang sedang bersantai menggelar tikar di lurung.
Tiba-tiba saja aku merindukannya. Duduk bersama Bunda, Nenek, Bibi, dan adik di lurung yang teduh bersama singkong rebus dengan sedikit garam. Untuk itulah aku pulang hari ini. Sebuah kerinduan yang sulit dimaknai. Semua orang pasti akan geleng-geleng kepala jika tahu alasanku izin satu minggu hanya untuk itu. Makanya aku urung mengatakan alasan yang sebenarnya jika ada yang bertanya. Saya memilih tersenyum dan berkata, ” Ada sedikit keperluan di rumah, Keluarga meminta saya pulang. “Lalu diantara teman-temanku berdehem, “Si kembang desa mau dapat lamaran nih.” Ada-ada saja.
Memang diantara banyak teman-temanku, hanya aku yang perantauan dari desa. Tapi aku toh selalu bangga. Kota dan desa kan hanya beda sebutan dalam tata pemerintahan saja. Yang berada di wilayah kabupaten berarti desa, sedangkan yang berada di wilayah kotamadya, disebut kota. Toh, orangnya juga sama-sama manusia. Hanya saja kota menjadi pusat kegiatan ekonomi yang akhirnya menjadi lebih komplek dan padat.
Siang selalu menuturkan kelegangan yang sama dijalan. Tak banyak orang yang berseliweran. Akhirnya aku menginjak kampung ini lagi, setelah hampir satu tahun tak sempat pulang gara-gara skripsiku yang tak kunjung jadi. Jarak yang jauh selalu membendung kerinduan akan pulang. Tidak untuk saat ini. Rindu itu sudah tak bisa tertahan. Pulang. Membelah siang yang legang di kampung. Continue reading Ngo Lengo (Part 1)…
Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.