Posted by: mezzalena on: May 25, 2008
Kampung ini hampir masih sama seperti ketika aku meninggalkanya. Jalan sempit beraspal kasar dengan banyak lubang disana-sini, hingga mirip dikatakan berbatu, masih sama. Rumah-rumah penduduk berpagar rapi dengan tanaman hijau berjejer, yang rata-rata mempunyai lurung yang lebih luas daripada latar.
Semua pintu dari rumah-rumah itu kebanyakan selalu terbuka sepanjang hari. Sejak matahari terbit, hingga orang-orang sudah pantas untuk naik ke tempat tidur. Seperti langit di bulan mei yang sering tak berawan, terbuka lebar. Sebuah kepercayaan yang sangat sulit ditemukan di perumahan-perumahan kota. Tidak heran ketika berkali-kali kau ketuk pintu dan mengucap salam, tidak ada yang menjawab. Tamu akan sudah terbiasa menyamperi si empunya rumah yang sedang bersantai menggelar tikar di lurung.
Tiba-tiba saja aku merindukannya. Duduk bersama Bunda, Nenek, Bibi, dan adik di lurung yang teduh bersama singkong rebus dengan sedikit garam. Untuk itulah aku pulang hari ini. Sebuah kerinduan yang sulit dimaknai. Semua orang pasti akan geleng-geleng kepala jika tahu alasanku izin satu minggu hanya untuk itu. Makanya aku urung mengatakan alasan yang sebenarnya jika ada yang bertanya. Saya memilih tersenyum dan berkata, ” Ada sedikit keperluan di rumah, Keluarga meminta saya pulang. “Lalu diantara teman-temanku berdehem, “Si kembang desa mau dapat lamaran nih.” Ada-ada saja.
Memang diantara banyak teman-temanku, hanya aku yang perantauan dari desa. Tapi aku toh selalu bangga. Kota dan desa kan hanya beda sebutan dalam tata pemerintahan saja. Yang berada di wilayah kabupaten berarti desa, sedangkan yang berada di wilayah kotamadya, disebut kota. Toh, orangnya juga sama-sama manusia. Hanya saja kota menjadi pusat kegiatan ekonomi yang akhirnya menjadi lebih komplek dan padat.
Siang selalu menuturkan kelegangan yang sama dijalan. Tak banyak orang yang berseliweran. Akhirnya aku menginjak kampung ini lagi, setelah hampir satu tahun tak sempat pulang gara-gara skripsiku yang tak kunjung jadi. Jarak yang jauh selalu membendung kerinduan akan pulang. Tidak untuk saat ini. Rindu itu sudah tak bisa tertahan. Pulang. Membelah siang yang legang di kampung.
Babibu dan segala macamnya. Seisi rumah menyambutku dengan gempita. Banyak sekali tanda tanya yang harus aku jawab. Mulai dari pertayaan datar Apa kabar?, Bagaimana kuliahnya?, Mau selesai kapan? sampai tentang isu tak bertanggung jawab tentang provider seluler yang katanya magis. Ah, ada-ada saja. Ternyata isu itu merambah sampai pedesaan juga. Bahkan orang-orang desa menanggapinya lebih gempar. Lebih tidak rasional. Sampai ada yang menyerahkan handphonenya ke kantor kelurahan gara-gara takut terkena santet telepon bernomer merah. Hingga akhirnya aku nyaris lupa pada tujuan kepulanganku. Duduk di lurung sambil makan singkong rebus yang sedikit bergaram.
Senja selepas mandi dan ngashar, aku ke dapur hendak menyiapkan kopi untuk menyambut Ayah dari bekerja. Seperti kebiasaan yang aku lakukan dulu. Ayah selalu memuji kopi adonanku, katanya memiliki rasa khas yang berbeda. Entah. Tetapi ketika hendak menyalakan kompor minyak, Bunda menegurku “Pakai air dalam termos saja, masih hangat.”
“Tapi Bunda bukankah Ayah tidak suka kopi dari air termos?” Bantahku, masih hendak menyalakan kompor. Tapi setelah sadar ternyata kompor itu ternyata kering tak berminyak sama sekali, akhirnya aku menuang air dari termos untuk kopi Ayah sore ini. Lagi pula merebus air secangkir saja dengan menggunakan tungku akan sangat repot sekali.
***
Pagi pertama kepulanganku. Aku merapikan dadah dan bunga-bunga yang ditanam adikku di halaman.
“Ngo ….. lengo …. ngo lengo!!!” Tiba-tiba terdengar teriakan dengan suara melengking. Serak. Tua. Aku langsung berlari ke dapur, mengambil jerigen minyak tanah.
“Kamu mau apa Ran?” Tanya Bunda yang sedang bergumul dengan asap dari tungku, menyiapkan sarapan.
“Beli minyak bu” jawabku sambil berlari keluar terburu-buru. Aku menghentikan kakek dengan gerobak dorongnya yang masih seperti dulu. Hanya saja tubuh kakek itu terlihat semakin kurus, keriput, dan capingnya semakin lusuh.
Ternyata Bunda mengikutiku sampai di luar, “Belinya satu liter saja, Ran!” kata beliau.
“Kan mumpung ada penjual minyak bu, kenapa tidak banyak sekalian?” Tak habis pikir. Bukankah katanya mencari minyak tanah itu susah?
“Sudah, belinya satu liter saja” Kata beliau. Akhirnya saya menurut saja. Dan Bunda kembali ke dapur. Bersambung
===================================================================================================================
Notes:
Lengo : Minyak tanah
Lurung : Halaman belakang rumah.
Latar : Halaman Depan.
Dadah : Pagar
Caping : Topi dari anyaman jerami.
kenapa cuma satu liter jeng?
*nunggu sambungan*
oh ini toh lurung itu 
*deg-degan menunggu kelanjutan kisahnya* 
oya, kalau bikin teh piawai juga tidak?
Kalau dalam bahasa saya disebut lenga =lengo. Beda dikit…
Kirain cerita sendiri. Eh cerpen rupanya..
Ya udah ditunggu bagian duanya.
May 25, 2008 at 1:20 pm
aku tunggu sambungannya,mbak