Mentari Masih Terbit Hari Ini

June 29, 2008 at 6:57 am | In Uncategorized | 6 Comments

 

Dan Tuhan pun bersumpah demi masa

 

 

Love Before The Sight

June 21, 2008 at 1:09 am | In Iseng-iseng Math, cerita, kenangaku | 6 Comments

Kering

June 8, 2008 at 6:39 am | In Poem | 8 Comments

Dalam diam bersamamu semalam

Mulutku kering, kalimat-kalimat garing

Pun kau

Tak mencoba cairkan suasana

Asin

Angin nyinyir menyisir jam dinding

Sepertinya Aku Ingin Percaya

June 2, 2008 at 3:30 am | In Iseng-iseng Math, Poem | 9 Comments

Alas bukanlah sisi yang di bawah, katamu

Tapi alas adalah sisi yang bertemu dengan garis tinggi

Karena tak ingin ada atas bawah

Hirarki yang tak bermakna atas nama sudut pandang

Lalu, atas nama kesejajaran

Kita terus berteman, saling berbagi

Seperti asimtot, saling mendekat tapi tak pernah bertemu

Bagaimana akan bertemu kalau kita sejajar?

Tanyaku, seperti keputusasaan yang ku sembunyikan

Hmm …

Kenapa tidak bisa? jawabmu

Bukankah kita hidup di bumi yang bulat,

Kesejajaran pasti bisa bertemu,

Percayalah

Ahh, …

Sepertinya aku ingin percaya

Ngo Lengo (Part 2)

June 1, 2008 at 10:53 am | In Cerpen | 4 Comments

“Hanya ini yang bisa saya lakukan, berteriak ‘Ngo lengo’ dan orang-orang berdatangan pada saya menukarkan uangnya dengan minyak, lalu saya mendapatkan uang untuk keluarga saya.” Kata si kakek sambil menuangkan minyak ke jerigen saya.

“Hahaha … hidup ini menyenangkan. Hidup ini begitu mudah.” Lalu kakek itu tertawa keras-keras. Ganjil. Tak habis pikir. Saya tak menyahut. Di tengah keadaan seperti ini, biasanya setiap orang dengan profesi apa saja, selalu berkeluh kesah. Menghujat pemerintah. Tapi kakek ini tertawa-tawa, dan bilang hidup ini begitu mudah. Maksudnya?

Bunda masih bergumul dengan asap tungku ketika saya ke dapur hendak menuang minyak ke dalam kompor. Bunda memandangiku, aneh.

“Kamu tidak melihat ada yang ganjil Ran?” Tanya bunda.

“Apa Bunda? Si Kakek hebat ya, bisa tetap tertawa-tawa dan menjual minyak dalam keadaan seperti ini. Dari mana coba dia dapat minyak untuk dijual?” kataku.

“Tentu saja Ran, yang di bawa dalam gerobak dorongnya bukan minyak tanah, Itu air sumur. Kakek itu gila sejak kelangkaan minyak tanah beberapa bulan yang lalu,” Jawab Bunda datar. Aku terbelalak.

“Kok bisa? kenapa Bunda membiarkan saya membelinya?”

“Karena kamu terlanjur menghentikannya. Ya sudah, biar kamu tahu hidup zaman sekarang begitu susah. Biar kamu bersyukur, tidak ikut gila.”

Diam. Huff … Apakah hanya orang gila yang bisa merasakan bahwa hidup ini begitu menyenangkan? Hidup ini begitu mudah. Sekian.

=================================================================================================

Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.