Sisa Purnama
September 20, 2008 at 2:59 am | In Cerpen | 4 CommentsTidak ada kalimat lain. Pertanyaan itu adalah paripurna dari kalimatmu. Aku tetap diam.
Sampai malam ini. Ketika perlahan rembulan itu berjalan menyusuri keberaturan. Tak ada lagi purnama. Bukankah di sana juga? apakah kau melihatnya? atau masih tetap purnama? Jika masih, aku yakin besok lingkaran itu hanya bersisa jadi benjolan.
“Kau mau melukis O, menyempurnakan setengah lingkaranmu dengan meminta setengah lingkaran dariku. Benarkah seperti itu?” Aku bertanya di sini, di rembulan yang tak lagi melingkar. Selalu seperti itu purnama. Tak pernah setia. Begitu juga kah kau?
Apakah kau hendak menjawab? Aku mencari jawaban dalam tumpukan kalimatmu yang menjadi kenangan.
“Kau selalu mengingat semuanya” katamu kemarin, ketika aku meceritakan kembali apa yang telah terjadi.
Bagaimana aku tidak mengingat semuanya, bahkan saat kau membuat jeda dengan tertawa atau nyengir aku pun menyimpannya. Apalagi kalimat, diammu saja aku ingat.
Tapi,
Memberikan C ku, untuk melengkapi lingkaranmu? Apakah kamu yakin bahwa C mu memiliki jari-jari yang sama dengan jari-jari C ku?
Bagaimana nanti jika jari-jarimu lebih panjang dan punyaku lebih pendek. Sehingga C ku lebih kecil dari pada C mu? akankah jadi lingkaran yang sempurna? Tentu saja tidak. Lalu,
“Bukankah masih akan tetap berpotongan? Dan kita akan tetap bisa bersatu,” katamu.
“Hey, kenapa kamu mengalihkan pembicaraan, kau tidak sedang membicarakan apakah kita akan bertemu atau tidak, tapi tentang O yang ingin kau lukiskan dengan separuh C ku?” begitulah dirimu, pandai mencari celah untuk beralih perhatian.
“Kamu suka lihat purnama kan?” tanyamu.
Ku cari maksudmu dengan kalimat itu di balik matamu yang menatapku tajam.
“Apakah purnama serta merta menjadi lingkaran yang kau inginkan?” pandanganmu masih lekat.
“Purnama berjalan, berevolusi seperti metamorfosa menuju kesempurnaan, bukankah begitu dengan kita?” sangat jarang kau menggunakan kata kita, dan kau memakainya saat ini.
“Kau yakin C ku dan C mu akan saling menyesuaikan, kemudian bertemu dalam titik pusat yang sama?” kataku akhirnya.
“Kenapa tidak? Bukankah purnama berakhir, bermula, sampai berakhir kembali, adalah proses yang berulang, yang tak mengenal lelah dan putus asa: tapi yakin dan optimis.” Tidak ada keraguan di matamu.
Aku tak tahu lagi harus mengucapkan apa. Lebih baik sampai disini saja. Sebelum rembulan itu menjadi setengah lingkaran. Yang pasti, adalah setengah lingkaran yang berbeda dengan setengah lingkaran di langitmu sana.
“Mungkin ini hanya dimensi ruang dan waktu kita yang berbeda, Za,” aku seperti mendengar kata-katamu dari balik langit sana.
“Jika kita ada dalam langit dan malam yang sama, bukankah kita juga akan memiliki rembulan yang sama?.” lanjutmu. meyakinkanku.
“Kau yakin?” tanyaku, dan aku menutup jendela. Membenamkan malam, lupakan purnama yang tak pernah setia. Berharap masih ada matahari esok pagi yang menerangi jalanku.
Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.