Membagi

October 31, 2008 at 4:46 am | In Cerpen | 4 Comments

“Bengong, Za!” Sapaku sore ini ketika menemukan dirimu berdiri di koridor student center. Tak kau hiraukan. Pandanganmu tak bergeser, masih tegak lurus menatap garis-garis yang luruh dari langit.

“Hmm… apakah kau ingin bercerita padaku tentang hujan?” Tanyaku lagi. Meski pandanganmu belum beralih juga, aku yakin kau mendengar pertanyaanku.

“Bukan tentang hujan, Ra” Kalimatmu nyaris kalah berlomba dengan derai hujan.

“Lalu? ” Kuikuti matamu, menabrak sebatang pohon.

“Masih tentang daun, yang mengabdikan sepanjang hidupnya demi cinta pada sang pohon” Jawabmu.

Bibirku membulat.

“Trus?” Tanyaku kemudian.

“Kau lihat daun-daun pohon itu, Ra?” Tanganmu menunjuk pada pohon di depan sana. Ku ikuti instruksimu. Ku lekatkan pandanganku pada daun-daun yang basah kuyup dan mengibas-ngibaskan dirinya pada angin. Menggigil, dingin.

“Kenapa? Aku tak mengeti”

“Lihatlah lebih teliti”

“Mmm… Daun itu tidak sehat, dia dimakan ulat,” tebakku akhirnya. Setelah memandangimu, mencari maksud yang kau sembunyikan dari wajahmu.

“Iya, kau benar daun-daun itu dimakan ulat.” Kau mengangguk.

“Menurutmu Ra, Jika daun itu adalah aku, apa yang harus aku lakukan dalam keadaan demikian?” Kalimatmu mirip pertanyaan. Ah, bukan. Kau seperti memberi soal ujian buatku.

“Maksudmu?” Jawabku balas bertanya.

“Aku adalah daun. Hidupku adalah subset dari pohon. Tentu saja aku ada untuk kelangsungan hidup pohon, aku tahu itu. Tetapi ulat-ulat itu menggerogoti diriku. Aku tidak bisa memberi yang terbaik untuk pohon,” kalimatmu tercekat.

“Kenapa kamu tidak berdo’a saja semoga ulat-ulat itu lekas mati!” Jawaban asal.

“Ulat-ulat itu memberiku mimpi lain, Ra. Tentang suatu hari ketika dia menjelma kupu-kupu bersayap pelangi” Ada ketakberdayaan, ada kebimbangan, ada harapan.

Kau menerawang, seperti berpikir. Sedangkan aku menikmati keadaan ini. Hujan dan dingin. Bukan itu, tapi kebersamaan denganmu selalu memberiku suasana lain. Meskipun aku tidak pernah bisa memahami apa yang kau bicarakan. Tentang bintang-bintang, purnama dan malam, juga tentang daun, ulat atau kepompong, tentang apa saja. Semuanya abstrak. Aku diam. Menyaksikan sepucuk daun jatuh bersama hujan yang menahan kita untuk tetap berada disini. Diam-diam aku bersyukur atas hujan ini dan berdo’a semoga tak kunjung reda. Dan kita bisa lebih lama di sini.

“Apakah aku hanya bisa menerima dan menamainya takdir?” Tanyamu lagi, Aku masih diam.

“Aku bertanya, Ra kenapa kau diam saja? ya sudah lah, mungkin ini tidak penting bagimu.” Maaf Za, bukan tidak penting, tapi aku tidak tahu. Dan hujan menyisakan rintik-rintik, kau melambai sesaat setelah melepas jabat tanganmu.

Daun

October 21, 2008 at 2:31 am | In Cerpen | 6 Comments

Sore ini kita duduk bersama lagi disini. Sebuah tempat yang orang-orang menyebutnya taman. Kau bersandar di pohon, bercerita dan menerawang. Masih tentang mimpi-mimpi. Ah, selalu seperti ini. Aku menyimak ceritamu dan diam, menatap matamu seperti bertanya, lalu?

“Kamu sering lihat kan daun di pohon, ketika dia masih muda-hijau, semua orang yang melihatnya selalu membawa pulang kesan sejuk,” katamu sambil menunjuk daun-daun yang masih hijau.

“Tapi daun itu memiliki usia. Dia akan menguning, tua, tidak sedap di pandang, dan harus segera tanggal. Lalu jatuh dan luruh.” Aku mengiyakan, tapi tidak tahu ke arah mana kau bercerita.

“Tapi tahu tidak, meskipun daun sudah luruh, dia tetap mencintai pohonnya. Dia rela membusuk, meleburkan dirinya ke dalam tanah menjadi humus, menguatkan akar-akar dan menyuburkan si pohon.”

“Aku ingin menjadi daun” Lanjutmu.

“O ya, Kau ingin jadi daun bagi pohon apa?” Tanyaku, sambil memungut sehelai daun di tanah yang sudah lusuh.

“Mmm… ” Seperti berfikir, kau merebut sehelai daun yang aku pegang, meremasnya kemudian melepaskan satu-satu serpihannya.

“Pohon apa saja, dan setiap hari aku akan menjadi tempat fotosintesa menyediakan makanan untuknya. Melindunginya, menjadi bagian yang pertama luruh ketika angin kencang menerpanya.” Jawabmu.

“Benarkah? itu tidak berlebihan?” Ku ikuti matamu yang nyangkut di dedaunan pohon.

“Dengan begitu hidupku akan berarti.” Nafasmu seperti mendesahkan kepuasan tentang pengabdian yang sempurna.

“Tidak akan ada yang mengenangmu dan tidak ada yang melihat jasa-jasamu ketika kau sudah terkubur jadi tanah.” Kataku,

“Kenangan? pentingkah?” Tanyamu.

“Selama sang pohon masih berdiri kokoh dan daun-daun terus bertunas dari batangnya, aku akan bahagia.” Kau melanjutkan.

Lalu, angin bulan oktober yang kencang menggoyang-goyangkan pohon yang kau sandari. Mengoyak daun-daunnya, dan kau,

“Kau tahu daun-daun yang berjatuhan itu sedang bersajak.” Katamu

“Apa sajaknya?”

hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput;
nanti dulu, biarkan aku sejenak terbaring di sini;
ada yang masih ingin kupandang, yang selama ini senantiasa luput;
sesaat adalah abadi sebelum kau sapu tamanmu setiap pagi. *

__________________

*Sajak Sapardi Djoko Damono, Hatiku Selembar Daun

Cerpen sangat pendek yang tertulis sambil mencuri waktu, untuk seorang teman yang bertanya “kenapa tidak menulis cerpen lagi?”

Kepompong

October 19, 2008 at 10:27 am | In Ga penting, lirik | 2 Comments

Dulu kita sahabat
Teman begitu hangat
Mengalahkan sinar mentari

Dulu kita sahabat
Berteman bagai ulat
Berharap jadi kupu-kupu

Kini kita melangkah berjauh-jauhan
Kau jauhi diriku karna sesuatu
Mungkin ku terlalu bertindak kejauhan
Namun itu karna ku sayang

reff:
Persahabatan bagai kepompong
Mengubah ulat menjadi kupu-kupu
Persahabatan bagai kepompong
Hal yang tak mudah berubah jadi indah

Persahabatan bagai kepompong
Maklumi teman hadapi perbedaan
Persahabatan bagai kepompong
na na na na na na na na na

Semua yang berlalu
Biarkanlah berlalu
Seperti hangatnya mentari

Siang berganti malam
Sembunyikan sinarnya
Hingga ia bersinar lagi

Dulu kita melangkah berjauh-jauhan
Kau jauhi diriku karna sesuatu
Mungkin ku terlalu bertindak kejauhan
Namun itu karna ku sayang

Sindentosca – Kepompong

Gara-gara beberapa hari kerja tapi ga ada kerjaan, sambil bengong saya menyimak lagu yang diputar dari music streaming produknya Campus Net. Pernah dengar lirik lagu itu?. Yang belum silahkan klik ini saja. Ternyata bagus juga. Metaforanya dalam. Bagaimana menurut anda?.

Satu Tahun Lilin Kecil

October 13, 2008 at 1:03 am | In curhat lagi, kenangaku, ultah | 9 Comments

Tidak terasa rupanya sudah setahun saya register di wordpress. Setahun yang lalu (sampai sekarang) saya adalah orang yang gaptek. Biasanya saya ngenet cuma buat ngemail atau browsing ga jelas, karena cuma itu kemampuan saya menggunakan fasilitas internet. Saya tidak suka YMan atau chatting menggunakan apa saja, karena saya tidak mempunyai teman chat, dan rasanya bukan diri saya kalau saya bisa mengobrol dengan orang yang tidak saya kenal.

Sampai di suatu sore, setelah kuis Teori Bilangan yang membuat saya mual, saya ke warnet kampus. Iseng- iseng googling, key word yang saya masukkan juga ga jelas maunya apa. Hanya ingin refreshing saja. Sampai akhirnya saya mengetik kata “bicara matematika” dan saya menemukan blog ini. Saya terpesona dengan artikel-artikel yang tertulis di sana. Hingga setiap sore dari kampus, sebelum pulang ke kosan saya selalu menyempatkan diri mampir ke lab atau warnet kampus untuk membaca blog tersebut.

Tertarik dengan blog itu, akhirnya saya ikut-ikutan register. Belum tahu mau saya isi dengan apa blog baru ini. Baru sebulan kemudian saya mempublish sebuah puisi dan rencananya blog ini mau saya buat rumah puisi. Tapi ternyata, sekian bulan saya tidak punya waktu untuk menyempatkan diri sekedar menengok blog ini. Kemudian, di awal tahun 2008 saya bergabung dengan campus net, sehari-hari di depan internet, akhirnya saya jadikan blog ini sebagai tempat sampah bagi curhatan ga penting. Sesekali posting puisi dan hobi saya merangkai-rangkai kata jadi cerita yang ga jelas jeluntrungnya bersama imajinasi, yang selanjutnya saya namai cerpen.

Juli, ketika saya bosan curhat, akhirnya saya putuskan untuk menutup blog ini. Sampai agustus, saya merasakan kehilangan sesuatu setiap kali duduk di depan komputer. Akhirnya saya kembali mengupdate blog ini.

Oktober, ternyata blog ini sudah berusia satu tahun. Meskipun hanya menjadi tempat sampah bagi perasaan saya, tapi blog ini telah memberi sebuah nafas kehidupan bagi dunia maya saya. Bahkan blog ini sempat menjadi satu-satunya teman saya, ketika tidak ada teman-teman di samping saya. Menjadi rumah ketika saya bosan berada di kosan yang sumpek dan ingin pulang ke rumah tapi tidak mempunyai waktu untuk pulang. Dan juga menjadi temali yang terus mempererat silaturrahmi dengan teman-teman yang tak sempat saya temui.

Akhirnya, satu tahun …

Mencoba memeriksa perjalanan, mengartikan nafas yang tertinggal, dan melukis mimpi untuk waktu yang kan terus meleleh. Hingga hanya ada lelehan yang mendingin, terpilin. Tak berarti.

Lilin kecil yang sekedar belajar hidup …

Apakah Hujanmu Salah Musim?

October 11, 2008 at 1:51 am | In Poem | 5 Comments

Awal Oktober, Ta

Langit di sini telah memintal gerimis,

Dan sebelum rinai itu menghapus isyarat, yang tak pernah sempat diucap awan pada hujan*

Aku ingin menangkapnya, sesekali

Menerka-nerka sesederhana apakah rasamu buatku?

Masih Oktober, Ta

Harusnya matahari masih memanggang aspal jalan

Tapi mendung itu telah mengabarkan hujan akan terus mendera
Aku Takut, Ta

Menjadi musim yang salah bagi hujanmu

Hingga hujan itu jatuh serupa garis yang mungkin serupa tangis**

_________________________

*Sajak Sapardi Djoko Damono “Aku Ingin”

**Aulia Muhammad dalam “Hujan Itu Indah”

Next Page »

Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.