Melukis semesta dalam dua kurawal
Logika berjalan menyusuri sepanjang koordinat kartesian
Hinggap dalam bilangan-bilangan yang etrus berbanjar
Seperti sungai yang terus mengalir, tak bermuara kecuali samudera
Lalu, kurawal bak pantai yang membatasi lautan
Ketakhinggaan yang tertangkap
Seolah menjadi negasi ketiadaan
Padahal keberhinggaan itu ada
Lalu,
Himpunan kosong menjadi elemen setiap bagian
Dan satu menjadi permulaan dalam membilang
Kemudian bilangan-bilangan mengajariku bersyahadah
Tentang permulaan yang maha esa dan ketakhinggaan yang seperti rahasia
salut…
setahun mungkin gak cukup untk aku buat puisi kyak gne..
BILANGAN2 MENGAJARIKU BERSYAHADAH
Posted by hamemayu | December 1, 2008, 12:43 pmBagus!?
tp kurang estetis..
Posted by d031_Cuakep | December 3, 2008, 7:01 amhanya mau mengucapkan;selamat malam.
sidoarjo mendung.
Posted by langitjiwa | December 3, 2008, 2:41 pmwah, liriknya ok banget, mbak ira. ini menggunakan diksi yang khas istilah matematika, ditangaki hingga menjadi sebuah lirik yang indah dan menyentuh perasaan. Kuasa Allah memang tak terhingga hingga mencapai batas yang tak terhingga.
Posted by Sawali Tuhusetya | December 5, 2008, 12:09 pmduh, kok mbak ira, sih, suka ngacau, saya, haks. mbak hibah maksud saya, haks. baru kepala 4 kok dah mulai pikun, yak, kekeke ….
Posted by Sawali Tuhusetya | December 5, 2008, 12:10 pmMmmm… saya udah komen ya ttg puisi matematika ini?
Posted by mathematicse | December 6, 2008, 3:16 amKetakberhinggaan mempunyai dua kutub, semakin besar tak terhingga, juga semakin kecil tak terhingga. Kedua2nya melambangkan kekuasaan Yang Maha Kuasa……
Posted by Yari NK | December 7, 2008, 5:44 amHebat… kata-kata yang bermuncul dalam ilmu eksak menjadi sebuah karya puisi!
Posted by Qizink | December 8, 2008, 6:02 am@Hamemayu : Makasih … Btw, Puisi-puisimu lebih keren kok



@d031_Cuakep : Waduh, iya nih masih banyak belajar, biar lebih estetis. Ajarin dong!!
@Langitjiwa : Salam kembali, Semarang juga murung terus
@Sawali Tuhusetya : Waduh, nama saya belum berubah jadi Ira, Pak. Makasih Pak Sawali masih sempat mampir di sini.
@mathematicse : Iya, Pak Al udah pernah komen tentang puisi ini. Terimakasih koreksian tentang himpunan bagiannya
@Yari NK : Hmm.. Begitu juga bilangan ya Pak, semakin besar tak terhingga, juga semakin kecil tak terhingga.
@Qizink : Terima kasih, salam.
Posted by mezzalena | December 11, 2008, 8:53 amaduh pusing ….
jelasin donk ..
Posted by iaksz | December 11, 2008, 12:58 pmhiks…hiks…
itu fitnah yang terkejam…!!!!
_________
Mezza: Siapa yang memfitnah? benar kan? puisi-puisimu lebih bagus?
Posted by hamemayu | December 12, 2008, 6:35 am