Menunggu Hujan, Gamelan dan Perempuan (Jawa)
January 8, 2009 at 9:02 am | In cerita, curhat lagi | 16 CommentsKampus sepi. Maklum, sudah mulai liburan. Tapi saya masih kuliah, ambil semester pendek (SP) untuk mengulang mata kuliah Psikologi Pendidikan. Gara-gara dapat nilai 2,0 dan ditertawakan habis oleh teman-teman semua. Bahkan ketika terpampang nama saya dalam daftar mahasiswa yang ikut SP di papan informasi, teman-teman semua ngakak. Entahlah, saya tidak tahu, benarkah saya sedodol itu sehingga belajar saya cukup dinilai dengan angka segitu. Padahal teman saya yang sering mbolos dan tidak ikut tes mid semester saja mendapat nilai A. Tapi whatever lah, kalau memang harus belajar lagi ya belajar lagi
.
Hujan siang hari, mengurungkan niatku untuk segera pulang. Masuk ke lab, dan hanya ada dua petugas di situ. Tahu tidak apa yang membuatku bisa berlama-lama duduk di sini kali ini? Bukan karena sedang chat dengan seorang teman, atau mengerjakan tugas. Tapi musik yang mengalun di sini. Boleh ditebak musik apa? Bukan lagunya Avenged Sevenfold “Seize The Day” yang sering saya dengar diputar berulang-ulang. Tapi gending Jawa yang diiringi gamelan.
Heran, saya tidak tahu kenapa petugas lab tiba-tiba memutar musik-musik Jawa itu. Saya juga tidak tahu kenapa tiba-tiba saya menikmati suasana yang diciptakan oleh musik itu. Siang, hujan dengan musik yang seperti itu. Pikiran saya melayang ke mana-mana, sambil membaca blog-blog orang. Tidak ada emosi karena koneksi yang tiba-tiba anjlok, Lola (loading lama) banget. Musik Jawa yang slow ini menghembuskan suasana rileks dan ngantuk yang nikmat
. (Dasar pemalas!)
Membaca tulisan berjudul “How Jawa are You?” disini, saya teringat bahwa saya adalah keturunan Jawa asli. Bapak saya berasal dari kota kecil di Jawa Timur, Jombang. Sedangkan Ibu saya berasal dari Jepara. Saya sendiri dilahirkan di Bumi Kartini itu. Memang harus diakui, tak banyak orang yang bisa dengan bangga menyetel lagu-lagu Jawa. Makanya saya heran ketika musik-musik yang biasanya hanya saya dengar di resepsi pernikahan yang masih memakai adat Jawa. Rasanya terdengar ga banget dan aneh ketika diputar di sini, di laboratorium komputer.
Apakah saya termasuk orang yang bangga dengan kejawaan saya? Entahlah, saya sejak kecil hidup di tanah Jawa. Dan tidak ada orang yang bertanya tentang kejawaan itu. Wajah saya sudah menunjukkan secara jelas bahwa saya orang Jawa dan itu tidak salah. Meskipun nama yang diberikan oleh orang tua saya sama sekali tidak menunjukkan bahwa saya orang Jawa. Karena saya belum pernah keluar dari tanah Jawa, saya belum pernah mengalami hal-hal yang bersangkutan dengan ras itu.
Tetapi, sebagai perempuan yang hidup di Jawa, selama ini ada yang tidak saya sukai dari kejawaan itu. Salah satunya adalah ketidaktegasan, bentuk ewoh-pekewoh wong Jowo yang dikenal penuh basa-basi. Apalagi dengan bagaimana perempuan dicitrakan dalam karya-karya sastra Jawa kuno. Saya memang bukan penikmat sastra jawa. Atau karena itu saya tidak bisa menangkap makna yang seharusnya ingin disampaikan. Misalnya dalam Kitab “Clokantara” disebutkan:
“Tiga Ikang abener lakunya ring loka/ iwirnya/ ikang iwah/ ikang udwad/ ikang janmasri// yen katelu/ wilut gatinya// yadin pweka nang istri hana satya budhinya/ dadi ikang tunjung tumuwuh ring cila//”
Artinya: “Tiga yang tidak benar jalannya di bumi yaitu sungai, tanaman melata, dan wanita. Ketiganya berjalan berbelit-belit. Jika ada wanita yang lurus budinya akan ada bunga tunjung tumbuh di batu.”
Jelas bagaimana wanita dicitrakan dalam kalimat tersebut. Bahwa wanita disamakan dengan sungai dan tanaman melata yang berbelit-belit. Dan adalah ketidakmungkinan wanita untuk bisa mempunyai pendirian. Karena tidak akan ada bunga tunjung yang tumbuh di batu.
Juga tentang bagaimana perempuan dibandingkan dengan laki-laki dalam “Serat Paniti Sastra”:
“Wuwusekang wus ing ngelmi/ kaprawolu wanudyo lan priyo/ Ing kabisan myang kuwate/ tuwin wiwekanipun/..”
Artinya: “Katanya yang telah selesai menuntut ilmu, wanita hanya seperdelapan dibanding pria dalam hal kepandaian dan kekuatan serta kebijaksanaanya.”
Tidak ada kesetaraan di sini, antara pria dan wanita. Wanita hanya seperdelapan dari pria dalam hal kepandaian, kekuatan dan kebijaksanaan.
Setidaknya ada empat term di Jawa yang digunakan untuk menyebut perempuan.
- Wadon
Berasal dari bahasa Kawi “Wadu” yang artinya kawula atau abdi. Secara istilah diartikan bahwa perempuan dititahkan di dunia ini sebagai abdi laki-laki.
- Wanita
Kata wanita tebentuk dari dua kata bahasa Jawa (kerata basa) “Wani” yang berarti berani dan “Tata” yang berarti teratur. Kerata basa ini mengandung dua pengertian yang berbeda. Pertama, “Wani ditata” yang artinya berani (mau) diatur dan yang kedua, “Wani nata” yang artinya berani mengatur. Pengertian kedua ini mengindikasikan bahwa perempuan juga perlu pendidikan yang tinggi untuk bisa memerankan dengan baik peran ini.
- Estri
Berasal dari bahasa Kawi “Estren” yang berarti panjurung (pendorong). Seperti pepatah yang terkenal, “Selalu ada wanita yang hebat di samping laki-laki yang hebat”
- Putri
Dalam peradaban tradisional Jawa, kata ini sering dibeberkan sebagai akronim dari kata-kata “Putus tri perkawis”, yang menunjuk kepada purna karya perempuan dalam kedudukannya sebagai putri. Perempuan dituntut untuk merealisasikan tiga kewajiban tiga kewajiban perempuan (tri perkawis). Baik kedudukannya sebagai wadon, wanita, maupun estri.
Ah, kenapa jadi sepanjang ini saya menulis tentang perempuan di Jawa. Apakah karena lagu-lagu gamelan itu dinyanyikan oleh perempuan. Pikiran saya melayang-layang dan saya membiarkan saja jari-jari menari di atas keyboard.
__________________________
Kalimat dalam Kitab “Clokantara” dan “Serat Paniti Sastra” di atas saya kutip sebagaimana dikutip oleh oleh Johanes Mardimin dalam esainya yang berjudul “Citra Wanita Dalam Karya-karya Sastra Jawa Lama” di buku “Kumpulan Esai: Kisah dari Kampung Halaman” yang diterbitkan oleh penerbit Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
16 Comments »
RSS feed for comments on this post. TrackBack URI
Leave a comment
Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.
Btw, kenapa paragraf terakhir itu fontnya jadi lebih besar ya? Aneh. Benahi besok saja, sudah sore
Comment by mezzalena — January 8, 2009 #
Mba Mezza… (walaupun sudah dituliskan bebrapa hal tentang wanita Jawa, tapi sy melihat kecenderungan tulisan mba menuliskan kelemahan2 tantenag filosofi jawa thdp wanita. COba dong tulisakn kelebihan2 wanita jawa-nya mba…
Mmm… klo ga keberatan sih…
Comment by Al Jupri — January 8, 2009 #
Mba Mezza… (walaupun sudah dituliskan beberapa hal tentang wanita Jawa, tapi sy melihat kecenderungan tulisan mba menuliskan kelemahan2 tantenag filosofi jawa terhadap wanita. Coba dong tuliskan kelebihan2 wanita jawa-nya mba…
Mmm… klo ga keberatan sih…
Comment by Al Jupri — January 8, 2009 #
@Al Jupri: Mmm… kecenderungan ini adalah fakta. Masyarakat Jawa secara tradisi menganut konsep sosial gender yang patriarkis. Implikasi secara umum adalah wanita menjadi sub-ordinat pria. Sisa peradaban kerajaan-kerajaan masa lalu, bahwa pewaris tahta kerajaan kecenderungannya adalah putera mahkota, bukan puteri.
Btw, ini bukan pendapat saya mengenai kedudukan wanita di Jawa, tetapi menuangkan kembali apa yang saya baca dari teks
Comment by mezzalena — January 8, 2009 #
wah mbak makasih banget…
aku jadi belajar ttg perempuan jawa di sini nih. (terutama morphology kata)
terlepas dari soal posisi wanita di dalam tatanan jawa saya tertarik kalimat mbak yang ini:
Salah satunya adalah ketidaktegasan, bentuk ewoh-pekewoh wong Jowo yang dikenal penuh basa-basi.
nah Jepang juga sama kok mbak
mungkin makanya deket banget ya Japanese sama Javanese hehehhe.
tulis lagi dong mbak ttg perempuan jawanya
saya sudah baca Canting karya Arswendo. menarik tuh novelnya. Masih menunggu dibaca adalah Wanita Yogya karya Achmad Munif (padahal sudah lama banget deh belinya)
EM
Comment by Ikkyu_san — January 8, 2009 #
@Ikkyu_san: Berarti bukan Javanese aja ya yang suka basa-basi tapi Japanese juga.
Iya ya Bu, Japanese sama Javanese deket
Btw Bu, saya belum suka baca literatur Jawa dan juga tulisan-tulisan mengenai Jawa. Mungkin karena saya selalu berada di tanah Jawa, dan merasa baik-baik saja jadi belum merasa perlu membaca ttg Jawa. Kadang-kadang yang dekat dengan kita malah tidak menarik keingintahuan kita (Kita, saya aja kali
Terima kasih ya Bu, atas kunjungannya. Salam dari tanah Jawa
Comment by mezzalena — January 9, 2009 #
bagaimana mbak dengan karakter2 wanita jawa ini mbak ???
Comment by Gelandangan — January 9, 2009 #
Mungkin koneksi lambat itu karena mengikuti irama lagu musik Jawa tersebut, coba kalau musiknya diganti musik cadas, dijamin deh koneksinya jadi…… tetep!! Huehehe….
Comment by Yari NK — January 9, 2009 #
@Gelandangan: Katanya sih Pak, wanita Jawa itu terkenal Tangguh, bekerja keras, pantang menyerah, Hemat, tidak matre, mau hidup susah, Penurut, setia dan lembut. Yang baik-baik aja deh (karena saya perempuan Jawa)
@Yari NK: Wah, koneksinya ikut menikmati alunan gamelan itu ya, Pak. Tumben sekali nih Pak Yari becanda
Comment by mezzalena — January 9, 2009 #
assalamu’alaikum….
lam kunjung pertama x….
subhanalloh…sebagai orang jawa memang harus ada istilah ewoh pakewoh antar sesama…
tapi klo kita ngaku “orang jawa, islam. harus dahulukan ewoh pakewoh ma Yang Di atas…siapa Dia???
Allahlah jawabannya….
jepara my lovely grandma city…
walhamdulillah
Comment by uvi07 — January 9, 2009 #
That’s nice article Mbak….
Salam kenal ya….
Comment by Fahrisal Akbar — January 10, 2009 #
@Uvi07: Wa’alaikum salam. Iya Uvi, tata krama, sopan santun atau unggah-ungguh memang harus ada antar sesama.
Eh, kita tetanggaan dong ya?
@Fahrisal Akbar: Terima kasih. Salam kenal juga
Comment by mezzalena — January 10, 2009 #
wah, sekarang istilah yang lebih pas kan perempuan “pasca-jawa”. mbak hibah, hehehe … konon, sih, perempuan pascajawa ya yang bisa maning ajur-ajer, tak harus seperti yang digambarkan seperti dalam adagium “swarga nunut neraka katut”. ttg budaya ewuh-pekewuh, tak selamanya cacat, kok, asalkan ya itu tadi bisa maning-ajur-ajer, disesuaikan dengan konteks dan situasinya *halah*
Comment by sawali tuhusetya — January 10, 2009 #
@Sawali Tuhusetya: maksudnya maning ajur-ajer (atau manjing ajur-ajer?) itu bisa menempatkan diri pada proporsinya, pandai beradaptasi, toleransi gitu ya Pak? Saya malah belum tahu istilah itu.
Terima kasih sudah ditambahi, Pak
Comment by mezzalena — January 10, 2009 #
Trus, kalo wedok apa artinya?
Trus, kalo kenya apa artinya?
Comment by ch susanto — January 12, 2009 #
nice review mbak mezza..kebetulan sy jg lg baca serat paniti sastra..bs jd tambahan sudut pandang buat sy..thanks
-salam-
Comment by dewo — August 6, 2009 #