S p a s i
Setelah titik yang kau bubuhkan kemarin pada cerita kita, aku hanya ingin memberi jeda. Barangkali sekedar memberi spasi atau membuka paragraf baru.
Cerita kita belum usai. Tak pernah.
Barangkali di jeda ini, kita bisa saling memaknai akan arti saling mengerti.
Penghujung februari, sama seperti dua tahun yang lalu. Saat langit terlihat galau. Begitu juga hatiku, harus seperti langit itu karena hatimu.
“Aku mencintaimu,” katamu seolah tak ada kalimat yang lebih baik. Kalimat yang belum pernah bisa aku terima.
“Maaf kalau ini tidak sopan, tapi aku merasa wajib mencintaimu,” katamu lagi yang semakin mengaduk-aduk isi hatiku. Kali itu aku membiarkan kamu pergi tanpa jawaban.
Lalu kita bertemu lagi setiap hari. Bercerita setiap hari dan kamu tak pernah lupa untuk mengatakan bahwa kamu mencintaiku. Aku tahu itu, bahkan aku juga tahu aku mencintaimu. Tapi aku belum bisa menerima bahwa hatiku sudah berubah.
“Tolong beri aku jawaban, katakan (a) jika kamu mau menerima cintaku, dan aku boleh menunggumu atau (b) jika aku harus melupakanmu, membuang perasaan yang aku miliki sendiri,” paksamu waktu itu. Kamu tak memberiku pilihan. Aku mencintaimu, sungguh. Tapi hatiku belum siap untuk terbelah. Aku belum siap membagi hatiku untuk orang lain, memberikan perasaanku. Aku takut menyakitimu. Aku takut, aku tak seperti yang kamu bayangkan dalam dunia idemu. Di mataku kamu adalah langit dan aku sama sekali bukan bintang. Bagaimana mungkin aku bisa bersatu denganmu? Kita memiliki dunia yang berbeda. Aku takut untuk mencintaimu hanya karena aku takut jatuh dan terluka.
“Kau tak akan jatuh dan terluka, karena tak ada atas bawah,” yakinmu padaku. “Atau kamu yang merasa lebih tinggi dari diriku sehingga kamu tak menerima cintaku?” pertanyaanmu itu terus mengejarku. Aku menggeleng, tentu saja tidak.
“Kita itu sejajar,” katamu menatap mataku.
“Aku hanya ingin menjaga hatiku dalam bentuk dan warna yang sama,” akhirnya aku beranikan diri untuk memberi jawaban.
“Apakah kamu memberiku harapan?” tanyamu.
“Jika menurutmu begitu,” jawabku.
“Apakah ini harapan yang sarat isi atau harapan kosong?” kejarmu lagi.
“Entah harapan yang sarat isi ataupun harapan kosong, aku tak ingin ini menjadi duri di kemudian hari,” aku menghela nafas, “tidak boleh ada yang tersakiti,” lanjutku.
“Aku akan menunggu harapan itu,” katamu.
“Akan ada saat di mana hatiku akan terbelah, biarkan waktu itu datang dengan sendirinya,” jawabku. Aku hanya tak mau cinta datang terlalu cepat. Aku tak mau jadi hujan yang salah musim bagimu.
***
Waktu itu telah datang setahun lalu. Telah ku berikan hatiku padamu, tidak sebelah tapi seutuhnya. Telah kuwarnai hatiku dengan warna merah muda. Telah ku beranikan diriku untuk jatuh, untuk patah hati ataupun sakit. Tapi semakin hari, aku semakin percaya bahwa kamu tak akan menyakitiku, tak akan. Kamu memberiku kebahagiaan dengan menerimaku sepenuhnya. Cintamu menyempurnakanku hingga seolah bidadari. Aku mencintaimu, sungguh. Telah ku gadaikan seluruh hidupku sekarang demi masa depan bersamamu. Apapun itu. Aku belajar menjadi bidadari yang akan menyambutmu saat kelelahan. Menjadi seperti daun bagi pohonnya, yang hanya akan berbuat sesuatu demi pohon itu. Menjadi orang yang selalu ada di sampingmu sepanjang hidupku.
Tapi entah setahun berlalu, kegagalan seperti menghantuiku. Aku takut mengecawakanmu. Aku takut tak mampu menjadi bidadari impianmu. Aku cemburu pada daun-daun yang lebih hijau di sekelilingmu. Aku cemburu pada apapun yang menyita perhatianmu. Aku takut kehilanganmu. Aku takut berjalan sendiri. Aku takut.
Di penghujung februari, yang sama seperti tahun-tahun lalu. Malam ini aku membuat gerimis sendiri di mataku.
“Jika memang tidak tahan dengan keadaan seperti ini, ga usah hidup denganku lagi,” petir yang menggelegar di hatiku itu adalah kalimatmu. Hatiku hilang bentuk.
“Silahkan menangis, tangismu sama sekali tak menyentuhku,” sesaat aku lupa apakah jantungku masih berdetak.
“Cari orang lain kalau memang tidak ingin hidup seperti ini,” sementara aku masih terisak kau menghujamkan duri paling tajam di hatiku. Perih.
Seperti mimpi di penghujung februari dua tahun lalu, saat kamu mengatakan bahwa kamu mencintaiku. Kau memporak-porandakan hatiku. Semuanya tak berbentuk.
***
“Maafkan aku,” Aku masih percaya bahwa maaf mampu mendatangkan keajaiban. Maaf mampu merapikan puing-puing tak berbentuk menjadi permadani yang indah meski tak sama seperti semula. Tapi aku yakin hubungan kita tak terbuat dari kaca yang mudah pecah.
“Aku mencintaimu,” Aku masih berharap bahwa cintamu tak berubah. Seperti cintaku yang tak berubah, melainkan bertambah. Aku takut kehilanganmu.
“Aku juga mencintaimu,” kalimatmu akhirnya, yang serasa embun.
“Mas?”
“Hm… “
“Kok hmm.. aja sih?”
“Iya, ada apa?”
“Ingat ga?”
“Ingat apa?”
“Kok lupa sih?”
” ya ingat apa? ga jelas,”
“ya udah, ga apa-apa,”
“yee… jangan bikin penasaran dong,”
“ga penting kok,”
Lalu mereka berantem, yang perempuan ngambek ga jelas dan yang laki-laki marah-marah. Untuk sejenak kemudian saling minta maaf. Mungkin bukan unik kata yang tepat untuk melukiskan hubungan mereka. Aneh? agak tepat barangkali. Tapi mungkin lebih tepatnya ajaib. Barangkali tak ada yang lebih ajaib dari cinta di dunia ini.
“Kok sekarang kita sering berantem ya?”
“Iya, siapa yang ngajakin?”
“Padahal ingat ga dulu, semuanya manis-manis,”
“ya, masa manis terus ga seru dong,”
“Sampai-sampai demi disebut romantis, Mas ngarang-ngarang puisi yang lebay, ingat ga?“
“Kapan? ga pernah,”
Kau boleh ragukan bahwa rembulan itu tak bercahaya
Kau boleh ragukan bahwa bintang gemintang itu adalah matahari-matahari di luar galaksi kita
Bahkan kaupun boleh ragukan bahwa matahari tak kan pernah terbit dari arah biasanyaTapi,
Jangan ragukan cintaku padamu.
“Siapa yang menulis puisi yang mirip lagu dangdut itu?”
” :-p “
Lalu mereka saling menimpuk dengan bantal. Tertawa-tawa, bercanda. Aih, bintang mana yang tak mencemburui mereka.
“Emang Mas ga romantis ya?”
“Siapa bilang?”
“Cinta,”
”
“
“Kok senyum doang?”
“Romantis itu seperti secangkir teh hangat di pagi hari, ga harus lebay kali,”
“Atau seperti yang Mas lakukan pagi ini,”
“Ngapain pagi ini?”
“Pamit pas mau berangkat dan bilang I love you,”
:-p
“Gitu ya?”
Seorang guru matematika kelas VII masuk ke dalam ruang kelas. Menyalami murid-muridnya dengan muka berseri-seri. Maklum seorang guru baru, dia tidak ingin dikenal galak oleh muridnya. Tetapi dia tetap saja gagal membangun kesan itu. Wajah-wajah yang dihadapannya lesu, tak bersemangat. Padahal dia belum menanyakan pekerjaan rumah yang diberikan kemarin. Tidak juga menyuruh mereka mengerjakan soal di papan tulis yang menjadi hobi guru-guru matematika.
“Baiklah, ada cerita menarik untuk membuka pelajaran kali ini,” tak hilang akal, si guru itu berusaha menarik perhatian muridnya.
“Mau diceritain ga?” tanya si guru.
“Mauuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu, tapi ga mau soal matematika,” jawab murid-murid itu serempak. Si guru tersenyum, lalu berceritalah dia tentang kisah berikut ini:
Ada seorang petani memiliki tiga orang anak. Ahmad, Budi, dan Ani. Petani itu memiliki ternak kambing. Setiap hari, Ahmad membantu untuk menggembalakan kambing. Budi yang masih sekolah kelas VII SMP, kadang-kadang ikut membantu kakaknya menggembalakan kambing. Sedangkan Ani, anak perempuan satu-satunya yang masih duduk di kelas III SD hanya di rumah saja. Pada suatu hari, karena merasa sudah tua, Pak Tani tersebut berpesan kepada tiga anaknya. Nanti kalau sewaktu-waktu Pak Tani meninggal, Pak Tani ingin memberikan setengah jumlah ternak kepada Ahmad, sepertiga bagian kepada Budi, dan sepersembilan untuk Ani.
Pada suatu hari, Pak Tani tersebut meninggal dunia. Setelah selesai semua urusannya, Ahmad mengajak adiknya untuk menghitung jumlah kambing agar bisa dibagi sesuai pesan ayahnya. Ternyata jumlah semuanya ada 17. Setelah berpikir agak lama, Ahmad menyerah. Dia bingung bagaimana cara membagi kambing tersebut. Setengah dari 17? Sepertiga dari 17? Sepersembilan dari 17?
Di tengah kebingungan Ahmad, Budi mengusulkan kepada kakaknya untuk meminjam satu kambing Pak Karto, tetangganya. Sehingga jumlah kambing menjadi 18 dan mereka bisa membagi kambing-kambing itu dengan mudah.
x 18 kambing= 9 kambing untuk Ahmad
x 18 kambing= 6 kambing untuk Budi
x 18 kambing= 2 kambing untuk Ani
Jadi jumlah semua menjadi 9+6+2= 17 kambing. Lalu Budi mengembalikan kambing Pak Karto lagi. Selesailah masalah mereka. Ahmad bangga dengan adiknya yang pintar.
“Bagaimana semuanya? Bagus tidak ceritanya? Bagaimana menurut kalian yang dilakukan Budi?” tanya si guru mengakhiri ceritanya dengan puas, lantaran murid-muridnya antusias menyimak dia bercerita.
“Bagus Buuu, Budi pintar,” kata mereka.
???
“Iya Budi kreatif, kalau kalian ingin lebih pintar dari Budi yuk kita belajar tentang pecahan sekarang,” kata si guru.
“Tahu tidak kalau yang dilakukan Budi itu tidak tepat?” tanya si guru lagi. Murid-muridnya berpandangan dan menggeleng. Di dalam hatinya si guru bertanya-tanya, apakah anak kelas VII belum bisa memahami kesalahan seperti itu ya? Seandainya mereka paham cerita ini akan menjadi lucu dan mereka akan tertawa. Tetapi yang ada, mereka terpesona dengan Budi yang menurut mereka brilliant.
***
Kisah di atas adalah kisah saya ketika saya berada di Madrasah Tsanawiyah sebuah yayasan yatim piatu di pelosok semarang barat. Ketika saya menceritakan hal itu padanya, dia bilang “Mungkin kamu ga bisa cerita kali, atau kamu ceritanya membingungkan sehingga mereka ga paham.” Ugh, jadi saya ga bisa cerita?
Kisah lain yang serupa, seminggu dua kali biasanya saya diundang Adin untuk belajar bersama. Adin sekarang duduk di kelas IX di SMP Negeri 03 Semarang. Biasanya setelah 40 menitan lewat, dia akan menunjukkan kebosanannya. Lalu dia akan bercerita tentang apa saja atau kalau tidak dia akan memaksa saya bercerita. Nah karena saya bingung harus cerita apa, saya ceritakan saja cerita di atas.
“Pasti ujung-ujungnya matematika, ga asyik mbak, tuh kan sama aja kayak soal cerita,” belum-belum Adin sudah komentar.
“Dengerin dulu, yang ini lucu,” kata saya, berharap dia akan terhibur. Lalu saya menyelesaikan cerita saya.
“Apanya yang lucu? Toh cerita itu sama dengan soal-soal cerita yang ada di buku,” katanya.
“Kenapa sih yang bikin soal matematika suka sekali dengan kisah Pak Tani, sebidang sawah dan yang itu-itu? Bosan tahu,” lanjutnya.
Saya terdiam. Seharusnya saya menceritakan sesuatu yang dekat dengan Adin. Ketika saya bercerita mengenai Pak Tani, kambing dan anak-anak desa, dia tidak mungkin tertarik karena semua itu asing dari kehidupannya. Tetapi seharusnya dia paham bahwa cerita itu lucu. Bahwa yang dilakukan Budi adalah sesuatu yang konyol. Bukankah dia sudah mempelajari tentang pecahan?
***
“Mungkin anak seumuran SMP belum bisa memahami bahwa cerita tersebut konyol,” kata Nayla, teman saya, ketika saya bercerita padanya. Saya benar-benar penasaran. Benarkah saya tidak bisa bercerita pada anak-anak sehingga mereka tidak menangkap maksud yang ingin saya sampaikan?
“Kalau menurut saya bukan salah kamunya yang cerita, nyatanya saya tahu apa yang kamu maksud,” kata Nayla lagi. “Kamu sendiri kapan paham cerita itu?” tanyanya.
“Saya tahu cerita itu baru sih, saat sudah kuliah,” jawab saya.
“Nah, makanya jangan berharap anak-anak bisa sama dengan pikiranmu, mereka kan masih SMP sedangkan kamu sudah kuliah ya ga sama lah!” tanggapnya.
“Jadi maksudmu? Saya bisa bercerita dengan baik?” kali ini saya merasa senang.
“Siapa yang bilang begitu?”
“Dasar!”
Kesimpulannya tetep, saya bisa bercerita kan? :-p

Dulu, masa lalu jadi cerita dan cerita jadi kata. Meski benar bahwa abjad itu terbilang, tapi kata-kata benar-benar tak pernah habis. Apa saja bisa jadi kata dan lewat kata-kata itu aku dan kamu berkenalan. Kata-katamu membawaku masuk ke kedalaman hatimu. Mungkin juga sebaliknya kamu.
Hingga suatu hari, aku dan kamu menemukan satu kosakata yang merubah banyak hal. Kita tak lagi mengenal aku dan kamu, tapi cukup kita. Sejak itu kata-kata berubah warna dan cerita-cerita berubah rasa. Kata itu serupa sihir, menyulap dunia seakan berwarna merah jambu.
Lalu, cerita-cerita yang mengalir semua bermuara pada kata itu. Tak lagi masa lalu yang jadi kata-kata. Tetapi sebaliknya, seolah tak sabar menunggu esok, kita menggambar sendiri masa depan. Melukis mimpi dan terbang bersama angan. Membeli langit menjadi milik kita.
Hari ini, kau memaksaku menyusun kata-kata untukmu. Barangkali kau ingin seperti masa lalu saat dunia kita hanya dunia kata-kata. Bukankah sekarang kita sudah berada di atas dimensi tertinggi, di mana kata tak lagi mampu mengungkapkan maknanya? Kau ingat itu Mas, kata-katamu dulu. Bahwa ***** berada dalam dimensi yang tinggi dan kata-kata jauh di bawahnya. Aku mengingatnya Mas, saat-saat tiba-tiba kau mendadak puitis di musim-musim semi.
Aku tak tahu lagi harus menuliskan kata apa. Yang jelas aku tak akan pernah mau mengecewakanmu. Tapi asal kau tahu saja, tanganku tak mau merangkai kata. Karena setiap kali aku berpikir mencari kata apa yang bisa membuatmu bahagia, hatiku yang akan menjawab. I evol ouy, katamu dulu Mas dengan malu-malu bersama gerimis. Ah, seharusnya dulu aku tak pura-pura bodoh sehingga gerimis tak terasa nyinyir tapi romantis. Dan kita bernyanyi tentang rintik-rintik yang menyenangkan.
Tapi belum saatnya menuliskan tentang kata yang paling indah itu sekarang. Karena ketika itu tertulis, pasti kalimat-kalimat ini harus berhenti. Dan kau mengira cerita ini belum selesai. Bukankah memang cerita kita tak pernah selesai? Mas, rasanya tanganku, juga hatiku, bersama aliran darahku ingin bersenandungtentang cinta. I love you, Mas.
Maybe it’s intuition
But some things you just don’t question
Like in your eyes
I see my future in an instant
And there it goes
I think I’ve found my best friend
I know that it might sound more than a little crazy
But I believeI knew I loved you before I met you
I think I dreamed you into life
I knew I loved you before I met you
I have been waiting all my lifeThere’s just no rhyme or reason
Only this sense of completion
And in your eyes
I see the missing pieces
I’m searching for
I think I’ve found my way home~~Savage Garden, I Knew I loved You Lyric~~
Kata Dunia