Lulus kuliah, menikah dan pindah tinggal di Bandung membuat saya kehilangan kontak dengan sejumlah teman. Apalagi euforia menikah, rasanya dunia milik kita berdua. Saya merasa tak lagi butuh bergaul dengan siapapun. Benar saja selama lebih dari enam bulan, saya tidak berteman dengan siapapun kecuali suami saya. Selain ngobrol dengan suami, kalimat yang saya keluarkan pun sangat terbatas. Mungkin hanya berkisar punten, nuhun, terima kasih, maaf, berapa, kiri (nyetop angkot) dan kata-kata pendek sejenisnya. Kehidupan online saya pun stuck.
Saya tidak begitu tertarik dengan jejaring sosial. Teman-teman di FB saya kebanyakan adalah teman-teman atau mahasiswa suami yang menambahkan saya di daftar pertemanan. Sementara teman saya sendiri sangat sedikit. Sampai ketika suami harus melanjutkan studi ke negeri kincir angin, dan saya kembali ke kampung halaman. Mau tidak mau demi efisiensi, saya menggunakan jejaring sosial untuk berkomunikasi dengannya. Sementara hubungan saya dengan lingkungan sekitar tetap saja pasif. Saya di rumah saja, cenderung di kamar saja.
Barangkali karena saya termasuk homo homini socius, maka saya tetap membutuhkan komunitas. Sayangnya saya tidak menemukan komunitas yang cocok di sekitar saya. Komunitas remaja masjid tentu saja tidak cocok bagi saya. Sedangkan komunitas ibu-ibu yang ada barangkali hanya komunitas ngerumpi, komunitas pengajian yang barangkali umurnya tidak asyik bagi saya. Akhirnya saya mencari komunitas online dalam rangka memenuhi kebutuhan sosial saya.
Tadinya saya mulai bergabung di beberapa milis (mailing list). Diantaranya milis kesehatan, parenting dan kuliner. Merasa menemukan tempat gaul yang sangat asyik. Teman ngobrol yang nyambung. Tapi kendalanya ikutan milis yang sangat aktif itu tiap hari inbox dipenuhi ratusan email dari milis. Barangkali saya bisa setting ke digest agar email yang masuk tidak lebih dari 10 email sehari. Tapi saya memilih keluar dari milis-milis tersebut. Alasannya mulai malas memeriksa email. Email-email penting jadi tercampur dan susah diidentifikasi. Sebaiknya kita memang punya akun email tersendiri buat milis. Sehingga banyaknya email milis tidak mengganggu email kerjaan.
Beberapa bulan saya tidak mengikuti komunitas apapun. Sampai akhirnya saya membaca berita di Kompas online tentang grup Ibu-Ibu Doyan Nulis di FB. Saya join. Kemudian join komunitas-komunitas kepenulisan yang lain-lain. Saya bersyukur, saya masih tertarik mengikuti komunitas-komunitas. Ini menandakan bahwa saya belum anti sosial. Karena di dunia nyata, saya sangat kurang berinteraksi dengan masyarakat.
Bagi saya masuk ke dalam komunitas online itu rasanya sama dengan ikut komunitas offline. Intinya bergaul. Tata kramanya sama. Bagi saya yang agak canggung bergaul dengan orang-orang baru, komunitas online lebih memberi keuntungan. Karena kita tidak bertatap muka secara langsung. Bukan maksud bersembunyi dari identitas asli, tapi dunia maya memberi kita jeda waktu berpikir lebih banyak dalam berkomunikasi. Ini salah satu kelebihan menurut saya. Kelebihan lain, komunitas online memangkas ruang dan waktu untuk saling berbagi. Lebih efektif. Bisa kita lakukan sambil mengerjakan banyak hal.
Rasanya, benar sekali bahwa kalau kita ingin tahu kepribadian seseorang, lihat lah siapa teman-temannya. Memang, masuk ke dalam komunitas tertentu tidak serta-merta menjadikan kita sama dengan mereka. Misalnya masuk ke dalam komunitas penulis tidak akan menjadikan kita seorang penulis tanpa kita menulis. Atau masuk ke dalam komunitas bakul kue tidak akan menyulap kita jadi bakul kue. Tetapi setidaknya dengan berbagi aktif memberi atau sekedar menyimak mengambil informasi saja adalah bagian dari belajar untuk “menjadi”.
Adakah keuntungannya masuk dalam komunitas-komunitas itu? Harus ada. Kalau tidak untuk apa bergabung. Yang jelas nambah teman, nambah informasi, mengurangi kuper akut dan juga ada aktivitas buat mengisi waktu luang biar tidak hanya bengong. Eh, bukankah berjamaah pahalanya 27 kali lipat dari pada sendirian?
Ini menurut saya, bagaimana menurut anda?
Rasanya menapaki bulan April ini sangat berat. Tahun seperti berkurang satu. Hari-hari berjalan mundur. Seolah saya terlempar kembali ke 2011. Masih lekat sekali dalam ingatan, bulan april setahun lalu saya dan suami sedang berbahagia. Mencari-cari nama yang cocok untuk buah hati kami. Sambil terus menulis tambahan untuk naskah buku yang sedang kami persiapkan. Sebuah buku yang kami janjikan sebagai kado untuk menyambut kelahiran putri kami.
Sampai saat ini saya belum bisa bercerita dengan baik mengenai apa yang terjadi dan apa yang saya rasakan saat-saat persalinan. Bukan karena saya dibius di meja operasi. Bahkan saya masih mengingat semua detilnya. Mengingat suara dentingan alat-alat bedah. Doa-doa dan semua harapan, yang jelas, saya seperti terhempas dari mimpi indah yang sangat panjang. Saya dan suami saya. Kami harus menerima kenyataan bahwa buah hati kami tidak akan berumur panjang.
Setelah hari itu hidup saya serasa berakhir di bulan Mei. Saya selalu berharap waktu berputar lebih cepat, ke masa depan yang sangat jauh. Di mana kami akan diberi kebahagian sebagai ganjaran atas sabar yang kami derita. Tapi nyatanya satu menit yang berjalan masih menunggu detik ke-60. Semuanya melambat. Berbulan-bulan saya tenggelam dalam kesedihan. Alhamdulillah di samping saya ada suami yang sangat hebat. Meski nyatanya jarak puluhan ribu kilometer membentang, dia mengajari saya bagaimana melewati waktu dengan menyenangkan. Akhirnya dia memaksa saya menulis di bulan Agustus. Seperti membuka episode baru dalam perjalanan hidup. Saya mendeklarasikan diri sebagai penulis, meski hanya dalam hati saya sendiri.
Awalnya saya ingin menulis fiksi. Agar kesedihan tidak terus membenam dalam diri. Tapi kata suami saya, “Mamah jangan nulis fiksi, fiksi itu ga ada uangnya,” saya Cuma nyengir.
“Emang kita nulis nyari uang?” tanya saya bodoh.
“Ya iya dong, kalau mau kaya, jadi penulis jangan amatiran,” jawabnya.
“Tapi Mamah kan belum bisa nulis, baru belajar,” Sebenarnya dalam hati, saya selalu minder dan selalu merasa belum bisa menulis.
“Menulis itu yang penting melakukan, bukan memikirkan atau merasakan. Tulis saja, baru kalo sudah jadi baca ulang, pikirkan, rasakan, perbaiki. Jangan belum apa-apa maunya sempurna,” kata suami saya.
“Pokoknya 1 bulan 1 naskah buku,” kalimat ini terdengar mirip paksaan. Tapi saya melakukannya dengn senang hati. Jenuh, pastinya ada. Setelah satu naskah selesai satu bulan saya berhenti menulis.
“Emangnya ada yang mau nerbitin tulisan Mamah?” tanya saya.
“Ada dong, sekarang pilih penerbit yang cocok, ajukan proposal,”
“Tapi naskah ini jelek, mana ada yang mau nerbitin,”
“Wong belum dicoba kok nyerah duluan,”
Saya mulai lupa dengan ikrar menjadi penulis dalam hati itu. Setelah Bapak saya gusar dengan kelakuan saya yang sehari-hari cuma di kamar. Beliau mencarikan saya kerjaan. Mengajar di sekolah yang sangat jauh dari rumah. Beberapa bulan, baru saya bisa menyesuaikan dengan jadwal. Mulai menulis lagi.
Beberapa waktu lalu saya menambahkan freelance writer ke daftar pekerjaan saya di profil info FB. Hal itu akhirnya menuai protes dari suami. “Mamah kok kerjaannya freelance sih?”
“Loh emang kenapa? Kan Papah yang pengen Mamah menyatakan diri sebagai penulis,”
“Iya, Mamah itu penulis tapi bukan freelance, freelance itu asosiasinya serabutan. Karena ga ada kerjaan lain gitu!” jawab suami saya. Dengan bodohnya saya menjawab,
“Ooo, freelance itu artinya serabutan ya, mamah baru tahu, kirain bukan begitu artinya,”
“Pokoknya diganti,” katanya lagi.
“Diganti apa dong? Writer aja? Ntar orang salah baca jadi dikira waitress lagi. Ga mau ah,” lagian siapa sih yang ngintip profil info saya
.
“Ya profesional writer atau profesional book writer atau fulltime writer atau apa gitu, wong Mamah kan bekerja sepenuh hati, kalo freelance tuh kesannya ga sepenuh hati gitu,”
“Iya deh,” akhirnya saya ganti juga jadi book writer.
“Kok iya deh? Yang kita kerjakan sepenuh hati harus kita hargai sepenuh hati dong, wong kalau nerima royalti aja sepenuh hati senangnya.”
Sekedar curhat, melipat kembali kenangan-kenangan yang seharusnya tersimpan. Rasanya tak sabar menunggu bulan berikutnya. Menantikan buku-buku saya terbit dan naskah-naskah baru tercipta. Menirukan salah satu iklan sufor “Lets call on the curious and bring on the hope. Life starts here.”
Wisma Dinkes Ambarawa, 31 Desember 2008. Tiba-tiba saja saya teringat hari itu. Kurang sehari lagi, hari itu akan genap membilang 3 tahun berlalu. Hari itu saya adalah mahasiswa semester 5 dan salah satu karyawan Campusnet –warnet besar di Semarang. Kenapa di Ambarawa? Ceritanya sedang ada acara yang diadakan Campusnet yang bertempat di Ambarawa. Acaranya tentang refleksi akhir tahun dan resolusi tahun baru. Kami disuruh membawa foto-foto tentang orang yang paling berarti dalam hidup kita. Banyak dari kami yang membawa foto-foto keluarga, foto pacar, foto sahabat, dll. Dari foto-foto itu, kami harus menuliskan diskripsi singkat tentang foto itu.

Saat itu saya hanya membawa foto seseorang di depan menara Eiffel. Deskripsinya sangat singkat: Dia sahabat, yang mengenalkan pada saya tentang mimpi, harapan, cita-cita dan cinta. So sweet ya?
. Dulu saya hanya mengambil foto itu dari blognya. Ijin lewat sms untuk memprint fotonya dan membawanya untuk tugas. Tentu saja dia bertanya-tanya kenapa saya memilih fotonya. Hahay, saat itu cinta masih samar-samar ya sayang
. Sementara dalam hati saya membatin, kenapa saya memilih fotonya, karena dia termasuk resolusi besar saya di tahun baru yang akan datang, 2009. Saya harus bertemu dengannya, dan memperjelas hubungan kami.
Apa cita-citamu waktu kecil? Jadi dokter, pramugari, perawat, guru, pedagang? Atau jangan-jangan ingin berguna bagi nusa dan bangsa?
. Kerap kali anak-anak menjawab itu ketika ditanya tentang cita-cita. Tidak hanya anak zaman dulu ya, mungkin masih banyak anak-anak zaman sekarang menjawab seperti itu ketika ditanya tentang cita-cita. Sebenarnya siapa sih pencipta pertama cita-cita “ingin berguna bagi nusa dan bangsa”? Ada yang tahu?
Saya tidak tahu apa saja profesi yang kerap kali berkelindan di benak anak-anak. Pertama kali saya mengenal cita-cita, kelas 1 SD. Seandainya saya pernah masuk TK, mungkin saya akan mengenal cita-cita ketika seusia Upin-Ipin dkk. Sejak saat itu saya ingin menjadi guru yang berpenampilan menarik, terlihat cerdas, cantik, memakai baju bagus, berkacamata, bersepatu hak tinggi, dsb. Namanya juga anak-anak. Belum jelas apa maunya. Demi cita-cita itu, saya sering bertingkah sendiri di depan kaca, seolah-olah sedang menjadi guru. Malu mengingat kekonyolan semasa kecil.
Sampai umur bertambah ternyata kalau ditanya cita-citanya ingin jadi apa, tetap jawabnya ingin jadi guru. Tapi tentu saja imajinasinya bertambah. Ketika pelajaran IPS tentang transmigrasi, maka saya berkhayal jika besar nanti saya ingin ikut program transmigrasi yang diadakan pemerintah -Btw, sekarang masih ada program transmigrasi ga ya?- . Saya akan membangun rumah kecil yang sederhana. Berisi satu kamar tidur, dapur, kamar mandi, ruang kerja dan ruang tamu. Ketika pelajaran IPA tentang holtikultura, maka saya menginginkan rumah saya dilengkapai dengan pekarangan yang sangat luas. Akan ada apotik hidup, palawija dan aneka ragam bunga-bunga yang mekar di sana. Yang akan menjadi aktivitas saya setiap sore. Karena profesi saya nantinya jadi guru, jadi kan cuma bekerja setengah hari. Saya juga ingin kolam di pekarangan saya, biar pikiran bisa senantiasa sejuk. Lalu, jika malam hari, saya akan mengundang anak-anak untuk belajar di rumah saya. Maka, saya harus mempunyai banyak buku cerita agar anak-anak tertarik datang ke rumah. O lala, begitu indah ya?
Bagi yang menginginkan sinopsis Sebelas Patriot, novel terbarunya Andrea Hirata itu, saya beritahukan sebelumnya bahwa tulisan ini bukanlah yang anda maksud. Jadi jangan salahkan saya, kalau tulisan saya ini 100% berisi curhat tentang saya. Ok?
Menemukan “Sebelas Patriot” tadi malam adalah kejutan bagi saya. Karena tadinya saya tidak berencana ke toko buku. Hanya sekedar jalan-jalan sore menemani Bu Lik dan anaknya yang sedang berbelanja untuk keperluan lebaran di Citraland. Tapi melihat Bu Lik saya dan anaknya yang 9 tahun, asyik memilih baju, entah kenapa perasaan saya tak karuan. Seperti cemburu, tapi saya tahu perasaan itu lebih tepat dikatakan iri. Apalagi melewati stand perlengkapan baby dan pakaian anak-anak, selalu sukses membuat perasaan saya tak karuan. Seketika melemparkan saya pada mimpi-mimpi dan seketika itu pula membuat saya sadar akan kenyataan. Ternyata begitu pahit dan sakit. Sebelum mata saya terlihat sangat basah karena air mata saya merembes, saya berpamitan ke Bu Lik untuk ke Gunung Agung saja.
Pikir saya, di Gunung Agung akan lebih nyaman. Menyelamatkan saya dari pemandangan yang menganduk-aduk hati saya, yaitu display-display baju anak-anak perempuan yang cantik-cantik. Tapi ternyata tidak sepenuhnya. Tiba-tiba saya menyadari, bahwa diri saya sudah tidak seperti beberapa tahun lalu. Bukan, bukan karena saya tiba-tiba tidak suka ke toko buku. Atau saya tiba-tiba tidak merasa lagi butuh dengan buku sehingga malas ke toko buku. Tetapi rasanya, kesenyapan yang sangat tiba-tiba menyergap di tengah hiruk-pikuk yang gemerlap. Padahal dulu saya biasa dengan keadaan seperti ini dan tidak pernah merasa sepi meskipun berjalan sendiri. Apalagi jalan-jalan ke toko buku, pasti saya lebih memilih sendiri.
Ketidakhadiran suami saya di sini, membuat saya seperti memakai kaos kaki sebelah saja. Atau memakai celana yang kebesaran tanpa ikat pinggang. Bahkan lebih dari itu, rasanya saya cuma bernapas dengan satu lubang hidung. Lebay ya? biarin :p. Sama tak nyamannya ketika di Robinson tadi. Saya sama sekali tak bergairah melihat-lihat buku. Apalagi setelah memastikan bahwa buku “Rangkuman Matematika SMA” yang kami susun, belum ada di sini. Hanya berjalan, berkeliling-keliling hingga tak sadar entah sudah berapa kali saya berputar di situ-situ saja. Saya tak melihat apa-apa, karena pikiran saya terlalu penuh dengan kerinduan. Berkali-kali saya merefresh halaman FB dari HP butut saya, tak ada inbox dari suami saya. Kami memang memanfaatkan fasilitas FB dalam berkomunikasi. Lebih hemat dibanding sms yang seharga 1/16 kg telur (alias sebutir
). Sayangkan daripada sms, mending dibuat belanja.
Tiba-tiba tangan saya menyentuh satu buku di deretan buku-buku terbaru. Sebelas Patriot. Teringat sebulan lalu kami pernah mencarinya di Gramedia tapi belum ada. Yang akhirnya membuat suami saya tidak menikmati jalan-jalan selanjutnya karena kecewa. Saya membeli novel ini untuknya. Mungkin akan mengirimkannya ke Belanda atau menyimpannya untuk dia baca ketika pulang (yang mungkin) setahun lagi. Baiklah, saya akan sabar menunggu waktu itu. Sepertinya perasaan saya yang mulai sabar dengan kesenyapan yang tadi menyiksa. Perlahan-lahan pikiran saya mulai utuh.
***
Kata Dunia