Menggugat Gerimis

25 Feb

Pagi gerimis, tawa tak pantas. Karena gerimis lebih indah bersanding dengan tangis. Bukan apa-apa, tentu saja karena rima yang sama. Tak ada rencana bersedih, tapi mendung pekat itu selalu mengajak kelamnya kelabu. Ada apa denganmu? Jika ada yang bertanya begitu, terimakasihku, sebelum ku jawab bahwa pagi ini datang tak seperti yang ku harapkan.

Gerimis meruncing. Mentari masih terlelap, hingga ku pikir lebih baik hari ini tak perlu ada. Bagaimana mungkin hari ini bisa berjalan dengan baik, sedangkan ia tak punya mata. Akupun enggan berjalan di hari yang buta. Tapi aku terlanjur terbangun dari malam. Beranjak dari mimpi, dengan khayal ‘sebentar lagi semuanya terwujud. Tiba-tiba aku menyesal, kenapa aku masih hidup hari ini. Sementara pagi mengajak mati.

Naïf sekali menyalahkan pagi yang gerimis. Tidak, aku tidak mengkambinghitamkan gerimis pagi. Aku hanya belum terima, kenapa tangis yang lebih pantas menyertainya.

Aku lemas sekali. Badanku remuk. Apa yang salah? Aku tidak habis mengerjakan sesuatu yang menggunakan tenaga berlebih. Di luar gerimis, sejak tadi juga begitu. Semua orang kedinginan, tapi badanku panas. Sementara aku masih percaya, ini efek dari pertengkaran kita semalam.

Aku memaksa untuk terus melewati pagi. Hingga siang berganti dan senja datang berganti malam. Besok hari telah berganti nama, berganti suasana dan aku berharap semua baik-baik saja. Keterpaksaan melahirkan banyak hal yang tidak aku inginkan. Wajahku terlipat rapi. Senyumku telah ku bungkus sempurna hingga tak seorang pun melihatnya. Ada apa denganmu? Pertanyaan itu seperti gerimis yang beranjak menghilang berganti hujan. Aku ingin menjawabnya, tapi tak bisa. Kata-kataku telah kau habiskan semalam dan sisanya ku gadai untuk menebus matahari yang tak terbit.

Dan hujan turun deras sekali. Seperti suasana yang mempertemukan kita untuk pertama kali. Dan kau tiba-tiba bercerita seperti hujan itu, mengucur dan mengalir begitu saja. Bukan tentang kemarin, kau tidak ingin membuatku bosan dengan bercerita sesuatu yang tidak menarik bagiku. Karena di hari-hari yang telah berlalu aku belum mengenalmu. Juga bukan tentang hari itu, karena saat itu yang ada hanya hujan. Sementara kau bercerita, aku mengabil kertas dari dalam tasku. Ku lipat-lipat jadi perahu, ku buat dua. Aku satu, kamu satu.

“Mau bermain perahu?” kataku saat itu, sambil menyodorkan perahu kertas yang baru saja selesai ku buat.

“Kau suka hujan rupanya” jawabmu, meraih perahu dari tanganku.

“Biar air membawa lari perahu-perahu kita, siapa yang tersangkut lebih dulu dia kalah.” Lanjutku.

“Lalu?”

“Yang kalah menraktir makan bakso di depan sana,” aku menunjuk warung bakso di pinggir jalan.

“Menyenangkan!”

Kemudian kita berhitung: satu, dua, tiga. Perahu kita berlari berkejaran dengan riak air yang berlari hendak saling mendahului. Kau bersorak-sorak ketika perahumu berhasil mendahului perahuku. Sedangkan aku mulai merogoh saku. Tapi tiba-tiba air membuncah begitu saja dari langit. Turun tanpa ampun mendera-dera perahu kita, yang kemudian sama-sama terguling. Lalu tenggelam. Kau berhenti bersorak, kulihat wajahmu. Mirip dengan langit saat itu, juga saat ini. memucat.

“Siapa yang menang kalau begini?” aku suka pertanyaanmu. Kau tidak mengatakan kita sama-sama kalah. Karena perahu kita sama-sama kalap. Tapi kau berpikir, masih ada yang menang.

“Aha…” tiba-tiba kau mengerling. Bersorak lagi.

“Kalau begitu kita traktir hujan makan bakso,” aku hanya memandangimu, hendak bertanya “ maksudnya?” tapi belum sempat terucap, kau telah menarik lenganku lebih dulu. Berlari membelah jalan. Menraktir hujan makan bakso. Badanku kuyup. Kau juga. Tapi kau hanya tertawa-tawa melihatku menggigil kedinginan. Sementara kau terus memasukkkan bakso ke mulutmu, aku memainkan tangan di atas mangkok dengan asap yang mengepul. Setelah itu wajahku memucat, bibirku membiru, hidungku mulai bersin-bersin.

“baksonya enak, sayang kau lebih suka menikmati hujan, hingga kau merasa kedinginan.” Ujarmu tanpa merasa bersalah. Dengan terus menyumpalkan sendok ke mulutmu yang masih penuh.

Tiba-tiba semua itu terkenang lagi sebagai keindahan hari ini. Tapi wajahku masih terlipat rapi, serapi kau melipat baju di almarimu. Hari merangkak siang dan mendung masih romantis menghias langit. Aku mulai jenuh, jenuh terus diam dan rupanya tidak begitu denganmu. Masih degan riangmu yang tampak tak bersalah. Kau bersenandung, sesekali bernyanyi-nyanyi memekakkan telingaku, membuka-buka buku yang sedari tadi pagi kau pegang. Apa kau masih ingin berseteru denganku lagi? Belum cukupkah diskusi panjang kita semalam? Entah, aku sudah lupa awalnya, kenapa tiba-tiba kita bertengakar padahal kita bukan tipikal profil yang suka mewarnai dunia dengan hitam putih. Kita sama-sama mengenal pelangi. Percaya bahwa pelangi itu indah dan keindahan itu tercipta dari perbedaan. Tapi tiba-tiba semuanya kacau tadi malam. Aku emosi. Kita sama-sama jadi egois untuk berebut jadi purnama. Ketidakmungkinan dan kita menginginkannya.

Gerimis meruncing seperti sapu lidi yang sangat panjang.

Apa yang hendak ku lakukan? aku tak tahu, kenapa aku sama sekali tidak bisa mendeskripsikan semuanya. buyar.

********************************************************************

Terkenang untukmu yang memanggilku Cinta, yang mulai  membelah hatiku sejak saat itu. Ketika aku belajar menulis ini.

Advertisements

4 Responses to “Menggugat Gerimis”

  1. mathematicse February 25, 2008 at 11:58 am #

    Indah bahasanya. Enak dinikmati. Romantis.

    Tapi, sayang saya tak mengerti maksud di balik lipatan senyummu yang terbungkus rapi itu. Aaaaaaah… 😀 (*padahal ga ngerti maksud cerpen ini… hehehehehe.. 😀 :mrgreen: *)

    _________________

    Mezza said: masa’ sih romantis?

  2. danalingga February 25, 2008 at 2:09 pm #

    Kegelisahan yang di lambangkan dengan gerimis , lantas kenapa akhirnya hujan tercurah ya?

    Kata-kata yang indah, sayang maksudnya seperti tersamar.

    __________________

    mezza said: makasih pak komentya. iya, tadinya gerimis karena gelisahnya masih sekedarnya, tapi tiba2 gerimis itu jadi hujan, kegelisahan yang tercurah, tak terbendung.

  3. Sawali Tuhusetya February 26, 2008 at 9:19 am #

    wah, aku selalu kagum pada orang eksak dan selalu bergaul dg hal2 yang pasti tapi tak lupa menyentuh sastra. daalam narasi ini terasa sekali sentuhan sastranya. narasinya indah, diksinya terjaga. btw, mbak hibah suka mengunjungi blognya kang jupri yak? hiks, dia itu memang hebat mbak. orang matematik tapi juga suka sastra. konon ada yang bilang matematika dan bahasa itu pohonnya ilmu. yang lain itu cabang dan rantingnya. setahuku bloger matematika ada juga di http://deking.wordpress.com/ dia juga sedang belajar di holland kayak kang jupri.

    __________________

    Mezza Said: terimakasih pak. masih belajar. sebenarnya saya salah jurusan kali… saya ga matematis banget … he2. Iya, pak JUpri itu guru saya… (guru nemu di blog… ups!ga sopan)

  4. fayray February 27, 2008 at 5:52 am #

    kayaknya ngga pantes banget. ngerasa wagu. di dataran orang gedhi tercemari satu orang cebol. karena nila setitik rusak susu sebelanga.
    dari dulu ku dah suka yang ini. file yang kamu cari2 kemana2. lain kali ajari aku nulis, ya, bu? dah berani ngajari bwt blog, kudu berani tgjb melatih nulis.

    __________________
    Mezza Said: duhh fay, secara kamu sekretaris redaksi BSE, dan cerpen ini adalah yang terbuang dari dapur redaksimu. kok bisa2nya kamu minta aku mengajari nulis? ga kebalik tuh …. jangan panggil bu dunk…. ku masih imoet kaleeeee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: