Lengang

17 Mar

Siang yang panas. Seperti siang-siang biasanya. Kampung legang. Ibu-ibu sedang memasak di dapurnya masing-masing. Dan mereka lebih suka melarang anak-anaknya yang masih kecil untuk bermain diluar. Panas. Siang benar-benar legang. Seperti tidak ada nafas yang berhembus. Kecuali mungkin dari tukang sayur yang masih dengan setia di ujung gang. Walaupun berkali-kali menguap juga, karena tak ada ibu-ibu yang rame belanja.

Tapi tiba-tiba terdengar suara teriakan memecah kelegangan. Teriakan itu berasal dari ujung gang, dekat Poskamling. Tempat tukang sayur mangkal. Terus berteriak. Tidak jelas bunyinya. Apakah hanya kata-kata yang diulang-ulang, atau kalimat yang panjang yang terputus-putus. Tidak jelas. Yang jelas bukan Yu Nah, tukang sayur itu, yang berteriak karena ada maling. Lalu??

Tiba-tiba juga teriakan itu seperti lolongan. Anehnya juga, Yu Nah yang terkenal tidak latah, ikut-ikutan berteriak. Teriakan yang sama. Yang tidak jelas kata-katanya. Apakah hanya satu kata yang diulang-ulang atau kalimat yang panjang. Kemudian teriakan itu berjalan. Mendekati salah satu rumah warga. Kemudian menjauh, mendekati rumah yang lain. Ibu-ibu Dengan daster yang belepotan keluar satu persatu menuju jalan raya. Tangan mereka memegang aneka macam alat dapur. Ada yang pegang pisau, susuk*, bahkan ada juga yang membawa baskom sayurnya keluar.

Bau terasi menyengat. Sepertinya sambal terasi dan tempong** masih menjadi menu andalan orang sekampung. Ini juga penyebabnya kenapa dagangan Yu nah sepi. Kelegangan benar-benar berganti jadi hiruk-pikuk yang mencekam. Anak-anak sekolah sudah mulai pulang. Kebanyakan mereka naik sepeda onthel. Tidak tahu juga kenapa, mereka seperti paduan suara, ikut berteriak. Anehnya, teriakanya sama dengan teriakan orang dari ujung gang. Seperti konvoi. Tapi tidak jelas apa yang diserukan.

Adalah perkampungan biasa yang dihuni orang-orang biasa. Letaknya diperbatasan kota kecamatan. Kebanyakan warga adalah buruh di pabrik-pabrik, Selebihnya tukang becak, selebihnya lagi kuli-kuli kasar serabutan. Ada juga yang PNS, tapi itu sedikit sekali. Bisa dihitung kepalanya. Itu saja golongan rendah. Tetapi kampung ini cukup asri. Cukup damai. Cukup Tenang. Walaupun kadang cekcok antar warga terjadi juga, tetapi penyelesaian selalu ada. Dan penyelesaian itu selalu berakhir baik-baik.

Sepertinya ini adalah suasana ribut paling heboh seumur hidup yang pernah terjadi. Pesta demokrasi lima tahunan saja tidak seheboh ini. Apalagi Pilkada … mereka lebih tidak peduli. Sedikitnya kiyam*** menyamai suasana siang ini , yang jelas-jelas memberi mereka makan gratis dan gaji sehari tanpa bekerja. Benar-benar pesta besar yang perlu dirayakan. Tetapi siang ini lebih heboh. Semua orang yang mendengar teriakan itu ikut berteriak. Gaduh. Benar-benar gaduh.

Tiba-tiba,

Tangisan bayi dari sebuah rumah memecah kegaduhan. Seketika teriakan berhenti di depan rumah itu. Seperti berbaris. Seperti ada dirigen dalam paduan suara. Semua mata menuju mata si bayi yang berair. Air matanya lebih mirip air terjun daripada cuma derai hujan. Semua mulut terkatup. Senyap kembali mencekam. Tapi kali ini nafas berhembus dari semua tenggorokan yang kering. Tak terkecuali nafas si bayi yang megap-megap. Seperti hendak menyesali kenapa dia terlahir disini. Barangkali dia akan lebih beruntung jika lahir disana. Bisa mencicipi asi yang bergizi. Atau susu-susu buatan pabrik yang lezat. Bukan asi yang gersang, yang hanya dari sari nasi aking****, bau tempong dan sambal terasi.

Dan …

Semua warga kembali berteriak. Teriakan yang sama seperti tangisan si bayi. Sore menjelang … mengantarkan matahari terbenam dan menyambut malam. Gelap. Lelap. Mimpi esok pagi. Makan apalagi.

==============================================================

*Susuk : Alat goreng

** Tempong : Ikan teri yang diasinkan

***Kiyam : Istilah untuk pilkades. Di banyak daerah masih menggunakan money politic.

**** nasi Aking : lebih detail lihat disini

Advertisements

10 Responses to “Lengang”

  1. mathematicse March 17, 2008 at 1:39 pm #

    Pertamax, komennya nanti ajah… 😀

  2. mathematicse March 17, 2008 at 3:55 pm #

    Tulisan yang sangat bagus. Menggambarkan realita kehidupan, mewakili sebagian banyak tempat di tanah air. Sedih saya jadinya.

    Sampai kapan harus terus begini? *Saya hanya bisa bertanya, entah siapa yang bisa menjawabnya… *

  3. goop March 18, 2008 at 5:09 am #

    sudah kah ada yang tau, teriakan apa tepatnya?
    😀

  4. fay March 19, 2008 at 3:39 am #

    saya tau! teriakan minta uang, pasti. tepatnya begini bunyinya
    auf..auf..auuuuuffffff
    saking lengangnya jadi tegang.
    bu, cerpen perdanaku tak hapus. malu aku

  5. fay March 19, 2008 at 3:42 am #

    alhamdulillahirobbilalamiiin. udah ngga awaiting4moderation lagi. selamat,yak?

  6. funkshit March 19, 2008 at 9:35 am #

    masa ada orang lairan aja.. ramenya ngalahin demo ??
    *jangan2 itu pada taruhan .. bayinya cowo apa cewe.. makanya rame
    hihihihihi

  7. Yari NK March 20, 2008 at 12:47 am #

    Memang dunia ini penuh dengan hal2 yang ekstrim, ada yang kelebihan gizi ada yang kekurangan gizi. Tapi baik kelebihan ataupun kekurangan sama2 tidak baik. Kekurangan menyebabkan malnutrisi yang menjurus kepada lemahnya daya tahan tubuh sedangkan kelebihan gizi menjurus kepada problem2 kesehatan atau penyakit2 degeneratif.

    Halaah kok komentarku jadi ngaco ya??? hehehe…. abis aku juga bingung sih itu postingan di atas bercerita tentang kampung yang sepi atau bayi/masyarakat yang kurang gizi?? :mrgreen:

  8. mezzalena March 20, 2008 at 2:22 am #

    @mathematicse : Terimakasih. Setiap kita bertanya pasti memikirkan jawabnya juga … siapa yang bisa menjawabnya? *mungkin kalo kita semua bareng-bareng pasti bisa menjawabnya pak*
    @goop : Teriakan apa tepatnya menurut paman? 😀
    @ fay : wahhh jangan2 itu gaya teriakan kamu kalo minta uang saku *hahahaha* :D. napa dihapus? aku lum tamat bacanya?
    @funkshit : 😀 salam kenal
    @Yari NK : Bingung ya pak? aku juga bingung *weleh … *

  9. Malecious Genius March 20, 2008 at 6:18 pm #

    itu… kok ada ya….. rakyat yang miskin di negara yang kaya…

  10. stey April 8, 2008 at 11:45 am #

    settingnya di Kaligawe yah non?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: