Bagaimana Ayah Mengajariku Pacaran?

25 Apr

“Heran deh … Perasaan kamu orangnya ga introvert deh, trus kenapa sepertinya ketakutan gitu untuk get closer dengan seseorang? Atau pernah punya trauma ya? Engga deh, kamu ga pernah cerita… Apa jangan-jangan kamu punya kelainan? Hii … ” Kata sahabat saya, Fay dengan gayanya yang khas, suatu sore pas duduk-duduk bareng. Spontan saya ngakak. “Ya ga lah.. emang saya apaan?”.

Karena kemungkinan pertama sepertinya tidak benar, karena semua orang tau saya tidak introvert. Terus kemungkinan trauma juga rasanya tidak pernah. Lalu apakah kemungkinan ketiga yang benar?

Sedang ngomongin apa ya? Mmmm …. entah, suatu sore di ngobrol-ngobrol santai tiba-tiba membahas tentang saya yang selalu memilih menjauhi seorang teman (cowok) yang mencoba mendekat (halah .. kalimatnya susah). Lalu saya juga akhirnya berpikir, Iya ya.. jangan saya tidak normal. Hiks.

Tiba-tiba saya teringat waktu kecil. Saya lebih suka bermain kelereng dari pada boneka. Suka bergelantungan di atas pohon jambu biji belakang rumah ketika main petak umpet. Suka memakai celana pendek. Semua ini selalu membuat ayah marah. Mengambil penggaris kayu yang panjangnya satu meter. Penggaris untuk mengukur kain. Kemudian memasang wajah galaknya. Lalu saya sigap turun dengan melompat kemudian melarikan diri. Masuk ke dalam rumah lewat pintu depan kemudian keluar lewat pintu belakang :mrgreen: . Begitu seterusnya, sampai akhirnya masuk kamar dan mengunci diri dengan segenap perasaan bersalah. Kenapa saya yang masih kecil merasa bersalah?

Setidaknya karena Ayah marah. Ayah selalu marah, dan kata Ibu itu karena saya salah. Baiklah, apa kesalahan saya?. Jika saya lebih suka main kelereng, itu tidak masalah, kata Ibu. Tetapi kalau saya sampai memakai celana pendek dan manjat pohon … nah ini yang tidak boleh. Kata beliau itu menyerupai anak laki-laki. Karena saya anak perempuan, maka saya harus memakai pakaian anak perempuan dan bertingkah laku sebagai perempuan. O iya, sepertinya ada yang ganjil. Kalau memang Orang tua saya tidak menghendaki saya memakai celana pendek kenapa mereka memberikan saya celana pendek?? Tentu saja tidak. Ibu saya tidak pernah membelikan saya celana pendek. Kaos yang mirip dengan anak laki-laki juga tidak. Lalu darimana saya memakai celana pendek? Karena waktu kecil Ayah saya memiliki usaha konveksian yang salah satu produksinya adalah celana pendek untuk anak-anak, saya mengambilnya saja. Hehehe πŸ˜€ :mrgreen: .

YupZ, Sejak kecil (Usia pra TK), orang tua saya sudah mengenalkan perbedaan gender pada saya. Saya harus memahami bahwa saya adalah seorang anak perempuan. Bahwa Budi, anak tetangga sebelah yang seusia saya adalah anak laki-laki. Kita memiliki segala bentuk yang berbeda. Lalu, karena saya perempuan saya tidak boleh meniru Budi.

Ketika saya SD, Ayah mengajari saya untuk berteman dengan anak perempuan saja. Bukan dengan kata-kata. Tetapi, ketika saya masih suka main kelereng yang nota bene lawan mainnya adalah anak laki-laki maka Ayah selalu memanggil saya untuk pulang. Kemudian Ibu hanya bilang “Main saja dengan mbakmu di rumah, main pasaran atau boneka.” Selalu seperti itu. Lalu saya bertanya “Bu, kenapa sih saya ga boleh main sama Budi, sama Kiki, juga sama Wahab?” Kemudian Ibu tersenyum. “Kamu kan perempuan sayang, ya harus main dengan perempuan”. Lalu saya seperti malu kalau ketahuan main dengan anak laki-laki. Karena merasa bersalah. Tidak menuruti kata Bunda dan Ayah. Yang berarti melanggar peraturan. Yang berarti dosa. Hanya itu yang saya tahu.

Lalu, ketika saya SMP, karena yang saya yakini adalah tabu perempuan main dengan laki-laki, maka saya tidak memilih berteman dengan anak laki-laki. Bagi saya laki-laki adalah saingan. Musuh. Kaum yang diciptakan untuk saling bertanding. Dan saya tidak mau jadi yang kalah. Yang namanya musuh maka agenda bertemunya adalah berperang. Tidak berteman. Adu kepentingan.

Itu riwayat masa kecil. Sekarang sih biasa saja. Banyak berteman dengan cowok. Bahkan teman-temanku banyak yang cowok. Alasannya mereka lebih realistis, ga suka ngegosip, dan ga sensitif. Tapi karena mungkin background masa kecil yang seperti itu, saya masih meyakini bahwa berhubungan dengan manusia yang tidak sejenis dengan kita itu sebatas kepentingan saja. Banyak sekali penggaris yang harus terus dipegang untuk meluruskan garis yang telah didoktrinkan pada saya sejak kecil.

Kenapa penggaris? karena Ayah mengajari saya pacaran dengan menggunakan penggaris. ??? Saat saya memakai celana pendek dan beliau marah. Saat itu saya dikenalkan pada etika bahwa saya adalah perempuan. Bahwa ada makhluk lain bernama laki-laki. Bahwa ada aturan antara perempuan dan laki-laki. Mungkin inilah jawaban saya atas pertanyaan Fay. Saya tidak introvert, Saya juga tidak memiliki trauma, dan saya normal-normal saja. Tapi penggaris ayah masih harus selalu saya pegang.

Ahh .. jadi kacau. Segini dulu saja deh. Jadi kangen Ayah, Ibu … All my lovely family …. Ahh .. Aku pulang… ]

Advertisements

7 Responses to “Bagaimana Ayah Mengajariku Pacaran?”

  1. mathematicse April 25, 2008 at 7:50 am #

    Pertamax dulu aaaaaaaaah πŸ˜€

  2. mathematicse April 25, 2008 at 8:02 am #

    Mau ketawaa…. lucu… ternyata masa kecilnya gitu ya?

    Duh jadi teringat masa kecil saya, yang agak sedikit berbeda… πŸ˜€ (Justru saya sewaktu kecil lebih banyak bermain dengan kakak saya yang perempuan, dan teman-teman sebaya di kampung banyak yang perempuan…. πŸ˜€ )

  3. Sawali Tuhusetya April 25, 2008 at 8:07 am #

    Bagi saya laki-laki adalah saingan. Musuh. Kaum yang diciptakan untuk saling bertanding. Dan saya tidak mau jadi yang kalah. Yang namanya musuh maka agenda bertemunya adalah berperang. Tidak berteman. Adu kepentingan.

    waduh, pertanda tidak baik itu, hehehehe πŸ˜† untunglah sekarang hibah sudah mempunyai banyak temen cowok. ada kalanya sih orang tua masih membedakan persoalan gender secara stereotype, kalau perempuan mestio feminim, sedangkan kalau lelaki mesti maskulin. namun, sepertinya pendapat seperti itu mulai bergeser. laki2 dan perempuan hanya dibedakan berdasarkan fisik dan kodratnya. sedangkan, untuk yang lain2, bisa kompromi, kok. *halah*
    btw, ndak bisa vertamax lagi nih, :mrgreen: dah kesalip sama pak jupri, kekekeke πŸ˜†

  4. hanggadamai April 28, 2008 at 12:30 am #

    juga jadi inget ayah d rumah.. 😦

  5. fay April 28, 2008 at 8:47 am #

    Saya lebih suka bermain kelereng dari pada boneka.

    tapi punya boneka, kan?

    Suka bergelantungan di atas pohon jambu biji belakang rumah ketika main petak umpet.

    dipoto, trus dicetak jadinya teng…teng…teng… mezza main petak UMPET…

    Suka memakai celana pendek. Semua ini selalu membuat ayah marah.

    SEKARANG DAH pake celana penjang, lumayan, progress yang cukup berarti dalam psikologi mezza

    Masuk ke dalam rumah lewat pintu depan kemudian keluar lewat pintu belakang :mrgreen:

    besok2 lewat jendela ajah

  6. mezzalena April 29, 2008 at 11:45 am #

    @ mathematicse : πŸ˜€ .. Wahh … jadi jagoan sendiri dunk pak …
    @ Sawali Tuhusetya : ternyata banyak hal yang memang sudah bergeser. sepakat pak, kalo laki-laki dan perempuan sepantasnya dibedakan berdasarkan fisik dan kodratnya saja, yang lain2 bias kompromi. πŸ˜€
    @hanggadamai : Ingat Ayah kok Cry? πŸ˜€
    @fay : Punya boneka ga ya? lupa πŸ˜€
    wahhh .. kalo main petak umpet di photo, berarti ngumpetnya ketahuan dong… :mrgreen:
    progress dong .. secara dari pendek jadi panjang .. Haha
    Gag mau ah,… Rumahku gag ada jendelanya Wakaka

  7. yaroh May 12, 2008 at 12:47 pm #

    kalian semua lucu2 kawan,sobat(masih bolehkan aku memanggilmu demikian). jadi ketawa sendiri dech he…he…he…tapi tenang belum gila kok.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: