Dari Masalah Permutasi ke Emansipasi

7 May

P_(n, r) =  \frac{n!}{(n-r)!}
Di pelajaran matematika SMA kita mengenal rumus diatas, yaitu permutasi. Mudahnya permutasi adalah banyaknya cara menyusun n unsur berbeda ke dalam r tempat yang tersedia. Tiba-tiba saja masalah permutasi muncul di pikiran saya, gara-gara teman-teman bingung menyusun jadwal kerja.

Tadinya tidak menjadi masalah ketika supervisor menyerahkan sepenuhnya pada kita (saya dan rekan-rekan operator Campus Net) tentang pengaturan jadwal kerja. Karena dengan rumus permutasi diatas kita akan mendapatkan banyak sekali cara yang mungkin bisa dilakukan. Marilah kita hitung, Crew campus net ada 7 orang, satu hari ada 6 shift. Ini berarti ada 5040 kemungkinan yang bisa dipilih. sangat fleksibel.

Tetapi ternyata hitung-hitungan dan beribu kemungkinan itu justru menjadi hal yang memusingkan. Pasalnya terdapat banyak hal yang menjadikan ke lima ribu empat puluh pilihan itu tidak bisa dipilih dengan sesukanya. Pertama, karena terdapat 2 operator yang berjenis kelamin perempuan yang hanya boleh bekerja di antara pukul 07.00-22.00 WIB, ini berarti OP perempuan hanya punya empat pilihan. Kedua, ada dua job discription buat OP, yaitu yang disebut shift dan sisipan. Shift kerjanya menyangkut tentang billing, front officer, koneksi. Sedangkan Sisipan pekerjaannya adalah yang menyangkut keamanan, kebersihan dan kenyamanan client. Karena pekerjaan sisipan sangat berat, maka operator perempuan hanya diberi tugas memegang shift saja. Ini berarti OP perempuan hanya memiliki 2 pilihan saja. Ketiga, ini yang paling membuat rumit karena status kita semua adalah mahasiswa yang masing-masing mepunyai jadwal kuliah.

Akhirnya tidak ada sama sekali pilihan untuk menukar-nukar jadwal. Semua menjadi sangat ketat. Sehingga untuk tidak masuk tanpa alasan yang sangat penting, menjadi sangat susah. Karena hanya akan menjadi derita bagi rekan yang lain. Sehingga kemarin dalam meeting bersama supervisor ada salah satu rekan yang protes atas kebijakan selama ini,

“Seharusnya cewek juga harus boleh jadi sisipan, sehingga mudah kalau mau gantian jadwal kalau ada kepentingan yang mendadak, ” kata salah seorang rekan laki-laki. Saya diam. membayangkan bagaimana harus siap jadi sisipan kalau tiba-tiba SPV saya menyetujui hal itu.

“Katanya zaman emansipasi, ga ada pembedaan cowo sama cewe” seorang lagi menyambung. Iya juga, kasian para cowok yang jadi korban, harus jaga 12 jam kadang-kadang.

“Iya, saya setuju, cewek harus mau pegang sisipan, saya bahkan tidak punya hari libur gara-gara mezza cuma bisa pegang shift lima hari, padahal dihari sabtu atau jum’at dia bisa pegang sisipan dua.” satu demi satu cowok mengungkapkan kesepakatan mereka bahwa perempuan harus pegang sisipan.

Saya sebagai satu-satunya perempuan yang ikut meeting, diam saja. tidak mencoba membela diri. Biasanya dalam perdebatan seperti ini, mereka akan memojokkan perempuan dengan senjata emansipasi. Perempuan itu sukanya menggembar-gemborkan emansipasi tapi maunya yang enak-enak saja.

Jika keputusan diambil atas dasar suara terbanyak, tentu saja saya kalah. Ternyata kali ini demokrasi sedang tidak berpihak padaku.

“Di Campus Net cabang lain, perempuan memang boleh jadi sisipan, karena CN lain lantainya tidak bertingkat. Tetapi disini ada lantai 2, bagaimana mungkin mereka harus naik turun sebanyak 10 x 6 jam, jika kita asumsikan setiap user memakai 1 jam dan ada 10 PC dilantai 2, terus bagaimana mungkin mereka harus ngangkat kardus-kardus snack, krat-krat botol shoftdrink dari gundang jika stock habis?” Saya agak lega mendengar jawaban SPV saya. Dan kulihat wajah-wajah tidak puas atas jawaban itu.

“Saya memberi peraturan bahwa perempuan tidak boleh menjadi sisipan karena perempuan membawa masa depan generasi bangsa,” kali ini semuanya terperanjat.

“Kita tidak seharusnya memperkerjakan perempuan untuk hal-hal yang memberatkan fisik, kalau tenaga kita masih ada kenapa kita harus mengorbankan hal yang lebih besar? Karena perempuan membawa rahim.”

Semuanya diam. Termasuk saya. Hari itu saya mendapatkan pengertian dari kata toleransi dan emansipasi.

Advertisements

6 Responses to “Dari Masalah Permutasi ke Emansipasi”

  1. Sawali Tuhusetya May 7, 2008 at 12:48 pm #

    SPV tuh apaan sih, mbak hibah? hehehehehe 😆 kayaknya dia paham bener tentang makna emansipasi, yak? salut juga tuh. nah, makna emansipasi, menurut saya, tidak berarti semua pekerjaan lelaki mesti juga harus dikerjakan oleh kaum perempuan. ada batasan2 tertentu, yang karena kodrat –menstruasi, mengandung, dan menyusui– perempuan tidak harus mengerjakan sesuatu yang hanya layak dikerjakan oleh kaum lelaki.

  2. hanggadamai May 9, 2008 at 12:27 am #

    semuanya masa depan bangsa..

  3. arroyani May 9, 2008 at 7:46 am #

    yak. apapun katamu aja dah

  4. yaroh May 12, 2008 at 12:24 pm #

    pengalamanmu sungguh menarik mbak….toleransi, emansipasi? entah bagaimana SPV mu bicara. yang ku suka kemasan bahasamu yang menyandingkan k2item diatas-toleransi,emansipasi-dengan dalih kemulyaan, kalau ku bilang. q titip salam ya…he…he..he..

  5. koko May 14, 2008 at 6:38 am #

    tapi katanya cowo kalau ngangkat yang berat2 bisa kena prostat juga? Prostat tidakkah identik dengan kemandulan atau impotensi? hmm, apakah tidak sebaiknya bekerja bersama-sama mengangkat barang?

    Mengenai emansipasi…jadi inget temen saya komentar, “Saya mendukung emansipasi, selama itu tidak terjadi dengan istri saya ..”

  6. agn3z May 31, 2008 at 11:55 am #

    Eheheh… pelajaran permutasinya jadi gak kepake’ yah. 😀

    Buat sharing aj, dulu di gajah ada 3ce. Otomatis salah 1 ce-nya dapet sisipan. Itu, dulu…. 😡 Gajah juga 2lantai, loh… Tapi gak ada angkat kardus snack atau krat botol karna kulkas diisi oleh shift1 (yg jaga biasanya cowok).
    Klo sekarang ceweknya (baca: agn3z) terpaksa jaga sisipan karna suatu hal, cowok shift mempersilakan aq duduk di billing ^_^ Thanx to cowok-cowok gajah atas kebaikan hatinya, entah karna alasan kita khan kerja tim atau sekedar kasihan sama cewek… Eheheheh…

    Wogh… komen-ku akeh banget yah. Yak, dicukupkan sekian aja, lah. 😀
    Akhirul kalam: apa pun itu, pantas disyukuri juga karna punya supervisor sebijak itu. (mbi mbayangke mas Khafiz pas nasehatin anak buahnya :D)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: