Totto-Chan, Hadiah dari Teman dan Pendidikan Kita*

17 May

Sore itu saya pulang ke kosan dengan tergesa-gesa, lantaran seorang teman mengatakan bahwa dia telah mengirimkan sebuah buku kepada saya. Penasaran. Buku apa ya? begitu saya masuk kamar, mata saya langsung menabrak meja, meraih amplop coklat besar. Tidak langsung membukanya, tapi sempat memastikan bahwa itu adalah amplop untuk saya. Benar. Meraba-raba … Apa ya isinya?

Totto-Chan Gadis Cilik di Jendela . Aha … It’s so amazing book. Meski awalnya agak heran, pasalnya saya sempat menebak-nebak sendiri buku apa yang didalamnya sebelum membukanya. Mungkin sejenis Setan Angka karya Hans Magnus Enzenberger, karena si pengirim adalah pecinta angka. Tetapi akhirnya tidak jadi heran, karena Totto-chan bercerita tentang pendidikan, dan si pengirim adalah orang pendidikan.

Bukan buku baru, karena cetakan ke-13 saja terbit Juni 2007. Resensinya sudah banyak tersebar di berbagai media. Apresiasi para pembaca juga sudah banyak diposting di berbagai blog. Tetapi tetap saja ada yang selalu baru membaca lembar demi lembar buku itu. Pertama, saya terpesona dengan Mama Totto-chan. Mama yang besar hati dan bijak. kebanyakan orang tua/ wali murid yang tidak terima kalau anaknya di DO dan dikatakan nakal oleh guru. Dan kebanyakan orang tua akan memohon agar anaknya boleh tetap sekolah disitu. Bijak dengan memilih sekolah yang mungkin bagi orangtua pada masa itu adalah sekolah yang aneh. Sekolah yang hanya mempunyai 50-an siswa dan menggunakan gerbong kereta api sebagai kelas. Kedua, Saya terpesona dengan Totto-chan. Gadis kecil di jendela yang sangat aktif dan kreatif.

Ketiga, yang paling membuat saya terpesona membaca buku ini adalah Mr. Kobayashi yang mendirikan Tomoe Gakuen. Entah Konsep pendidikan di Tomoe Gakuen yang sangat indah atau Mr. Kobayashi yang sangat hebat. Saya kira kedua-duanya.

Secara teoritis, kurikulum pendidikan di Indonesia hampir menyerupai dengan Tomoe Gakuen, dengan KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) yang disempurnakan menjadi KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). Tetapi masalahnya kesamaaan itu hanya konsep belaka, prakteknya? Aha … sepertinya kita masih perlu belajar banyak. Btw, sepertinya akan menjadi OOT bila saya bicara banyak tentang pendidikan, mengingat saya yang masih harus banyak belajar.

====================================================================================================

*Sebagai ucapan terimakasih kepada seorang teman yang telah memberikan buku yang sangat bagus ini kepada saya. Dia yang selalu menyebut saya sebagai teman. walaupun belum pernah bertemu.

Advertisements

12 Responses to “Totto-Chan, Hadiah dari Teman dan Pendidikan Kita*”

  1. hanggadamai May 17, 2008 at 7:51 am #

    pinjem dong..

  2. danalingga May 17, 2008 at 11:08 am #

    Saya juga baru baca buku ini. Dan sungguh dahsyat.

  3. natazya May 18, 2008 at 7:53 am #

    saya juga udah baca buku ini… dan kayanya juga seharusnya ini jadi bacaan wajib para calon guru!

  4. mezzalena May 18, 2008 at 8:24 am #

    @Hanggadamai : pinjam? ke Semarang dong …. Hahaha
    @Danalingga : Wahh … sama baru baca ya? ternyata bukan saya doang yang ketingalan.
    @Natazya : YupZ sepakat … harus jadi bacaan wajib para guru. Karena guru-guru di sekitar kita masih sering tidak memahami anak ketika mengajar.

  5. mathematicse May 18, 2008 at 12:08 pm #

    Siapa neeh temennya? Oooo belum pernah ketemu ya? Kok bisa ya… hihihihi… ๐Ÿ˜€

  6. Bagindo May 21, 2008 at 5:33 am #

    [anak kosan mode ON]
    harganya berapa ya??
    :mrgreen:

  7. Farhan May 21, 2008 at 8:27 am #

    TOTTO CHAN?Wah kok berbau jepang ya? Tpi sya tdi jg bru lht bkuny di perpus temen. Emang bgus bener. Sampe2 temenku memakai nama woelan chan. He he he
    mbak lena kapan selancar di blog saya? ๐Ÿ˜†

  8. stey May 22, 2008 at 4:21 am #

    wahhh..dah lama banget nih buku, en emang bagus banget ceritanya..

  9. arroyani May 23, 2008 at 8:54 am #

    lebih canggih yang translate bahasa inggris, keliatan psikologi toto-nya
    mudah2 komen yang ini nyambung

  10. Sawali Tuhusetya May 25, 2008 at 1:33 pm #

    wah, sangat beda, hibah. kurikulum pendidikan di Tomoe Gakuen memberikan kebebasan kepada siswa didik untuk menentukan materi pembelajaran yang mereka sukai. KTSP? semuanya masih juag serba diatur, meski sudah mengakomodasi kreativitas guru dalam mengelola kegiatan pembelajaran. semoga totto-chan dan Tomoe Gakuen-nya memberikan inspirasi banyak pendidik utk melakukan hal yang sama. makasih postingan hibah yang mencerahkan ini!

  11. mezzalena May 26, 2008 at 4:25 am #

    @Mathematicse : Kok bisa ya? Ga tau juga ๐Ÿ˜€
    @Bagindo : Harganya berapa ya? Saya dikasih, jadi tanya aja sama yang ngasih ya .. Hehehe. Salam kenal. Terimakasih sudah mampir.
    @Farhan : Iya ini memang cerita dari jepang zaman perang pasifik.
    @Stey : Iya nih mbak, ketinggalan bacanya. ๐Ÿ˜€
    @Arroyani : Wahh, kamu dah baca versi inggrisnya ya fay? kok ga bagi2. Hehehe
    @Sawali Tuhusetya : Sangat beda ya pak? Maksud saya, ada sedikit kemiripan konsep. Dengan adanya otonomi pendidikan dan MBS, rasanya KTSP akan mirip Tomoe Gakuen. Tapi itu konsep.Hanya saja di Indonesia pelaksanaannya masih terbatas oleh banyak hal. Kapabilitas guru, Sarpras, dll. sehingga untuk dibilang sama masih sangan jauuuuhhh berbeda. *OOT ya pak*
    Yup! ikut berdo’a Semoga!!

  12. kakasi66 June 8, 2008 at 11:02 pm #

    wkwkwkwkw…. q kan masih belajr….. harap maklum,,,,,,, eh dah q benerin …. d liat dah bener lom ya… q lom bisa pa2 nih… ajri ya,,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: