Ngo Lengo (Part 2)

1 Jun

“Hanya ini yang bisa saya lakukan, berteriak ‘Ngo lengo’ dan orang-orang berdatangan pada saya menukarkan uangnya dengan minyak, lalu saya mendapatkan uang untuk keluarga saya.” Kata si kakek sambil menuangkan minyak ke jerigen saya.

“Hahaha … hidup ini menyenangkan. Hidup ini begitu mudah.” Lalu kakek itu tertawa keras-keras. Ganjil. Tak habis pikir. Saya tak menyahut. Di tengah keadaan seperti ini, biasanya setiap orang dengan profesi apa saja, selalu berkeluh kesah. Menghujat pemerintah. Tapi kakek ini tertawa-tawa, dan bilang hidup ini begitu mudah. Maksudnya?

Bunda masih bergumul dengan asap tungku ketika saya ke dapur hendak menuang minyak ke dalam kompor. Bunda memandangiku, aneh.

“Kamu tidak melihat ada yang ganjil Ran?” Tanya bunda.

“Apa Bunda? Si Kakek hebat ya, bisa tetap tertawa-tawa dan menjual minyak dalam keadaan seperti ini. Dari mana coba dia dapat minyak untuk dijual?” kataku.

“Tentu saja Ran, yang di bawa dalam gerobak dorongnya bukan minyak tanah, Itu air sumur. Kakek itu gila sejak kelangkaan minyak tanah beberapa bulan yang lalu,” Jawab Bunda datar. Aku terbelalak.

“Kok bisa? kenapa Bunda membiarkan saya membelinya?”

“Karena kamu terlanjur menghentikannya. Ya sudah, biar kamu tahu hidup zaman sekarang begitu susah. Biar kamu bersyukur, tidak ikut gila.”

Diam. Huff … Apakah hanya orang gila yang bisa merasakan bahwa hidup ini begitu menyenangkan? Hidup ini begitu mudah. Sekian.

=================================================================================================

Advertisements

4 Responses to “Ngo Lengo (Part 2)”

  1. hanggadamai June 1, 2008 at 5:49 pm #

    banyak bersyukur y…

  2. mathematicse June 2, 2008 at 10:13 am #

    Kalau kita bersyukur, dalam keadaan bagaimana pun (katanya), insya Allah hidup kita akan menyenangkan. 😀

  3. yainal June 2, 2008 at 11:27 am #

    hanya orang gila yang bisa memahami orang gila.. 🙂

  4. Sawali Tuhusetya June 6, 2008 at 7:53 am #

    wakakakakaka 😀 postingan yang sarat sindiran, hibah. hanya orang gilakah yang bisa tertawa ketika hidup di tengah2 situasi yang susah? waduh, padahal aku sering tertawa juga melihat para pendemo yang sering bentrok terbuka dengan aparat, loh, jangan2 saya sudah ….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: