Love Before The Sight

21 Jun


Dulu, saat saya masih kecil saya suka mencuri lipstick Bunda dan bermain-main sendiri di kamar. Suatu hari saya menghampiri paman (adik Bunda yang tinggal serumah dengan kami) yang sedang belajar di kamarnya.

“Paman, saya bisa menulis!” Pamer saya pada Paman, yang dulu masih mahasiswa.

“O ya? Coba lihat apa yang kamu tulis?” Lalu saya sangat senang menarik tangan Paman ke kamar dan menunjukkan coretan-coretanku di dinding.

“Anak pintar, kenapa menulis di dinding? sini paman kasih kertas!” Paman geleng-geleng.

“Menulis itu bukan pake lipstick tetapi pake pensil,” Kemudian Paman memberiku buku dan pensil yang dibawa dari kamarnya.

“O ya, apa yang kamu tulis di dinding itu?” tanyanya. Saya berpikir lama. Ternyata saya tidak tahu apa yang saya tulis. Paman tersenyum.

“Kamu mencontoh dari mana?”

kemudian saya mengaduk-aduk koran dan menunjukkan sebuah simbol.

“Oooo … “

“Saya juga bisa menulis yang lainnya” Kemudian saya hendak menulis lagi. Membuat grafitti dengan lipstick Bunda. Tapi Paman mencegah,

“Nulisnya bukan disitu sayang, tapi disini,” kata paman sambil menyodorkan buku dan pensil.

“Oya Paman, yang ini ada juga loh di jam dinding, ini namanya apa?” tanyaku.

“Itu namanya angka lima.” Jawab Paman.

“Ooo … angka itu apa?*” tanyaku lagi. Saya melihat paman seperti berpikir waktu itu. Kemudian paman mengajariku menulis dan menggambar jenis unggas dengan dimulai dari beberapa angka.

Saya masih bisa mengingat kejadian itu, ketika saya berumur sekitar empat tahun. Ayah dan Bunda sangat sibuk waktu itu.

5 adalah bilangan pertama yang saya kenal simbolnya. Tulisan pertama saya. Entah, dari sekian simbol huruf yang saya lihat di koran saya memilih angka 5 untuk saya contoh. Dulu saya menulis 5 dengan memulai dari kepalanya, baru lehernya. “Cara nulisnya gini, dari lehernya dulu, buat badannya, baru deh kepalanya.” Kemudian Paman mengajariku bagaimana caranya menulis yang benar.

Ketika saya masuk madrasah (saya masuk di madrasah dulu baru SD), saya senang sekali dengan angka 5. Banyak sekali sesuatu yang katanya ada lima. Sholat, rukun Islam, Rasul yang terpilih (Ulul Azmi), dll. Sampai juga lagu “Balonku ada lima rupa-rupa warnanya …”.

Kemudian, ketika saya masuk di SD, saat kelas 2 diminta menghafalkan perkalian sampai seratus. Saya paling senang dengan 5, karena 5 paling teratur diantara angka-angka yang lain. 10 juga teratur. Tapi dulu saya bilang, kenapa 10 teratur seperti angka 5? karena 10 = 5 x 2. Jadi yang teratur adalah 5.

Saya selalu memilih angka lima jika saya diminta memilih sesuatu yang bernomor. 5 adalah angka kesukaan saya sebelum saya mengenal apa itu angka. Dan ketika saya iseng-iseng menjumlahkan digit-digit angka pada tanggal lahir saya, sampai hasilnya satu digit, saya menemukan hasilnya adalah 5.

=============================================================================================================================

Terkenang masa kecil setelah membaca hasil penelitian yang mengemukakan bahwa :

1. Anak-anak kecil ingin mempelajari matematika. Anak-anak kecil dan orang-orang jenius memiliki organ yang sama yaitu rasa ingin tahu. Biarkan rasa ingin tahu itu berkembang dalam masa kanak-kanak sebab mungkin mereka menemukan sesuatu yang dimiliki oleh orang-orang jenius.

2. Anak-anak kecil mampu mempelajari matematika, semakin muda si anak semakin mudah dia mempelajarinya.

3. Anak-anak kecil harus belajar matematika, karena merupakan suatu keuntungan jjika dapat mengerjakan matematika dengan lebih mudah dan lebih baik. Otak yang telah dipersiapkan dengan baik merupakan bangunan yang kokoh dimana pengetahuan pasti akan terukir. **

(Coba dulu saya diajari matematika sejak bayi, pasti sekarang tidak perlu pusing ketika belajar dan menjadi mahasiswa matematika yang baik dan benar. Hiks)

* Apa itu angka? klik ini saja

** Doman, G, How to Teach Your Baby Math, dalam Rita Yuliastuti, Mengajar Anak-anak Kecil (Bayi) Matematika, Prosiding Konferensi Nasional Matematika XIII, 2006, Semarang: Penerbit Universitas Diponegoro.

Selamat Buat Adik Saya yang katanya mendapat peringkat ke-5 di kelasnya (SMP kelas VII). Adalah kerja keras buat dia untuk bisa masuk ke lima besar di kelas. Meskipun bagi banyak orang itu hal yang sangat sepele.

Sampai sekarang coret-coretan saya di dinding kamar dengan lipstick Bunda masih ada. Ayah tidak pernah mencatnya.

Advertisements

6 Responses to “Love Before The Sight”

  1. mathematicse June 21, 2008 at 6:59 am #

    Pertamax ya?

  2. mathematicse June 21, 2008 at 7:03 am #

    Btw, apa gambar di artikel ini coretanmu, di dinding, yang dulu yang ga dihapus (ga dicat)? ๐Ÿ˜€

  3. Sawali Tuhusetya June 21, 2008 at 6:24 pm #

    wah, rupanya mbak hibah sudah menunjukkan kecintaan terhadap matematika sejak kecil dengan menggunakan angka favorit 5. btw, kok bisa dapat lukisan itu dari mana, mbak, hehehehe ๐Ÿ˜† lukisan asli waktu kecil atau dibikinkan keponakan? wakakaka ๐Ÿ˜€ pertanyaan yang hampir sama dengan pak jupri, hiks ๐Ÿ˜†

  4. Yari NK June 22, 2008 at 3:40 am #

    Saya waktu kecil juga sudah suka angka-angka. Bahkan kalau gambar dulu, selain ada gambarnya juga ada angka2nya padahal angka2nya nggak ada hubungannya dengan gambar Huehehehe…….. Memang kalau orang senang dengan angka terutama anak kecil, pasti saat dia menggambar dia juga akan menggambar menulis angka2 dalam gambarnya. :mrgreen:

  5. mezzalena June 24, 2008 at 8:30 am #

    @Mathematicse : Iya Pak, pertamax. Terimakasih :mrgreen: . Gambar diatas adalah coretan saya, tapi bukan yang di dinding dulu. Ini coretan saya pake paint, meniru coretan waktu kecil dulu ๐Ÿ˜†
    @Sawali Tuhusetya : Terimakasih Pak. Rasanya saya belum pernah bisa mencintai matematika dengan baik deh pak. Masih harus banyak belajar keras untuk memahami kuliah :mrgreen:
    @Yari NK : Oooo … gituh ya pak? ๐Ÿ˜†

  6. arroyani June 25, 2008 at 6:36 am #

    dah posting. leave a reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: