Beda Tipis Antara Waspada dan Curiga

2 Sep

Keberatankah anda jika anda ke warnet diminta meninggalkan kartu identitas di meja billing? Atau jika anda membawa tas, tas anda diminta untuk dititipkan kepada operator? Atau jika tidak, bersediakah anda diperiksa barang bawaan anda? Tidak salah jika anda keberatan. Karena mungkin anda merasa dicurigai dan itu sangat mengganggu privacy anda. Sebenarnya untuk menjalankan prosedur seperti itu operator juga sudah merasa risih dan repot.

Beberapa hari yang lalu, seorang teman meninggalkan offline message yang berbunyi, “waspada OP warnet harus baca” dan sebuah URL. Saya membacanya sekilas saja. Pintar juga malingnya, dalam waktu 5 menit bisa mengambil dua ram dari dua CPU dalam keadaan On. Lalu saya hanya mengingat kalimat si maling “mas warnet nya bagus ya, cepet, tempatnya enak lagi… “. Dan saya akan waspada jika ada orang bilang seperti itu pas saya jaga.

Nah, Kemarin 1 September 2008 yang juga bertepatan dengan 1 Ramadhan 1429 H saya masuk shift 2, 07.00-13.00 WIB. Seperti biasa bersih-bersih billing, stock opname barang kemudian duduk di billing. Saya mengira pagi itu akan menjadi pagi yang sepi, karena puasa hari pertama, biasanya orang-orang malas keluar dan lebih senang molor di tempat tidur :mrgreen: . Ternyata salah, malah sebaliknya, pagi itu rame, lebih rame dari pagi-pagi biasa.

Banyak sekali user yang keluar masuk, main sebentar-sebentar. Yang membuat saya tenang-tenang saja, adalah tidak ada user yang membawa softdrink dan snack ke dalam room, bisa dipastikan mereka tidak nyampah dan meninggalkan room dalam keadaan bersih. Sehingga saya tidak perlu repot-repot membersihkannya.

Baru saja saya agak bersyukur atas keadaan itu, ada user masuk dan langsung membuka kulkas, mengambil teh botol Sosro dan membawanya ke dalam. Selanjutnya diikuti user dari lantai atas, membuka kulkas dan mengambil S-Tee.

“Dibayar sekarang apa nanti mbak?” Tanyanya.

“Sekarang aja pak” Jawab saya, “Bapak nomer berapa ya?” lanjut saya

“Lupa tuh mbak, pokoknya di atas” Jawab si Bapak yang berbadan gemuk itu sambil menyodorkan uang lima ribuan. Setelah menerima kembalian Bapak itu kembali naik.

Sekilas saya mengamati Bapak tersebut. Ada sesuatu yang saya rasa tidak pada umumnya. Bukan karena dia tidak puasa, karena bisa saja dia non-islam. Tetapi orang dengan badan segede itu biasanya malas naik turun. Umumnya user yang berbadan besar seperti Bapak tersebut selalu menolak jika ditawari VIP Room, karena duduknya lesehan, dan itu sangat tidak nyaman bagi orang yang oversize. Ah, tapi mungkin saja si Bapak itu ingin selonjor dan ngenet berlama-lama sambil minum S-Tee, batinku.

Ups! Tidak ada 5 menit setelah saya berhasil menetralisir kejanggalan di benak saya, ternyata Bapak tersebut turun tergesa-gesa dengan menenteng botol S-Teenya yang sudah kosong.

“Sudah mbak, berapa?” Tanyanya sambil menaruh botol di depan saya.

“Nomer 4 ya pak? dua ribu” jawab saya.

“iya, warnetnya bagus, koneksinya cepet” katanya sambil menyodorkan dua lembar ribuan kemudian keluar.

“Terimakasih” Jawab saya, bersamaan dengan itu saya langsung menoleh dan melihat si Bapak yang sedang menstarter motornya. Sepersekian menit sebelum Bapak tersebut melesat dengan cepatnya saya melihat tas ranselnya agak lebih besar daripada ketika dia masuk tadi. Seketika itu yang terlintas adalah mencatat nomor plat motornya. Tetapi ternyata saya gagal, karena dalam radius 50 meter mata saya tidak bisa melihat dengan jelas angka yang tertulis di motornya. Kemudian karena merasa gagal saya sempat berdo’a semoga itu hanya kecurigaan dan ketakutan saya yang berlebihan. Semoga si Bapak tersebut orang baik-baik.

Sementara itu, patner jaga saya berteriak dan lari dari lantai dua “Bapaknya, laptopnya, eh LCDnya ga ada.” Dia belari sekencengnya dan si Bapak sudah kabur.

Sambil menenangkan diri karena kaget dan rasa bersalah, saya memberi tahu siapa saja yang online di kantor. Kemudian saya baca lagi postingan ini. Adalah orang yang berciri-ciri sama dengan modus yang sama. Seorang laki-laki paruh baya, tinggi kurang lebih 165 cm, berat badan 90 Kg, brewok, berkulit hitam, dan berkaca mata. (Maaf bagi pembaca yang mungkin memiliki ciri-ciri yang sama), saya menuliskannya disini semata-mata agar rekan-rekan OP yang lain tidak kecolongan lagi. Melihat TKP, orang tersebut adalah orang yang sangat profesional. Pekerjaannya sangat halus. Kunci pengaman LCD seperti dibuka begitu saja tanpa paksaan. Tidak ada kawat atau kabel yang putus. Semuanya rapi.

Ah ya, sekarang tentang waspada dan curiga. Apa bedanya?

Advertisements

5 Responses to “Beda Tipis Antara Waspada dan Curiga”

  1. isfiya September 2, 2008 at 3:54 am #

    Waspadalah…waspadalah…. Buser….
    Hari gini musti banyak waspada…

  2. achoey sang khilaf September 2, 2008 at 5:03 am #

    hehe
    ya ya ya

    Sahabat,

    met jalani indahnya bulan suci
    mohon maaf lahir dan bathin

  3. Yari NK September 2, 2008 at 7:49 am #

    Hmmm…. memangnya di atas lagi nggak ada user lain?? Tapi emang susah sih….. sebaiknya untuk warnet sih mendingan monitor yang tabung aja jangan yang LCD. Selain murah investasinya kemungkinan untuk dicuri juga sedikit kemungkinannya, apalagi di lantai yang tidak terjaga. Kalau yang di lantai yang terjaga sih nggak apa2 kali……

  4. mezzalena September 3, 2008 at 10:13 am #

    @ yari NK: bukan lagi ga ada user sama sekali pak, malahan penuh. namanya juga otak kriminal gitu. LCD juga udah ada pengamannya. namanya juga musibah, yang sabar dan lebih waspada aja kali ya.

  5. stey September 14, 2008 at 11:26 am #

    waahh..sampe kayak gitu?padahal bulan ramadhan yah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: