Purnama Melingkar

17 Sep

Di sini rembulan sedang purnama, Ada yang melingkar sempurna di langit. Berkilau keemasan membelah gelap jadi berwarna. Apakah langit di sana juga? Di belahan bumi yang lain, di mana malamku adalah siang untukmu. Berkejaran dalam waktu dan tak pernah bertemu.

“Aku sedang mengumpulkan potongan-potongan mozaik untuk melengkapi hidupku”. Kalimatmu beberapa waktu yang lalu, menirukan kata Pak Balia dalam Tetralogi Andrea Hirata. Kelilingilah dunia, temukan potongan-potongan mozaik kehidupanmu. Seperti teman yang sangat dekat, kau meneleponku sesaat sebelum keberangkatanmu menuju belahan bumi yang lain itu. Sementara aku masih tertegun ketika mengangkat teleponmu, kau sudah mengatakan banyak kalimat yang tidak bisa ku ingat dengan baik sekarang. Yang jelas, seperti pemberitahuan bahwa kamu akan meninggalkanku. Ah, tidak. Tidak ada yang ditinggalkan seharusnya. Aku sama sekali tidak merasakan sebuah perpisahan. Hanya seperti kabar, kau baik-baik saja.

Malam sempurna,

“Kenapa kau suka menyebut rembulan itu lingkaran? bukankah banyak yang menyebutnya bola?” tanyamu suatu ketika.

“karena itu yang tampak di mata, tapi sulit diraba; seperti lingkaran, hanya ada dalam pikiran” jawabku.

“Maksudnya? aku tidak paham, kau selalu seperti itu.”

“seperti itu bagaimana? ya udah ga jadi aja.”

“Jangan gitu dong, maksudnya apa? aku benar-benar tidak tahu.”

Ah, seperti biasa-biasanya setelah itu kau mencari-cari topik lain. Atau diam saja, atau menyudahi pertemuan ini.

Disini rembulan sedang purnama, apa yang sedang kau lakukan disana? Apakah sedang menyempurnakan lingkaran perjalananmu? Menuju masa depan yang seperti warna langit malam ini. Meski ada gelap tapi tidak kelam. Ada kilau yang mewarnai indah dalam keluasan.

“Apa cita-citamu?” Tanyamu suatu ketika,

Kaget sebenarnya. Untuk apa kau tahu cita-citaku? berusaha menjawab, tetapi hanya sesimpul senyum yang keluar dari bibirku.

“Kenapa tersenyum? aku bertanya cita-citamu, ada yang lucu?” Tanyamu lagi

“Engga?” Masih tersenyum.

“Lalu? kenapa tidak mau jawab?”

“Mm… aku ingin seperti lingkaran” jawabku akhirnya.

“Maksudnya? lingkaran kan hanya sekumpulan dari titik-titik? kamu suka? apa yang istimewa?” tanyamu.

“Iya, benar. lingkaran hanya sekumpulan titik-titik dalam bidang datar. Tetapi dia mempunyai satu titik yang jarak terhadap semua titik dibidang itu adalah sama.”

“Maksudnya? apa istimewanya?”

“Aku ingin jadi satu titik itu. Dia begitu teguh berada dalam pendirian demi menjaga sekumpulannya. Dia bisa dipercaya. Dia adil. coba saja dia lalai dan capek sedikit kemudian bergeser, memihak ke salah satu titik yang lain, lingkaran itu jadi tidak berbentuk lagi. Tidak indah seperti purnama.”

“Ooo,” komentar paling singkat yang sering kau berikan. Sebenarnya aku paling tidak suka mendengarnya.

“Kok cuma O?” protesku,

“Terus inginnya bagaimana?” tanggapmu.

Aku cemberut. Dan matamu mengerling seperti bertanya, “Ada yang salah dengan kata-kataku?”

Tentu saja tidak ada. Aku hanya ingin komentar yang lebih panjang darimu. Bukankah tadi kau yang memulai bertanya? kenapa kau mengakhirinya dengan O saja?

Kemudian diam. Ah, selalu seperti itu. Tapi kali ini kau melanjutkan lagi,

“Kau tidak suka O ya?” tanyamu.

Aku diam.

“Bukankah kau selalu bilang kau suka lingkaran?” lanjutmu.

Aku masih diam. Dan kau terlihat masih ingin mengatakan sesuatu.

“Aku punya satu huruf C, dan itu membutuhkan satu C yang lain biar menjadi O yang sempurna seperti lingkaran” katamu.

“Maukah kau memberikan satu C mu untukku?” Ku lihat matamu. memastikan apakah kalimatmu purna disini?

Advertisements

3 Responses to “Purnama Melingkar”

  1. goop September 17, 2008 at 3:54 am #

    ah mirip permen bundar, saya suka karena akan habis bersama-sama
    *hubungannya apa ya?* 😆
    btw, mau meminta “C”?? enak saja, nanti bagaimana kalau saya akan menuliskan “cinta”?? :mrgreen:

  2. mathematicse September 17, 2008 at 5:26 am #

    “Maukah engkau memberikan satu C mu untukku?”

    Bila C = cinta, berarti kalimat tadi maksudnya adalah untuk melengkapi mozaik hidupnya yang belum sempurna. 😀

    Bener kan? Cobalah tanyakan padanya, untuk meyakinkan. 😀

Trackbacks/Pingbacks

  1. Membagi « Lilin Kecil - October 31, 2008

    […] lain. Meskipun aku tidak pernah bisa memahami apa yang kau bicarakan. Tentang bintang-bintang, purnama dan malam, juga tentang daun, ulat atau kepompong. Aku diam. Menyaksikan sepucuk daun jatuh bersama […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: