1000? 500!100!

6 Oct

Pengap. Sesak. Orang dijejal-jejal seperti ayam potong yang diangkut hendak disetor ke penjual. Lebih ngeri malah, kalau ayam dijejalkan masing-masing dari mereka masih mendapatkan satu tempat untuk duduk (ayam itu bisa duduk ya? 😀 ). Di bus ini ayam potong seperti lebih berharga dari pada manusia yang beradab. Laki-perempuan, kakek-nenek, bapak-ibu, tua-muda, anak-dewasa, ada juga bayi yang ikut berjepit-jepitan berebut pegangan bus untuk bergelantungan. Bukan kursi lagi yang diperebutkan disini, sekedar tempat untuk sepijak kaki. Ini pemandangan mudik dari Jepara ke Semarang, kemarin. Ups, maaf! yang benar pemandangan arus balik dari Semarang ke Jepara.

Saya termasuk orang yang terjepit di dalamnya. Seperti pasrah menghirup udara yang keluar dari sisa pernafasan orang lain. Kaki bisa merdeka tidak terinjak sepatu orang saja sudah untung. Pusing dan mual? Ah, yang penting cepat sampai dengan selamat.

Lalu kenapa 1000? 500!100! ? Apa yang anda pikirkan ketika melihat judul diatas?

Saya teringat dengan judul cerpen Hamsad Rangkuti yang ditulis ketika ongkos bus kota masih Rp. 50,- itu. Dulu, ketika saya melihat judul itu pertama kali, yang ada dalam pikiran saya adalah bagaimana mungkin 1000 sama dengan 500!100! (baca: lima ratus faktorial kali seratus faktorial). Ternyata maksudnya bukan itu. Anda sudah pernah membaca cerpen ini kan? Saya membacanya dari kumpulan cerpen Hamsad Rangkuti pilihan Kompas “Bibir Dalam Pispot”, (pemberian dari seorang teman).

Cerita dalam cerpen itu terjadi dalam bus yang saya tumpangi. Mendekati terminal bus Kabupaten Demak, beberapa orang yang duduk di kursi beranjak untuk bersiap-siap turun. Diantaranya seorang Ibu paruh baya dengan pakaian yang lusuh dan agak compang-camping, berdiri. Kebetulan tempat duduknya dekat dengan saya, bernafas lega seperti mengucap syukur, akhirnya saya bisa duduk juga setelah satu jam lebih berdiri. Tetapi ternyata, Ibu tadi berdiri bukan untuk bersiap-siap turun.

“Nang, aku durung kok wenehi susuk!” (1) Kata sang ibu kepada kernet bus. Sementara kernet bus itu tidak menghiraukan seruan sang ibu.

“Duwitku seket, durung kok susuki!!” (2) Suara sang ibu menggelegar, (hiperbolis banget yak? :mrgreen: ). menarik perhatian orang seisi bus. Termasuk saya. Kemudian si kernet agak kikuk dan menjawab,

“Duwitmu piro? Sepuluh thok ngaku-ngaku seket!” (3) Ujar si kernet ketus.

“Aku iki wong cilik, golek duwit angel, lha ngopo aku ngapusi?! dasar kenek moto duiten!” (4) Ibu itu mengeluarkan sumpah serapah dan si kernet tetap tidak bergeming.

Mendengar dan melihat kejadian itu seorang Bapak disamping saya langsung mengeluarkan dompet dari sakunya,

“Sampun Bu, sampun. Niki kulo gantos. Mboten usah ribut.” (5) Katanya sambil menyodorkan lembaran lima puluh ribu.

“Mboten mas, kulo mboten nyuwun gantos. Kulo nyuwun arto kulo” (6) Ibu itu masih tidak terima.

“Ssstt… Sampun nggih, niki terimo mawon” (7) Ujar si Bapak menangkan.

“Matursuwun mas” (8) Dan akhirnya si Ibu itu menerima dan diam.

Sedangkan saya hanya menonton kejadian itu seperti membaca lagi cerpen berjudul “1000? 500!100!”.

_______________________________

Kalimat bercetak miring adalah dialog dalam bahasa jawa sehari-hari di tempat saya.

(1) Nang, saya belum kamu kasih kembalian. (Nang adalah panggilan untuk orang laki-laki yang lebih muda).

(2) Uang saya lima puluh ribu, belum kamu kasih kembalian.

(3) Uang kamu berapa? sepuluh ribu doang, ngakunya lima puluh ribu.

(4) Saya ini orang kecil, nyari uang susah, untuk apa saya bohong. Dasar kernet …. (moto duiten kalau dalam bahasa indonesia mata uangan ga ya? :mrgreen: )

(5) Sudah Bu, ini saya ganti. Ga usah diributkan lagi.

(6) Tidak mas, saya tidak minta ganti, saya hanya minta uang saya.

(7) Sudah ya, ini diterima saja.

(8) Terimakasih mas.

Advertisements

One Response to “1000? 500!100!”

  1. mathematicse October 7, 2008 at 6:44 am #

    Cerita mudiknya gitu ya? 😀

    Untung masih ada orang yang berbaik hati ganti uang si ibu…., jadinya damai deh… 😀

    Btw, moto duiten = mata duitan, bukan? 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: