Daun

21 Oct

Sore ini kita duduk bersama lagi disini. Sebuah tempat yang orang-orang menyebutnya taman. Kau bersandar di pohon, bercerita dan menerawang. Masih tentang mimpi-mimpi. Ah, selalu seperti ini. Aku menyimak ceritamu dan diam, menatap matamu seperti bertanya, lalu?

“Kamu sering lihat kan daun di pohon, ketika dia masih muda-hijau, semua orang yang melihatnya selalu membawa pulang kesan sejuk,” katamu sambil menunjuk daun-daun yang masih hijau.

“Tapi daun itu memiliki usia. Dia akan menguning, tua, tidak sedap di pandang, dan harus segera tanggal. Lalu jatuh dan luruh.” Aku mengiyakan, tapi tidak tahu ke arah mana kau bercerita.

“Tapi tahu tidak, meskipun daun sudah luruh, dia tetap mencintai pohonnya. Dia rela membusuk, meleburkan dirinya ke dalam tanah menjadi humus, menguatkan akar-akar dan menyuburkan si pohon.”

“Aku ingin menjadi daun” Lanjutmu.

“O ya, Kau ingin jadi daun bagi pohon apa?” Tanyaku, sambil memungut sehelai daun di tanah yang sudah lusuh.

“Mmm… ” Seperti berfikir, kau merebut sehelai daun yang aku pegang, meremasnya kemudian melepaskan satu-satu serpihannya.

“Pohon apa saja, dan setiap hari aku akan menjadi tempat fotosintesa menyediakan makanan untuknya. Melindunginya, menjadi bagian yang pertama luruh ketika angin kencang menerpanya.” Jawabmu.

“Benarkah? itu tidak berlebihan?” Ku ikuti matamu yang nyangkut di dedaunan pohon.

“Dengan begitu hidupku akan berarti.” Nafasmu seperti mendesahkan kepuasan tentang pengabdian yang sempurna.

“Tidak akan ada yang mengenangmu dan tidak ada yang melihat jasa-jasamu ketika kau sudah terkubur jadi tanah.” Kataku,

“Kenangan? pentingkah?” Tanyamu.

“Selama sang pohon masih berdiri kokoh dan daun-daun terus bertunas dari batangnya, aku akan bahagia.” Kau melanjutkan.

Lalu, angin bulan oktober yang kencang menggoyang-goyangkan pohon yang kau sandari. Mengoyak daun-daunnya, dan kau,

“Kau tahu daun-daun yang berjatuhan itu sedang bersajak.” Katamu

“Apa sajaknya?”

hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput;
nanti dulu, biarkan aku sejenak terbaring di sini;
ada yang masih ingin kupandang, yang selama ini senantiasa luput;
sesaat adalah abadi sebelum kau sapu tamanmu setiap pagi. *

__________________

*Sajak Sapardi Djoko Damono, Hatiku Selembar Daun

Cerpen sangat pendek yang tertulis sambil mencuri waktu, untuk seorang teman yang bertanya “kenapa tidak menulis cerpen lagi?”

Advertisements

6 Responses to “Daun”

  1. mathematicse October 21, 2008 at 6:56 am #

    Mmm… tentunya sang teman bakal seneng banget ya nerima hadiah cerpen yang nyastra begini? 😉

    Sebetulnya, hal apakah gerangan yang ingin kau sampaikan lewat perlambang daun seperti dalam cerpen ini? 😀 *Mikir-mikir, apa ya maksudnya?*
    _________________
    Mezza: Semoga saja dia senang. ;D
    Ah, Tidak perlu dipikir terlalu dalam pak. Sederhana saja kok. Terserah pembaca mau memaknai apa tentang metafor daun itu. 😀

  2. risst .. October 21, 2008 at 8:00 am #

    hmmm…….
    gooD StOry . ,,,,,
    i Lik3 Thiz One …
    ___________
    mezza: Terimakasih 😀

  3. edratna October 23, 2008 at 12:40 pm #

    Bagus sekali, kita memang ibaratnya sebuah daun, sampai umur berapapun masih berguna, kalau luruh masih juga bisa digunakan sebagai pupuk.
    _______________
    mezza: Terimakasih Bu sudah mampir di sini. Iya bu semoga saya bisa menjadi daun, bisa berguna sepanjang hidup saya.

  4. Arzetha October 28, 2008 at 8:03 am #

    Hhmm… sebetulnya ini sebuah cerita yang berat, karena metafora yang tinggi. namun karena cerita ini mengalir, jadi dech enak dibaca dan penting (he..he.. pinjem jargonnya majalah Tempo)

  5. aroiani November 21, 2008 at 7:16 am #

    kau tau, daun tidak gugur karena angin lagi?
    metafor lama itu kurasa udah ga relevan algi buatku alias keburu basi.
    kesannya kok galak banget yak? diperhalus wae ah
    aku sekarang mulai mendikotomikan angin. ada angin basah dan angin kering.
    versi allusny cukup. selengkapnya baca di blog.q kalo udah tak apdet sih

    ____________
    mezza: Mana Fay? blognya ga apdet-apdet :p

Trackbacks/Pingbacks

  1. Membagi « Lilin Kecil - October 31, 2008

    […] Jejak Tertinggal Daun […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: