Membagi

31 Oct

“Bengong, Za!” Sapaku sore ini ketika menemukan dirimu berdiri di koridor student center. Tak kau hiraukan. Pandanganmu tak bergeser, masih tegak lurus menatap garis-garis yang luruh dari langit.

“Hmm… apakah kau ingin bercerita padaku tentang hujan?” Tanyaku lagi. Meski pandanganmu belum beralih juga, aku yakin kau mendengar pertanyaanku.

“Bukan tentang hujan, Ra” Kalimatmu nyaris kalah berlomba dengan derai hujan.

“Lalu? ” Kuikuti matamu, menabrak sebatang pohon.

“Masih tentang daun, yang mengabdikan sepanjang hidupnya demi cinta pada sang pohon” Jawabmu.

Bibirku membulat.

“Trus?” Tanyaku kemudian.

“Kau lihat daun-daun pohon itu, Ra?” Tanganmu menunjuk pada pohon di depan sana. Ku ikuti instruksimu. Ku lekatkan pandanganku pada daun-daun yang basah kuyup dan mengibas-ngibaskan dirinya pada angin. Menggigil, dingin.

“Kenapa? Aku tak mengeti”

“Lihatlah lebih teliti”

“Mmm… Daun itu tidak sehat, dia dimakan ulat,” tebakku akhirnya. Setelah memandangimu, mencari maksud yang kau sembunyikan dari wajahmu.

“Iya, kau benar daun-daun itu dimakan ulat.” Kau mengangguk.

“Menurutmu Ra, Jika daun itu adalah aku, apa yang harus aku lakukan dalam keadaan demikian?” Kalimatmu mirip pertanyaan. Ah, bukan. Kau seperti memberi soal ujian buatku.

“Maksudmu?” Jawabku balas bertanya.

“Aku adalah daun. Hidupku adalah subset dari pohon. Tentu saja aku ada untuk kelangsungan hidup pohon, aku tahu itu. Tetapi ulat-ulat itu menggerogoti diriku. Aku tidak bisa memberi yang terbaik untuk pohon,” kalimatmu tercekat.

“Kenapa kamu tidak berdo’a saja semoga ulat-ulat itu lekas mati!” Jawaban asal.

“Ulat-ulat itu memberiku mimpi lain, Ra. Tentang suatu hari ketika dia menjelma kupu-kupu bersayap pelangi” Ada ketakberdayaan, ada kebimbangan, ada harapan.

Kau menerawang, seperti berpikir. Sedangkan aku menikmati keadaan ini. Hujan dan dingin. Bukan itu, tapi kebersamaan denganmu selalu memberiku suasana lain. Meskipun aku tidak pernah bisa memahami apa yang kau bicarakan. Tentang bintang-bintang, purnama dan malam, juga tentang daun, ulat atau kepompong, tentang apa saja. Semuanya abstrak. Aku diam. Menyaksikan sepucuk daun jatuh bersama hujan yang menahan kita untuk tetap berada disini. Diam-diam aku bersyukur atas hujan ini dan berdo’a semoga tak kunjung reda. Dan kita bisa lebih lama di sini.

“Apakah aku hanya bisa menerima dan menamainya takdir?” Tanyamu lagi, Aku masih diam.

“Aku bertanya, Ra kenapa kau diam saja? ya sudah lah, mungkin ini tidak penting bagimu.” Maaf Za, bukan tidak penting, tapi aku tidak tahu. Dan hujan menyisakan rintik-rintik, kau melambai sesaat setelah melepas jabat tanganmu.

Advertisements

4 Responses to “Membagi”

  1. langitjiwa November 1, 2008 at 7:51 am #

    aku masih disini, za.
    hehe..
    slmt sore, mbak
    __________
    mezza: Selamat sore juga 😀

  2. mathematicse November 1, 2008 at 2:04 pm #

    Apa yang kau maksud dengan ulat-ulat itu? 😀
    ________
    mezza: Ulat-ulat itu mungkin adalah lakon ketiga yang merebut daun dari pohonnya. Nah, bagaimana menurut anda, apa yang harus dilakukan daun dalam keadaan demikian?

  3. mathematicse November 9, 2008 at 11:17 pm #

    Belum ada update niiih… 😀

  4. mathematicse November 10, 2008 at 6:50 am #

    Komen lagi aaaaaaaaaaah… *nyampah…* 😀
    ____________
    mezza: aduh Pak, buang sampah kenapa di sini!! Iya2, akan saya update secepatnya 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: