Dakon

11 Nov

“Za, malam purnama lagi” Katamu, dan aku sudah mengira kau akan mengatakan itu sebagai kalimat pertamamu. Karena ini bukan pertama kalinya kau mengawali pembicaraan dengan menyebut purnama. Bukan ketiga kali, kelima atau ketujuh, cukup menyebutnya kesekian kali saja. Entahlah, aku tidak tahu kenapa kau begitu menyukai purnama itu. Aku saja yang kau ajak bicara kadang-kadang tidak sepenuhnya paham. Tapi tak mengapa demi menjadi temanmu, aku akan dengan senang hati mendengarkan kamu bercerita. Tapi kali ini, kau mengajakku bermain dakon, iya permainan masa kecil itu.

“Aku selalu teringat dengan seseorang ketika purnama melingkar sempurna di langit.” Lanjutmu dengan senyum.

“Siapa?” Tanyaku. Berharap kau akan menyebut namaku. Teman yang telah menghabiskan belasan purnama untuk mendengarkan cerita-ceritamu yang penuh metafora dan konotasi. Sehingga kepalaku harus berputar dengan arah lain ketika berbicara denganmu.

“Seorang sahabat kecil” Jawabmu. Ah, kau belum pernah bercerita tentang ini.

“Hmm… Pasti dia sangat hebat ya!” tanggapku.

“Bukan hanya hebat, tapi benar-benar luar biasa,” Aku biarkan kau bernostalgia. Menikmati masa lalu yang selama ini kau simpan rapi. Investasi kenangan selalu memberikan romantisme yang menyenangkan.

“Dia selalu bangga untuk bercerita bahwa dia dilahirkan pada saat purnama muncul sesaat setelah gerhana,” Katamu.

“Dan katanya karena dia dilahirkan bersama cahaya setelah gelap, itu tandanya dia dilahirkan untuk menerangi dunia.” lanjutmu.

“Kau tahu, Ibunya meninggal di usianya yang masih dalam hitungan menit.” Ku lihat matamu sedih, seperti menyaksikan kembali cerita itu.

“Tetapi sungguh dia anak yang periang, meskipun dia besar tanpa seorang Ibu.”

“Apakah kau lahir sebelum dia, Ran? Tanyaku.

“Mmm… Aku lahir tiga tahun setelah dia. Aku tahu itu dari cerita Bunda dan dia sendiri.” Lalu kau bercerita tentang masa kecilmu dengan Gerhana.

“Namanya Gerhana, dia seperti kakakku sendiri. Dia mengajakku bermain dan menemaniku belajar. Dia anak yang sangat cerdas,” Katamu sambil menerawang, gaya khasmu ketika mengenang sesuatu.

“Ah, aku selalu sebel karena tidak pernah menang main dakon dengan dia,” Ku lihat kau tersenyum-senyum.

“Katanya agar bisa menang dalam main dakon, kita harus pandai berhitung. Sehingga kita tidak asal mengambil langkah,” Lanjutmu

“Dia memang orang yang sangat teliti dan hati-hati.”

“Terus sekarang dia di mana?” Tanyaku, tiba-tiba aku merasa tidak enak menyela ceritamu dengan pertanyaan itu.

Kau tak menjawab. Malah menerawang. Menembus awan gelap yang membungkus purnama hingga tinggal pendaran sinarnya yang remang-remang. Senyap tiba-tiba. Dan wajahmu, entahlah aku tidak tahu apa yang kau sembunyikan di baliknya.

“Kami berpisah ketika aku naik kelas lima SD. Ayahnya meninggal karena kecelakaan. Seperti dia yang sangat bersedih. Aku juga ikut bersedih. Terlebih ketika harus berpisah dengan dia karena dia harus ikut pamannya di luar kota.” Seperti langit malam ini. Sendu. Wajahmu benar-benar muram saat ini.

“Saat perpisahan, dia memberiku dakon yang dia dapatkan dari panjat pinang waktu lomba 17-an. Katanya, aku harus rajin belajar. Aku harus pintar. Percayalah, Seperti anak-anak dakon yang kita mainkan, suatu saat kita akan bertemu lagi.” Katamu sedikit menirukan kalimat-kalimat sahabat kecilmu itu.

Kau diam lagi. Mengambil napas agak panjang. Menyeka airmata yang tiba-tiba membanjiri mukamu.

“Sekarang dia ada di sini, Za. Di kota ini juga.” Aku terperanjat, tak percaya. Kenapa sekalipun kau belum pernah bercerita tentang dia.

“Aku baru bertemu dengan dia satu minggu yang lalu,” Katamu datar.

“Di mana?”

“Di perpustakaan fakultas,” Jawabmu masih datar.

“Kok, Dia mahasiswa sini juga?” Aku tambah terkejut.

“Bukan, Dia alumni. sekarang dia dosen di sini.”

“Wahh…. Hebat sekali ya Ran, Gerhanamu itu.” Aku histeris sendiri.

“Kau tahu Za, apa yang dia katakan?” Tanyamu. Aku menggeleng. Tentu saja tidak tahu.

“Dik, aku ingin di pertemuan ini satu anak dakon yang aku pegang tepat jatuh segaris dengan hatimu. Sehingga hatimu menjadi milikku.” Kau menirukan kata-katanya.

“Dia bilang dia ingin melewati semua sisa purnama bersamaku, Za!”

“Waaahh…. Lalu-lalu??” Aku tak sabar, mendesakmu sebelum kau kembali diam. Tapi wajahmu tidak berubah juga. Masih sendu.

“Dia tidak tahu, Bunda sering bercerita padaku, kalau Bunda sangat menyayanginya seperti anaknya sendiri.” Katamu

“Maksudmu?”

“Kau tahu Za, di hari saat dia dilahirkan Bunda juga melahirkan almarhum kakakku. Karena kami adalah tetangga terdekatnya, maka ayahnya sering menitipkan dia pada Bunda. Bunda selalu tidak tega melihat dia menangis, dan Bunda pernah memberikan ASI-nya untuk Gerhana.”

“Jadi kalian?”

“Ini menyakitkan, Za” Gerimis mulai turun, dan aku mengajakmu masuk.

Advertisements

5 Responses to “Dakon”

  1. mathematicse November 11, 2008 at 8:18 am #

    Mmm…. beda ayah, beda ibu, tapi satu susuan = saudara.

    Kasihan ya, saling mencintai tapi…
    _____________
    mezza: Iya, kadang-kadang dalam keadaan seperti itu sejarah yang dipersalahkan ketika cinta jadi terlarang. Sakit 😥

  2. agoyyoga November 11, 2008 at 1:12 pm #

    Bahasamu ringan dan mengalir 🙂
    Memang getir ya kalau tahu kenyataan seperti itu.
    _________________
    mezza: O ya? saya justru senang membaca tulisan anda, Bu 🙂

  3. hamemayu November 12, 2008 at 2:24 pm #

    lam kenal……
    ____________
    mezza: Lam kenal juga :mrgreen:
    senang menemukan jejakmu disini.

  4. zakhraf November 13, 2008 at 3:16 am #

    iya ya…

  5. hamemayu November 17, 2008 at 3:06 pm #

    “dakon” ntu maenan aku waktu kecil
    he…he
    eh yang punya ne blog gak mosting puisi yah???/

    ___________
    mezza: Banyak tuh puisi-puisi saya. Lihat lagi deh 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: