Sebait Rasa

30 Nov

Apakah langit merasakan kehilangan ketika serta-merta mendung luruh

dan reruntuhan gerimis menjuntai derai hujan?

Seperti hatiku hari ini,

Berkali-kali hanya mendengar nyanyi sunyi tentang kenangan yang hilang

Menunggumu dalam detik-detik perpisahan yang terus ku hitung

Advertisements

7 Responses to “Sebait Rasa”

  1. langitjiwa November 30, 2008 at 12:30 pm #

    ugh!

  2. langitjiwa November 30, 2008 at 12:31 pm #

    jgn pernah untuk menghitungnya,aku sudah datang.

  3. Sawali Tuhusetya November 30, 2008 at 1:03 pm #

    duh, sudah lama ndak menginjakkan kaki di rumah mbak hibah, masih punya getaran aura yang sama; menyejukkan dan meneteramkan. semoga kenangan itu tidak hilang, mbak, hanya terselip di antara sekian peritiwa yang sedang terjadi. gimana kabarnya, mbak. main2 dong ke kendal. boleh ajak teman kok.

  4. Simb Sal November 30, 2008 at 1:39 pm #

    Menunggu siapa Mbak….aduh saya jadi terharu nih…karena saya juga menunggu…ah kenangan itu

  5. Yari NK November 30, 2008 at 11:47 pm #

    Sungguh… menghitung detik2 perpisahan merupakan hal yang emosional, menggambarkan pertarungan yang tak seimbang antara manusia dan sang waktu…….

  6. hamemayu December 1, 2008 at 12:39 pm #

    langit menangis dengan mendung yang meninggalkannya..

    aku hrap langit itu bukan mbak…

  7. Al Jupri December 4, 2008 at 8:26 am #

    Duh, siapakah yang kau tunggu mba? šŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: