Membilang Batas

1 Dec

Melukis semesta dalam dua kurawal

Logika berjalan menyusuri sepanjang koordinat kartesian

Hinggap dalam bilangan-bilangan yang etrus berbanjar

Seperti sungai yang terus mengalir, tak bermuara kecuali samudera

Lalu, kurawal bak pantai yang membatasi lautan

Ketakhinggaan yang tertangkap

Seolah menjadi negasi ketiadaan

Padahal keberhinggaan itu ada

Lalu,

Himpunan kosong menjadi elemen setiap bagian

Dan satu menjadi permulaan dalam membilang

Kemudian bilangan-bilangan mengajariku bersyahadah

Tentang permulaan yang maha esa dan ketakhinggaan yang seperti rahasia

Advertisements

11 Responses to “Membilang Batas”

  1. hamemayu December 1, 2008 at 12:43 pm #

    salut…
    setahun mungkin gak cukup untk aku buat puisi kyak gne..

    BILANGAN2 MENGAJARIKU BERSYAHADAH

  2. d031_Cuakep December 3, 2008 at 7:01 am #

    Bagus!?
    tp kurang estetis..

  3. langitjiwa December 3, 2008 at 2:41 pm #

    hanya mau mengucapkan;selamat malam.
    sidoarjo mendung.

  4. Sawali Tuhusetya December 5, 2008 at 12:09 pm #

    wah, liriknya ok banget, mbak ira. ini menggunakan diksi yang khas istilah matematika, ditangaki hingga menjadi sebuah lirik yang indah dan menyentuh perasaan. Kuasa Allah memang tak terhingga hingga mencapai batas yang tak terhingga.

  5. Sawali Tuhusetya December 5, 2008 at 12:10 pm #

    duh, kok mbak ira, sih, suka ngacau, saya, haks. mbak hibah maksud saya, haks. baru kepala 4 kok dah mulai pikun, yak, kekeke ….

  6. mathematicse December 6, 2008 at 3:16 am #

    Mmmm… saya udah komen ya ttg puisi matematika ini? 😀

  7. Yari NK December 7, 2008 at 5:44 am #

    Ketakberhinggaan mempunyai dua kutub, semakin besar tak terhingga, juga semakin kecil tak terhingga. Kedua2nya melambangkan kekuasaan Yang Maha Kuasa…… 🙂

  8. Qizink December 8, 2008 at 6:02 am #

    Hebat… kata-kata yang bermuncul dalam ilmu eksak menjadi sebuah karya puisi!

  9. mezzalena December 11, 2008 at 8:53 am #

    @Hamemayu : Makasih … Btw, Puisi-puisimu lebih keren kok 😀
    @d031_Cuakep : Waduh, iya nih masih banyak belajar, biar lebih estetis. Ajarin dong!! 😀
    @Langitjiwa : Salam kembali, Semarang juga murung terus 😦
    @Sawali Tuhusetya : Waduh, nama saya belum berubah jadi Ira, Pak. Makasih Pak Sawali masih sempat mampir di sini.
    @mathematicse : Iya, Pak Al udah pernah komen tentang puisi ini. Terimakasih koreksian tentang himpunan bagiannya 😀
    @Yari NK : Hmm.. Begitu juga bilangan ya Pak, semakin besar tak terhingga, juga semakin kecil tak terhingga.
    @Qizink : Terima kasih, salam.

  10. iaksz December 11, 2008 at 12:58 pm #

    aduh pusing …. 😦

    jelasin donk ..

  11. hamemayu December 12, 2008 at 6:35 am #

    hiks…hiks…
    itu fitnah yang terkejam…!!!!

    _________
    Mezza: Siapa yang memfitnah? benar kan? puisi-puisimu lebih bagus?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: