Petualangan Selembar Koran

5 Dec

Hari ini tanggal 05 Desember 2008, begitu yang tertera pada pojok kanan atas diriku. Sekarang aku menjadi selembar koran dengan nama “Sinar Harapan”. Dulu, sebelum aku menjadi selembar koran, aku sudah pernah menjadi sebuah buku tulis. Iya, sebelumnya aku adalah buku tulis yang dimiliki oleh seseorang yang sangat pandai.

Baiklah, aku akan bercerita mengenai riwayatku sebelum menjadi selembar koran hari ini. Dulu, aku adalah sebuah buku tulis yang dibeli oleh seorang guru untuk diberikan kepada muridnya, sebagai hadiah karena mendapat nilai paling bagus saat ulangan. Anak itu namanya Tari. Aku masih ingat, betapa Tari sangat senang menerima hadiah itu. Kemudian dia memakaiku untuk mata pelajaran yang paling disukainya, matematika. Aku sangat senang karena tulisan Tari sangat rapi. Setiap malam Tari selalu membukaku, membaca catatannya berulang-ulang dan mengerjakan PRnya dengan sangat teliti. Meskipun Tari suka membawaku kemana-mana, tapi Tari selalu menjagaku tetap bagus. Tari memberiku sampul kertas coklat bertuliskan: “Rajin Pangkal Pandai, Malas Pangkal Bodoh”.

Dengan Sampul kertas itu aku sering bercakap-cakap dan mengobrol apa saja.

“Pul, kita beruntung ya jadi kertas, jadi buku tulis dari orang yang sangat rajin dan pintar seperti Tari” Kataku suatu ketika pada sampul.

“Iya Lis, kita sangat beruntung. Memangnya kamu sudah pernah jadi apa selain buku tulis?” Tanya sampul padaku.

“Belum pernah, Ini perjalanan pertamaku sebagai kertas,” Jawabku.

“Ooo.. Pantesan, kalau aku sudah pernah jadi macem-macem. Diriku sudah berkali-kali didaur ulang. Dulu aku juga sepertimu Lis, jadi buku tulis. Tapi sayang, aku tak beruntung sepertimu,” Si sampul sedikit menerawang, mengingat-ingat kisahnya kemudian melanjutkan,

“Dulu orang yang memilikiku suka bermain-main, menyobek-nyobek kertas, setiap hari diriku terkoyak tak karuan, lalu aku menjadi sobekan-sobekan kertas, diremas-remas dan masuk tong sampah yang pengap.” Aku sangat miris membayangkan bagaimana kalau aku mengalaminya.

“Nah, dalam tong sampah itu aku berkenalan dengan sampah-sampah yang lain.” Si sampul melanjutkan kisahnya.

“Sampah itu bermacam-macam, ada sampah organik dan ada sampah anorganik” Kata sampul,

“Apaan tuh Pul? aku belum tahu, Tari tidak pernah menuliskan tentang organik dan anorganik” Tanyaku.

“Iya memang, kan kamu buku tulis pelajaran Matematika,” Kata si sampul

Kemudian sampul menjelaskan padaku panjang lebar tentang sampah organik dan anorganik. Sampah organik atau biasanya disebut sampah basah, adalah sampah yang berasal dari makhluk hidup, seperti tumbuhan dan hewan. Misalnya daun-daun atau sampah sisa dapur. Sampah organik ini bisa diurai secara alamiah, jadi bisa membusuk sendiri dalam tanah. Bahkan, sebagian sampah organik bisa menjadi pupuk, yang dikenal dengan pupuk kompos.

“Lalu tentang sampah anorganik, Pul?” Tanyaku tak sabar.

“Anorganik itu kebalikan dari organik,” Kata sampul.

“Berarti sampah anorganik itu sampah yang tidak bisa terurai secara alamiah ya?” Tanyaku,

“Iya betul, kamu bisa menyebutkan contohnya?” Sampul balik bertanya,

“Apa ya? Mmm… seperti plastik, botol, kaleng gitu ya?” jawabku ragu, Sampul mengangguk tanda membenarkan jawabanku.

Karena sampah-sampah anorganik tidak bisa diurai secara alamiah, jika sampah ini dibiarkan saja maka dia akan menyebabkan pencemaran tanah. Jadi sampah ini harus dibuang pada tempatnya. Nah, di tempat pembuangan sampah ini, sampah anorganik dibedakan lagi, antara yang bisa didaur ulang dan yang tidak. Yang bisa di daur ulang akan diolah lagi dan yang tidak akan dibakar.

“Kertas adalah salah satu jenis sampah yang bisa didaur ulang dan dimanfaatkan lagi,” Jelas sampul panjang lebar.

“Wah, ternyata wawasan kamu sangat luas ya, Pul” kataku,

“Ah, itu karena aku juga pernah jadi koran. Waktu aku jadi koran lebih ngeri lagi, dalam diriku dimuat berita tentang bencana banjir. Banjir itu sendiri akibat ulah manusia yang tidak sadar lingkungan. Membuang sampah sembarangan.” Ujar sampul panjang lebar lagi.

Begitulah, setiap hari aku ngobrol dengan sampul. Senang sekali mendengar ceritanya yang macam-macam. Pengalamannya sangat banyak. Aku jadi bertambah wawasan selain pelajaran matematika yang ditulis Tari dalam diriku.

Kembali ke Tari, dia adalah anak yang rajin belajar. Meskipun dia sudah naik kelas, dia masih sering menengokku, membuka-buka lagi pelajaran yang dia tulis dalam diriku. Bertahun-tahun aku menjadi milik Tari dan diletakkan di meja belajarnya.  Tak mengapa meskipun aku  tidak bisa merasakan pengalaman-pengalaman seru yang diceritakan sampul padaku.

Tapi ternyata tidak, kisahku menjadi lain, ketika suatu hari aku melihat Tari menangis sesenggukan. Aku hanya diam melihatnya, sembari bertanya-tanya “Ada apa Tari?”. Tiba-tiba Ibu tari membawa kardus besar dan memasukkan buku-buku Tari yang sudah lama ke dalamnya. Termasuk diriku. Eh, ada apa ini?

“Maafkan Ibu, Nak. Ibu tidak mempunyai cukup uang untuk mengganti seragammu yang sudah lusuh itu. Satu-satunya jalan, Buku-buku tulismu yang sudah lama harus dijual dan uangnya buat tambah membeli seragam baru” Kata Ibu Tari, mengelus kepala Tari. Sungguh keadaan yang memilukan. Aku baru tahu, Tari yang aku kenal sangat rajin belajar dan periang selama ini, adalah anak yatim. Ibunya hanya seorang buruh cuci.

Mulai saat itulah, aku memulai petualangan baru. Pertama-tama, aku dibawa ke tempat penjualan kertas-kertas bekas. Disitu aku ditumpuk-tumpuk dengan kertas-kertas lain,  buku-buku lain, di gudang yang berdebu.  Di sana aku berkenalan dengan lebih banyak teman-teman dari berbagai pengalaman. mereka saling bercerita tentang petualangannya masing-masing. Ketika giliran aku bercerita, mereka semua sangat terharu mendengar kisah Tari.

Setelah berada di gudang beberapa waktu, aku diangkut dengan truk.

“Kita akan dibawa ke pabrik daur ulang,” kata selembar kertas yang berada di sampingku.

“Setelah ini, kita akan menjadi kertas baru dan memulai hidup baru lagi. Kira-kira nanti aku jadi apa lagi ya?” lanjutnya.

Aku diam saja. Dan diam-diam aku berdo’a semoga aku jadi buku tulis lagi, bertemu Tari lagi.

Tapi ternyata, do’aku tidak terkabul. Setelah didaur ulang, aku malah masuk ke percetakan  koran. Jadilah aku selembar koran pagi ini. Tapi, tahukah kalian semua? aku sangat bahagia pagi ini dengan berita yang ditulis dalam diriku, begini kalimatnya:

Mentari atau biasa dipanggil Tari, siswa kelas 2 MTs. Nurus Salam, berhasil meraih juara I dalam lomba matematika pelajar se-provinsi, menyingkirkan lawan-lawannya dari beberapa SMP/MTs yang lain.

Aku sangat bahagia, sampai berulang-ulang aku membaca berita itu. Aku ingin bertemu Tari lagi. Memberitahukan bahwa aku adalah kertas yang dulu pernah menjadi buku matematikanya. Untuk itulah aku semakin semangat melanjutkan petualanganku.

Beberapa minggu setelah berita itu, aku berada di meja kerja seseorang bersama tumpukan koran-koran yang lain. Sampai suatu hari, pembantunya mengambilku dan menjualnya ke pembeli koran bekas keliling. Dari pembeli koran bekas keliling itu, aku dijual lagi ke penjual nasi bungkus di salah satu sudut gang perkampungan. Disini aku seperti mengenal tempat ini. Iya, benar. Dulu Tari sering membawaku ke sini ketika mau berangkat sekolah. Dia akan membeli nasi bungkus untuk sarapan di sini. Tidak salah lagi, itu Tari. Benar aku bertemu Tari lagi.

______________________

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: