Petir

11 Dec

petir

Musim hujan kali ini masih menawanku. Berdiri berjam-jam memandangi rintik juga ricik dari balik jendela. Dingin yang sama masih menyergapku, seperti pada hujan-hujan yang telah lalu. Aku sama sekali bukan orang yang melankolis, tapi tidak untuk melihat hujan. Suasana yang selalu berhasil membuat aku terpaku berjam-jam.

“Anak laki-laki tidak boleh cengeng,” Masih ingat dengan kalimat Ayah yang itu. Kalimat yang selalu beliau ucapkan berulang-ulang. Ketika aku jatuh belajar sepeda dan menahan nyeri, Ayah mengatakan itu. Menahan tangis dari mataku.

“Anak laki-laki tidak boleh cengeng,” Kalimat itu lagi. Ketika aku pertama kali berkenalan dengan rasa kehilangan. Saat Robby, kelinci kesayangan yang di berikan Ayah sebagai hadiah ulang tahun, tiba-tiba terpejam dan tidak bisa bergerak lagi. Kalimat itu lagi, dan isakku tertahan. Kemudian menggali tanah untuk menguburnya. Kehilangan itu menyakitkan.

“Anak laki-laki tidak boleh cengeng,” rasa-rasanya kalimat itu selalu terngiang dan memaksaku untuk melupakan hujan. Beranjak dari sebuah kenangan yang mencekam. Terima kasih, Ayah. Iya, benar katamu, anak laki-laki tidak boleh cengeng. Akan banyak sekali yang harus aku tanggung. Bukan beban, barangkali sebuah kelengkapan jalan hidup.

“Kopi, bro!” Andi menepuk pundakku, dan menyodorkan kopi. Asap mengepul dari cangkir yang dibawanya. Hangat.

“Makasih,” Jawabku, meliriknya sekilas.

Kemudian dia berlalu setelah meletakkan cangkir itu di meja belajarku. Setidaknya dia tahu, aku selalu seperti ini menyambut hujan-hujan pertama sepanjang tahun. Meski baru dua tahun dia menjadi temanku, di kosan sempit ini.

“Duarrr!!!” Jendela bergetar. Begitu juga hatiku, seperti terampas begitu saja. Pembuangan muatan negatif dari awan ke bumi, karena perbedaan muatan itulah yang mengawali sejarah panjang dalam masa kanak-kanakku.

“Anak laki-laki tidak boleh cengeng,” Masih kalimat Ayah yang terkenang. Ketika Bunda, sesosok lembut yang mengenalkanku pada cinta dan kasih sayang, harus pergi. Seperti Robby, yang terpejam dan tak bergerak lagi. Meskipun pertemuan ini sangat singkat, tapi Ketulusan itu masih terasa sampai waktu tak bisa menghitungnya. Bunda, tahukah kau, aku mengantarmu sampai ke batas pintu dunia. Aku tidak menangis, Bunda. Seperti kata Ayah, “Bundamu akan bangga memiliki anak tangguh sepertimu, Nak!”

Saat itu aku masih memakai seragam putih merah. Seragam yang baru beberapa bulan di jahit Bunda, sebagai hadiah karena aku naik ke kelas IV. Kehilangan ini lebih mencekam.

“Anak laki-laki tidak boleh cengeng,” Kalimat Ayah, yang menghiburku setelah hari-hari itu. Tidak ada yang menuntunku berdo’a dan bercerita tentang pangeran yang gagah perkasa ketika aku hendak tidur. Hari-hari sepi yang selalu memberiku monolog juga dialog, antara aku dan hatiku.

“Berita banjir lagi, huh!!” Andi lagi, mencoba membuyarkan lamunanku. Menghempaskan tubuhnya di kasur dan melempar koran sore yang belum selesai di bacanya.

“Sudah tahu membuang sampah sembarangan bisa menyumbat selokan, masih saja tidak mau. Ah, dasar orang Indonesia!” Andi mengumpat tak karuan.

“Tirulah Jepang, negara sempit yang tak punya lahan itu. Sangat hati-hati dan pintar menjaga lingkungan,” Cerocosnya.

“Bagaimana mau seperti Jepang, kalau pemudanya cengeng dan pelamun gila,” katanya lagi.

“Hei, apa kamu bilang? Aku cengeng, ha?” Aku menarik kerah bajunya.

“Jangan sekali-kali kamu bilang aku cengeng,” Hendak kulayangkan tanganku yang terkepal. Kalap.

“Bro! tenang bro!” Andi mencoba menghindar. Mendudukkanku.

“Aku tak bermaksud mengataimu cengeng. Tapi untuk apa kau terus-terus memandangi jendela, hidupmu tidak akan berubah,” Ku lepaskan tanganku dari kerahnya. Andi beranjak. Jengah.

“Sori, bro! Aku kalap,” kataku.

“Hmm… makanya jangan banyak menghabiskan waktu untuk melamun, ups! sori, maksudku …”

“Iya, aku tahu maksudmu,” Selaku.

“Tapi kau tidak pernah tahu aku,” mataku kembali menerawang.

“Mau bercerita? Tidak apa-apa, tidak usah malu. Curhat bukan perbuatan yang cengeng,” Kata Andi, Tiba-tiba berubah sebijak Ayah.

Lalu, aku bercerita seperti hujan yang mengalir deras itu.

“Anak laki-laki tidak boleh cengeng,” aku mengawali ceritaku dengan kalimat Ayah itu. Aku bercerita satu-satu tentang masa kanak-kanak. Nyeri demi nyeri yang tertahan. Dan air mata yang terus bungkam. Untuk Ayah, aku tidak boleh cengeng.

Sampai saat derai-derai hujan yang seperti tak berunjung. Langit sepertinya akan mendung untuk selamanya. Saat petir memecah langit yang kelam. Iya, peregerakan awan yang teratur dan mengumpulkan elektron-elektron pada satu sisi dan proton di sisi yang lainnya, memuntahkan listrik yang mengirimkan padaku sebuah kehilangan yang sangat mendalam. Tidak ada lagi Ayah yang mengatakan padaku, “Anak laki-laki tidak boleh cengeng.” Kali itu semuanya benar-benar monolog yang getir.

“Aku tahu, Ayah sebenarnya tahu, bahwa aku adalah anak laki-laki yang cengeng. Untuk itu Ayah tak henti-hentinya mengulangi kalimat itu padaku.”

______________________________________

Asal gambar: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/3/36/Thunder.jpg

Dalam sepi bersama hujan. Memenuhi janji pada seorang teman. Maaf, tentang kisahmu, saya hanya bisa menulis seperti ini. Sungguh, sebenarnya kau sama sekali tidak cengeng. Tapi karena saya yang melankolis, jadilah kisah yang seperti ini. Saya yakin, rintik dan ricik hujan ini, menyampaikan salamku untukmu.

Advertisements

3 Responses to “Petir”

  1. iaksz December 11, 2008 at 12:56 pm #

    anak kecil cengeng kan tidak apa apa ???

  2. langitjiwa December 13, 2008 at 6:54 am #

    Aku sekarang sudah tidak cengeng lagi,tante. hehe….

  3. arzetha December 24, 2008 at 12:51 pm #

    aku selalu terhanyut dalam cerita-serita yang mengalir dari-mu… tak ada komentar yang lebih dari itu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: