Sebuah Ikatan Maya, Bisakah?

26 Dec

Hujan lagi, Seperti biasanya. Semarang terguyur hujan jam segini. Jam-jam ketika saya pulang kerja. Biasanya saya akan mengeluh, merutuk-rutuk karena pulang kemalaman. Ya, salah saya juga sudah tahu kebiasaan hujan kenapa tidak pernah bawa payung? πŸ˜€ . Mungkin ini kebiasaan, saya suka ketika hujan menahan saya. Diam-diam saya bersyukur, karena saya punya alasan untuk tetap di sini melanjutkan YM-an dengan seorang teman. (Dasar tidak disiplin!)

Ah, tapi malam ini hujan masih turun seperti biasanya. Saya tak mengeluh juga tak bersyukur. Tak mengeluh karena saya memang tidak ingin segera pulang. Tidak bersyukur karena tidak ada teman saya yang biasanya menemani YM-an. Banyak sih teman yang lain, tapi saya tidak biasanya YM-an dengan banyak orang kecuali dia (jangan GR ya?!) πŸ˜€

Teman? Seperti apa saya memaknai arti seorang teman? Memaknai kehadiran orang lain di sekitar saya?

Bingung mengartikannya. Kecuali dengan kalimat seseorang, Teman itu datang bersama alam. Kita tidak bisa memanggilnya atau menolak kehadirannya. Tak terduga. Teman adalah orang yang bisa menunjukkan jalan yang baik dan menemani kita di jalan itu, menuju tempat yang lebih baik. Katanya melengkapi definisi teman padaku.

Banyak orang di sekitar saya. Hampir setiap hari, ratusan wajah saya sapa.

Mulai ketika bangun tidur, keluar dari kamar berpapasan dengan orang-orang sekosan. Orang-orang yang bisa melihat diri saya yang sangat jujur, wajah asam bau bantal dan rambut kusut acak-acakan. Tidak ada yang lebih jujur dari wajah kita kecuali ketika bangun tidur, asli tanpa make up. Apakah mereka teman saya? Saya hidup seatap dengan 12 orang di rumah kos yang kecil, selama kurang lebih 2,5 tahun. Saling mengenal? Iya, mungkin sekedar wajah dan nama panggilan. Selebihnya? Saya tak yakin mereka semua tahu nama lengkap saya. Begitupun saya, tak semua nama lengkap mereka saya hafal. Tak banyak percakapan antara saya dengan mereka. Karena seringkali saya keluar sebelum mereka keluar dari kamar, dan saya pulang ketika malam hari lalu masuk kamar.

Hanya satu orang yang sangat unik, dialah yang kadang-kadang agak perhatian dengan saya. Contohnya seminggu yang lalu, ketika saya sering berdiam diri di (kamar) kosan. Dari kamar sebelah, dia SMS:

“Mbak mau tanya soal matematika, gini: Seandainya kamu adalah sopir bis Ngaliyan-Terboyo, dari Ngaliyan ada 5 orang penumpang, di depan kampus turun 1 orang, di lampu merah Krapyak naik 10 orang, terus sampai di Kalibanteng naik lagi 5 orang, sampai di pasar Karangayu turun 3 orang. Kemudian tidak ada lagi penumpang yang naik turun, kecuali di rel Kaligawe turun 7 orang. Setelah sampai di terminal terboyo, berapa umur sopir bis tersebut? Btw, masih ngapain mbak? Ga keluar-keluar?”

Spontan saya ngakak sendiri, lalu saya balas, “Kurang kerjaan ya? Lagi main sudoku nih πŸ™‚ ” tahu-tahu dia sudah berdiri di balik tirai kamar saya dan tertawa-tawa. Dia masuk dan kami bercanda-canda sejenak. Saya memang tidak pernah bisa memulai percakapan dengan orang lain, tetapi setelah percakapan itu dimulai seperti tidak ada habisnya.

Seperti itu hubungan saya dengan orang-orang seatap. Saya jarang menamai tempat tinggal saya itu rumah, walaupun saya sering bilang pulang untuk menuju ke sana. Dan entah, saya juga tak biasa menamai orang-orang yang tinggal di sana sebagai keluarga. Untuk menamai teman saja, saya masih berpikir, apakah keberadaan mereka menemani saya?

Mungkin, keberadaan mereka baru terasa setelah mereka semua pergi. Seperti sekarang ini. Liburan, mereka semua pulang menuju rumah orang tua masing-masing. Sudah kebiasaan saya jadi penghuni tunggal. Kamar-kamar sepi. Ruang tengah, di mana mereka sering berkumpul dan nonton TV, legang. Ruang tamu yang biasanya riuh dengan teman-teman mereka yang bertandang, kosong. Apalagi kolong, semuanya senyap. Saya jadi sadar, itu karena tidak ada mereka. Dan saya jadi tak berteman kecuali kesepian.

Tetapi, banyak orang di sekitar saya. Hampir setiap hari, ratusan wajah saya sapa.

Di kampus, sudah lima semester saya jalani. Banyak muka saya kenali. Dari berbagai jurusan dan angkatan, karena saya sering ikut kuliah MKU lintas jurusan. Setiap hari, mungkin ada puluhan jabat tangan saya pada mereka. Apakah mereka teman saya? mungkin iya, mungkin tidak. Tak ada hubungan apa-apa di antara saya dan mereka. Saya duduk, mereka duduk, meskipun bersebelahan tak pernah ada yang keluar kecuali senyuman dan basa-basi kecil, juga pertanyaan-pertanyaan pendek dengan jawaban pendek.

Di perpustakaan, biasanya saya bertemu dengan banyak orang. Wajah-wajah yang biasa saya temui di balik rak-rak buku yang berderet-deret. Saling berbisik, dan bersapa “Hai”, gitu aja. Selebihnya?

Di Campusnet, tempat aktivitas saya setahun ini, selain kuliah, tak banyak yang saya rasakan tentang sebuah hubungan bernama teman. Ah, tak terasa ternyata sudah hampir satu tahun saya duduk di sini, atas nama bekerja (tapi saya suka menyebutnya belajar hidup πŸ˜€ ) . Ada tujuh orang rekan seprofesi di sini, dengan seorang supervisor. Hubungan dengan mereka, mungkin sekedar hubungan profesional. Tak ada curhat pribadi kecuali bersinggungan dengan urusan kerjaan. Sehari di sini, ratusan senyum saya berikan pada ratusan wajah. Sedikit di antara mereka yang saya kenali.

Duduk di depan halaman maya, halaman sangat luas, yang mampu menembus jarak dalam waktu sepersekian detik saja. Menambah sulit untuk membilang orang yang ada di sekitar saya.

Justru di halaman maya ini, saya menemukan seorang teman. Saya bercerita apa saja padanya dan dia pun begitu. Menjadi sangat dekat padahal belum pernah bertemu.

Ah, kenapa jadi curhat sepanjang ini? Hujan mulai reda dan saya harus pulang. πŸ˜€

________________

Biasanya saya privat curhatan kayak gini, tapi entah kenapa saya mempublish curhatan ga penting seperti ini. Bukannya semua postinganmu curhatan ga mutu semua :mrgreen:

Advertisements

9 Responses to “Sebuah Ikatan Maya, Bisakah?”

  1. goop December 27, 2008 at 2:50 am #

    bawa payung atuh, karena semarang susah diduga. saya pun selalu bawa :mrgreen:

  2. mathematicse December 27, 2008 at 3:49 am #

    Mmm… curhat asli nih, mba?

    Btw, siapa sih temen (maya)nya? *Jadi penasaran πŸ˜‰ * :mrgreen:

  3. temen maya December 27, 2008 at 3:59 am #

    @mathematicse: nih temennya… mau apa? πŸ˜€

  4. Vintage Gadget December 27, 2008 at 6:00 am #

    saya rasa bisa n_o

  5. mezzalena December 27, 2008 at 11:07 am #

    @Goop : Iya, paman, harusnya sedia payung sebelum hujan πŸ˜€

    @Mathematicse: Sepertinya curhat asli ga? πŸ˜‰

    Penasaran ya? tuh orangnya udah ngaku di komen bawah πŸ˜€

    @Vintage Gadget: O ya? Gimana?

  6. Yari NK December 28, 2008 at 4:15 am #

    Yang membedakan antara maya dan tidak sebenarnya kan hanya masalah perangkat saja. Tetap saja apa yang dikatakan sebagai ikatan maya itu adalah ikatan yang riil, hanya saja belum ketemu muka. Ya mirip dengan korespondensi sahabat pena zaman dahulu.

    Ya udah deh…. teruskan hubungan kalian berdua…. nggak usah malu2….. hari gini masih malu2….. πŸ˜†

  7. mathematicse December 30, 2008 at 5:32 am #

    Mba Mezza, wah temen mayanya marah tuh… sorry2 ya… πŸ™‚

  8. fefen dwi ardianto December 30, 2008 at 10:44 am #

    Loh loh kok malah tambah seru niiii πŸ™‚

  9. nafila January 16, 2009 at 10:22 am #

    waduh buk…
    tenyata u ndk jauh beda ya ma q
    he…

    buta dilingkungan sekitar, apalagi dengan sesosok teman…
    teman apa tuh…
    kalo q teman makan ya krupuk dong…
    kalo u..

    rajut cinta dan kasih tapi dengan mutiara dan berlian ya…
    kalo dah jadi q ditunjukin ya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: