Bisa Korupsi Tanpa Harus Jadi Pejabat

27 Jan

Beberapa waktu yang lalu, ketika sedang makan di kantin kampus, saya dan teman-teman berbincang-bincang.

“Ribet ya, mau makan aja ngantri bayar dulu,” Kata salah satu teman saya. Di kampus hanya ada satu kantin kecil milik ibu-ibu dharma wanita yang menerapkan sistem bayar dulu sebelum makan.

“Ya, kan emang gitu aslinya jual beli, bayar dulu,” kata saya.

“Tapi ga apa-apa juga kan dengan sistem bayar belakang, tradisi yang baik dan sama-sama tahu antara penjual dan pembeli secara hukum Islam sah kok!” lanjut teman saya.

“Malah sekarang kan lagi marak tuh kantin kejujuran di sekolah-sekolah, tanpa akad jual beli karena tidak ada penjualnya. Anak-anak mengambil sendiri jajanan yang dibelinya dan sudah disediakan uang kembalian jika uangnya tidak pas, praktis tuh. Coba kantin ini juga seperti itu, tidak perlu antre bayar,” lanjutnya.

“Pendidikan anti korupsi sejak dini ya? bagus deh,” tanggap saya.

“Iya, memang seharusnya begitu, jadi pendidikan agama dan moral itu tidak hanya teks saja, tapi butuh laboratorium moral sejenis itu sehingga indikatornya pencapaian kompetensinya jelas,” sambungnya dan obrolan jadi kemana-mana tak bertema.

***

“Kalau dipikir-pikir, sebenarnya saya menggunakan fasilitas negara untuk ngeblog dan chat ya?” kata seorang teman di YM ketika chat tadi sore, dia seorang pegawai negeri dan sedang di kantor.

Saya tahu, dia hendak menyindir saya karena menggunakan komputer klien di jam-jam rame. Merasa tidak enak, kesindir dan malu, saya masih sempat bilang, “Iya ya, jadi ingat dengan Khalifah Umar yang tidak mau memakai lampu untuk kepentingan pribadi, benar ga itu kisah Khalifah Umar?” tanya saya.

“Iya, benar,” jawabnya pendek. Saya membayangkan wajahnya di seberang sana yang jengkel karena saya tak kunjung menampakkan reaksi kesindir.

“Ya udah ya, saya pulang dulu,” pamit saya pelan-pelan.

Pagi ini, saya mendapati suratnya di inbox yahoomail saya. Berupa permintaan maaf telah menyindir. Dan barangkali dia juga tidak enak jika saya memberinya label “orang sok bersih”.

Ah, justru yang terlintas adalah keindahan persaudaraan dan saling mengingatkan. Seandainya semua orang di sekitar saya seperti itu, saling menegur dan membiasakan hal-hal yang benar, tentu saja kebenaran menjadi kebiasaan yang menyenangkan. Banyak sekali hal remeh temeh dalam kehidupan kita saya yang sudah menjadi kebiasaan yang seolah-olah benar. Padahal semua kebiasaan itu belum tentu benar.

Memang, seharusnya tak perlu orang lain karena kita seharusnya tahu bahwa ada Tuhan yang melihat dan malaikat yang mencatat. Ajakan yang klise rasanya ketika bilang, “Yuk, memulai dari diri sendiri dan hal-hal kecil.” Karena tak harus jadi pejabat, ternyata kita bisa korupsi.

Advertisements

One Response to “Bisa Korupsi Tanpa Harus Jadi Pejabat”

  1. mathematicse January 27, 2009 at 5:18 am #

    Waduuuuuuuuuuuuuuuh postingan ini nyindir sy juga… 😀

    *makasih mba postingannya…*

    *Siapa tuh temen yang ngingetin,… 😉 *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: