Sebuah Kejutan di Akhir Pekan

9 May

Teringat salah satu kata teman saya, jika kita tersenyum kita membutuhkan otot yang lebih sedikit untuk menggerakkan bibir ke kanan dan ke kiri dari pada ketika kita cemberut, melipat wajah yang berarti melipat gandakan otot yang bekerja. Efeknya tubuh kita akan banyak mengeluarkan energi lebih banyak ketika kita cemberut.

Nah, kadang-kadang saya merasa beruntung karena saya bekerja sebagai pelayan publik. Yang setiap hari kerjaannya hanya tersenyum saja. Selalu ada senyum walaupun kadang terpaksa. Saya bersyukur dengan kerjaan yang mewajibkan saya untuk selalu tersenyum, kepada siapa saja dalam keadaan apa saja, secara tidak langsung saya telah menghemat energi. 🙂

Beberapa waktu yang lalu, ketika sudah lama tidak menulis di blog, saya menemukan sebuah komen di salah satu postingan yang sudah sangat lama. Seseorang yang meninggalkan komen itu tidak menunjukkan identitas dengan jelas.

Tuch yang harus di jaga yach mbak2x and mas2x yg jaga nggak ramah samah sekali and sombong2x lagaknya kaya yang poenya…!!

Sejenak, saya tertegun membacanya. Ternyata selama ini, saya belum melakukan pekerjaan saya dengan baik. Terbukti dengan komen di atas, yang bisa saya tebak, si komentator adalah user campusnet di mana saya bekerja. Operator juga manusia, begitu seringkali saya dan teman-teman berapologi ketika melakukan kesalahan. Lupa tersenyum gara-gara capek. Lupa mengucapkan terima kasih gara-gara sedang kesal dengan tugas-tugas kuliah yang seabrek-abrek. Atau melupakan prosedur kerja yang remeh-temeh itu.

Kemudian, saya menebak-nebak. Mengingat-ingat, apa yang saya lakukan di hari sang komentator menuliskan uneg-unegnya. Apa yang terjadi dengan saya. Ugh, beberapa waktu terakhir, saya seringkali tidak menikmati acara tersenyum dengan user gara-gara memendam sesuatu. “Jangan bawa-bawa urusan rumah tangga dalam kerjaan dong, Bu!” Ledek Pak GM yang tiap pagi berkunjung dan sukses membuat saya makin sewot gara-gara dipanggil “Bu”, kesannya bermutu (bermuka tua) banget.

Oke. Siapa pun dia yang memberi komentar tersebut, saya berterima kasih. Pertama, sudah menemukan dan membaca blog saya. Kedua, sudah mau mengatakan dengan jujur kesalahan saya. Dan yang lebih penting, akhirnya membuat saya mengevaluasi diri saya, dan kembali tersenyum dengan ikhlas. 🙂

Tiba-tiba suatu sore seminggu lalu, ketika saya sedang bekerja sambil mengetik makalah untuk memenuhi tugas UTS kuliah saya, ada dua orang cowo-cewe seperti kakak beradik, masuk. Seperti biasa, saya tersenyum dan menyapa. Mereka terlihat sedang bingung dan tidak tahu mau mengatakan apa, saling dorong-mendorong.

“Ada yang bisa saya bantu Mbak-Mas?” tanya saya akhirnya.

“Mmm, ” yang cewe melihat ke yang cowo dan berbisik “Kamu aja.” Sementara saya semakin bingung melihat kebingungan mereka.

“Gini mbak,” akhirnya si cowo membuka suara. “Dia kan member Campusnet di sini, sering main di sini,” pandangan saya terpaksa meninggalkan monitor demi menyimak kalimat-kalimatnya yang sepertinya akan panjang.

“Begini, dia mau minta maaf karena sudah pernah membuat kesalahan yang membuat dia tidak tenang,” lanjutnya. Saya masih bingung mengikuti ceritanya. Saya melihat wajah keduanya. Ada perasaan bersalah yang tidak dibuat-buat di wajah si cewe.

“Maaf mbak-mas, maksudnya kesalahan apa?” tanya saya akhirnya, karena mereka mengambil jeda agak lama.

“Saya kan pernah main di sini mbak, terus saya googling nemu blog mbaknya. Terus saya ngasih komen ngata-ngatain mbaknya gitu,” kata si cewe. Saya tertegun sejenak. Kemudian saya tersenyum. Membiarkan dia melanjutkan kalimatnya.

“Saya merasa bersalah mbak, udah ngata-ngatain mbaknya. Saya ga tenang. Beberapa hari ga bisa tidur nyenyak gara-gara merasa salah mbak,” katanya lagi. Saya terdiam dan dia berhenti berkata-kata.

“Maaf ya mbak, kalau pelayanan kami mungkin kurang berkenan,” akhirnya saya memilih kalimat itu.

“Bukan mbak, saya kok yang salah,” katanya lagi.

“Iya, kami juga minta maaf ke mbak, mungkin dalam melayani kami kadang-kadang lupa jadi mbak merasa tidak nyaman, kami minta maaf ya mbak,” kata saya. Lalu serta merta, si Mbak itu mengulurkan tangannya dan saya menjabatnya. Tak terbayangkan, si Mbak itu hendak mencium tangan saya. Refleks, saya menariknya.

Saya tak pernah menyangka, akan ada ikatan emosional antara user dengan saya. Sapaan yang mirip basa-basi tanpa ekspresi ternyata memang tidak nyaman dilihat. Senyum yang terpaksa dan tidak tulus memang tidak sedap dirasakan. Saya benar-benar terharu ketika ada orang meminta maaf demi kesalahan saya. Demi saya yang tidak tulus memberikan keramahan. Demi ketidaknyamanannya yang membuat dia mengata-ngatai saya, meskipun lewat blog. Dan yang lebih membuat saya terharu dan salut, masih ada orang yang dengan ksatria minta maaf secara langsung.

Baiklah, sejak hari itu saya bertekad belajar tersenyum dengan tulus. Bukan basa-basi dan prosedur pekerjaan. Saya percaya, saya tidak pernah rugi untuk tersenyum. Selain hemat energi itu akan membuat orang lebih nyaman dengan kita, bukan? Yuk, senyum. 🙂

Advertisements

4 Responses to “Sebuah Kejutan di Akhir Pekan”

  1. Al Jupri May 9, 2009 at 10:57 am #

    Mmm…. berarti senyum buat saya juga ya? 😀 :mrgreen:

  2. Al Jupri May 9, 2009 at 10:58 am #

    Iya, sebaiknya, memang urusan pribadi tidak dibawa-bawa dalam pekerjaan. 😀 Biar orang lain ga terkena imbas dari masalh yang kita hadapi. 😀

  3. JK May 10, 2009 at 10:41 am #

    ku tunggu senyuman na di blog quh…

    lam kenal..

  4. alus May 26, 2011 at 12:04 am #

    Tuch yang harus di jaga yach mbak2x and mas2x yg jaga nggak ramah samah sekali and sombong2x lagaknya kaya yang poenya…!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: