Kenapa 2 + 2= 4?

27 Sep

Aku pernah melihat api, aku pernah melihat hujan

Aku pernah melihat hari-hari yang baik

yang ku pikir tak pernah berakhir

Aku pernah melihat kesepian

Saat tak ku temukan seorang pun teman

Tapi aku selalu berpikir,

bahwa aku akan selalu bertemu denganmu

~ James Taylor~

Kemarin kau bertanya, pernahkah aku merasa sendirian. Aku hanya mengangguk. Selanjutnya aku hanya tersenyum ketika kau bercerita, bahwa kau tiba-tiba merasa sendirian. Sepi di mana-mana. Aku kenal dengan perasaan itu. Perasaan yang mirip-mirip dengan perasaan kehilangan, adalah milikku sebelum aku mengenalmu.

Kau kembali menceritakan hari-harimu yang telah lalu. Ketika kau merasa terdampar sendirian di negeri orang.  Sepi. Aku menyimak dan tak bisa berkomentar.

“Apakah aku tak cukup menemanimu?” potongku sebelum kalimatmu berhenti. Kau tahu, pertanyaan ini beserta rasa takut. Kau tak pernah menceritakan kesepianmu selama bersamaku. Meski mungkin kau tak pernah menyangka, aku seringkali bertanya tidakkah sesekali kau merasai sepi?

“Tidak, bukan begitu, aku sangat bahagia ada kamu menemaniku,” jawabmu yang entah seperti terdengar untuk membuatku tak tersinggung. Sebaik mungkin, tak ku tunjukkan bahwa aku terluka atas cerita itu. Apakah aku tak cukup menemanimu? Aku diam dan kau beralih cerita.

Tentang kangenmu, cintamu, dan hari-hari esok yang cerah jika kita bersama nanti. Selalu seperti itu. Ah, apakah hanya itu yang selalu dibicarakan oleh semua orang yang sedang jatuh cinta? Aku tak tahu, yang jelas aku mencintaimu sebaik kau mencintaiku, barangkali lebih.

“Cinta,” panggilmu.

“Kenapa 2 + 2 = 4?” tanyamu. Kau mengalihkan cerita lagi. Aku tersenyum menyembunyikan kalutku, menyembunyikan pertanyaan yang tak ingin jawaban.

“Apakah kau bosan bercerita tentang cinta, Mas?” pertanyaan itu getir dan tak akan aku ucapkan.

“Cinta? Kenapa?” aku tak segera menjawab. Karena aku tak memikirkan pertanyaanmu. Tahukah kau, Mas? Aku takut kehilanganmu.

“Karena jika 2 + a=4, a= 2,”  jawabku asal.

“Kalau 2 + 2 = …?”

“4”

“Kenapa 4?”

“Karena dalam garis bilangan, jika kita bergeser ke kanan 2 langkah dari angka 2 maka akan bertemu angka 4,”

“kenapa jika kita bergeser ke kanan 2 langkah dari angka 2 maka akan bertemu angka 4?” tanyamu lagi.

“Dulu kita selalu berbicara tentang hal-hal seperti ini, karena itu aku suka padamu,” katamu, mengenang awal-awal perkenalan kita. Lagi-lagi aku tersenyum. Entah perasaan macam apalagi yang ku sembunyikan saat aku mendengar satu alasan tentang cintamu.

Mas, kali ini sepimu menyergapku. Setelah semalam tadi waktu begitu lama  terasa. Ketika aku harus menahan kangen ini untuk menjadi milikku sendiri.

Kau tahu Mas, mungkin berlebihan, tapi ini benar. Bahwa hanya ada kita berdua, aku dan kau dalam semua hari-hariku. Saat kau tak ada, semua juga tak ada. Tak ada yang bisa aku lakukan, linglung.

Maaf Mas, mengatakan ini. Karena aku tak bisa menyembunyikan apa pun dari mu. Termasuk tangisku yang tak berhenti sejak dini hari yang baru kau temukan pagi tadi.

Tangis itu bukan sedih, Mas. Barangkali cinta kita mulai dewasa. Dan hatiku masih seperti anak-anak yang perlu sakit ketika berhasil melewati satu tahapan. Semoga benar, bahwa ini adalah tanda kedewasaan cinta kita. Seperti katamu Mas, cinta itu menunjukkan jalan yang benar. Iya kan?

Mas, aku tak sempurna. Tapi cintamu menyempurnakanku. Membuatku seolah bidadari.

Mas, kenapa 2 + 2= 4? Mau tahu jawabku Mas? Karena aku sayang kamu. :-p 🙂 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: