Frequention Hope

12 Dec

Alkisah, seorang sopir asal jawa lagi nyetirin boss bule Amrik, kebetulan lagi sial. Mobilnya nyodok kendaraan di depannya karena mendadak berhenti. Dengan ter-bata2 ia minta maaf kepada si boss:

“Sorry Sir, I brake brake, do not eat. After I Check, the wheel no flower gain”. (maaf pak saya rem-rem nggak makan, setelah saya cek rodanya nggak ada kembangannya lagi).

Begitu si Boss mau ikutan ribut sama yg ditabrak, dia bilang,

“Don’t follow mix Sir! the bring that car if not wrong is the children fruit from manager moneys, he stupid doesn’t play! let know taste” (nggak usah ikut campur pak, yang bawa mobil itu kalo nggak salah anak buah dari manajer keuangan, dia memang goblok bukan main, biar tahu rasa).

Besoknya si supir gak masuk kerja, terus pas lusanya dia masuk si boss bule nanya:

“why you’re not coming?”

Jawab si supir: “I am sorry boss, my body is not delicious, my body taste like enter the wind”. (maaf boss badan saya tidak enak, badan saya rasanya seperti masuk angin).

“I really don’t know whats your point!”, kata bossnya.

“yes how yes?…. I am alone migrain Sir will how the speak , but yes already, how many-how many, people Java can speak England…” jawabnya. (serius ya .. gimana ya?… saya sendiri puyeng Pak mau bagaimana ngomongnya, tapi yo uwis lah.. piro-piro wong jowo iso ngomong Inggris).***cerita dari sini

Geli rasanya membaca cerita di atas. Bagaimana misalnya kita  menyaksikan langsung? Apakah kita bisa untuk tidak tertawa seketika? Lalu bagaimana pula seandainya kita jadi orang yang konyol seperti si sopir Jawa itu? Apakah kita sadar kalo kita ditertawakan?

Cerita seperti itu saya alami ketika saya PPL (Praktik Pengalaman Lapangan) di SMA 3 Semarang yang merupakan SBI (Sekolah Bertaraf Internasional) beberapa bulan yang lalu. Ketika sedang mengawas UHT (Ulangan Harian Terpadu), ada seorang siswa yang minta ijin untuk ke belakang dan berkata, “My body is not delicious, I am stomachache“. Hendak tertawa, tapi saya tahan. Hanya senyum yang hampir meledak.

Lalu di kelas, ketika sedang berlatih mengajar di kelas XI materinya tentang peluang. Saya mengikuti cara guru yang mengajar di kelas itu. Biasanya guru mengajar dengan bilingual, yaitu menjelaskan materi dengan bahasa Indonesia disertai menulis dengan bahasa Inggris. Kali itu topiknya tentang frekuensi harapan. Ketika saya mengucapkan bahwa frekuensi harapan kejadian A adalah banyaknya kemunculan A dalam beberapa kali percobaan yang dilakukan. Artinya frekuensi kejadian A adalah banyaknya peluang kejadian A dikali dengan banyaknya percobaan.  Saya menulis di papan tulis:

E (A) = P (A) x n

E (A) = Expectation of A

P (A) = Probability of A

n       =  number of experiment

Seorang siswa tiba-tiba tunjuk jari dan bertanya, “Kok simbolnya E? Kok expectation? Kemarin diterangkan gurunya frekuensi harapan itu fh,  frequention hope?” Saya tak langsung menjawab, barangkali gurunya benar kalau frekuensi harapan itu bahasa inggrisnya frequention hope. “Yang saya tahu istilah matematika dari frekuensi harapan itu ekspektasi, bahasa inggrisnya expectation,” jawab saya hati-hati karena sang guru menyimak di belakang.

Sekeluar saya dari kelas, terus saja saya memikirkan tentang frequention hope dan berjalan senyum-senyum sendiri. Ada-ada saja. Dan selanjutnya saya benar-benar tidak bisa menahan tawa ketika teman saya bercerita bahwa seorang siswa bercerita, dalam materi lingkaran gurunya menyebut jari-jari dengan fingers. 😀

Ternyata ada yang lebih parah dari saya yang tidak bisa berbahasa Inggris. Saya pun miris dan sangat berhati-hati kalau-kalau saya melakukan hal yang memalukan. Barangkali benar, kita tak pernah belajar kalau kita takut salah. Alesan!!

Advertisements

2 Responses to “Frequention Hope”

  1. mathematicse December 12, 2009 at 3:07 am #

    Senyum-senyum aja aaaaah… 😀 😀 😀 😀 😀

    “Frequention Hope”? 😀 😀

  2. Yari NK December 14, 2009 at 2:09 am #

    the truth is no what-what speaking English wrong a little. What important is the want to learn to speak English with true. What important too is accept critic and correction from others so your English will be better every day!

    Sebenarnya nggak apa2 ngomong Bahasa Inggris salah sedikit. Yang penting keinginan belajar berbicara Bahasa Inggris dengan benar. Yang penting juga adalah menerima kritik dan koreksi dari orang lain sehingga Bahasa Inggris anda akan semakin baik setiap hari!

    huehuehue…. :mrgreen:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: