Cinta itu Kompleks

3 Jan

Ketika sedang nyari-nyari gambar bertemakan love di glitter-graphic.com saya menemukan gambar di samping. Satu-satunya gambar yang menarik perhatian saya lantaran kalimat My love for you ends with the last digit of pi. Walaupun kalimat tersebut terkesan rayuan gombal tapi tidak murahan. Coba bandingkan dengan yang ini: I love you forever, klise kan? terasa kah bedanya?

Cukup kreatif dan saya yakin tidak semua orang bisa diberi ungkapan dengan kalimat tersebut. Bagaimana kalau kalimat itu dikatakan pada orang yang tidak mengerti matematika? Kepada yang tidak tahu bahwa pi tidak mempunyai digit terakhir? Atau kalimat tersebut diungkapkan pada orang yang hanya tahu matematika dan suka mengartikan kalimat apa adanya, jadi salah kan kalimatnya? Pasti responnya, “Pi itu ga punya digit terakhir, sayang.” Ga jadi romantis kan?

Pi seperti yang telah kita pelajari adalah rasio antara keliling dengan diameter suatu lingkaran yang menghasilkan bilangan  yang tidak pernah berhenti. Bilangan riil yang tidak bisa dibagi (hasil baginya tidak pernah berhenti) disebut bilangan irasional. Jadi pi adalah bilangan irasional.

Nah, katanya cinta itu irasional. Entah siapa yang mengatakannya, tapi kebanyakan orang menyepakatinya. Irasional itu menurut kamus adalah tidak berdasarkan akal (penalaran) yang sehat, tidak masuk akal, tidak terhitung lagi.

Tapi menurut saya, tidak semua cinta itu irasional. Bukankah banyak sekali rasa cinta yang saya punya dan itu masuk akal? Jika saya mendefinisikan cinta yang irasional adalah cinta yang tidak mempunyai alasan yang masuk akal., maka cinta kepada Allah, adalah cinta yang rasional. Cinta kepada kedua orang tua, adalah cinta yang rasional. Lalu cinta pada saudara-saudara saya, pada lingkungan sekitar (apakah saya mencintai lingkungan?), pada diri saya, semuanya adalah cinta yang rasional.

Lalu mana cinta saya yang irasional? Kok susah ya nyari contoh cinta yang tidak masuk akal?

Cinta itu rasional dan irasional maka cinta itu riil. Bahkan bisa jadi cinta itu imajiner, jadi cinta itu kompleks. (Dua kalimat terakhir ini adalah jawaban dia saat saya bertanya, sepakatkah kalau dikatakan bahwa cinta itu irasional?)

Advertisements

5 Responses to “Cinta itu Kompleks”

  1. mathematicse January 3, 2010 at 9:23 am #

    uoy **** I 🙂

  2. superrefman January 12, 2010 at 9:42 am #

    Thanks for the great quality of your blog, each time i come here, i’m amazed.

    Cordialy

  3. adekasamawa January 27, 2010 at 5:36 am #

    hihihi,, lucu..
    tulisan’y menghibur,,
    matematika’y dapet banget..

  4. Yari NK February 12, 2010 at 7:21 am #

    Cinta memang irrasional karena tidak bisa ditebak sebelumnya. Seperti bilangan π tersebut yang 3,14159265… yang polanya tidak bisa tertebak. Begitupun dengan naik turunnya cinta **halaah** juga tidak bisa ditebak.

    Beda dengan bilangan rasional walaupun bisa juga tidak berunjung seperti \frac{1}{3} (sepertiga) yang 0,333333333… walaupun tidak berujung juga tapi bisa ditebak! Kalau cinta bisa ditebak, monoton dong, kurang seru! Huehuehue… :mrgreen:

  5. hahn April 6, 2010 at 8:07 pm #

    paragraf terakhir keren banget 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: