Cerita Hari ini: Saya Bisa Bercerita

22 Feb

Seorang guru matematika kelas VII masuk ke dalam ruang kelas. Menyalami murid-muridnya dengan muka berseri-seri. Maklum seorang guru baru, dia tidak ingin dikenal galak oleh muridnya. Tetapi dia tetap  saja gagal membangun kesan itu. Wajah-wajah yang dihadapannya lesu, tak bersemangat. Padahal dia belum menanyakan pekerjaan rumah yang diberikan kemarin. Tidak juga menyuruh mereka mengerjakan soal di papan tulis yang menjadi hobi guru-guru matematika.

“Baiklah, ada cerita menarik untuk membuka pelajaran kali ini,” tak hilang akal, si guru itu berusaha menarik perhatian muridnya.

“Mau diceritain ga?” tanya si guru.

“Mauuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu, tapi ga mau soal matematika,” jawab murid-murid itu serempak. Si guru tersenyum, lalu berceritalah dia tentang kisah berikut ini:

Ada seorang petani memiliki tiga orang anak.  Ahmad, Budi, dan Ani. Petani itu memiliki ternak kambing. Setiap hari, Ahmad membantu untuk menggembalakan kambing. Budi yang masih sekolah kelas VII SMP, kadang-kadang ikut membantu kakaknya menggembalakan kambing. Sedangkan Ani, anak perempuan satu-satunya yang masih duduk di kelas III SD hanya di rumah saja. Pada suatu hari, karena merasa sudah tua, Pak Tani tersebut berpesan kepada tiga anaknya. Nanti kalau sewaktu-waktu Pak Tani meninggal, Pak Tani ingin memberikan setengah jumlah ternak kepada Ahmad, sepertiga bagian kepada Budi, dan sepersembilan untuk Ani.

Pada suatu hari, Pak Tani tersebut meninggal dunia. Setelah selesai semua urusannya, Ahmad mengajak adiknya untuk menghitung jumlah kambing agar bisa dibagi sesuai pesan ayahnya. Ternyata jumlah semuanya ada 17. Setelah berpikir agak lama, Ahmad menyerah. Dia bingung bagaimana cara membagi kambing tersebut. Setengah dari 17? Sepertiga dari 17? Sepersembilan dari 17?

Di tengah kebingungan Ahmad, Budi mengusulkan kepada kakaknya untuk meminjam satu kambing Pak Karto, tetangganya. Sehingga jumlah kambing menjadi 18 dan mereka bisa membagi kambing-kambing itu dengan mudah.

\frac{1}{2} x 18 kambing= 9 kambing untuk Ahmad

\frac{1}{3} x 18 kambing= 6 kambing untuk Budi

\frac{1}{9} x 18 kambing= 2 kambing untuk Ani

Jadi jumlah semua menjadi 9+6+2= 17 kambing. Lalu Budi mengembalikan kambing Pak Karto lagi. Selesailah masalah mereka. Ahmad bangga dengan adiknya yang pintar.

“Bagaimana semuanya? Bagus tidak ceritanya? Bagaimana menurut kalian yang dilakukan Budi?” tanya si guru mengakhiri ceritanya dengan puas, lantaran murid-muridnya antusias menyimak dia bercerita.

“Bagus Buuu, Budi pintar,” kata mereka.

???

“Iya Budi kreatif, kalau kalian ingin lebih pintar dari Budi yuk kita belajar tentang pecahan sekarang,” kata si guru.

“Tahu tidak kalau yang dilakukan Budi itu tidak tepat?” tanya si guru lagi. Murid-muridnya berpandangan dan menggeleng. Di dalam hatinya si guru bertanya-tanya, apakah anak kelas VII belum bisa memahami kesalahan seperti itu ya? Seandainya mereka paham cerita ini akan menjadi lucu dan mereka akan tertawa. Tetapi yang ada, mereka terpesona dengan Budi yang menurut mereka brilliant.

***

Kisah di atas adalah kisah saya ketika saya berada di Madrasah Tsanawiyah sebuah yayasan yatim piatu di pelosok semarang barat. Ketika saya menceritakan hal itu padanya, dia bilang “Mungkin kamu ga bisa cerita kali, atau kamu ceritanya membingungkan sehingga mereka ga paham.” Ugh, jadi saya ga bisa cerita?

Kisah lain yang serupa, seminggu dua kali biasanya saya diundang Adin untuk belajar bersama. Adin sekarang duduk di kelas IX di SMP Negeri 03 Semarang. Biasanya setelah 40 menitan lewat, dia akan menunjukkan kebosanannya. Lalu dia akan bercerita tentang apa saja atau kalau tidak dia akan memaksa saya bercerita. Nah karena saya bingung harus cerita apa, saya ceritakan saja cerita di atas.

“Pasti ujung-ujungnya matematika, ga asyik mbak, tuh kan sama aja kayak soal cerita,” belum-belum Adin sudah komentar.

Dengerin dulu, yang ini lucu,” kata saya, berharap dia akan terhibur. Lalu saya menyelesaikan cerita saya.

“Apanya yang lucu? Toh cerita itu sama dengan soal-soal cerita yang ada di buku,” katanya.

“Kenapa sih yang bikin soal matematika suka sekali dengan kisah Pak Tani, sebidang sawah dan yang itu-itu? Bosan tahu,” lanjutnya.

Saya terdiam. Seharusnya saya menceritakan sesuatu yang dekat dengan Adin. Ketika saya bercerita mengenai Pak Tani, kambing dan anak-anak desa, dia tidak mungkin tertarik karena semua itu asing dari kehidupannya. Tetapi seharusnya dia paham bahwa cerita itu lucu. Bahwa yang dilakukan Budi adalah sesuatu yang konyol. Bukankah dia sudah mempelajari tentang pecahan?

***

“Mungkin anak seumuran SMP belum bisa memahami bahwa cerita tersebut konyol,” kata Nayla, teman saya, ketika saya bercerita padanya. Saya benar-benar penasaran. Benarkah saya tidak bisa bercerita pada anak-anak sehingga mereka tidak menangkap maksud yang ingin saya sampaikan?

“Kalau menurut saya bukan salah kamunya yang cerita, nyatanya saya tahu apa yang kamu maksud,” kata Nayla lagi. “Kamu sendiri kapan paham cerita itu?” tanyanya.

“Saya tahu cerita itu baru sih, saat sudah kuliah,” jawab saya.

“Nah, makanya jangan berharap anak-anak bisa sama dengan pikiranmu, mereka kan masih SMP sedangkan kamu sudah kuliah ya ga sama lah!” tanggapnya.

“Jadi maksudmu? Saya bisa bercerita dengan baik?” kali ini saya merasa senang.

“Siapa yang bilang begitu?”

“Dasar!”

Kesimpulannya tetep,  saya bisa bercerita kan? :-p

Advertisements

One Response to “Cerita Hari ini: Saya Bisa Bercerita”

  1. mathematicse February 22, 2010 at 9:46 am #

    Bu guru-bu guru, cerita lagi dong besok-besok ya… 🙂 Mau diceritain terus… 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: