Aku Mencintaimu

23 Feb

Penghujung februari, sama seperti dua tahun yang lalu. Saat langit terlihat galau. Begitu juga hatiku, harus seperti langit itu karena hatimu.

“Aku mencintaimu,” katamu seolah tak ada kalimat yang lebih baik. Kalimat yang belum pernah bisa aku terima.

“Maaf kalau ini tidak sopan, tapi aku merasa wajib mencintaimu,” katamu lagi yang semakin mengaduk-aduk isi hatiku. Kali itu aku membiarkan kamu pergi tanpa jawaban.
Lalu kita bertemu lagi setiap hari. Bercerita setiap hari dan kamu tak pernah lupa untuk mengatakan bahwa kamu mencintaiku. Aku tahu itu, bahkan aku juga tahu aku mencintaimu. Tapi aku belum bisa menerima bahwa hatiku sudah berubah.

“Tolong beri aku jawaban, katakan (a) jika kamu mau menerima cintaku, dan aku boleh menunggumu atau (b) jika aku harus melupakanmu, membuang perasaan yang aku miliki sendiri,” paksamu waktu itu. Kamu tak memberiku pilihan. Aku mencintaimu, sungguh. Tapi hatiku belum siap untuk terbelah. Aku belum siap membagi hatiku untuk orang lain, memberikan perasaanku. Aku takut menyakitimu. Aku takut, aku tak seperti yang kamu bayangkan dalam dunia idemu. Di mataku kamu adalah langit dan aku sama sekali bukan bintang. Bagaimana mungkin aku bisa bersatu denganmu? Kita memiliki dunia yang berbeda. Aku takut untuk mencintaimu hanya karena aku takut jatuh dan terluka.

“Kau tak akan jatuh dan terluka, karena tak ada atas bawah,” yakinmu padaku. “Atau kamu yang merasa lebih tinggi dari diriku sehingga kamu tak menerima cintaku?” pertanyaanmu itu terus mengejarku. Aku menggeleng, tentu saja tidak.

“Kita itu sejajar,” katamu menatap mataku.

“Aku hanya ingin menjaga hatiku dalam bentuk dan warna yang sama,” akhirnya aku beranikan diri untuk memberi jawaban.

“Apakah kamu memberiku harapan?” tanyamu.

“Jika menurutmu begitu,” jawabku.

“Apakah ini harapan yang sarat isi atau harapan kosong?” kejarmu lagi.

“Entah harapan yang sarat isi ataupun harapan kosong, aku tak ingin ini menjadi duri di kemudian hari,” aku menghela nafas, “tidak boleh ada yang tersakiti,” lanjutku.

“Aku akan menunggu harapan itu,” katamu.

“Akan ada saat di mana hatiku akan terbelah, biarkan waktu itu datang dengan sendirinya,” jawabku. Aku hanya tak mau cinta datang terlalu cepat. Aku tak mau jadi hujan yang salah musim bagimu.

***

Waktu itu telah datang setahun lalu. Telah ku berikan hatiku padamu, tidak sebelah tapi seutuhnya. Telah kuwarnai hatiku dengan warna merah muda. Telah ku beranikan diriku untuk jatuh, untuk patah hati ataupun sakit. Tapi semakin hari, aku semakin percaya bahwa kamu tak akan menyakitiku, tak akan. Kamu memberiku kebahagiaan dengan menerimaku sepenuhnya. Cintamu menyempurnakanku hingga seolah bidadari. Aku mencintaimu, sungguh. Telah ku gadaikan seluruh hidupku sekarang demi masa depan bersamamu. Apapun itu. Aku belajar menjadi bidadari yang akan menyambutmu saat kelelahan. Menjadi seperti daun bagi pohonnya, yang hanya akan berbuat sesuatu demi pohon itu. Menjadi orang yang selalu ada di sampingmu sepanjang hidupku.

Tapi entah setahun berlalu, kegagalan seperti menghantuiku. Aku takut mengecawakanmu. Aku takut tak mampu menjadi bidadari impianmu. Aku cemburu pada daun-daun yang lebih hijau di sekelilingmu. Aku cemburu pada apapun yang menyita perhatianmu. Aku takut kehilanganmu. Aku takut berjalan sendiri. Aku takut.
Di penghujung februari, yang sama seperti tahun-tahun lalu. Malam ini aku membuat gerimis sendiri di mataku.

“Jika memang tidak tahan dengan keadaan seperti ini, ga usah hidup denganku lagi,” petir yang menggelegar di hatiku itu adalah kalimatmu. Hatiku hilang bentuk.

“Silahkan menangis, tangismu sama sekali tak menyentuhku,” sesaat aku lupa apakah jantungku masih berdetak.

“Cari orang lain kalau memang tidak ingin hidup seperti ini,” sementara aku masih terisak kau menghujamkan duri paling tajam di hatiku. Perih.
Seperti mimpi di penghujung februari dua tahun lalu, saat kamu mengatakan bahwa kamu mencintaiku. Kau memporak-porandakan hatiku. Semuanya tak berbentuk.

***

“Maafkan aku,” Aku masih percaya bahwa maaf mampu mendatangkan keajaiban. Maaf mampu merapikan puing-puing tak berbentuk menjadi permadani yang indah meski tak sama seperti semula. Tapi aku yakin hubungan kita tak terbuat dari kaca yang mudah pecah.

“Aku mencintaimu,” Aku masih berharap bahwa cintamu tak berubah. Seperti cintaku yang tak berubah, melainkan bertambah. Aku takut kehilanganmu.

“Aku juga mencintaimu,” kalimatmu akhirnya, yang serasa embun.

Advertisements

2 Responses to “Aku Mencintaimu”

  1. mathematicse February 24, 2010 at 2:12 pm #

    “Maafin Mas ya… :(” Maaaaaaaaaaaaaaaaaaf…

  2. lia April 3, 2010 at 6:20 am #

    weleh…..februari bulan perjuangan mbk….
    ternyata u itu penuh cinta ya????what is the main

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: