Saya, Tentang Kerinduan dan “Sebelas Patriot”

23 Jul

Bagi yang menginginkan sinopsis Sebelas Patriot, novel terbarunya Andrea Hirata itu, saya beritahukan sebelumnya bahwa tulisan ini bukanlah yang anda maksud. Jadi jangan salahkan saya, kalau tulisan saya ini 100% berisi curhat tentang saya. Ok? 😀

Menemukan “Sebelas Patriot” tadi malam adalah kejutan bagi saya. Karena tadinya saya tidak berencana ke toko buku. Hanya sekedar jalan-jalan sore menemani Bu Lik dan anaknya yang sedang berbelanja untuk keperluan lebaran di Citraland. Tapi melihat Bu Lik saya dan anaknya yang 9 tahun, asyik memilih baju, entah kenapa perasaan saya tak karuan. Seperti cemburu, tapi saya tahu perasaan itu lebih tepat dikatakan iri. Apalagi melewati stand perlengkapan baby dan pakaian anak-anak, selalu sukses membuat perasaan saya tak karuan. Seketika melemparkan saya pada mimpi-mimpi dan seketika itu pula membuat saya sadar akan kenyataan. Ternyata begitu pahit dan sakit. Sebelum mata saya terlihat sangat basah karena air mata saya merembes, saya berpamitan ke Bu Lik untuk ke Gunung Agung saja.

Pikir saya, di Gunung Agung akan lebih nyaman. Menyelamatkan saya dari pemandangan yang menganduk-aduk hati saya, yaitu display-display baju anak-anak perempuan yang cantik-cantik. Tapi ternyata tidak sepenuhnya. Tiba-tiba saya menyadari, bahwa diri saya sudah tidak seperti beberapa tahun lalu. Bukan, bukan karena saya tiba-tiba tidak suka ke toko buku. Atau saya tiba-tiba tidak merasa lagi butuh dengan buku sehingga malas ke toko buku. Tetapi rasanya, kesenyapan yang sangat tiba-tiba menyergap di tengah hiruk-pikuk yang gemerlap. Padahal dulu saya biasa dengan keadaan seperti ini dan tidak pernah merasa sepi meskipun berjalan sendiri. Apalagi jalan-jalan ke toko buku, pasti saya lebih memilih sendiri.

Ketidakhadiran suami saya di sini, membuat saya seperti memakai kaos kaki sebelah saja. Atau memakai celana yang kebesaran tanpa ikat pinggang. Bahkan lebih dari itu, rasanya saya cuma bernapas dengan satu lubang hidung. Lebay ya? biarin :p. Sama tak nyamannya ketika di Robinson tadi. Saya sama sekali tak bergairah melihat-lihat buku. Apalagi setelah memastikan bahwa buku “Rangkuman Matematika SMA” yang kami susun, belum ada di sini. Hanya berjalan, berkeliling-keliling hingga tak sadar entah sudah berapa kali saya berputar di situ-situ saja. Saya tak melihat apa-apa, karena pikiran saya terlalu penuh dengan kerinduan. Berkali-kali saya merefresh halaman FB dari HP butut saya, tak ada inbox dari suami saya. Kami memang memanfaatkan fasilitas FB dalam berkomunikasi. Lebih hemat dibanding sms yang seharga 1/16 kg telur (alias sebutir :D). Sayangkan daripada sms, mending dibuat belanja.

Tiba-tiba tangan saya menyentuh satu buku di deretan buku-buku terbaru. Sebelas Patriot. Teringat sebulan lalu kami pernah mencarinya di Gramedia tapi belum ada. Yang akhirnya membuat suami saya tidak menikmati jalan-jalan selanjutnya karena kecewa. Saya membeli novel ini untuknya. Mungkin akan mengirimkannya ke Belanda atau menyimpannya untuk dia baca ketika pulang (yang mungkin) setahun lagi. Baiklah, saya akan sabar menunggu waktu itu. Sepertinya perasaan saya yang mulai sabar dengan kesenyapan yang tadi menyiksa. Perlahan-lahan pikiran saya mulai utuh.

***

Membaca Sebelas Patriot membuat saya semakin kangen pada suami saya. Mengingat serunya nonton bola bareng dia. Dia yang mengajari saya menikmati acara menonton bola. Tadinya saya bersikukuh tak akan sudi mencintai tontonan itu. Karena tayangan sepak bola di TV selalu mengalihkan perhatiannya kepada saya. Cemburu. Tidak rasional kan? Memang begitulah saya dan mungkin kebanyakan perempuan sama tak rasionalnya seperti saya. Tapi akhirnya, saya luluh juga. Dia memang pandai meraih hati saya :P.

Setiap jeda paragraf dalam Sebelas Patriot membuat saya melamun. Tentang masa-masa paling membahagiakan, ketika kami menebak-nebak jenis kelamin anak kami sambil nonton pertandingan piala AFF. Lalu saya menikmati setiap tendangan janin yang ada dalam rahim saya, yang saya menyebutnya main bola. Setiap kalimat dalam novel ini, membuat saya semakin menginginkan dia ada di samping saya sekarang. Merindukan dia berteriak  gooooooooooool, lalu memeluk dan mencium saya. Geli mengingat sepanjang pertandingan, saya justru berdo’a agar tim jagoannya menang. Lalu, dia rela keluar malam-malam membelikan saya roti bakar. Dan masih banyak lagi, kenangan-kenangan itu berseliweran.

Saya, tentang kerinduan dan Sebelas Patriot. “Prestasi tertinggi seseorang, medali emasnya, adalah jiwa besarnya.” Kutipan ini adalah salah satu kalimat dalam Sebelas Patriot yang saya suka selain “Begitu besar cinta, begitu singkat waktu, begitu besar kecewa, lalu tidak ada hal selain menunggu…….., lalu bergembira lagi.” Begitupun kita, iyakan Suamiku sayang?

Ini ceritaku, bagaimana dengan ceritamu? 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: