Cita-cita dan Cinta

9 Aug

Apa cita-citamu waktu kecil? Jadi dokter, pramugari, perawat, guru, pedagang? Atau jangan-jangan ingin berguna bagi nusa dan bangsa? :D. Kerap kali anak-anak menjawab itu ketika ditanya tentang cita-cita. Tidak hanya anak zaman dulu ya, mungkin masih banyak anak-anak zaman sekarang menjawab seperti itu ketika ditanya tentang cita-cita. Sebenarnya siapa sih pencipta pertama cita-cita “ingin berguna bagi nusa dan bangsa”? Ada yang tahu?

Saya tidak tahu apa saja profesi yang kerap kali berkelindan di benak anak-anak. Pertama kali saya mengenal cita-cita, kelas 1 SD. Seandainya saya pernah masuk TK, mungkin saya akan mengenal cita-cita ketika seusia Upin-Ipin dkk. Sejak saat itu saya ingin menjadi guru yang berpenampilan menarik, terlihat cerdas, cantik, memakai baju bagus, berkacamata, bersepatu hak tinggi, dsb. Namanya juga anak-anak. Belum jelas apa maunya. Demi cita-cita itu, saya sering bertingkah sendiri di depan kaca, seolah-olah sedang menjadi guru. Malu mengingat kekonyolan semasa kecil.

Sampai umur bertambah ternyata kalau ditanya cita-citanya ingin jadi apa, tetap jawabnya ingin jadi guru. Tapi tentu saja imajinasinya bertambah. Ketika pelajaran IPS tentang transmigrasi, maka saya berkhayal jika besar nanti saya ingin ikut program transmigrasi yang diadakan pemerintah -Btw, sekarang masih ada program transmigrasi ga ya?- . Saya akan membangun rumah kecil yang sederhana. Berisi satu kamar tidur, dapur, kamar mandi, ruang kerja dan ruang tamu. Ketika pelajaran IPA tentang holtikultura, maka saya menginginkan rumah saya dilengkapai dengan pekarangan yang sangat luas. Akan ada apotik hidup, palawija dan aneka ragam bunga-bunga yang mekar di sana. Yang akan menjadi aktivitas saya setiap sore. Karena profesi saya nantinya jadi guru, jadi kan cuma bekerja setengah hari. Saya juga ingin kolam di pekarangan saya, biar pikiran bisa senantiasa sejuk. Lalu, jika malam hari, saya akan mengundang anak-anak untuk belajar di rumah saya. Maka, saya harus mempunyai banyak buku cerita agar anak-anak tertarik datang ke rumah. O lala, begitu indah ya? 😀

Semakin dewasa, tentu saja semakin realistis. Usia SMP, tetep cita-cita saya mau jadi guru. Kali ini saya mulai memilih mata pelajaran. Ingin jadi guru apa ya? Awalnya ingin jadi guru bahasa inggris, karena guru bahasa inggris saya waktu itu cantik. Lalu ingin jadi guru Fisika, karena saya rasa mengajar fisika menyenangkan. Selain itu saya juga ingin jadi penulis cerpen. Pengaruh bacaan kali ya, dulu saya suka dengan tabloid anak Fantasi. Zaman dulu sih, tabloid itu masih memuat rubrik IPTEK yang membuat saya merasa mendapatkan hal baru. Tapi sejak saya usia SMA sepertinya tabloid itu melulu isinya tentang gosip artis. Tidak tahu ya sekarang. SMA, tetep cita-citanya mau jadi guru. Mau jadi penulis yang banyak menulis novel best seller.

Akhirnya ketika harus kuliah saya memilih jurusan pendidikan matematika. Tidak salah kan ya, untuk meraih cita-cita sedari kecil. Guru. Tidak seperti ketika masih kecil, saat mahasiswa meskipun sering berkhayal tapi berkhayalnya operasional. Realistis disertai target dan usaha yang jelas. Mulai belajar menulis yang baik. Mengirim tulisan ke berbagai media, majalah atau pun koran. Walaupun belum pernah ada yang dimuat kecuali di media lokal kampus. Yang karena agak putus asa akhirnya ngeblog. Ketika mulai mengenal cinta, akhirnya daftar cita-cita pun bertambah. Ingin cepat menikah :D. Ternyata cita-cita saya yang ini benar-benar ampuh membuat saya semangat untuk cepat lulus. Cinta memang luar biasa. Benar saja, setahun lalu saya lulus dan menikah. Eh, menikah dulu baru diwisuda. 🙂

Sejak menikah, saya merasa hidup saya sempurna. Memiliki suami yang saya cintai dan mencintai saya. Tinggal di rumah yang baru saya sadari setelah beberapa lama tinggal di sana, seperti impian saya waktu kecil. Rumah ideal, satu kamar tidur, dapur, kamar mandi, ruang kerja dan ruang tamu :D. Dengan pekarangan yang luas dan rindang pepohonan. What a wonderfull life!. Seperti sudah tidak menginginkan apa-apa lagi. Kecuali membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah dan penuh kasih sayang. Apalagi ketika ketahuan hamil, semakin mantap rasanya memilih untuk jadi Ibu rumah tangga. Hanya karena tidak rela membayangkan anak-anak dan suami harus diurus pembantu ketika saya berkarir.

Ah, tapi nyatanya perjalanan cita-cita saya belum berakhir. Ketika suami harus mengejar cita-citanya, yang berarti cita-cita saya juga. Dengan segenap jiwa raga, saya pun mendukungnya. Walaupun awal tahun ini mengawali perjalanan berat dalam rumah tangga kami. Membentangkan jarak belasan ribu kilometer. Membilang ratusan hari demi bersatu kembali. Lalu cobaan-cobaan….

Eh, lalu apa cita-cita saya sekarang? Kata suami saya, saya itu tidak bakat mengajar. Pantesnya jadi boss, hehe :D. Terus kata teman saya, mengajar itu bukan passion saya. Nah lho, masih ingin jadi guru? Kalau dipikir-pikir juga, kenapa waktu kecil saya ingin jadi guru bukan karena suka dengan profesi guru tapi lebih ke penampilan seorang guru yang berpenampilan menarik, terlihat cerdas, cantik, tegas, berkacamata, bersepatu hak tinggi, dsb. Guru adalah seleb di kelas. Jadi intinya saya ingin jadi seleb? Huehehehe. Becanda. Tulisan ini juga sekedar distraksi. Saya cuma mau bilang, Ramadhan ini membuat saya menemukan ritme hidup kembali. Semangat!!

Ini ceritaku, bagaimana dengan ceritamu?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: