Arti Sebuah Komunitas

20 Apr

Lulus kuliah, menikah dan pindah tinggal di Bandung membuat saya kehilangan kontak dengan sejumlah teman. Apalagi euforia menikah, rasanya dunia milik kita berdua. Saya merasa tak lagi butuh bergaul dengan siapapun. Benar saja selama lebih dari enam bulan, saya tidak berteman dengan siapapun kecuali suami saya. Selain ngobrol dengan suami, kalimat yang saya keluarkan pun sangat terbatas. Mungkin hanya berkisar punten, nuhun, terima kasih, maaf, berapa, kiri (nyetop angkot) dan kata-kata pendek sejenisnya. Kehidupan online saya pun stuck.

Saya tidak begitu tertarik dengan jejaring sosial. Teman-teman di FB saya kebanyakan adalah teman-teman atau mahasiswa suami yang menambahkan saya di daftar pertemanan.  Sementara teman saya sendiri sangat sedikit. Sampai ketika suami harus melanjutkan studi ke negeri kincir angin, dan saya kembali ke kampung halaman. Mau tidak mau demi efisiensi, saya menggunakan jejaring sosial untuk berkomunikasi dengannya. Sementara hubungan saya dengan lingkungan sekitar tetap saja pasif. Saya di rumah saja, cenderung di kamar saja.

Barangkali karena saya termasuk homo homini socius, maka saya tetap membutuhkan komunitas. Sayangnya saya tidak menemukan komunitas yang cocok di sekitar saya. Komunitas remaja masjid tentu saja tidak cocok bagi saya. Sedangkan komunitas ibu-ibu yang ada barangkali hanya komunitas ngerumpi, komunitas pengajian yang barangkali umurnya tidak asyik bagi saya. Akhirnya saya mencari komunitas online dalam rangka memenuhi kebutuhan sosial saya.

Tadinya saya mulai bergabung di beberapa milis (mailing list). Diantaranya milis kesehatan, parenting dan kuliner. Merasa menemukan tempat gaul yang sangat asyik. Teman ngobrol yang nyambung. Tapi kendalanya ikutan milis yang sangat aktif itu tiap hari inbox dipenuhi ratusan email dari milis. Barangkali saya bisa setting ke digest agar email yang masuk tidak lebih dari 10 email sehari. Tapi saya memilih keluar dari milis-milis tersebut. Alasannya mulai malas memeriksa email. Email-email penting jadi tercampur dan susah diidentifikasi. Sebaiknya kita memang punya akun email tersendiri buat milis. Sehingga banyaknya email milis tidak mengganggu email kerjaan.

Beberapa bulan saya tidak mengikuti komunitas apapun. Sampai akhirnya saya membaca berita di Kompas online tentang grup Ibu-Ibu Doyan Nulis di FB. Saya join. Kemudian join komunitas-komunitas kepenulisan yang lain-lain. Saya bersyukur, saya masih tertarik mengikuti komunitas-komunitas. Ini menandakan bahwa saya belum anti sosial. Karena di dunia nyata, saya sangat kurang berinteraksi dengan masyarakat.

Bagi saya masuk ke dalam komunitas online itu rasanya sama dengan ikut komunitas offline. Intinya bergaul. Tata kramanya sama. Bagi saya yang agak canggung bergaul dengan orang-orang baru, komunitas online lebih memberi keuntungan. Karena kita tidak bertatap muka secara langsung. Bukan maksud bersembunyi dari identitas asli, tapi dunia maya memberi kita jeda waktu berpikir lebih banyak dalam berkomunikasi. Ini salah satu kelebihan menurut saya. Kelebihan lain, komunitas online memangkas ruang dan waktu untuk saling berbagi. Lebih efektif. Bisa kita lakukan sambil mengerjakan banyak hal.

Rasanya, benar sekali bahwa kalau kita ingin tahu kepribadian seseorang, lihat lah siapa teman-temannya. Memang, masuk ke dalam komunitas tertentu tidak serta-merta menjadikan kita sama dengan mereka. Misalnya masuk ke dalam komunitas penulis tidak akan menjadikan kita seorang penulis tanpa kita menulis. Atau masuk ke dalam komunitas bakul kue tidak akan menyulap kita jadi bakul kue. Tetapi setidaknya dengan berbagi aktif memberi atau sekedar menyimak mengambil informasi saja adalah bagian dari belajar untuk “menjadi”.

Adakah keuntungannya masuk dalam komunitas-komunitas itu? Harus ada. Kalau tidak untuk apa bergabung. Yang jelas nambah teman, nambah informasi, mengurangi kuper akut dan juga ada aktivitas buat mengisi waktu luang biar tidak hanya bengong. Eh, bukankah berjamaah pahalanya 27 kali lipat dari pada sendirian?

Ini menurut saya, bagaimana menurut anda?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: