Berusaha Melipat Kenangan

20 Apr

Rasanya menapaki bulan April ini sangat berat. Tahun seperti berkurang satu. Hari-hari berjalan mundur. Seolah saya terlempar kembali ke 2011. Masih lekat sekali dalam ingatan, bulan april setahun lalu saya dan suami sedang berbahagia. Mencari-cari nama yang cocok untuk buah hati kami. Sambil terus menulis tambahan untuk naskah buku yang sedang kami persiapkan. Sebuah buku yang kami janjikan sebagai kado untuk menyambut kelahiran putri kami.

Sampai saat ini saya belum bisa bercerita dengan baik mengenai apa yang terjadi dan apa yang saya rasakan saat-saat persalinan. Bukan karena saya dibius di meja operasi. Bahkan saya masih mengingat semua detilnya. Mengingat suara dentingan alat-alat bedah. Doa-doa dan semua harapan, yang jelas, saya seperti terhempas dari mimpi indah yang sangat panjang. Saya dan suami saya. Kami harus menerima kenyataan bahwa buah hati kami tidak akan berumur panjang.

Setelah hari itu hidup saya serasa berakhir di bulan Mei. Saya selalu berharap waktu berputar lebih cepat, ke masa depan yang sangat jauh. Di mana kami akan diberi kebahagian sebagai ganjaran atas sabar yang kami derita. Tapi nyatanya satu menit yang berjalan masih menunggu detik ke-60. Semuanya melambat. Berbulan-bulan saya tenggelam dalam kesedihan. Alhamdulillah di samping saya ada suami yang sangat hebat. Meski nyatanya jarak puluhan ribu kilometer membentang, dia mengajari saya bagaimana melewati waktu dengan menyenangkan. Akhirnya dia memaksa saya menulis di bulan Agustus. Seperti membuka episode baru dalam perjalanan hidup. Saya mendeklarasikan diri sebagai penulis, meski hanya dalam hati saya sendiri.

Awalnya saya ingin menulis fiksi. Agar kesedihan tidak terus membenam dalam diri. Tapi kata suami saya, “Mamah jangan nulis fiksi, fiksi itu ga ada uangnya,” saya Cuma nyengir.

“Emang kita nulis nyari uang?” tanya saya bodoh.

“Ya iya dong, kalau mau kaya, jadi penulis jangan amatiran,” jawabnya.

“Tapi Mamah kan belum bisa nulis, baru belajar,” Sebenarnya dalam hati, saya selalu minder dan selalu merasa belum bisa menulis.

“Menulis itu yang penting melakukan, bukan memikirkan atau merasakan. Tulis saja, baru kalo sudah jadi baca ulang, pikirkan, rasakan, perbaiki. Jangan belum apa-apa maunya sempurna,” kata suami saya.

“Pokoknya 1 bulan 1 naskah buku,” kalimat ini terdengar mirip paksaan. Tapi saya melakukannya dengn senang hati. Jenuh, pastinya ada. Setelah satu naskah selesai satu bulan saya berhenti menulis.

“Emangnya ada yang mau nerbitin tulisan Mamah?” tanya saya.

“Ada dong, sekarang pilih penerbit yang cocok, ajukan proposal,”

“Tapi naskah ini jelek, mana ada yang mau nerbitin,”

“Wong belum dicoba kok nyerah duluan,”

Saya mulai lupa dengan ikrar menjadi penulis dalam hati itu. Setelah Bapak saya gusar dengan kelakuan saya yang sehari-hari cuma di kamar. Beliau mencarikan saya kerjaan. Mengajar di sekolah yang sangat jauh dari rumah. Beberapa bulan, baru saya bisa menyesuaikan dengan jadwal. Mulai menulis lagi.

Beberapa waktu lalu saya menambahkan freelance writer ke daftar pekerjaan saya di profil info FB. Hal itu akhirnya menuai protes dari suami. “Mamah kok kerjaannya freelance sih?”

“Loh emang kenapa? Kan Papah yang pengen Mamah menyatakan diri sebagai penulis,”

“Iya, Mamah itu penulis tapi bukan freelance, freelance itu asosiasinya serabutan. Karena ga ada kerjaan lain gitu!” jawab suami saya. Dengan bodohnya saya menjawab,

“Ooo, freelance itu artinya serabutan ya, mamah baru tahu, kirain bukan begitu artinya,”

“Pokoknya diganti,” katanya lagi.

“Diganti apa dong? Writer aja? Ntar orang salah baca jadi dikira waitress lagi. Ga mau ah,” lagian siapa sih yang ngintip profil info saya :P.

“Ya profesional writer atau profesional book writer atau fulltime writer atau apa gitu, wong Mamah kan bekerja sepenuh hati, kalo freelance tuh kesannya ga sepenuh hati gitu,”

“Iya deh,” akhirnya saya ganti juga jadi book writer.

“Kok iya deh? Yang kita kerjakan sepenuh hati harus kita hargai sepenuh hati dong, wong kalau nerima royalti aja sepenuh hati senangnya.”

Sekedar curhat,  melipat kembali kenangan-kenangan yang seharusnya tersimpan. Rasanya tak sabar menunggu bulan berikutnya. Menantikan buku-buku saya terbit dan naskah-naskah baru tercipta. Menirukan salah satu iklan sufor “Lets call on the curious and bring on the hope. Life starts here.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: