[Bukan] Review “Habibie & Ainun”

19 Mar

Sebelumnya saya sampaikan bahwa ini bukan review buku ataupun film “Habibie Ainun”.  melainkan curhatan saya setelah membaca buku tersebut. Bagi yang menginginkan review buku atau film tersebut, silahkan meluncur ke tempat lain.

November 2010, Hampir setiap minggu saya dan suami ke Gramedia Merdeka Bandung. Sekedar jalan-jalan atau memang berniat belanja. Saat itu, cover “Habibie & Ainun” terpajang besar-besaran. Tetapi saya tidak berminat membeli buku tersebut. Saya tidak begitu mengenal BJ. Habibie selain sebagai seorang mantan presiden yang pintar membuat pesawat terbang. Sebatas itu saja yang saya tahu, bahkan di mata saya, beliau adalah mantan politikus. Sama sekali tidak terlintas kesan dalam ingatan saya, bahwa dia adalah seorang ilmuwan.

Pernah sekali, saya bertanya ke suami, apakah dia tidak tertarik membeli atau setidaknya melihat isi buku “Habibie & Ainun”. Dia hanya menggeleng. Saya tidak mengulangi pertanyaan itu lagi. Saya juga bersepakat, tidak tertarik. Saat itu di pikiran saya, apa menariknya buku yang ditulis oleh mantan presiden. Kehidupannya berbeda dengan kehidupan saya. Lagipula saya membayangkan, seorang BJ. Habibie pasti menulis dengan sangat formal dan mungkin membosankan untuk dibaca.

Sampai akhir tahun 2012, banyak iklan di TV tentang film yang diangkat dari buku tersebut. Acara presiden nonton bersama juga masuk infotainment. Lalu, mendadak status teman di FB banyak yang mengutip petikan-petikan di film itu. Jujur, saya takjub dengan ungkapan-ungkapan Bu Ainun. Lalu melihat trailer filmnya, Bu Ainun diperankan oleh Bunga Citra Lestari. Tiba-tiba saya ingin sekali membaca bukunya. Mendadak ada perasaan tidak rela, jika akhinya saya membayangkan Bu Ainun adalah BCL.

Suatu malam, saya bilang sama suami kalau film “Habibie & Ainun” sedang rame. Suami saya hanya menanggapi singkat, “Iya kenapa?”. Saya bertanya apakah dia tidak penasaran, jawabnya datar. Ditunggu saja sebulan dua bulan pasti nanti ada di youtube, dan juga menurutnya trailernya jelek. Lalu saya bilang, bahwa saya penasaran ingin baca bukunya. Dia hanya menjawab singkat, “Ya, udah beli”. Ah, selalu begitu jawabannya ketika saya menginginkan sesuatu.

Banyak yang tergila-gila dengan kisah romantis “Habibie & Ainun”. Selepas membaca buku dan menonton filmnya, saya justru tahu, kisah cinta yang katanya sangat romantis itu, masih kalah jauh dengan kisah saya dengan suami. Saya berkali-kali bersyukur memiliki suami seromantis suami saya.

Orang barangkali boleh mengira saya tak seberuntung Bu Ainun, karena tidak mampu terus menyertai suami di manapun dia berada. Jarak memang memisahkan kami untuk sementara. Dalam jangka waktu yang telah jelas. Tetapi jarak itu tidak pernah menghalangi apapun di antara kami. Saya selalu bilang, apa bedanya jarak 1 cm dan ribuan km, kecuali hanya tidak bisa menyentuh. Dan sentuhan dengan hati, mungkin lebih dari segalanya dari pada cuma fisik. Meskipun sentuhan fisik beserta hati, jauh lebih sempurna.

Kadang ada orang bilang sama saya, yang sabar saja ya menanti suami. Kenapa harus sabar? Sabar biasanya berkonotasi ke arah penderitaan. Bahwa kita sedang mengalami cobaan. Saya selalu tersenyum dan bilang, kami tidak sedang menempuh cobaan. Jarak di antara kami adalah sesuatu yang kami rencanakan jauh-jauh hari sebelum kami bersatu. Ini bukan sebuah cobaan, bukan juga ujian. Tetapi keputusan bersama, sebuah pengorbanan yang harus kami bayar demi meraih cita-cita.

Banyak juga yang menyarankan agar saya ikut saja ke Belanda menemani suami. Tidak perlu khawatir hidup sederhana di sana. Tidak perlu khawatir dengan rejeki yang akan datang. Katanya, kalau kita yakin, rejeki akan datang dari mana saja. Apalagi di saat-saat Indonesia membatasi segala macam impor hasil pertanian. Biaya makan di Indonesia tidak begitu jauh dengan biaya di sana. Kadang-kadang saya juga berpikir sama seperti itu. Tetapi, alasan saya tidak menyertainya bukan sekedar takut tidak bisa makan di negeri orang. Bukan sekedar tidak berani hidup sederhana seperti yang bu Ainun pernah alami. Hidup di flat sempit, tidak punya mesin cuci, dan harus banyak bekerja lebih keras.

Ada banyak alasan, sehingga saya lebih baik tinggal di sini. Jika saya ikut suami, berarti kami hanya memikirkan kebahagian berdua saja. Kami punya tanggungjawab di sini, yang orang lain mungkin tak akan pernah bisa mengerti. Sekali lagi, jarak ini adalah pilihan kami bersama. Bukankah sebuah cita-cita selalu memerlukan pengorbanan untuk membayarnya?

Banyak orang meleleh melihat kutipan-kutipan dalam kisah “Habibie dan Ainun”. Kutipan-kutipan yang membuat saya penasaran ingin ikut membaca buku dan menonton filmnya. Saya tidak bermaksud membandingkan hidup keluarga saya dengan hidup bapak mantan presiden. Tentu saja berbeda dalam kapasitas masing-masing. Saya justru sangat bersyukur dengan kehidupan rumah tangga saya.

Saya sangat beruntung memiliki pendamping seperti suami saya. Dia yang tidak pernah berbuat apapun kecuali seijin saya. Tidak pernah memutuskan apapun, kecuali dengan keputusan saya. Dengan segala kesibukannya, tetap membagi waktu untuk memperhatikan saya. Yang meski sedang tertekan dengan tugas kuliah, tetap bersedia saya ganggu dengan hal-hal yang tidak penting.

“Kita ini orang beruntung ya, Ma” kata suami saya tengah malam kemarin, saat dia sedang sibuk mengejar deadline tugas.

“Kenapa?” Tanya saya.

“Karena kita berjodoh, Papah punya istri mamah, yang bisa mengerti Papah,” Jawabnya, sementara saya diam saja. Meskipun saya biasa dipuji, tetap saja saya tersanjung di setiap kalimatnya. Suami saya mampu membuat saya jatuh cinta berkali-kali, setiap waktu. Dia yang tetap memanggil saya cantik, meskipun baru bangun tidur.

Sepertinya, saya harus mengakhiri tulisan ini. Dan segera memulai halaman pertama buku tentang kami. Bukankah itu ide bagus? Tapi untuk jadi best seller mungkin nunggu suami saya jadi presiden kali ya terbitnya 😛

Advertisements

13 Responses to “[Bukan] Review “Habibie & Ainun””

  1. Rosa March 20, 2013 at 12:32 am #

    Waaaa… akhirnya mbak rahma nulis *ayeee
    saya justru selalu meleleh membaca kisah-kisah mbak rahma dan suami 🙂

  2. Aldenailag2003 March 20, 2013 at 2:49 am #

    So swee

  3. Uniek Kaswarganti March 20, 2013 at 5:16 am #

    hehehee…saya juga tak tertarik nonton Habibie & Ainun mba, terus terang ya gara2 ada BCLnya. lagian masih banyak koq contoh never lasting love di sekitar kita, ya kan mba, segitunya amat kudu beli buku dan nonton filmnya. nah klo the Lady, film tentang Aung San Su Kyii itu sampai dibela2in donlot sblm masuk ke Indonesia xixixiiii..
    Nice story of your family mba, semoga saya pun bisa sebahagia mb Rahma dan suami dalam menjalani biduk rumah tangga di kondisi apa pun

  4. Ceritaeka March 20, 2013 at 6:07 am #

    Intinya adalah bersyukur atas segala kondisi ya mbak.
    Salut sama pilihan hidup mbak. Semoga awet dan bahagia terus dengan suaminya walau jarak membentang ya mbak… 🙂

  5. Rahmi Aziza March 20, 2013 at 9:53 am #

    halo mba.. kunjungan perdana nih, hihihi masa nungguin suaminya jadi presiden dulu, bikin aja dulu crita2nya di blog, skalian menjaring fans, tar kalo udah banyak tawarin ke penerbit 😀

  6. PIPIT March 20, 2013 at 1:19 pm #

    hihii… lum sempet ke bioskop nonton movienya 😦

  7. Rahma Mauhibah March 20, 2013 at 8:45 pm #

    @PIPIT: Saya juga ga ke bioskop kok mba nontonnya, Hihihi 😀

  8. Rahma Mauhibah March 20, 2013 at 8:45 pm #

    @Rahmi Aziza: Iya mba, nulis ceritanya sekarang. Terbitnya nunggu suami jadi presiden biar sensasional 😀

  9. Rahma Mauhibah March 20, 2013 at 8:46 pm #

    @Ceritaeka: Amiin, makasih mba.

  10. Rahma Mauhibah March 20, 2013 at 8:47 pm #

    @Uniek Kaswarganti: Justru karena yang main BCL mba, saya jadi ngerasa wajib baca bukunya duu keburu filmnya nongol di TV ntar. Ga mau ngebayangin klo BCL adalah Bu Ainun 🙂

  11. Rahma Mauhibah March 20, 2013 at 8:58 pm #

    @Aldenailag2003: Sweet banget ya mba Dew 😀

  12. Rahma Mauhibah March 20, 2013 at 8:58 pm #

    @Rosa: Iya akhirnya nulis lagi 😀

  13. Hidayah Sulistyowati March 23, 2013 at 3:41 am #

    Baru berkunjung ke rumahmu Rahmi…. cerita yang manis, ayo nulis lagi tentang keluarga n orang-orang terdekat. Semoga bisa menginspirasi dari kisah-kisah yang kita tulis.
    Btw, moga selalu bahagia dunia dan akhirat ya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: