Archive | Berbagi RSS feed for this section

[Buku Baru] TRIK CERDAS PALING CADAS PINTAR MATEMATIKA SMA

29 Sep

Trik Cerdas Oaling Cadas Matematika SMA

No. ISBN 9797806588
Penulis AL JUPRI DAN ROHMA MAUHIBAH
Penerbit PandaMedia 
Tanggal terbit September – 2013

[Bukan] Review “Habibie & Ainun”

19 Mar

Sebelumnya saya sampaikan bahwa ini bukan review buku ataupun film “Habibie Ainun”.  melainkan curhatan saya setelah membaca buku tersebut. Bagi yang menginginkan review buku atau film tersebut, silahkan meluncur ke tempat lain.

November 2010, Hampir setiap minggu saya dan suami ke Gramedia Merdeka Bandung. Sekedar jalan-jalan atau memang berniat belanja. Saat itu, cover “Habibie & Ainun” terpajang besar-besaran. Tetapi saya tidak berminat membeli buku tersebut. Saya tidak begitu mengenal BJ. Habibie selain sebagai seorang mantan presiden yang pintar membuat pesawat terbang. Sebatas itu saja yang saya tahu, bahkan di mata saya, beliau adalah mantan politikus. Sama sekali tidak terlintas kesan dalam ingatan saya, bahwa dia adalah seorang ilmuwan.

Pernah sekali, saya bertanya ke suami, apakah dia tidak tertarik membeli atau setidaknya melihat isi buku “Habibie & Ainun”. Dia hanya menggeleng. Saya tidak mengulangi pertanyaan itu lagi. Saya juga bersepakat, tidak tertarik. Saat itu di pikiran saya, apa menariknya buku yang ditulis oleh mantan presiden. Kehidupannya berbeda dengan kehidupan saya. Lagipula saya membayangkan, seorang BJ. Habibie pasti menulis dengan sangat formal dan mungkin membosankan untuk dibaca.

Sampai akhir tahun 2012, banyak iklan di TV tentang film yang diangkat dari buku tersebut. Acara presiden nonton bersama juga masuk infotainment. Lalu, mendadak status teman di FB banyak yang mengutip petikan-petikan di film itu. Jujur, saya takjub dengan ungkapan-ungkapan Bu Ainun. Lalu melihat trailer filmnya, Bu Ainun diperankan oleh Bunga Citra Lestari. Tiba-tiba saya ingin sekali membaca bukunya. Mendadak ada perasaan tidak rela, jika akhinya saya membayangkan Bu Ainun adalah BCL.

Suatu malam, saya bilang sama suami kalau film “Habibie & Ainun” sedang rame. Suami saya hanya menanggapi singkat, “Iya kenapa?”. Saya bertanya apakah dia tidak penasaran, jawabnya datar. Ditunggu saja sebulan dua bulan pasti nanti ada di youtube, dan juga menurutnya trailernya jelek. Lalu saya bilang, bahwa saya penasaran ingin baca bukunya. Dia hanya menjawab singkat, “Ya, udah beli”. Ah, selalu begitu jawabannya ketika saya menginginkan sesuatu.

Banyak yang tergila-gila dengan kisah romantis “Habibie & Ainun”. Selepas membaca buku dan menonton filmnya, saya justru tahu, kisah cinta yang katanya sangat romantis itu, masih kalah jauh dengan kisah saya dengan suami. Saya berkali-kali bersyukur memiliki suami seromantis suami saya.

Orang barangkali boleh mengira saya tak seberuntung Bu Ainun, karena tidak mampu terus menyertai suami di manapun dia berada. Jarak memang memisahkan kami untuk sementara. Dalam jangka waktu yang telah jelas. Tetapi jarak itu tidak pernah menghalangi apapun di antara kami. Saya selalu bilang, apa bedanya jarak 1 cm dan ribuan km, kecuali hanya tidak bisa menyentuh. Dan sentuhan dengan hati, mungkin lebih dari segalanya dari pada cuma fisik. Meskipun sentuhan fisik beserta hati, jauh lebih sempurna.

Kadang ada orang bilang sama saya, yang sabar saja ya menanti suami. Kenapa harus sabar? Sabar biasanya berkonotasi ke arah penderitaan. Bahwa kita sedang mengalami cobaan. Saya selalu tersenyum dan bilang, kami tidak sedang menempuh cobaan. Jarak di antara kami adalah sesuatu yang kami rencanakan jauh-jauh hari sebelum kami bersatu. Ini bukan sebuah cobaan, bukan juga ujian. Tetapi keputusan bersama, sebuah pengorbanan yang harus kami bayar demi meraih cita-cita.

Banyak juga yang menyarankan agar saya ikut saja ke Belanda menemani suami. Tidak perlu khawatir hidup sederhana di sana. Tidak perlu khawatir dengan rejeki yang akan datang. Katanya, kalau kita yakin, rejeki akan datang dari mana saja. Apalagi di saat-saat Indonesia membatasi segala macam impor hasil pertanian. Biaya makan di Indonesia tidak begitu jauh dengan biaya di sana. Kadang-kadang saya juga berpikir sama seperti itu. Tetapi, alasan saya tidak menyertainya bukan sekedar takut tidak bisa makan di negeri orang. Bukan sekedar tidak berani hidup sederhana seperti yang bu Ainun pernah alami. Hidup di flat sempit, tidak punya mesin cuci, dan harus banyak bekerja lebih keras.

Ada banyak alasan, sehingga saya lebih baik tinggal di sini. Jika saya ikut suami, berarti kami hanya memikirkan kebahagian berdua saja. Kami punya tanggungjawab di sini, yang orang lain mungkin tak akan pernah bisa mengerti. Sekali lagi, jarak ini adalah pilihan kami bersama. Bukankah sebuah cita-cita selalu memerlukan pengorbanan untuk membayarnya?

Banyak orang meleleh melihat kutipan-kutipan dalam kisah “Habibie dan Ainun”. Kutipan-kutipan yang membuat saya penasaran ingin ikut membaca buku dan menonton filmnya. Saya tidak bermaksud membandingkan hidup keluarga saya dengan hidup bapak mantan presiden. Tentu saja berbeda dalam kapasitas masing-masing. Saya justru sangat bersyukur dengan kehidupan rumah tangga saya.

Saya sangat beruntung memiliki pendamping seperti suami saya. Dia yang tidak pernah berbuat apapun kecuali seijin saya. Tidak pernah memutuskan apapun, kecuali dengan keputusan saya. Dengan segala kesibukannya, tetap membagi waktu untuk memperhatikan saya. Yang meski sedang tertekan dengan tugas kuliah, tetap bersedia saya ganggu dengan hal-hal yang tidak penting.

“Kita ini orang beruntung ya, Ma” kata suami saya tengah malam kemarin, saat dia sedang sibuk mengejar deadline tugas.

“Kenapa?” Tanya saya.

“Karena kita berjodoh, Papah punya istri mamah, yang bisa mengerti Papah,” Jawabnya, sementara saya diam saja. Meskipun saya biasa dipuji, tetap saja saya tersanjung di setiap kalimatnya. Suami saya mampu membuat saya jatuh cinta berkali-kali, setiap waktu. Dia yang tetap memanggil saya cantik, meskipun baru bangun tidur.

Sepertinya, saya harus mengakhiri tulisan ini. Dan segera memulai halaman pertama buku tentang kami. Bukankah itu ide bagus? Tapi untuk jadi best seller mungkin nunggu suami saya jadi presiden kali ya terbitnya 😛

Kisah Cinta di Balik Lahirnya “Ringkasan Lengkap Matematika SD”

1 Jun

Penulis:  Rohma Mauhibah, S.Pd. & Al Jupri, S.Pd., M.Sc.

Ukuran: 13 x 18 cm

Tebal: vi + 266 hlm

Penerbit: Indonesia Tera

ISBN: 979-775-160-0

Harga: Rp32.500,-

______________________________

Minggu-minggu akhir  Mei, saya sudah was-was. Tak kunjung ada kabar dari penerbit, kapan buku saya lahir. Ternyata, sore terakhir di bulan Mei sepulang dari sekolah, ada sms dari redaksi. Katanya royalti buku  yang berjudul “Ringkasan Lengkap Matematika SD” sudah ditransfer sejak 21 mei 2012. Senang? Tentu saja. Tetapi masih belum puas, karena belum menerima sendiri bukti fisik bukunya. Sepulang dari sekolah siang ini, mata saya menabrak sebuah paket di meja. Tanpa menebak apa isinya, saya langsung kegirangan dan berseru “Alhmadulillah”. Benar saja, itu adalah bukti terbit buku yang saya tunggu-tunggu.

Menunggu terbitnya sebuah buku ini, mirip menunggu kelahiran sang buah hati. Saya tidak menemukan analogi yang lebih tepat selain itu. Mirip apanya? Mirip waktu, proses dan perasaannya. Kok bisa? Butuh waktu 9 bulan untuk memproses buku tersebut. Di mana 9 bulan itu bisa dibagi menjadi 3 trimester. Aduh, ini mau bercerita tentang proses pembuatan buku atau proses kehamilan sih?  Mungkin keduanya.

Trimester Pertama

Bermula di bulan agustus 2011. Di tengah kegalauan yang luar biasa. Depresi pasca kehilangan sang buah hati, saya seperti kehilangan arah.

“Mama harus menulis agar kesedihan itu ga berlarut-larut,” hibur suami saya dari ujung benua lain.

Akhirnya, suami saya berhasil meyakinkan saya untuk menulis buku SD. Menulis sesuatu yang saya mampu. Menulis hal ringan agar tak terasa sebagai beban. Benar saja, saya begitu menikmati setiap tarian jemari. Naskah buku yang berisi 16 bab ini selesai dalam 30 hari. Saya memulainya 1 Ramadhan dan selesai di malam takbir.

Selanjutnya, saya berpusing-pusing ria membaca ulang naskah itu. Memperbaiki sana-sini. Karena saya menganut aliran “TUBE”. Yaitu Tulis semua, Baca ulang baru kemudian Edit. Setelah selesai, saya simpan saja di komputer. Sampai lupa bahwa saya sudah menyelesaikan sebuah naskah.

Trimester Kedua

Suami saya meyakinkan bahwa naskah yang sudah hampir 3 bulan ngendon di folder komputer ini segera dikirim ke penerbit. Saya selalu berkelit dengan berbagai alasan. Sampai akhirnya saya terpaksa memberanikan diri mengirimkan naskah ini.

14 Desember 2011 saya mengirim email ke Indonesia Tera (kelompok penerbit Agromedia grup). yang dibalas oleh redakturnya 4 hari kemudian. Membaca email balasan itu saya langsung jingkrak-jingkrak. Aih, norak :D. Maklum, ini adalah kali pertama saya mengajukan ke penerbit dan di terima. Karena sebelumnya saya hanya join suami menulis.

Hampir tak percaya, saya telepon penerbitnya. Konfirmasi email yang saya terima, menanyakan sistem royalti dan surat perjanjian. Akhirnya deal, saya memilih sistem royalti bukan jual putus. Sebulan kemudian, surat perjanjian penerbitan saya terima.

Harusnya Trimester kedua ini saatnya Ibu hamil sedikit santai. Tapi bagi saya dalam memproses buku ini, trimester dua sangat sibuk. Edit sana-sini menambahkan materi yang diminta editor. Karena katanya, akan diterbitkan di bulan maret.

Ternyata, berdasakan rapat redaksi, buku ini diundur terbitnya. Menunggu momen yang tepat untuk lahir. Karena buku ini adalah buku pelajaran,  maka waktu paling tepat adalah tahun ajaran baru.

Trimester Ketiga

Nah, nah memasuki trimester ini siapapun ibu hamil mulai ga sabar menunggu kelahiran sang buah hati. Begitu juga saya. Sangat tidak sabar menunggu mei. Menghitung setiap detiknya. Merasakan setiap penandanya.

Meskipun buku ini matematika, namun bagi saya buku ini adalah cerita cinta. Kebangkitan saya dari keterpurukan. Hadiah ulang tahun untuk buah hati kami di surga. Sebuah buah cinta di tahun ke dua pernikahan kami. Karena sejatinya kami menikah tidak cuma urusan hati, apalagi cuma tubuh. Kami menikah penuh, dengan seluruh pikiran.

Ok, akhirnya panjang lebar, ujung-ujungnya promonya ya ……… Segera dapatkan di toko buku terdekat. Cocok untuk hadiah anak-anak, adik-adik atau tetangga-tetangga. 🙂

Nantikan buku-buku duet kami yang akan segera menyusul yaaaa!!

Arti Sebuah Komunitas

20 Apr

Lulus kuliah, menikah dan pindah tinggal di Bandung membuat saya kehilangan kontak dengan sejumlah teman. Apalagi euforia menikah, rasanya dunia milik kita berdua. Saya merasa tak lagi butuh bergaul dengan siapapun. Benar saja selama lebih dari enam bulan, saya tidak berteman dengan siapapun kecuali suami saya. Selain ngobrol dengan suami, kalimat yang saya keluarkan pun sangat terbatas. Mungkin hanya berkisar punten, nuhun, terima kasih, maaf, berapa, kiri (nyetop angkot) dan kata-kata pendek sejenisnya. Kehidupan online saya pun stuck.

Saya tidak begitu tertarik dengan jejaring sosial. Teman-teman di FB saya kebanyakan adalah teman-teman atau mahasiswa suami yang menambahkan saya di daftar pertemanan.  Sementara teman saya sendiri sangat sedikit. Sampai ketika suami harus melanjutkan studi ke negeri kincir angin, dan saya kembali ke kampung halaman. Mau tidak mau demi efisiensi, saya menggunakan jejaring sosial untuk berkomunikasi dengannya. Sementara hubungan saya dengan lingkungan sekitar tetap saja pasif. Saya di rumah saja, cenderung di kamar saja.

Barangkali karena saya termasuk homo homini socius, maka saya tetap membutuhkan komunitas. Sayangnya saya tidak menemukan komunitas yang cocok di sekitar saya. Komunitas remaja masjid tentu saja tidak cocok bagi saya. Sedangkan komunitas ibu-ibu yang ada barangkali hanya komunitas ngerumpi, komunitas pengajian yang barangkali umurnya tidak asyik bagi saya. Akhirnya saya mencari komunitas online dalam rangka memenuhi kebutuhan sosial saya.

Tadinya saya mulai bergabung di beberapa milis (mailing list). Diantaranya milis kesehatan, parenting dan kuliner. Merasa menemukan tempat gaul yang sangat asyik. Teman ngobrol yang nyambung. Tapi kendalanya ikutan milis yang sangat aktif itu tiap hari inbox dipenuhi ratusan email dari milis. Barangkali saya bisa setting ke digest agar email yang masuk tidak lebih dari 10 email sehari. Tapi saya memilih keluar dari milis-milis tersebut. Alasannya mulai malas memeriksa email. Email-email penting jadi tercampur dan susah diidentifikasi. Sebaiknya kita memang punya akun email tersendiri buat milis. Sehingga banyaknya email milis tidak mengganggu email kerjaan.

Beberapa bulan saya tidak mengikuti komunitas apapun. Sampai akhirnya saya membaca berita di Kompas online tentang grup Ibu-Ibu Doyan Nulis di FB. Saya join. Kemudian join komunitas-komunitas kepenulisan yang lain-lain. Saya bersyukur, saya masih tertarik mengikuti komunitas-komunitas. Ini menandakan bahwa saya belum anti sosial. Karena di dunia nyata, saya sangat kurang berinteraksi dengan masyarakat.

Bagi saya masuk ke dalam komunitas online itu rasanya sama dengan ikut komunitas offline. Intinya bergaul. Tata kramanya sama. Bagi saya yang agak canggung bergaul dengan orang-orang baru, komunitas online lebih memberi keuntungan. Karena kita tidak bertatap muka secara langsung. Bukan maksud bersembunyi dari identitas asli, tapi dunia maya memberi kita jeda waktu berpikir lebih banyak dalam berkomunikasi. Ini salah satu kelebihan menurut saya. Kelebihan lain, komunitas online memangkas ruang dan waktu untuk saling berbagi. Lebih efektif. Bisa kita lakukan sambil mengerjakan banyak hal.

Rasanya, benar sekali bahwa kalau kita ingin tahu kepribadian seseorang, lihat lah siapa teman-temannya. Memang, masuk ke dalam komunitas tertentu tidak serta-merta menjadikan kita sama dengan mereka. Misalnya masuk ke dalam komunitas penulis tidak akan menjadikan kita seorang penulis tanpa kita menulis. Atau masuk ke dalam komunitas bakul kue tidak akan menyulap kita jadi bakul kue. Tetapi setidaknya dengan berbagi aktif memberi atau sekedar menyimak mengambil informasi saja adalah bagian dari belajar untuk “menjadi”.

Adakah keuntungannya masuk dalam komunitas-komunitas itu? Harus ada. Kalau tidak untuk apa bergabung. Yang jelas nambah teman, nambah informasi, mengurangi kuper akut dan juga ada aktivitas buat mengisi waktu luang biar tidak hanya bengong. Eh, bukankah berjamaah pahalanya 27 kali lipat dari pada sendirian?

Ini menurut saya, bagaimana menurut anda?

Berusaha Melipat Kenangan

20 Apr

Rasanya menapaki bulan April ini sangat berat. Tahun seperti berkurang satu. Hari-hari berjalan mundur. Seolah saya terlempar kembali ke 2011. Masih lekat sekali dalam ingatan, bulan april setahun lalu saya dan suami sedang berbahagia. Mencari-cari nama yang cocok untuk buah hati kami. Sambil terus menulis tambahan untuk naskah buku yang sedang kami persiapkan. Sebuah buku yang kami janjikan sebagai kado untuk menyambut kelahiran putri kami.

Sampai saat ini saya belum bisa bercerita dengan baik mengenai apa yang terjadi dan apa yang saya rasakan saat-saat persalinan. Bukan karena saya dibius di meja operasi. Bahkan saya masih mengingat semua detilnya. Mengingat suara dentingan alat-alat bedah. Doa-doa dan semua harapan, yang jelas, saya seperti terhempas dari mimpi indah yang sangat panjang. Saya dan suami saya. Kami harus menerima kenyataan bahwa buah hati kami tidak akan berumur panjang.

Setelah hari itu hidup saya serasa berakhir di bulan Mei. Saya selalu berharap waktu berputar lebih cepat, ke masa depan yang sangat jauh. Di mana kami akan diberi kebahagian sebagai ganjaran atas sabar yang kami derita. Tapi nyatanya satu menit yang berjalan masih menunggu detik ke-60. Semuanya melambat. Berbulan-bulan saya tenggelam dalam kesedihan. Alhamdulillah di samping saya ada suami yang sangat hebat. Meski nyatanya jarak puluhan ribu kilometer membentang, dia mengajari saya bagaimana melewati waktu dengan menyenangkan. Akhirnya dia memaksa saya menulis di bulan Agustus. Seperti membuka episode baru dalam perjalanan hidup. Saya mendeklarasikan diri sebagai penulis, meski hanya dalam hati saya sendiri.

Awalnya saya ingin menulis fiksi. Agar kesedihan tidak terus membenam dalam diri. Tapi kata suami saya, “Mamah jangan nulis fiksi, fiksi itu ga ada uangnya,” saya Cuma nyengir.

“Emang kita nulis nyari uang?” tanya saya bodoh.

“Ya iya dong, kalau mau kaya, jadi penulis jangan amatiran,” jawabnya.

“Tapi Mamah kan belum bisa nulis, baru belajar,” Sebenarnya dalam hati, saya selalu minder dan selalu merasa belum bisa menulis.

“Menulis itu yang penting melakukan, bukan memikirkan atau merasakan. Tulis saja, baru kalo sudah jadi baca ulang, pikirkan, rasakan, perbaiki. Jangan belum apa-apa maunya sempurna,” kata suami saya.

“Pokoknya 1 bulan 1 naskah buku,” kalimat ini terdengar mirip paksaan. Tapi saya melakukannya dengn senang hati. Jenuh, pastinya ada. Setelah satu naskah selesai satu bulan saya berhenti menulis.

“Emangnya ada yang mau nerbitin tulisan Mamah?” tanya saya.

“Ada dong, sekarang pilih penerbit yang cocok, ajukan proposal,”

“Tapi naskah ini jelek, mana ada yang mau nerbitin,”

“Wong belum dicoba kok nyerah duluan,”

Saya mulai lupa dengan ikrar menjadi penulis dalam hati itu. Setelah Bapak saya gusar dengan kelakuan saya yang sehari-hari cuma di kamar. Beliau mencarikan saya kerjaan. Mengajar di sekolah yang sangat jauh dari rumah. Beberapa bulan, baru saya bisa menyesuaikan dengan jadwal. Mulai menulis lagi.

Beberapa waktu lalu saya menambahkan freelance writer ke daftar pekerjaan saya di profil info FB. Hal itu akhirnya menuai protes dari suami. “Mamah kok kerjaannya freelance sih?”

“Loh emang kenapa? Kan Papah yang pengen Mamah menyatakan diri sebagai penulis,”

“Iya, Mamah itu penulis tapi bukan freelance, freelance itu asosiasinya serabutan. Karena ga ada kerjaan lain gitu!” jawab suami saya. Dengan bodohnya saya menjawab,

“Ooo, freelance itu artinya serabutan ya, mamah baru tahu, kirain bukan begitu artinya,”

“Pokoknya diganti,” katanya lagi.

“Diganti apa dong? Writer aja? Ntar orang salah baca jadi dikira waitress lagi. Ga mau ah,” lagian siapa sih yang ngintip profil info saya :P.

“Ya profesional writer atau profesional book writer atau fulltime writer atau apa gitu, wong Mamah kan bekerja sepenuh hati, kalo freelance tuh kesannya ga sepenuh hati gitu,”

“Iya deh,” akhirnya saya ganti juga jadi book writer.

“Kok iya deh? Yang kita kerjakan sepenuh hati harus kita hargai sepenuh hati dong, wong kalau nerima royalti aja sepenuh hati senangnya.”

Sekedar curhat,  melipat kembali kenangan-kenangan yang seharusnya tersimpan. Rasanya tak sabar menunggu bulan berikutnya. Menantikan buku-buku saya terbit dan naskah-naskah baru tercipta. Menirukan salah satu iklan sufor “Lets call on the curious and bring on the hope. Life starts here.

Mimpi yang Sempurna

30 Dec

Wisma Dinkes Ambarawa, 31 Desember 2008. Tiba-tiba saja saya teringat hari itu. Kurang sehari lagi, hari itu akan genap membilang 3 tahun berlalu. Hari itu saya adalah mahasiswa semester 5 dan salah satu karyawan Campusnet –warnet besar di Semarang. Kenapa di Ambarawa? Ceritanya sedang ada acara yang diadakan Campusnet yang bertempat di Ambarawa. Acaranya tentang refleksi akhir tahun dan resolusi tahun baru. Kami disuruh membawa foto-foto tentang orang yang paling berarti dalam hidup kita. Banyak dari kami yang membawa foto-foto keluarga, foto pacar, foto sahabat, dll. Dari foto-foto itu, kami harus menuliskan diskripsi singkat tentang foto itu.

Saat itu saya hanya membawa foto seseorang di depan menara Eiffel. Deskripsinya sangat singkat: Dia sahabat, yang mengenalkan pada saya tentang mimpi, harapan, cita-cita dan cinta. So sweet ya? :D. Dulu saya hanya mengambil foto itu dari blognya. Ijin lewat sms untuk memprint fotonya dan membawanya untuk tugas. Tentu saja dia bertanya-tanya kenapa saya memilih fotonya. Hahay, saat itu cinta masih samar-samar ya sayang :P. Sementara dalam hati saya membatin, kenapa saya memilih fotonya, karena dia termasuk resolusi besar saya di tahun baru yang akan datang, 2009. Saya harus bertemu dengannya, dan memperjelas hubungan kami. 😀

Continue reading

Cita-cita dan Cinta

9 Aug

Apa cita-citamu waktu kecil? Jadi dokter, pramugari, perawat, guru, pedagang? Atau jangan-jangan ingin berguna bagi nusa dan bangsa? :D. Kerap kali anak-anak menjawab itu ketika ditanya tentang cita-cita. Tidak hanya anak zaman dulu ya, mungkin masih banyak anak-anak zaman sekarang menjawab seperti itu ketika ditanya tentang cita-cita. Sebenarnya siapa sih pencipta pertama cita-cita “ingin berguna bagi nusa dan bangsa”? Ada yang tahu?

Saya tidak tahu apa saja profesi yang kerap kali berkelindan di benak anak-anak. Pertama kali saya mengenal cita-cita, kelas 1 SD. Seandainya saya pernah masuk TK, mungkin saya akan mengenal cita-cita ketika seusia Upin-Ipin dkk. Sejak saat itu saya ingin menjadi guru yang berpenampilan menarik, terlihat cerdas, cantik, memakai baju bagus, berkacamata, bersepatu hak tinggi, dsb. Namanya juga anak-anak. Belum jelas apa maunya. Demi cita-cita itu, saya sering bertingkah sendiri di depan kaca, seolah-olah sedang menjadi guru. Malu mengingat kekonyolan semasa kecil.

Sampai umur bertambah ternyata kalau ditanya cita-citanya ingin jadi apa, tetap jawabnya ingin jadi guru. Tapi tentu saja imajinasinya bertambah. Ketika pelajaran IPS tentang transmigrasi, maka saya berkhayal jika besar nanti saya ingin ikut program transmigrasi yang diadakan pemerintah -Btw, sekarang masih ada program transmigrasi ga ya?- . Saya akan membangun rumah kecil yang sederhana. Berisi satu kamar tidur, dapur, kamar mandi, ruang kerja dan ruang tamu. Ketika pelajaran IPA tentang holtikultura, maka saya menginginkan rumah saya dilengkapai dengan pekarangan yang sangat luas. Akan ada apotik hidup, palawija dan aneka ragam bunga-bunga yang mekar di sana. Yang akan menjadi aktivitas saya setiap sore. Karena profesi saya nantinya jadi guru, jadi kan cuma bekerja setengah hari. Saya juga ingin kolam di pekarangan saya, biar pikiran bisa senantiasa sejuk. Lalu, jika malam hari, saya akan mengundang anak-anak untuk belajar di rumah saya. Maka, saya harus mempunyai banyak buku cerita agar anak-anak tertarik datang ke rumah. O lala, begitu indah ya? 😀

Continue reading

Cerita Hari ini: Saya Bisa Bercerita

22 Feb

Seorang guru matematika kelas VII masuk ke dalam ruang kelas. Menyalami murid-muridnya dengan muka berseri-seri. Maklum seorang guru baru, dia tidak ingin dikenal galak oleh muridnya. Tetapi dia tetap  saja gagal membangun kesan itu. Wajah-wajah yang dihadapannya lesu, tak bersemangat. Padahal dia belum menanyakan pekerjaan rumah yang diberikan kemarin. Tidak juga menyuruh mereka mengerjakan soal di papan tulis yang menjadi hobi guru-guru matematika.

“Baiklah, ada cerita menarik untuk membuka pelajaran kali ini,” tak hilang akal, si guru itu berusaha menarik perhatian muridnya.

“Mau diceritain ga?” tanya si guru.

“Mauuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu, tapi ga mau soal matematika,” jawab murid-murid itu serempak. Si guru tersenyum, lalu berceritalah dia tentang kisah berikut ini:

Ada seorang petani memiliki tiga orang anak.  Ahmad, Budi, dan Ani. Petani itu memiliki ternak kambing. Setiap hari, Ahmad membantu untuk menggembalakan kambing. Budi yang masih sekolah kelas VII SMP, kadang-kadang ikut membantu kakaknya menggembalakan kambing. Sedangkan Ani, anak perempuan satu-satunya yang masih duduk di kelas III SD hanya di rumah saja. Pada suatu hari, karena merasa sudah tua, Pak Tani tersebut berpesan kepada tiga anaknya. Nanti kalau sewaktu-waktu Pak Tani meninggal, Pak Tani ingin memberikan setengah jumlah ternak kepada Ahmad, sepertiga bagian kepada Budi, dan sepersembilan untuk Ani.

Pada suatu hari, Pak Tani tersebut meninggal dunia. Setelah selesai semua urusannya, Ahmad mengajak adiknya untuk menghitung jumlah kambing agar bisa dibagi sesuai pesan ayahnya. Ternyata jumlah semuanya ada 17. Setelah berpikir agak lama, Ahmad menyerah. Dia bingung bagaimana cara membagi kambing tersebut. Setengah dari 17? Sepertiga dari 17? Sepersembilan dari 17?

Di tengah kebingungan Ahmad, Budi mengusulkan kepada kakaknya untuk meminjam satu kambing Pak Karto, tetangganya. Sehingga jumlah kambing menjadi 18 dan mereka bisa membagi kambing-kambing itu dengan mudah.

\frac{1}{2} x 18 kambing= 9 kambing untuk Ahmad

\frac{1}{3} x 18 kambing= 6 kambing untuk Budi

\frac{1}{9} x 18 kambing= 2 kambing untuk Ani

Jadi jumlah semua menjadi 9+6+2= 17 kambing. Lalu Budi mengembalikan kambing Pak Karto lagi. Selesailah masalah mereka. Ahmad bangga dengan adiknya yang pintar.

“Bagaimana semuanya? Bagus tidak ceritanya? Bagaimana menurut kalian yang dilakukan Budi?” tanya si guru mengakhiri ceritanya dengan puas, lantaran murid-muridnya antusias menyimak dia bercerita.

“Bagus Buuu, Budi pintar,” kata mereka.

???

“Iya Budi kreatif, kalau kalian ingin lebih pintar dari Budi yuk kita belajar tentang pecahan sekarang,” kata si guru.

“Tahu tidak kalau yang dilakukan Budi itu tidak tepat?” tanya si guru lagi. Murid-muridnya berpandangan dan menggeleng. Di dalam hatinya si guru bertanya-tanya, apakah anak kelas VII belum bisa memahami kesalahan seperti itu ya? Seandainya mereka paham cerita ini akan menjadi lucu dan mereka akan tertawa. Tetapi yang ada, mereka terpesona dengan Budi yang menurut mereka brilliant.

***

Kisah di atas adalah kisah saya ketika saya berada di Madrasah Tsanawiyah sebuah yayasan yatim piatu di pelosok semarang barat. Ketika saya menceritakan hal itu padanya, dia bilang “Mungkin kamu ga bisa cerita kali, atau kamu ceritanya membingungkan sehingga mereka ga paham.” Ugh, jadi saya ga bisa cerita?

Kisah lain yang serupa, seminggu dua kali biasanya saya diundang Adin untuk belajar bersama. Adin sekarang duduk di kelas IX di SMP Negeri 03 Semarang. Biasanya setelah 40 menitan lewat, dia akan menunjukkan kebosanannya. Lalu dia akan bercerita tentang apa saja atau kalau tidak dia akan memaksa saya bercerita. Nah karena saya bingung harus cerita apa, saya ceritakan saja cerita di atas.

“Pasti ujung-ujungnya matematika, ga asyik mbak, tuh kan sama aja kayak soal cerita,” belum-belum Adin sudah komentar.

Dengerin dulu, yang ini lucu,” kata saya, berharap dia akan terhibur. Lalu saya menyelesaikan cerita saya.

“Apanya yang lucu? Toh cerita itu sama dengan soal-soal cerita yang ada di buku,” katanya.

“Kenapa sih yang bikin soal matematika suka sekali dengan kisah Pak Tani, sebidang sawah dan yang itu-itu? Bosan tahu,” lanjutnya.

Saya terdiam. Seharusnya saya menceritakan sesuatu yang dekat dengan Adin. Ketika saya bercerita mengenai Pak Tani, kambing dan anak-anak desa, dia tidak mungkin tertarik karena semua itu asing dari kehidupannya. Tetapi seharusnya dia paham bahwa cerita itu lucu. Bahwa yang dilakukan Budi adalah sesuatu yang konyol. Bukankah dia sudah mempelajari tentang pecahan?

***

“Mungkin anak seumuran SMP belum bisa memahami bahwa cerita tersebut konyol,” kata Nayla, teman saya, ketika saya bercerita padanya. Saya benar-benar penasaran. Benarkah saya tidak bisa bercerita pada anak-anak sehingga mereka tidak menangkap maksud yang ingin saya sampaikan?

“Kalau menurut saya bukan salah kamunya yang cerita, nyatanya saya tahu apa yang kamu maksud,” kata Nayla lagi. “Kamu sendiri kapan paham cerita itu?” tanyanya.

“Saya tahu cerita itu baru sih, saat sudah kuliah,” jawab saya.

“Nah, makanya jangan berharap anak-anak bisa sama dengan pikiranmu, mereka kan masih SMP sedangkan kamu sudah kuliah ya ga sama lah!” tanggapnya.

“Jadi maksudmu? Saya bisa bercerita dengan baik?” kali ini saya merasa senang.

“Siapa yang bilang begitu?”

“Dasar!”

Kesimpulannya tetep,  saya bisa bercerita kan? :-p

Cinta itu Kompleks

3 Jan

Ketika sedang nyari-nyari gambar bertemakan love di glitter-graphic.com saya menemukan gambar di samping. Satu-satunya gambar yang menarik perhatian saya lantaran kalimat My love for you ends with the last digit of pi. Walaupun kalimat tersebut terkesan rayuan gombal tapi tidak murahan. Coba bandingkan dengan yang ini: I love you forever, klise kan? terasa kah bedanya?

Cukup kreatif dan saya yakin tidak semua orang bisa diberi ungkapan dengan kalimat tersebut. Bagaimana kalau kalimat itu dikatakan pada orang yang tidak mengerti matematika? Kepada yang tidak tahu bahwa pi tidak mempunyai digit terakhir? Atau kalimat tersebut diungkapkan pada orang yang hanya tahu matematika dan suka mengartikan kalimat apa adanya, jadi salah kan kalimatnya? Pasti responnya, “Pi itu ga punya digit terakhir, sayang.” Ga jadi romantis kan?

Pi seperti yang telah kita pelajari adalah rasio antara keliling dengan diameter suatu lingkaran yang menghasilkan bilangan  yang tidak pernah berhenti. Bilangan riil yang tidak bisa dibagi (hasil baginya tidak pernah berhenti) disebut bilangan irasional. Jadi pi adalah bilangan irasional.

Nah, katanya cinta itu irasional. Entah siapa yang mengatakannya, tapi kebanyakan orang menyepakatinya. Irasional itu menurut kamus adalah tidak berdasarkan akal (penalaran) yang sehat, tidak masuk akal, tidak terhitung lagi.

Tapi menurut saya, tidak semua cinta itu irasional. Bukankah banyak sekali rasa cinta yang saya punya dan itu masuk akal? Jika saya mendefinisikan cinta yang irasional adalah cinta yang tidak mempunyai alasan yang masuk akal., maka cinta kepada Allah, adalah cinta yang rasional. Cinta kepada kedua orang tua, adalah cinta yang rasional. Lalu cinta pada saudara-saudara saya, pada lingkungan sekitar (apakah saya mencintai lingkungan?), pada diri saya, semuanya adalah cinta yang rasional.

Lalu mana cinta saya yang irasional? Kok susah ya nyari contoh cinta yang tidak masuk akal?

Cinta itu rasional dan irasional maka cinta itu riil. Bahkan bisa jadi cinta itu imajiner, jadi cinta itu kompleks. (Dua kalimat terakhir ini adalah jawaban dia saat saya bertanya, sepakatkah kalau dikatakan bahwa cinta itu irasional?)

Tom Masuk Neraka

27 Dec

Saya suka nonton kartun sejak kecil sampai sekarang. Detective Conan, Doraemon, Popeye, Tom and Jerry dan yang lain-lain sampai Sponge Bob kecuali Sinchan. Jadi kalau saya menulis tentang Tom di sini bukan karena saya suka dengan pemilik blog yang suka memakai tokoh “Tom and Jerry” untuk artikel-artikelnya. Tapi memang saya menulis ini untuknya yang sekarang jarang meng-update blog lagi. Sengaja untuk mempengaruhinya, setidaknya untuk tertarik membuka blog lagi, setidaknya hanya untuk meninggalkan komentar disini. :-p

Tentang Tom masuk neraka, silahkan dilihat videonya. Tidak seperti biasanya setelah kejar-kejaran, hajar-hajaran dan jebak-menjebak sampai tubuhnya gepeng, Tom dan Jerry tak pernah mati. Tapi yang ini ceritanya lain, si Tom mati setelah terjepit lemari. Cerita selanjutnya selamat menonton.

Semoga dengan posting ini, tokoh Tom hidup lagi untuk melanjutkan petualangannya belajar matematika. 🙂

%d bloggers like this: