Archive | cerita RSS feed for this section

[Bukan] Review “Habibie & Ainun”

19 Mar

Sebelumnya saya sampaikan bahwa ini bukan review buku ataupun film “Habibie Ainun”.  melainkan curhatan saya setelah membaca buku tersebut. Bagi yang menginginkan review buku atau film tersebut, silahkan meluncur ke tempat lain.

November 2010, Hampir setiap minggu saya dan suami ke Gramedia Merdeka Bandung. Sekedar jalan-jalan atau memang berniat belanja. Saat itu, cover “Habibie & Ainun” terpajang besar-besaran. Tetapi saya tidak berminat membeli buku tersebut. Saya tidak begitu mengenal BJ. Habibie selain sebagai seorang mantan presiden yang pintar membuat pesawat terbang. Sebatas itu saja yang saya tahu, bahkan di mata saya, beliau adalah mantan politikus. Sama sekali tidak terlintas kesan dalam ingatan saya, bahwa dia adalah seorang ilmuwan.

Pernah sekali, saya bertanya ke suami, apakah dia tidak tertarik membeli atau setidaknya melihat isi buku “Habibie & Ainun”. Dia hanya menggeleng. Saya tidak mengulangi pertanyaan itu lagi. Saya juga bersepakat, tidak tertarik. Saat itu di pikiran saya, apa menariknya buku yang ditulis oleh mantan presiden. Kehidupannya berbeda dengan kehidupan saya. Lagipula saya membayangkan, seorang BJ. Habibie pasti menulis dengan sangat formal dan mungkin membosankan untuk dibaca.

Sampai akhir tahun 2012, banyak iklan di TV tentang film yang diangkat dari buku tersebut. Acara presiden nonton bersama juga masuk infotainment. Lalu, mendadak status teman di FB banyak yang mengutip petikan-petikan di film itu. Jujur, saya takjub dengan ungkapan-ungkapan Bu Ainun. Lalu melihat trailer filmnya, Bu Ainun diperankan oleh Bunga Citra Lestari. Tiba-tiba saya ingin sekali membaca bukunya. Mendadak ada perasaan tidak rela, jika akhinya saya membayangkan Bu Ainun adalah BCL.

Suatu malam, saya bilang sama suami kalau film “Habibie & Ainun” sedang rame. Suami saya hanya menanggapi singkat, “Iya kenapa?”. Saya bertanya apakah dia tidak penasaran, jawabnya datar. Ditunggu saja sebulan dua bulan pasti nanti ada di youtube, dan juga menurutnya trailernya jelek. Lalu saya bilang, bahwa saya penasaran ingin baca bukunya. Dia hanya menjawab singkat, “Ya, udah beli”. Ah, selalu begitu jawabannya ketika saya menginginkan sesuatu.

Banyak yang tergila-gila dengan kisah romantis “Habibie & Ainun”. Selepas membaca buku dan menonton filmnya, saya justru tahu, kisah cinta yang katanya sangat romantis itu, masih kalah jauh dengan kisah saya dengan suami. Saya berkali-kali bersyukur memiliki suami seromantis suami saya.

Orang barangkali boleh mengira saya tak seberuntung Bu Ainun, karena tidak mampu terus menyertai suami di manapun dia berada. Jarak memang memisahkan kami untuk sementara. Dalam jangka waktu yang telah jelas. Tetapi jarak itu tidak pernah menghalangi apapun di antara kami. Saya selalu bilang, apa bedanya jarak 1 cm dan ribuan km, kecuali hanya tidak bisa menyentuh. Dan sentuhan dengan hati, mungkin lebih dari segalanya dari pada cuma fisik. Meskipun sentuhan fisik beserta hati, jauh lebih sempurna.

Kadang ada orang bilang sama saya, yang sabar saja ya menanti suami. Kenapa harus sabar? Sabar biasanya berkonotasi ke arah penderitaan. Bahwa kita sedang mengalami cobaan. Saya selalu tersenyum dan bilang, kami tidak sedang menempuh cobaan. Jarak di antara kami adalah sesuatu yang kami rencanakan jauh-jauh hari sebelum kami bersatu. Ini bukan sebuah cobaan, bukan juga ujian. Tetapi keputusan bersama, sebuah pengorbanan yang harus kami bayar demi meraih cita-cita.

Banyak juga yang menyarankan agar saya ikut saja ke Belanda menemani suami. Tidak perlu khawatir hidup sederhana di sana. Tidak perlu khawatir dengan rejeki yang akan datang. Katanya, kalau kita yakin, rejeki akan datang dari mana saja. Apalagi di saat-saat Indonesia membatasi segala macam impor hasil pertanian. Biaya makan di Indonesia tidak begitu jauh dengan biaya di sana. Kadang-kadang saya juga berpikir sama seperti itu. Tetapi, alasan saya tidak menyertainya bukan sekedar takut tidak bisa makan di negeri orang. Bukan sekedar tidak berani hidup sederhana seperti yang bu Ainun pernah alami. Hidup di flat sempit, tidak punya mesin cuci, dan harus banyak bekerja lebih keras.

Ada banyak alasan, sehingga saya lebih baik tinggal di sini. Jika saya ikut suami, berarti kami hanya memikirkan kebahagian berdua saja. Kami punya tanggungjawab di sini, yang orang lain mungkin tak akan pernah bisa mengerti. Sekali lagi, jarak ini adalah pilihan kami bersama. Bukankah sebuah cita-cita selalu memerlukan pengorbanan untuk membayarnya?

Banyak orang meleleh melihat kutipan-kutipan dalam kisah “Habibie dan Ainun”. Kutipan-kutipan yang membuat saya penasaran ingin ikut membaca buku dan menonton filmnya. Saya tidak bermaksud membandingkan hidup keluarga saya dengan hidup bapak mantan presiden. Tentu saja berbeda dalam kapasitas masing-masing. Saya justru sangat bersyukur dengan kehidupan rumah tangga saya.

Saya sangat beruntung memiliki pendamping seperti suami saya. Dia yang tidak pernah berbuat apapun kecuali seijin saya. Tidak pernah memutuskan apapun, kecuali dengan keputusan saya. Dengan segala kesibukannya, tetap membagi waktu untuk memperhatikan saya. Yang meski sedang tertekan dengan tugas kuliah, tetap bersedia saya ganggu dengan hal-hal yang tidak penting.

“Kita ini orang beruntung ya, Ma” kata suami saya tengah malam kemarin, saat dia sedang sibuk mengejar deadline tugas.

“Kenapa?” Tanya saya.

“Karena kita berjodoh, Papah punya istri mamah, yang bisa mengerti Papah,” Jawabnya, sementara saya diam saja. Meskipun saya biasa dipuji, tetap saja saya tersanjung di setiap kalimatnya. Suami saya mampu membuat saya jatuh cinta berkali-kali, setiap waktu. Dia yang tetap memanggil saya cantik, meskipun baru bangun tidur.

Sepertinya, saya harus mengakhiri tulisan ini. Dan segera memulai halaman pertama buku tentang kami. Bukankah itu ide bagus? Tapi untuk jadi best seller mungkin nunggu suami saya jadi presiden kali ya terbitnya 😛

Kisah Cinta di Balik Lahirnya “Ringkasan Lengkap Matematika SD”

1 Jun

Penulis:  Rohma Mauhibah, S.Pd. & Al Jupri, S.Pd., M.Sc.

Ukuran: 13 x 18 cm

Tebal: vi + 266 hlm

Penerbit: Indonesia Tera

ISBN: 979-775-160-0

Harga: Rp32.500,-

______________________________

Minggu-minggu akhir  Mei, saya sudah was-was. Tak kunjung ada kabar dari penerbit, kapan buku saya lahir. Ternyata, sore terakhir di bulan Mei sepulang dari sekolah, ada sms dari redaksi. Katanya royalti buku  yang berjudul “Ringkasan Lengkap Matematika SD” sudah ditransfer sejak 21 mei 2012. Senang? Tentu saja. Tetapi masih belum puas, karena belum menerima sendiri bukti fisik bukunya. Sepulang dari sekolah siang ini, mata saya menabrak sebuah paket di meja. Tanpa menebak apa isinya, saya langsung kegirangan dan berseru “Alhmadulillah”. Benar saja, itu adalah bukti terbit buku yang saya tunggu-tunggu.

Menunggu terbitnya sebuah buku ini, mirip menunggu kelahiran sang buah hati. Saya tidak menemukan analogi yang lebih tepat selain itu. Mirip apanya? Mirip waktu, proses dan perasaannya. Kok bisa? Butuh waktu 9 bulan untuk memproses buku tersebut. Di mana 9 bulan itu bisa dibagi menjadi 3 trimester. Aduh, ini mau bercerita tentang proses pembuatan buku atau proses kehamilan sih?  Mungkin keduanya.

Trimester Pertama

Bermula di bulan agustus 2011. Di tengah kegalauan yang luar biasa. Depresi pasca kehilangan sang buah hati, saya seperti kehilangan arah.

“Mama harus menulis agar kesedihan itu ga berlarut-larut,” hibur suami saya dari ujung benua lain.

Akhirnya, suami saya berhasil meyakinkan saya untuk menulis buku SD. Menulis sesuatu yang saya mampu. Menulis hal ringan agar tak terasa sebagai beban. Benar saja, saya begitu menikmati setiap tarian jemari. Naskah buku yang berisi 16 bab ini selesai dalam 30 hari. Saya memulainya 1 Ramadhan dan selesai di malam takbir.

Selanjutnya, saya berpusing-pusing ria membaca ulang naskah itu. Memperbaiki sana-sini. Karena saya menganut aliran “TUBE”. Yaitu Tulis semua, Baca ulang baru kemudian Edit. Setelah selesai, saya simpan saja di komputer. Sampai lupa bahwa saya sudah menyelesaikan sebuah naskah.

Trimester Kedua

Suami saya meyakinkan bahwa naskah yang sudah hampir 3 bulan ngendon di folder komputer ini segera dikirim ke penerbit. Saya selalu berkelit dengan berbagai alasan. Sampai akhirnya saya terpaksa memberanikan diri mengirimkan naskah ini.

14 Desember 2011 saya mengirim email ke Indonesia Tera (kelompok penerbit Agromedia grup). yang dibalas oleh redakturnya 4 hari kemudian. Membaca email balasan itu saya langsung jingkrak-jingkrak. Aih, norak :D. Maklum, ini adalah kali pertama saya mengajukan ke penerbit dan di terima. Karena sebelumnya saya hanya join suami menulis.

Hampir tak percaya, saya telepon penerbitnya. Konfirmasi email yang saya terima, menanyakan sistem royalti dan surat perjanjian. Akhirnya deal, saya memilih sistem royalti bukan jual putus. Sebulan kemudian, surat perjanjian penerbitan saya terima.

Harusnya Trimester kedua ini saatnya Ibu hamil sedikit santai. Tapi bagi saya dalam memproses buku ini, trimester dua sangat sibuk. Edit sana-sini menambahkan materi yang diminta editor. Karena katanya, akan diterbitkan di bulan maret.

Ternyata, berdasakan rapat redaksi, buku ini diundur terbitnya. Menunggu momen yang tepat untuk lahir. Karena buku ini adalah buku pelajaran,  maka waktu paling tepat adalah tahun ajaran baru.

Trimester Ketiga

Nah, nah memasuki trimester ini siapapun ibu hamil mulai ga sabar menunggu kelahiran sang buah hati. Begitu juga saya. Sangat tidak sabar menunggu mei. Menghitung setiap detiknya. Merasakan setiap penandanya.

Meskipun buku ini matematika, namun bagi saya buku ini adalah cerita cinta. Kebangkitan saya dari keterpurukan. Hadiah ulang tahun untuk buah hati kami di surga. Sebuah buah cinta di tahun ke dua pernikahan kami. Karena sejatinya kami menikah tidak cuma urusan hati, apalagi cuma tubuh. Kami menikah penuh, dengan seluruh pikiran.

Ok, akhirnya panjang lebar, ujung-ujungnya promonya ya ……… Segera dapatkan di toko buku terdekat. Cocok untuk hadiah anak-anak, adik-adik atau tetangga-tetangga. 🙂

Nantikan buku-buku duet kami yang akan segera menyusul yaaaa!!

Mimpi yang Sempurna

30 Dec

Wisma Dinkes Ambarawa, 31 Desember 2008. Tiba-tiba saja saya teringat hari itu. Kurang sehari lagi, hari itu akan genap membilang 3 tahun berlalu. Hari itu saya adalah mahasiswa semester 5 dan salah satu karyawan Campusnet –warnet besar di Semarang. Kenapa di Ambarawa? Ceritanya sedang ada acara yang diadakan Campusnet yang bertempat di Ambarawa. Acaranya tentang refleksi akhir tahun dan resolusi tahun baru. Kami disuruh membawa foto-foto tentang orang yang paling berarti dalam hidup kita. Banyak dari kami yang membawa foto-foto keluarga, foto pacar, foto sahabat, dll. Dari foto-foto itu, kami harus menuliskan diskripsi singkat tentang foto itu.

Saat itu saya hanya membawa foto seseorang di depan menara Eiffel. Deskripsinya sangat singkat: Dia sahabat, yang mengenalkan pada saya tentang mimpi, harapan, cita-cita dan cinta. So sweet ya? :D. Dulu saya hanya mengambil foto itu dari blognya. Ijin lewat sms untuk memprint fotonya dan membawanya untuk tugas. Tentu saja dia bertanya-tanya kenapa saya memilih fotonya. Hahay, saat itu cinta masih samar-samar ya sayang :P. Sementara dalam hati saya membatin, kenapa saya memilih fotonya, karena dia termasuk resolusi besar saya di tahun baru yang akan datang, 2009. Saya harus bertemu dengannya, dan memperjelas hubungan kami. 😀

Continue reading

Cita-cita dan Cinta

9 Aug

Apa cita-citamu waktu kecil? Jadi dokter, pramugari, perawat, guru, pedagang? Atau jangan-jangan ingin berguna bagi nusa dan bangsa? :D. Kerap kali anak-anak menjawab itu ketika ditanya tentang cita-cita. Tidak hanya anak zaman dulu ya, mungkin masih banyak anak-anak zaman sekarang menjawab seperti itu ketika ditanya tentang cita-cita. Sebenarnya siapa sih pencipta pertama cita-cita “ingin berguna bagi nusa dan bangsa”? Ada yang tahu?

Saya tidak tahu apa saja profesi yang kerap kali berkelindan di benak anak-anak. Pertama kali saya mengenal cita-cita, kelas 1 SD. Seandainya saya pernah masuk TK, mungkin saya akan mengenal cita-cita ketika seusia Upin-Ipin dkk. Sejak saat itu saya ingin menjadi guru yang berpenampilan menarik, terlihat cerdas, cantik, memakai baju bagus, berkacamata, bersepatu hak tinggi, dsb. Namanya juga anak-anak. Belum jelas apa maunya. Demi cita-cita itu, saya sering bertingkah sendiri di depan kaca, seolah-olah sedang menjadi guru. Malu mengingat kekonyolan semasa kecil.

Sampai umur bertambah ternyata kalau ditanya cita-citanya ingin jadi apa, tetap jawabnya ingin jadi guru. Tapi tentu saja imajinasinya bertambah. Ketika pelajaran IPS tentang transmigrasi, maka saya berkhayal jika besar nanti saya ingin ikut program transmigrasi yang diadakan pemerintah -Btw, sekarang masih ada program transmigrasi ga ya?- . Saya akan membangun rumah kecil yang sederhana. Berisi satu kamar tidur, dapur, kamar mandi, ruang kerja dan ruang tamu. Ketika pelajaran IPA tentang holtikultura, maka saya menginginkan rumah saya dilengkapai dengan pekarangan yang sangat luas. Akan ada apotik hidup, palawija dan aneka ragam bunga-bunga yang mekar di sana. Yang akan menjadi aktivitas saya setiap sore. Karena profesi saya nantinya jadi guru, jadi kan cuma bekerja setengah hari. Saya juga ingin kolam di pekarangan saya, biar pikiran bisa senantiasa sejuk. Lalu, jika malam hari, saya akan mengundang anak-anak untuk belajar di rumah saya. Maka, saya harus mempunyai banyak buku cerita agar anak-anak tertarik datang ke rumah. O lala, begitu indah ya? 😀

Continue reading

Cerita Hari ini: Jeda

24 Feb

S p a s i

Setelah titik yang kau bubuhkan kemarin pada cerita kita, aku hanya ingin memberi jeda. Barangkali sekedar memberi spasi atau membuka paragraf baru.

Cerita kita belum usai. Tak pernah.

Barangkali di jeda ini, kita bisa saling memaknai akan arti saling mengerti.

Cerita Hari ini: Saya Bisa Bercerita

22 Feb

Seorang guru matematika kelas VII masuk ke dalam ruang kelas. Menyalami murid-muridnya dengan muka berseri-seri. Maklum seorang guru baru, dia tidak ingin dikenal galak oleh muridnya. Tetapi dia tetap  saja gagal membangun kesan itu. Wajah-wajah yang dihadapannya lesu, tak bersemangat. Padahal dia belum menanyakan pekerjaan rumah yang diberikan kemarin. Tidak juga menyuruh mereka mengerjakan soal di papan tulis yang menjadi hobi guru-guru matematika.

“Baiklah, ada cerita menarik untuk membuka pelajaran kali ini,” tak hilang akal, si guru itu berusaha menarik perhatian muridnya.

“Mau diceritain ga?” tanya si guru.

“Mauuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu, tapi ga mau soal matematika,” jawab murid-murid itu serempak. Si guru tersenyum, lalu berceritalah dia tentang kisah berikut ini:

Ada seorang petani memiliki tiga orang anak.  Ahmad, Budi, dan Ani. Petani itu memiliki ternak kambing. Setiap hari, Ahmad membantu untuk menggembalakan kambing. Budi yang masih sekolah kelas VII SMP, kadang-kadang ikut membantu kakaknya menggembalakan kambing. Sedangkan Ani, anak perempuan satu-satunya yang masih duduk di kelas III SD hanya di rumah saja. Pada suatu hari, karena merasa sudah tua, Pak Tani tersebut berpesan kepada tiga anaknya. Nanti kalau sewaktu-waktu Pak Tani meninggal, Pak Tani ingin memberikan setengah jumlah ternak kepada Ahmad, sepertiga bagian kepada Budi, dan sepersembilan untuk Ani.

Pada suatu hari, Pak Tani tersebut meninggal dunia. Setelah selesai semua urusannya, Ahmad mengajak adiknya untuk menghitung jumlah kambing agar bisa dibagi sesuai pesan ayahnya. Ternyata jumlah semuanya ada 17. Setelah berpikir agak lama, Ahmad menyerah. Dia bingung bagaimana cara membagi kambing tersebut. Setengah dari 17? Sepertiga dari 17? Sepersembilan dari 17?

Di tengah kebingungan Ahmad, Budi mengusulkan kepada kakaknya untuk meminjam satu kambing Pak Karto, tetangganya. Sehingga jumlah kambing menjadi 18 dan mereka bisa membagi kambing-kambing itu dengan mudah.

\frac{1}{2} x 18 kambing= 9 kambing untuk Ahmad

\frac{1}{3} x 18 kambing= 6 kambing untuk Budi

\frac{1}{9} x 18 kambing= 2 kambing untuk Ani

Jadi jumlah semua menjadi 9+6+2= 17 kambing. Lalu Budi mengembalikan kambing Pak Karto lagi. Selesailah masalah mereka. Ahmad bangga dengan adiknya yang pintar.

“Bagaimana semuanya? Bagus tidak ceritanya? Bagaimana menurut kalian yang dilakukan Budi?” tanya si guru mengakhiri ceritanya dengan puas, lantaran murid-muridnya antusias menyimak dia bercerita.

“Bagus Buuu, Budi pintar,” kata mereka.

???

“Iya Budi kreatif, kalau kalian ingin lebih pintar dari Budi yuk kita belajar tentang pecahan sekarang,” kata si guru.

“Tahu tidak kalau yang dilakukan Budi itu tidak tepat?” tanya si guru lagi. Murid-muridnya berpandangan dan menggeleng. Di dalam hatinya si guru bertanya-tanya, apakah anak kelas VII belum bisa memahami kesalahan seperti itu ya? Seandainya mereka paham cerita ini akan menjadi lucu dan mereka akan tertawa. Tetapi yang ada, mereka terpesona dengan Budi yang menurut mereka brilliant.

***

Kisah di atas adalah kisah saya ketika saya berada di Madrasah Tsanawiyah sebuah yayasan yatim piatu di pelosok semarang barat. Ketika saya menceritakan hal itu padanya, dia bilang “Mungkin kamu ga bisa cerita kali, atau kamu ceritanya membingungkan sehingga mereka ga paham.” Ugh, jadi saya ga bisa cerita?

Kisah lain yang serupa, seminggu dua kali biasanya saya diundang Adin untuk belajar bersama. Adin sekarang duduk di kelas IX di SMP Negeri 03 Semarang. Biasanya setelah 40 menitan lewat, dia akan menunjukkan kebosanannya. Lalu dia akan bercerita tentang apa saja atau kalau tidak dia akan memaksa saya bercerita. Nah karena saya bingung harus cerita apa, saya ceritakan saja cerita di atas.

“Pasti ujung-ujungnya matematika, ga asyik mbak, tuh kan sama aja kayak soal cerita,” belum-belum Adin sudah komentar.

Dengerin dulu, yang ini lucu,” kata saya, berharap dia akan terhibur. Lalu saya menyelesaikan cerita saya.

“Apanya yang lucu? Toh cerita itu sama dengan soal-soal cerita yang ada di buku,” katanya.

“Kenapa sih yang bikin soal matematika suka sekali dengan kisah Pak Tani, sebidang sawah dan yang itu-itu? Bosan tahu,” lanjutnya.

Saya terdiam. Seharusnya saya menceritakan sesuatu yang dekat dengan Adin. Ketika saya bercerita mengenai Pak Tani, kambing dan anak-anak desa, dia tidak mungkin tertarik karena semua itu asing dari kehidupannya. Tetapi seharusnya dia paham bahwa cerita itu lucu. Bahwa yang dilakukan Budi adalah sesuatu yang konyol. Bukankah dia sudah mempelajari tentang pecahan?

***

“Mungkin anak seumuran SMP belum bisa memahami bahwa cerita tersebut konyol,” kata Nayla, teman saya, ketika saya bercerita padanya. Saya benar-benar penasaran. Benarkah saya tidak bisa bercerita pada anak-anak sehingga mereka tidak menangkap maksud yang ingin saya sampaikan?

“Kalau menurut saya bukan salah kamunya yang cerita, nyatanya saya tahu apa yang kamu maksud,” kata Nayla lagi. “Kamu sendiri kapan paham cerita itu?” tanyanya.

“Saya tahu cerita itu baru sih, saat sudah kuliah,” jawab saya.

“Nah, makanya jangan berharap anak-anak bisa sama dengan pikiranmu, mereka kan masih SMP sedangkan kamu sudah kuliah ya ga sama lah!” tanggapnya.

“Jadi maksudmu? Saya bisa bercerita dengan baik?” kali ini saya merasa senang.

“Siapa yang bilang begitu?”

“Dasar!”

Kesimpulannya tetep,  saya bisa bercerita kan? :-p

Berkemas

15 Feb

Hari ini saya merapikan file-file saya yang tersimpan di komputer billing.  Berkemas memilah dan memilih file-file yang perlu disimpan dan yang seharusnya dihapus. File-file itu tak banyak. Sebagian besar adalah hasil browsing yang saya simpan, sedikit tugas-tugas kuliah yang saya kerjakan sambil kerja dan foto-foto. Ceritanya umur saya tinggal empat hari lagi duduk di depan billing. Karena kuliah saya harus selesai, maka saya harus keluar dari Campusnet. Bukan seperti kabar yang beredar oleh teman-teman, bahwa saya resign dari Campusnet karena mau kawin. Ehehe…. ada-ada saja.

Akhirnya saya malah melihat lagi foto-foto itu. Foto yang diambil mulai Januari 2008. Foto saat saya masih kurus. Saya bandingkan dengan foto yang sekarang. Saya semakin sadar kalau ternyata saya memang sudah terlalu banyak melar. 😦 Duh, rasanya kangen dengan baju-baju dan celana yang saya pakai di foto-foto itu. Tentu saja semuanya sekarang sudah berstatus TIDAK MUAT. Ouw.. ouw.. Sedahsyat itukah perkembangan badan saya 2 tahun terakhir ini? Kemarin saya masih percaya bahwa saya masih terlihat ideal, Tapi ketika teman saya menggambil gambar saya dengan kameranya, saya tidak bisa menuduh bahwa kamera dia berbohong. Dan ketika saya menimbang badan saya kemarin, saya tidak bisa menuduh kalau timbangan yang saya pakai berbohong. Angka itu bicara dengan jujur, membilang massa badan saya. STRESS.

Salah satu foto saat saya masih kurus (yang manakah saya?)

Lokasi: Jl. Pahlawan Semarang,  11 Agustus 2008

Ketika sedang berkemas itu, saya juga menemukan file-file notepad. Ternyata itu adalah obrolan dengan seorang teman (dulu masih teman, sekarang sudah berubah jadi ….?) di YM yang saya simpan. Dulu saya membuat  arsip obrolan kami, tapi entah kenapa tadi saya hanya menemukan 2 file. Hanya dua, ke mana yang lain? Kami pernah bercita-cita, cieee cita-cita, berkeinginan untuk suatu hari nanti kapan-kapan arsip chat itu ditulis ulang, entah jadi novel atau cerita seri atau apa saja. Tentu saja harus dipilih yang ada muatan-muatan edukatif. Tetapi di mana file yang dulu saya simpan? Kapan ya bisa mewujudkannya?

Maaf, Email Saya di Rumah

14 Dec

Ini tentang aktivitas jadi operator warnet. Dari dulu, pasti kalau saya cerita tentang kerjaan itu selalu saja keluh kesah. Seolah saya begitu terpaksa melakukan pekerjaan itu. Hampir dua tahun saya menjalaninya, sepertinya tidak benar jika saya melakukan kerjaan itu sepenuhnya dengan terpaksa. Ok, hari ini saya tak ingin berkeluh kesah lagi. Karena mood saya lagi baik dan demi mempertahankan mood yang baik itu saya ingin berbagi tawa. Lagi-lagi tentang cerita konyol.

Saya lupa kejadiannya kapan, pokoknya sudah lama. Seorang Bapak setengah baya datang, penampilannya rapi, bersepatu dan baju masuk.

“Mbak, di sini bisa mengirim foto?” tanyanya.

“Bisa, Pak,” jawab saya pendek.

“Tolong kirimkan foto-foto ini ke sini ya Mbak,” katanya sambil menyodorkan beberapa lembar foto dan menunjukkan alamat email dari HP nya. Saya menerima lembaran foto itu dan memasukkannya dalam scanner.

“Silahkan masuk ke email Bapak,” saya memberikan keyboard dan membalikkan monitor ke arahnya. Bapak itu nampak bingung.

“Bapak punya email kan?” tanya saya.

“Iya Mbak, saya punya email tapi email saya di rumah,”

Gubrakkkkk!!!!!!! ???????????????

Andai saja saya tak berhasil menahan tawa, mungkin Bapak tadi merasa malu dan mencari-cari apa yang salah dari ucapannya.

Cerita serupa, Ibu-ibu dengan dandanan menor masuk dan berkata, “Mbak saya mau pake internet, tapi tolong saya dikasih tahu cara makainya, saya ga pernah pakai internet di warnet biasanya saya di rumah,

“Iya Bu, silahkan masuk di nomor 3,” jawab saya. Lalu saya log in kan langsung dari billing dan mengirimkan pesan “Silahkan dipakai Bu,”

Agak lama, Ibu itu keluar. “Mbak, saya itu ga pernah pakai internet di warnet, biasanya saya pakai di rumah, tolong sini,” katanya.

Seraya berjalan, saya berpikir, apa yang berbeda antara internet di sini dengan internet yang di rumah Ibu itu? Barangkali bentuk komputernya berbeda atau shortcut yang ada di dekstop berbeda sehingga Ibu itu bingung. Lalu saya bukakan browser mozilla untuk Ibu itu. “Silahkan Bu,” kata saya.

Mbak saya itu mau browsing, tapi saya ga bisa pake warnet biasanya saya pake di rumah,” katanya lagi. Kali ini saya benar-benar bingung. Apa yang Ibu itu tidak bisa kalau Ibu itu biasa pakai internet di rumah.

?????????

Sebuah Kejutan di Akhir Pekan

9 May

Teringat salah satu kata teman saya, jika kita tersenyum kita membutuhkan otot yang lebih sedikit untuk menggerakkan bibir ke kanan dan ke kiri dari pada ketika kita cemberut, melipat wajah yang berarti melipat gandakan otot yang bekerja. Efeknya tubuh kita akan banyak mengeluarkan energi lebih banyak ketika kita cemberut.

Nah, kadang-kadang saya merasa beruntung karena saya bekerja sebagai pelayan publik. Yang setiap hari kerjaannya hanya tersenyum saja. Selalu ada senyum walaupun kadang terpaksa. Saya bersyukur dengan kerjaan yang mewajibkan saya untuk selalu tersenyum, kepada siapa saja dalam keadaan apa saja, secara tidak langsung saya telah menghemat energi. 🙂

Beberapa waktu yang lalu, ketika sudah lama tidak menulis di blog, saya menemukan sebuah komen di salah satu postingan yang sudah sangat lama. Seseorang yang meninggalkan komen itu tidak menunjukkan identitas dengan jelas.

Tuch yang harus di jaga yach mbak2x and mas2x yg jaga nggak ramah samah sekali and sombong2x lagaknya kaya yang poenya…!!

Sejenak, saya tertegun membacanya. Ternyata selama ini, saya belum melakukan pekerjaan saya dengan baik. Terbukti dengan komen di atas, yang bisa saya tebak, si komentator adalah user campusnet di mana saya bekerja. Operator juga manusia, begitu seringkali saya dan teman-teman berapologi ketika melakukan kesalahan. Lupa tersenyum gara-gara capek. Lupa mengucapkan terima kasih gara-gara sedang kesal dengan tugas-tugas kuliah yang seabrek-abrek. Atau melupakan prosedur kerja yang remeh-temeh itu.

Kemudian, saya menebak-nebak. Mengingat-ingat, apa yang saya lakukan di hari sang komentator menuliskan uneg-unegnya. Apa yang terjadi dengan saya. Ugh, beberapa waktu terakhir, saya seringkali tidak menikmati acara tersenyum dengan user gara-gara memendam sesuatu. “Jangan bawa-bawa urusan rumah tangga dalam kerjaan dong, Bu!” Ledek Pak GM yang tiap pagi berkunjung dan sukses membuat saya makin sewot gara-gara dipanggil “Bu”, kesannya bermutu (bermuka tua) banget.

Oke. Siapa pun dia yang memberi komentar tersebut, saya berterima kasih. Pertama, sudah menemukan dan membaca blog saya. Kedua, sudah mau mengatakan dengan jujur kesalahan saya. Dan yang lebih penting, akhirnya membuat saya mengevaluasi diri saya, dan kembali tersenyum dengan ikhlas. 🙂

Tiba-tiba suatu sore seminggu lalu, ketika saya sedang bekerja sambil mengetik makalah untuk memenuhi tugas UTS kuliah saya, ada dua orang cowo-cewe seperti kakak beradik, masuk. Seperti biasa, saya tersenyum dan menyapa. Mereka terlihat sedang bingung dan tidak tahu mau mengatakan apa, saling dorong-mendorong.

“Ada yang bisa saya bantu Mbak-Mas?” tanya saya akhirnya.

“Mmm, ” yang cewe melihat ke yang cowo dan berbisik “Kamu aja.” Sementara saya semakin bingung melihat kebingungan mereka.

“Gini mbak,” akhirnya si cowo membuka suara. “Dia kan member Campusnet di sini, sering main di sini,” pandangan saya terpaksa meninggalkan monitor demi menyimak kalimat-kalimatnya yang sepertinya akan panjang.

“Begini, dia mau minta maaf karena sudah pernah membuat kesalahan yang membuat dia tidak tenang,” lanjutnya. Saya masih bingung mengikuti ceritanya. Saya melihat wajah keduanya. Ada perasaan bersalah yang tidak dibuat-buat di wajah si cewe.

“Maaf mbak-mas, maksudnya kesalahan apa?” tanya saya akhirnya, karena mereka mengambil jeda agak lama.

“Saya kan pernah main di sini mbak, terus saya googling nemu blog mbaknya. Terus saya ngasih komen ngata-ngatain mbaknya gitu,” kata si cewe. Saya tertegun sejenak. Kemudian saya tersenyum. Membiarkan dia melanjutkan kalimatnya.

“Saya merasa bersalah mbak, udah ngata-ngatain mbaknya. Saya ga tenang. Beberapa hari ga bisa tidur nyenyak gara-gara merasa salah mbak,” katanya lagi. Saya terdiam dan dia berhenti berkata-kata.

“Maaf ya mbak, kalau pelayanan kami mungkin kurang berkenan,” akhirnya saya memilih kalimat itu.

“Bukan mbak, saya kok yang salah,” katanya lagi.

“Iya, kami juga minta maaf ke mbak, mungkin dalam melayani kami kadang-kadang lupa jadi mbak merasa tidak nyaman, kami minta maaf ya mbak,” kata saya. Lalu serta merta, si Mbak itu mengulurkan tangannya dan saya menjabatnya. Tak terbayangkan, si Mbak itu hendak mencium tangan saya. Refleks, saya menariknya.

Saya tak pernah menyangka, akan ada ikatan emosional antara user dengan saya. Sapaan yang mirip basa-basi tanpa ekspresi ternyata memang tidak nyaman dilihat. Senyum yang terpaksa dan tidak tulus memang tidak sedap dirasakan. Saya benar-benar terharu ketika ada orang meminta maaf demi kesalahan saya. Demi saya yang tidak tulus memberikan keramahan. Demi ketidaknyamanannya yang membuat dia mengata-ngatai saya, meskipun lewat blog. Dan yang lebih membuat saya terharu dan salut, masih ada orang yang dengan ksatria minta maaf secara langsung.

Baiklah, sejak hari itu saya bertekad belajar tersenyum dengan tulus. Bukan basa-basi dan prosedur pekerjaan. Saya percaya, saya tidak pernah rugi untuk tersenyum. Selain hemat energi itu akan membuat orang lebih nyaman dengan kita, bukan? Yuk, senyum. 🙂

Bintang Bicara Cinta

2 Feb

love“Tante, ketemu lagi sama Bintang,” suara imut Bintang menyapaku pagi ini dari atas tangga.

“Apa kabar, Tante?” tanya Bintang, sebelum saya sempat membalas sapaannya yang pertama. Karena selalu saja saya merasa terganggu ketika dipanggil “Tante”, kesannya tua dan konotasinya yang agak bergeser dari makna sebenarnya membuat saya tidak nyaman dipanggil Tante. 😀

“Baik, Bintang sama siapa?” tanya saya akhirnya.

“Sama Ayah di atas,” jawabnya sambil menuruni anak tangga. Sambil berceloteh tidak jelas. Suara imut dan manja khas anak kecil. Bintang anak laki-laki kelas TK nol kecil yang hiperaktif. Ayahnya seorang programmer yang suka ngenet di campusnet tempat saya bekerja. Ibunya pemilik apotik di sebelah campusnet.

“Tante, Bintang mau minum fruti,” katanya sambil membuka freezer.

“Bintang bawa uang ga? Ambil itu harus bawa uang,” ujar saya. Meskipun lewat billing message Ayahnya sudah bilang “Mbak, anak saya minta teh, tolong ambilin, nanti bayarnya sekalian belakang.”

“Bintang punya uang banyak, inih,” Bintang merogoh sakunya dan menyodorkan banyak recehan ke saya.

“Berapa tuh uangnya, Bintang bisa ngitung ga?”

“Bisa, Bintang bisa ngitung pake Bahasa Inggris lho Tante,”

“O ya? Coba hitung sekarang,”

“Tapi Tante ngikutin yah,”

Wew, “Iya deh,” akhirnya saya berhitung bareng Bintang. wan-tu-tri-for-faiv-dst.

Bintang duduk di sebelah saya. Terus berceloteh. Rasa ingin tahunya membuat dia terus bertanya. Sampai dia menemukan infus tinta printer dan menarik-nariknya.

“Bintang ga boleh nanti tintanya tumpah,” serta merta saya menarik tangannya dan mengalihkan perhatiannya ke hal lain. Tapi sepertinya dia masih tertarik dengan tinta yang terlihat seperti sirup warna-warni.

“Bintang kan pinter Bahasa Inggris, Bahasa Inggrisnya tangan apa?” saya memegang tangannya, mengalihkan perhatiannya.

Hand,” jawabnya.

Kalau kepala? kaki? telinga? dst. Akhirnya dia menyebutkan seluruh anggota badan dalam Bahasa Inggris dan benda-benda di sekitarnya. Sampai dia menemukan gantungan kunci seperti gambar di atas.

“Ini namanya I love you, Tante!” katanya sambil memegang-megang gantungan kunci itu.

“Kok I love you? kata siapa?” tanya saya keheranan. “Itu namanya gantungan kunci, Bahasa Inggrisnya key holder,” lanjut saya.

“Bintang, lagi ngapain sama Tante? Jangan gangguin Tante kerja ya!” tiba-tiba Ayahnya turun.

“Ini namanya I love you kan, Yah? katanya Tante bukan, gimana sih?” Adu bintang pada Ayahnya. Saya senyum-senyum saja, begitu juga Ayah Bintang.

“Sudah, yuk pulang! kembalikan kuncinya sama Tante, bilang I love you sama Tante,” kata ayah Bintang sambil senyum-senyum.

I love you Tante,… bye-bye,” Bintang melambaikan tangan. Saya membalasnya dengan senyum-senyum.

Sebelum Bintang keluar, saya masih mendengar dia bertanya pada Ayahnya, “Yah, I love you itu artinya cinta ya? Cinta itu artinya terima kasih?” dan saya lihat Ayah Bintang mengelus kepalanya dan mengangguk.

Saya masih tersenyum. Cinta itu artinya terima kasih. 😀

%d bloggers like this: